saya bukan pihak telkom, berikut ini coba di analisis : kode akses dengan awalan 080xxxxxx dikenal dengan teknologi IN, dan secara fisik di sisi pelanggan tidak mengalami perubahan perlengkapan, pada teknologi telepon kabel, sebelum menuju ke lokasi pelanggan, kabel telepon didistribusikan melalui RK (Rumah Kabel - kotak biasanya secara fisik seperti dipinggir jalan terbuat dari besi berwarna abu-abu muda) dan DP (distribution point - kotak kecil berada pada tiang telepon dan terlihat banyak kabel yang keluar dan masuk kotak tersebut).
ilustrasi permasalahan mungkin seperti berikut : 1. telepon kabel ini, bersifat terminal switch sehingga satu kabel memiliki informasi nomer tertentu, sehingga apabila ada pihak-pihak yang memiliki itikad tidak baik, dapat saja dengan perlengkapan yang dimilikinya melakukan sambungan (dengan cara menyambung ke kabel tersebut dan dapat dilakukan sepanjang kabel tersebut) dan menggunakan untuk kepentingannya tanpa sepengetahuan pemilik (pelanggan). 2. telepon kabel ini, belum / tidak dilengkapi dengan authentikasi pemakai, jadi bila sudah terpasang pada pelanggan, siapa saja yang melakukan panggilan dari telepon tersebut tidak dapat dikenali secara spesifik. dengan demikian, apabila ada masalah seperti ini, menurut saya sudah waktunya para pelanggan berhak untuk mendapatkan informasi yang jelas mengenai permasalahan seperti ini, dan apabila teknologi ini ternyata memang banyak masalah / kelemahan yang merugikan pelanggan, tentu saja dapat melakukan gugatan kepada TELKOM, dan pihak yang berkepentingan dalam hal ini adalah YLKI, kiranya tidak salah bila tulisan ini disampaikan juga kepada YLKI. sangat tepat bila pelanggan mengajukan penutupan / blokir kode akses 0809xxxxx tetapi konsekuensinya seluruh kode akses dengan awalan 0809 tertutup (termasuk instan internet) ... seperti anjuran oky nb : mohon koreksi bila ada kesalahan *********** REPLY SEPARATOR *********** On 6/20/02 at 2:11 PM Paul Darius wrote: >Subject: Pengalaman pahit dengan Telkom (premium call) > >>�Bapak / Ibu, Saudara/Saudari, Teman / Temin, Kawan / Kawin sekalian, >> >>�Berikut adalah sharing pengalaman pahit terhadap Telkom dari beberapa >>�teman/temin kami. Seluruh nama dan tempat kejadian disamarkan demi >>�menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. >> >>�Cerita pertama : >>�================ >>�Orang tua Ronny tinggal di sebuah rumah kontrakan sejak 1 tahun terakhir >>�ini, setelah pindah dari rumah kontrakan yang lama. Tidak seperti rumah >>�kontrakan sebelumnya, rumah kontrakan yang baru ini dilengkapi dengan >>�fasilitas telepon. >> >>�Orang tua Ronny berumur sekitar 60 & 55 tahun, sehingga akan kecil sekali >>�kemungkinannya akan melakukan panggilan telepon 'kencan', 'cari jodoh', >>�'dokter suara' dan lain-lain sebagainya yang semuanya dimulai dengan >>�prefix '0809xxxxx'. Dalam kesehariannya, keluarga Ronny melakukan antar >>�jemput makanan untuk orang tuanya dan sejumlah pakaian yang harus dicuci dan >>�diseterika. Praktis, sama sekali tidak ada pembantu. >> >>�Jumlah rekening telp. yang pernah dibayar sebelumnya, rata-rata sekitar >>�80 - 100 ribu rupiah dan tak