Satu lagi pertanyaan di seputar tender KPU:
http://www.detik.com/peristiwa/2003/11/13/20031113-171719.shtml

==================
Kantor Monopoly Watch Diserang
detikcom - Jakarta,

Aksi anarkis kembali terjadi. Yang menjadi korban adalah kantor Monopoly Watch yang 
terletak di Jl. Tebet Dalam III C nomor 19, Jakarta Selatan. Akibat serangan ini, 
kaca-kaca kantor Monopoly Watch (MW) hancur.

Massa penyerang menamakan diri Komite Pendukung Pemilu. Mereka yang berjumlah sekitar 
15-20 orang mendatangi kantor (MW) sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis (13/11/2003).
Massa sempat melakukan orasi sebentar. Mereka mengingatkan MW agar tidak mengutak-atik 
soal tender di KPU. Mereka juga mewarning agar tidak upaya untuk menggagalkan Pemilu. 
"Jangan ganggu tender KPU," teriak mereka.

Massa sempat meminta bertemu dengan Komite Eksekutif MW Samuel Nitisaputra. Namun, 
Samuel tidak berada di tempat. Akhirnya, mereka menaruh poster dan spanduk mereka di 
depan kantor tersebut. Selanjutnya, mereka melempari batu ke arah kantor tersebut. 
Setelah itu, mereka melarikan diri.

"Kita sempat mengejar mereka. Namun, mereka keburu kabur dengan menumpang KWK 06," 
kata Tunggul Sirait, kuasa hukum lepas MW saat dihubungi detikcom sekitar pukul 17.00 
WIB. Tunggul saat kejadian, kebetulan berada di kantor tersebut.

Pada saat pihaknya mengejar mereka, beberapa dari para penyerang itu kembali ke kantor 
tersebut dan melempari kembali kantor tersebut dengan batu. "Batu-batunya sebesar 
kepala," kata Tunggul. Akibat pelemparan batu kedua inilah, kaca-kaca kantor hancur.

Sewaktu kejadian, di kantor MW terdapat 25 karyawan. Beberapa perempuan tampak 
ketakutan. "Kami sudah menenangkan mereka, bahwa ini memang risiko perjuangan," kata 
Tunggul. Tidak ada korban luka dalam serangan ini.

Tunggul menduga, penyerangan terhadap kantornya ini berkaitan dengan sikap MW yang 
selalu mengkritisi tentang tender di KPU selama ini. "Ya kita memang selalu perhatian 
dengan masalah-masalah publik seperti ini," ungkapnya.

Apakah kasus ini akan dilaporkan ke kepolisian, Tunggul belum memberi kepastian. "Kita 
masih menunggu Pak Samuel untuk melakukan konsultasi," kata Tunggul. Menurut dia, 
peristiwa anarkis ini baru pertama kalinya menimpa mereka. "Kami semua tidak menduga, 
kalau terjadi seperti ini," ungkapnya.



regards,
-HS

--
Kampanye open-source Indonesia - http://www.DariWindowsKeLinux.com
Solusi canggih, bebas ikatan, dan bebas biaya


--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

Kirim email ke