waktu itu, Sat, May 01, 2004 at 05:50:54PM +0700, Anton Rahmadi menulis: > Pedes dikit aaah.... > > Berapa banyak sih yang jualan open source bener buatan sendiri ? > gak asal mengambil modul orang terus diaku ? >
Ada kok. Cukup banyak. Kadang mengagetkan. Pernah di lembaga antah berantah saya menemukan aplikasi basis gtk yang dipadu dengan ltsp dengan memanfaatkan komputer tua. > lagi pula kami yang di daerah kecewa berat sama konsultan TI dari P. Jawa, > karena habis proyek maen tinggal > kayak gak pernah belajar teknik implementasi saja...buat software > semaunya...gak tahu user reqs-nya apalagi > interfacenya....jelek dan gak terpakai... btw...ini jadi lahan juga ;) > memperbaiki yang beginian memang berat, duitnya > dikit (dah duluan diisep kontraktor luar) tapi kerjaannya minta ampun. > Biasanya yang beginian proyeknya government (sori buat plat merah). Kadang coba dibikinin business need, functional requirement sampe use case untuk tiap modul, tapi hampir semua mubazir. Masuk ditumpukan arsip, itu juga kalau diterima. Dan toh mereka biasanya nggak terlalu peduli. Asal ada komputernya baru, printernya baru dan programnya dengan tampilan wah (meskipun tidak berfungsi sempurna) lebih diterima. Ini fakta. Jadi effort utk bikin relatif tidak berharga di mata client. Akhirnya banyak yang potong kompas. Paling nggak itu jadi lahan buat anda, sehingga Anda bisa mulai memperbaikinya dengan menuliskan requirement yang jelas dan dokumentasi desain yang memadai. Dan jika Anda ridho, mudah mudahan hasilnya lebih baik dari konsultan sebelumnya. :) > Mo tau ? masa ada sistem A dan B yang terintegrasi, para konsultannya gak > pake nanya dulu, apakah ada sistem ini > sebelumnya...katanya orang-orang di linux adalah orang yang "sadar" akan > beratnya utang negara ? tapi malah nambah susah > dengan bikin aplikasi opensource tapi closed (source gak diberikan, server > gak boleh diakses bahkan oleh yang beli sekalipun !!!) > Udah gitu training asal jadi, support gak jelas, dokumentasi sangat minim, > bahkan teknologi-nya, dasar pemikirannya tidak dicantumkan > alasannya takut di contek... kalau takut...ngapain pake opensource ...? > Mendingan pake MS sekalian... > Mungkin takut ketauan kalau itu pake modul ngambil dari sourceforge. Mungkin karena deployment software di kita memang masih seperti itu. Banyak kemungkinan. Kalau memang perusahaan itu memakai nama linux, kenapa nggak Anda buatkan kronologinya lalu disampaikan? Kontrol kita bersama menurut saya masih cukup kuat untuk membuat perusahaan2 oportunis berhati-hati dalam memakai brand linux. > Sori pedes....abisnya ngelantur sih, jadi saya juga ngelantur....tetapi saya > tidak menuduh salah satu pihak lho.... > cuma budaya untuk melatih kemandirian kustomer itu harus dimulai....karena > saya, anda, kita adalah Linux aktivis... > betul ? kalau tidak saya unsubscribe aja...percuma...cuma dijadikan ladang > bisnis baru. Meskipun aktivis, jangan tabu bicara bisnis. Kalau mau kuat, bisnis dulu baru advokasi. ps. IMHO melatih kemandirian customer itu bukan tujuan bisnis. Apalagi membudayakan. -- fade2bl.ac -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