pernah lebih dari itu. >> >>�Khusus untuk bulan ini (Juni), jumalh tagihan dari PT Telkom melonjak >>�menjadi 8 jt lebih. Dari data pusyantel, diketahui terdapat sejumlah >>�panggilan 'premium call' dengan tujuan 0809xxxxx dengan durasi yang sangat >>�aduhai (2 sampai 3 jam) per call. >> >>�Ketika ditanya lagi ke orang tua Ronny, mereka mengatakan tidak pernah >>�menelpon ke tempat lain selain dari nomor-nomor yang ada pada daftar dekat >>�pesawat telepon. >> >>�Ketika ditanya lagi ke pusyantel, mereka mengatakan bahwa komputer di >>�Telkom tidak mungkin salah mencatat nomor asal dan tujuan yang dipanggil. >>�Artinya, pihak Telkom telah memvonis bahwa orang tua Ronny 'pasti' melakukan >>�panggilan terhadap 'premium call' sesuai dengan catatan yang ada pada >>�mereka. >> >>�Cerita kedua : >>�============== >>�Vina, seorang janda (26 tahun) dengan seorang putri (kelas 1 SD), pada >>�catatan kartu keluarga terdapat nama kedua orang tua Vina, Vina, putrinya >>�dan ditambah seorang adik laki-laki (SMU). Mereka tinggal di sebuah rumah >>�kontrakan sejak 8 bulan terakhir. Ayah Vina adalah seorang pelaut, >>�sehingga sangat jarang berada dirumah. Adik Vina, lebih sering menginap >>�dirumah temannya dengan alasan belajar bersama. Pulangnya paling seminggu >>�sekali. Praktis, hanya terdapat 2 dewasa dan 1 anak-anak. >> >>�Dalam kesehariannya, ibu Vina memasak dan mencuci. Vina lebih berkonsentrasi >>�untuk membesarkan putrinya. Rata-rata, mereka sudah tidur sekitar jam 20 >>�(8 malam). >> >>�Keluarga Vina tidak berlangganan koran dan TV satu-satunya sudah rusak >>�sebelum mereka pindah ke rumah kontrakan yang sekarang ini. Hiburan mereka >>�satu-satunya hanya radio. >> >>�Pesawat telp. di rumah kontrakan tersebut dilindungi dengan kotak pengaman >>�dari plastik tembus pandang yang terkunci. Kunci kotak pengaman dipegang >>�oleh Vina sendiri. >> >>�Jumlah rekening telp yang ditagihkan selama ini tak lebih dari Rp 60 ribu >>�rupiah, kecuali dua bulan yang lalu sejumlah Rp 85 ribu berhubung ada >>�beberapa kali SLJJ ke Jakarta. >> >>�Jumlah tagihan bulan Juni melonjak menjadi Rp 1.5 jt dan dari catatan >>�pusyantel terdapat sejumlah panggilan 'premium call' dengan durasi 1 >>�sampai dengan 2 jam. Keseluruhan panggilan dilakukan antara jam 20 - 24 >>�(setelah seluruh anggota keluarga pergi tidur). >> >>�Pusyantel sendiri, terkesan menekan keluarga Vina dengan mengatakan bahwa >>�komputer Telkom tak mungkin salah atau keliru dan juga menampik >>�kemungkinan terdapatnya kabel parallel sebelum sampai ke KTB pelanggan. >> >>�========== >>�Dari kedua cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa Pihak Telkom tidak >>�dapat di ajak berdamai / berdiskusi untuk memecahkan masalah 'premium call' >>�yang sama sekali tidak pernah dilakukan dan lebih banyak menekan pelanggan. >> >>�Untuk itu kepada Bapak / Ibu, Saudara/Saudari, Teman / Temin, Kawan / >>�Kawin sekalian, disarankan mengajukan permohonan pemblokiran nomor 'premium >>�call' yang dimulai dengan prefik '0809' kepada pihak Telkom untuk >>� menghindari hal-hal seperti cerita di atas. -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

