Terima kasih atas tanggapan balik Saudara.

Pertanyaan saya: apakah memang tidak ada pengembang software lokal yang
sudah siap dengan solusi aplikasi Pemilu?

Terus terang saya tidak punya data. Apakah Anda punya? Apakah Anda memang
sudah survey ke pengembang software lokal untuk cross check tentang kesiapan
mereka? Jika memang tidak ada yang siap, maka memang patut disayangkan
berarti sampai saat ini pengembang software lokal masih sekedar instalatur
dan kacung untuk produk impor di negeri sendiri.

Menurut saya memang seharusnya pemilihan teknologi bagi kepentingan bangsa
menjadi KEPUTUSAN POLITIK. Menurut Anda apa itu politik? Bagi saya politik
adalah ilmu dan seni mengatur rakyat banyak. Jadi pemerintah yang mengurusi
rakyat inilah yang seharusnya mengambil inisiatif untuk mengarahkan rakyat
ini untuk menjadi lebih pintar dan mandiri dalam teknologi informasi.

Terus terang saya juga tidak pnya prasangka kalau Anda punya prasangka dalam
menulis kolom [EMAIL PROTECTED] Saya menganggap bahwa Anda hanyalah kurang memiliki
informasi yang akurat mengenai dunia Open Source.  Dengan demikian saya
harap Anda bisa mengkaji ulang opini Anda. Yah, Anda memang punyak hak untuk
beropini, namun sebagai manusia yang diciptakan untuk mampun berpikir
reflektif, Anda juga perlu merevisi opini Anda berdasarkan fakta-fakta baru
yang ada. Nah, saya hanya mengajukan fakta baru yang mungkin belum Anda
punyai.

Mengapa pusing soal vendor? Banyak pengembang software lokal yang bisa
memberikan dukungan Linux, apapun distro yang digunakan. Atau kalau mau
lebih 'nasionalis' mengapa tidak gunakan distro WinBI yang dikeluarkan oleh
BPPT?  Jadi siapa yang bisa memberikan dukungan? Banyak sekali.

Oh ya, mengenai biaya, apakah Anda sudah mengkalkulasi biaya yang perlu
diberikan untuk 8005 PC yang terinstall Windows XP Profesional + MS Office +
supportnya? Memangnya berapa sih?
Lalu apa term support yang mampu diberikan vendor penyedia produk Microsoft.
Unlimited support call? Unlimited onsite repairing?

Well, kesimpulan saya, memang pemilihan teknologi harus merupakan keputusan
politik yang didasarkan atas concern atas masa depan bangsa. Sayangnya
keputusan politik di Indonesia lebih didasarkan atas kepentingan bisnis
semata. Selanjutnya permintaan saya, jangan Anda sebagai kolumnis bertabiat
sama dengan para pemimpin politik kita, yang memandang masa depan bangsa
melulu dari sisi duit.

Salam,

Mico Siahaan



 
-------Original Message-------
 
From: Rene Patirajawane
Date: Wednesday, October 15, 2003 3:53:27 AM
To: Mico Siahaan
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Tanggapan atas Kolom [EMAIL PROTECTED], 6 Oktober 2003
 
Dear Sdr Mico Siahaan,
 
Sebelumnya terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca Harian 
Kompas.
 
Saya setuju dengan pendapat saudara kalau kalau pengembang software 
perlu mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah sendiri dan 
menjadi kacung teknologi yang seperti Anda maksud. Persoalannya apakah 
jauh hari sebelum ada tender KPU, apakah ada pengembang software lokal 
yang sudah siap dengan solusi aplikasi pemilu?
 
Persoalan yang ingin saya kemukakan sebenarnya adalah penggunaan 
teknologi, terutama open sources, adalah sebuah KEPUTUSAN POLITIK, bukan 
keputusan bisnis, bukan keputusan kebiasaan penggunaan, dan sejenisnya. 
Ini yang terjadi di Jerman, dan ini yang terjadi di Cina. Di Cina, ada 
beberapa departemen yang sudah beralih ke penggunaan open sources dengan 
distro lokal dengan pertimbangan tidak mau tergantung pada salah satu 
vendor saja.
 
Ketika saya menulis Kolom [EMAIL PROTECTED], tidak ada prasangka sama sekali. Perlu 
Anda pahami bahwa dalam menulis berbagai artikel TI di Harian Kompas, 
saya tidak menempatkan diri pada pro-Microsoft anti-Linux atau anti-
Microsoft pro-Linux. Dan saya kira, I have my rights to have my 
opinions, dan adalah hak Anda untuk menganggap itu keliru.
 
Anda bisa benar dalam hitung-hitungan tentang berapa biaya yang dihemat. 
Persoalannya, dalam tender KPU ini, tidak ada vendor yang mau memberikan 
support untuk penggunaan sistem operasi opensources. Pertanyaan saya, 
kalau kita mau pakai opensources, mau pakai yang mana? RedHat? SuSe? 
Mandrake?
 
Mungkin betul kalau kita bisa menghemat dengan penggunaan opensources, 
bisa mencapai sekian ratus ribu dollar AS. Karena saya pernah melakukan 
perhitungan penggunaan Microsoft dan RedHat di Detik, dan memang ada 
selisih yang cukup jauh. Tapi buat saya tetap pertanyaannya kalau ada 
sebuah PC di salah satu kecamatan mengalami gangguan siapa yang akan 
memberikan support? Dan ternyata, dalam tender KPU kemarin tidak ada 
vendor yang bisa melakukan itu.
 
