>> hehehe...jangankan orang akunting yang ngerti linux.... mahasiswa yang
>> jurusan informatika dan komputer aja masih banyak yang meraba dalam gelap
>> kalo ditanya soal OS linux.
>
>He.he.h nggak heran.. sedikit mahasiswa Jurusan Informatika yang paham
>soal jeroan..  dan nggak heran..
>
Sekarang dengan maraknya 'Magister Teknologi Informasi', lebih banyak lagi
tuh lulusan S2 Komputer nggak paham jeroan :-) Tapi buat saya sih nggak
masalah karena memang arah pendidikan mereka kan lain, buat saya yang penting
mereka tetap kenal Linux dan kalau jadi Manajer IT mau menerima Linux :-)

>sedikit developer Indoensia "real developer"...he.he
>
Saya merasakan fenomena ini begitu Visual Basic mulai populer, tahun 93 - 94.
Ketika saya bertemu dengan rekan saya yang kebetulan 'ilmu programming'-nya
saya merasa 'nggak ada' tapi bisa mem-program, saya merasa tampaknya sebentar
lagi akan banyak program - program 'apa adanya'. Lebih lanjut lagi, akan
banyak sarjana komputer yang kurang akrab algoritma.

>> yang bidang komputer.... jarang dech kita ngeliat tulisan orang indonesia.
>> permasalahannya mungkin bukannya nggak mau bagi ilmu, tapi kadang kita
>> merasa rendah diri, atau takut salah duluan...akhirnya nggak jadi nulis
>> dech..
>
>Sebetulyna faktor di atas bisa diatasi 
>
>budaya baca tulis --> tumbuh dari latihan (buktiyna kalau diskusi politik,
>atau ngalor ngidul... mahasiswa, dan dosen banyak koq tulisannya..he.he.h,
>liat aja milis-milis.  Artinya udah ada
>
wah, ya dan tidak nih untuk ini.
1. Benar secara relatif cukup banyak tulisan untuk diskusi non-teknis dibanding
   kalau diskusi teknis. Namun kalau dibilang 'penulis', saya kira nggak juga
   lebih banyak itu cuma jadi 'one-liner'.
   Itu sebabnya muncul fenomena di kebanyakan milis, mereka nulis 'kok sepi'
   karena merasa kesepian kalau sedang nggak ada posting, namun juga nggak
   punya usaha untuk meramaikan.
2. Kebanyakan peserta milis adalah read-only member, termasuk yang kalau dalam
   diskusi lisan tergolong 'cerewet'.

>rasa rendah diri --> gimana kalau kita anggap menulis itu bukan usaha
>"pamer" tapi usaha sharing pengetahuan... namanya sharing, bisa kegagalan
>dan kesuksesan khan.  Kalau kita masih menganggap publikasi itu adalah
>usaha "pamer" tentunya akan selalu terkena rasa rendah diri terus
>
Soal nulis, salah satu mahasiswa fasilkom UI kalau ketemu saya salah satu
komentar yang kadang muncul adalah apologi bahwa dia belum nulis juga yang dia
janjikan. jelas bukan soal nggak bisa 'ngetik' kalau jago coding. Juga bukan
soal penguasaan bahan, karena yang saya tagih hanya tulisan tentang sesuatu
yang sudah dia buat.
Ini serupa dengan kebanyakan orang yang saya temui. Dugaan saya, mungkin mereka
terkena semacam 'perfect syndrome' ? maunya tulisan yang dihasilkan mesti
'perfect' ?
Saya ingat dulu waktu dapat kiat memulai menulis, tulislah untuk diri sendiri
seperti nulis di diary, mau tulisan jelek atau bagus, kan kalau untuk diri
sendiri nggak ada yang perlu dipermalui. Kemudian mulai nulis untuk satu orang,
dengan kata lain surat (sekarang berarti email), Kemudian untuk satu kelompok
orang (sekarang berarti milis kecil), baru kemudian untuk umum (sekarang
berarti milis besar).

-- 

  /_/  _/ /_/_/_/_/  *Everything has its own beauty but not everyone sees it
  _/_/_/  _/ HDS5 _/ (KongFuTze) +rev. 10 Oct 00 #include <std/disclaimer.h>
/_/  _/ /_/_/_/_/_/  Save the country: Use Linux 4 Any Server / NetAppliance


----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke