Rusmanto wrote:

[EMAIL PROTECTED] wrote:

kenyataan bahwa pengguna yang sudah lumayan lama di linux --pun masih tidak bisa set printer. ini contoh yang mudah.


konteks-nya Knoppix dan pemilu, bukan yg lain :)
Ini masal, hampir 10.000 komputer dan printer sama,
tidak sulit kalau Knoppix karena sudah diremaster
utk komputer dan printer itu. User tinggal pakai.

dengan knopix ??? saya sangsi apakah semua orang sudah paham bagaimana tipikal dari sistem operasi linux.


Kenapa sangsi, jangan-jangan Anda belum mencoba
Knoppix yg diremaster untuk kebutuhan seperti pemilu ini....hehehe

kenyataan bahwa seorang mahasiswa ataupun orang yang bekerja pada perusahan telekomunikasi yang terkenal --pun tidak tahu cara format harddisk


Sekali lagi Anda salah tangkap, Knoppix tidak perlu diinstalasi,
tidak perlu format harddisk, tidak perlu compile segala.

Saya sudah tes ke anak-anak SD, bahkan TK,
semua bisa ke Internet, Office, printer,
sekali lagi pakai Knoppix remaster, bukan Debian "asli"

Rus


salam,
permasalahan yang saya maksudkan adalah bukan tentang kedahsyatan knoppix yang mampu diaplikasikan sebagai sistem yang compaq dan mobile, dan tentu tidak lepas dari rasa ingin melakukan eplorasi lebih dari sumber daya yang sangat melimpah, GNU sendiri merangkup sedemikian banyak software yang tidak lumrah.


permasalahan yang saya maksudkan adalah tentang sumber daya personal di KPU itu sendiri, --bukan maksud menghakimi ataupun apa, tapi pada kenyataannya, dan secara objektif, linux lebih sulit untuk dipelajari daripada Microsoft Windows. Dari sekian persen jumlah penduduk di indonesia hanya paling tidak 10% saja yang bisa mengoperasikan komputer, dari 10% itu yang lebih mengenal linux hanya sekian persen saja.

linux sebagai sistem operasi yang dikembangkan torvalds karena tugas kuliah ini menjadi sangat hebat karena GNU itu sendiri, dengan resource yang melimpah, serta project development di sourceforge entah sudah beribu software yang punya spesifikasi yang handal yang bisa dikembangkan hanya dengan modal otak dan hobi saja. belum lagi suport dari ibiblio sebagai tulang punggung yang pokok.
namun melepas semua kehebatan dan resource yang aboundant tersebut, --maaf bukannya ini pesimis, meskipun bisa disebut demikian, kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mempelajari --linux <dalam hal ini yang sudah dipaketkan dalam satu cd knoppix.


apalagi keperluan KPU dengan tenggat yang singkat --menurut keobjektifan saya, rasanya tidak akan mampu untuk membuat pelatihan di seluruh negeri ini untuk memenuhi jadwal pemenuhan kemampuan berkomputer tiap personel manusianya, apalagi budaya kantor di negeri ini sudah kental dengan barang bajakan. tidak mudah untuk menghilangkannya. demam ketakutan barang bajakan sudah sembuh. sebab tidak ada gebrakan yang berarti itu sendiri terhadap distribusinya. sementara itu --maaf ya, temen-temen yang ahli dan berkecimpung di dunia open software dan free development kebanyakan tidak mengembangkan sayapnya yang gagah ke pelosok pikiran user seperti saya ini. ini mungkin karena kondisi yang tidak memungkinkan, atau budaya berkembang kita sendiri yang lemah.

bayangkan saja malaysia yang dua puluh tahun lalu pantas berguru pada kita, sekarang sudah tak mampu diraih dengan tangan kita. mereka menyediakan sebuah fundation dengan hanya untuk mengembangkan project software untuk tujuan ke depan, mereka sudah sedemikian cepat berpikir pengembangan, --karena saya tidak cepat berkembang. bahkan banyak sdm disana yang bekerja untuk mereka adalah sdm negeri ini.

bentuk nyatanya kita masih tidak bisa memasyarakatkan budaya open source dan berkembang ini karena mungkin bisnis, keengganan, dan lain ,--mungkin saya salah, tapi ini hanya menurut saya.

development project yang berkembang di negeri ini selalu mati seperti distro linux bikinan anak negeri kita, sebab apa ? --sekali lagi menurut saya, karena kita tidak memiliki ciri dari insting kita sendiri untuk mengembangkan software. bahkan kata "jawa" kita dijiplak dari produk kopi sun. kita --saya kira selalu mengekor dan berlingkup mi sebuah mitos yang berujar keluar kata demi kata dari mulut ke mulut tentang open source. kita cuma menjiplak. kontinuitas dari project yang didevelop juga kecil, mungkin saya hanya melihat network project dari itb yang saya dengar selalu kontinyu.

bayangkan minix yang dikembangkan tanenbaum sudah sampai sekarang ini tanpa sadar merasuk di otak temen-temen, pertamanya bukankah hanya sebatas materi kuliah, tapi kontinuitas yang mampu membuatnya berkembang besar.

maksud saya bahwa seharusnya kita berusaha mengungkit tentang kehebatan --knoppix itu sendiri, tapi --maaf menurut saya lagi tidakkah temen-temen merusaha merasukkannya di relung hati user, dengan tangan. temen-temen tunjukkan dari KPLI-KPLI untuk bergerak bersinambungan. tapi itu juga sulit mungkin --masalah.

tidakkah yang harus dipecahkan adalah adat kita untuk mengurung diri dari mitos ?, mitos bahwa mocrosoft itu otaknya cuma uang, microsoft itu jelek, microsoft itu penakut, dll. bahwa ternyata source code win2000 yang isinya cela-cela ternyata tidak terlalu menakjubkandan ah... biasah --katanya developer, bisa merasuk ke user, kenapa kontent dan resource tidak mampu dimasukkan oleh temen-temen yang salah satunya sudah sangat kuat ini ?

mungkin kita sudah berusaha mengangkat tema dan menyediakan resource itu sendiri, dan itu salahnya yang tidak mau dan malas untuk berkembang. sungguh sayang karena adat kita sudah demikian. perkembangan adalah keterpaksaan --semoga ini salah bukan?.

jadi tidakkah microsoft office itu sempurna sebagai software kantoran? atau game-game di mindows itu semuanya cute-cute semua kan ? dan mudah dibajak lagi.

maaf jika ini melantur kemana-mana, maklum pemula selalu sok tahu seperti saya :)
jika saya salah mohon bimbingan dan pencerahan


hidup semangat ingin belajar
kita tuntaskan wajib belajar 9 tahun dengan makna yang sebenarnya
kita naikkan gaji guru
dan belajarlah dengan giat karena anda beruntung bisa sekolah di SD yang ada gedungnya


:)

salam
dd

--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php



Kirim email ke