Kalau saya boleh tahu, apakah Anda mempunyai kalkulasi berapa biaya yang 
diperlukan untuk 8005 PC yang sudah terinstall opensources + StarOffice 
aau OpenOffice + supportnya? Mungkin bisa menjadi perbandingan menarik.
 
Tapi terlepas dari persoalan ini semua, yang ingin saya jelaskan 
sebenarnya kembali pada pokok persoalan keputusan politik tadi. Artinya, 
penggelaran teknologi di mana saja, akan sangat terkait erat dengan 
keputusan politiknya. Masalah VoIP adalah yang paling jelas dan nyata 
buat saya, kalau keputusan politik bisa mengalahkan aspirasi dan inovasi 
masyarakat dalam mengembangkan teknologi itu sendiri.
 
Anyway, thanks for the comments. Dan mungkin kalau memang ada waktu 
untuk bisa menulis masalah pengembang software dan segala 
permasalahannya (termasuk soal open sources) akan menjadi menarik untuk 
bisa memberikan warna buat halaman saya. 
 
Sekali lagi terima kasih atas waktunya membaca Harian Kompas
 
Salam,
Rene L. Pattiradjawane
The Daily Kompas
Hongkong SAR
 
 
-----Original Message-----
From: "Mico Siahaan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 6 Oct 2003 07:53:49 +0700 (WIT)
Subject: Tanggapan atas Kolom [EMAIL PROTECTED], 6 Oktober 2003
 
> Tanggapan atas kolom [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> Saya ingin mengajukan tanggapan atas tulisan "Pemilu dan Teknologi"
> 
> Saya setuju bahwa persoalan teknologi informasi berkaitan erat dengan
> bisnis, namun patut disayangkan jika pemilihan teknologi informasi demi
> kepentingan negara yang berkaitan erat dengan masa depan bangsa
> semata-mata didasarkan atas kepentingan bisnis. Pendapat saya,
> teknologi
> informasi yang dipilih haruslah yang membuka kesempatan bagi pengembang
> software Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan
> bukan
> sekedar kacung-kacung teknologi yang hanya pintar dalam menggunakan
> teknologi informasi yang kita impor.
> 
> Saya melihat banyak opini yang timbul mengenai pemanfaatan
> aplikasi-aplikasi Open Source. Sebagian mendukung dan sebagian menolak,
> dengan alasan masing-masing. Saya menyadari maksud baik penulis kolom
> 'Pemilu dan Teknologi' yang ingin melancarkan pelaksanaan Pemilu.
> Menurut
> pendapat saya adalah tidak baik jikalau pemilihan teknologi informasi
> menjadi penghambat pelaksanaan Pemilu 2004 depan. Kita, bangsa akan
> merugi
> jikalau perdebatan mengenai pemilihan teknologi informasi ini
> berlangsung
> lama. Ya, siapapun pemenang tender teknologi informasi Pemilu, akan
> kesulitan besar untuk mengimplementasikan teknologinya di Indonesia
> yang
> luas ini dalam waktu singkat.
> 
> Kembali ke pokok persoalan semula, saya melihat bahwa penulis kolom
> 'Pemilu dan Teknologi' memiliki prasangka yang keliru mengenai 'Linux
> dan
> bisnis'. Entah karena kekurangan informasi, ataupun hal lain, argumen
> yang
> penulis tuliskan keliru total.
> 
> Penulis menuliskan: "Lisensi OEM sudah terintegrasi di dalam sekitar
> 8000
> unit PC yang akan digunakan dalam Pemilu. Artinya? Perangkat komputer
> PC
> itu sudah bisa langsung digunakan di berbagai pelosok Indonesia.
> Bayangkan
> kalau para penyelenggara TI harus melakukan pemasangan atau instalasi
> satu
> persatu, karena memang sekarang tidak ada aplikasi Open SOurce yang
> terintegrasi dalam komputer PC".
> 
> Ya, saya memang setuju adalah pemborosan waktu dan tenaga apabila
> dilakukan instalasi satu per satu di 8000 komputer. Untungnya, argumen
> penulis bahwa "tidak ada aplikasi Open SOurce yang terintegrasi dalam
> komputer PC" adalah argumen yang keliru. Jikalau penulis meluangkan
> waktu
> sebentar untuk browsing ke internet atau menghubungi vendor PC besar
> seperti IBM, HP, Compaq, Acer penulis akan menemukan bahwa
> vendor-vendor
> PC itu sudah menyediakan PC yang terintegrasi dengan Linux dengan harga
> yang lebih murah dibandingkan sistem operasi lain. Artinya? PC-PC Linux
> itu bisa langsung digunakan di berbagai pelosok Indonesia.
> 
> Jika kita main hitung-hitungan, untuk Acer misalnya, selisih antar 2
> sistem yang berbeda sistem operasi itu $100. Berarti untuk 8000
> komputer,
> bangsa Indonesia menghemat $800.000 yang ekivalen dengan RP.
> 6.000.000.000. Lumayan 'kan? Dan bukan hanya sekedar sistem operasi
> saja,
> di dalam PC itu sudah terinstall aplikasi Office yang bisa langsung
> digunakan. Artinya penghematan yang bangsa kita lakukan bisa lebih
> banyak
> lagi karena tidak perlu membayar lisensi terpisah untuk aplikasi
> Office.
> 
> 
> Nah, saya harap informasi yang saya berikan dapat memperkaya wawasan
> penulis "Pemilu dan Teknologi"
> 
> Hormat saya,
> 
> 
> -- 
> Mico Siahaan
> -------------
> [EMAIL PROTECTED]
 
 
. 


--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

Kirim email ke