On Saturday 24 July 2004 21:29, Rusmanto wrote:
> Sekalian Pak Adi, mohon buat cerita peengalaman
> mengelola warnet full linux, suka-duka,
> termasuk seperti apa konfigurasi teknisnya.

Hmmm.....
Kisahnya dimulai dari mana yah....
Tahun 1998, aku menemukan "QNX Demo" yang cuman satu disket, dan udah 
graphical, bisa konek ke Internet, punya web browser, bahkan punya web server 
yang punya dokumentasi lumayan lengkap!

Itulah asal mula aku tahu kalau di luar sistem operasi yang aku pakai, 
ternyata di dunia luar masih banyak sistem operasi yang jauh lebih hebat.

Kemudian aku menemukan Linux, dan dan Kelompok Pengguna Linux Indonesia. Aku 
lalu membeli 7 CD Linux, terdiri dari 5 Distro besar, yaitu slackware, 
debian, suse, redhat dan caldera, serta beberapa mini linux, seperti monkey 
linux, MuLinux. dll.

Aku coba-coba install, dan ternyata sangat bagus.
Tapi, 3 bulan telah berjalan, dan aku tetap belum menguasai Linux, dan masih 
tergantung pada OS  yang sebelumnya saya gunakan.
Sampai satu ketika, secara tidak sengaja, aku memformat seluruh harddiskku.

Nah lho, kepalang basah, mending mandi sekalian :-) So, aku bertekad untuk 
meninggalkan OS yang lama, dan hanya menggunakan Linux saja. Ternyata, dalam 
beberapa bulan, saya sudah terbiasa dengan Linux.
Barulah saya ingat, kalau saya menguasai OS sebelumnya juga karena hanya itu 
yang ada :-)

Di kantor, secara kebetulan kami menggunakan proxy server yang sangat tidak 
handal. Kalau cache penuh, system akan melambat, dan harus dihapus manual. 
Bahkan kadang kita membuka sebuah website, namun yang keluar justru website 
lain. So, kami menginstal Linux dan SQUD Proxy server, dan ternyata bekerja 
dengan sangat baik. Padahal, Linux tersebut hanya diinstall di sebuah 
workstation biasa, dengan spesifikasi Pentium 133, RAM 32 MB dan harddisk 2 
GB. Boss saya pun senang, walaupun sebenarnya hal ini tidak sesuai dengan 
"policy perusahaan" dari pusat.

Tadinya, si Linux jalan lengkap dengan Keyboard, mouse, monitor.
Tapi, lama-lama kepikiran kalau komputer tersebut jarang disentuh, jadi, satu 
persatu dicopotin, mulai dari mouse, monitor, dan akhirnya keyboard pun 
dicopot, karena toh biasanya aku remote-admin dari workstationku.

So, si Linux tetap jalan dengan indahnya, tanpa hang, tanpa crash,  tanpa 
masalah tanpa pernah mati (kecuali kalau listrik padam dan UPS kehabisan 
batere) selama lebih dari satu tahun! Ini tidak pernah saya dapatkan di OS 
yang sebelumnya saya pakai.

Sejak saat itu, saya bertekad untuk menggunakan linux saja jika punya wewenang 
untuk memutuskan.

Nah, pertengahan tahun 1999, kantor tempat saya bekerja mengumumkan kalau 
tahun berikutnya, yaitu tahun 2000 kantor akan tutup. Wajar aja, karena ini 
cuman kantor proyek. 

So, daripada menjadi pengangguran, kami mempesiapkan diri, dan pada tanggal 23 
September 1999 saya bekerjasama dengan 2 teman untuk membuka sebuah warnet 
kecil tanpa AC, yang hanya dipersenjatai dengan 5 buah client berkekuatan 
processor 486, plus sebuah server pentium III, dengan koneksi dial up.

Sebenarnya, membuat warnet full linux merupakan tantangan tersendiri, karena 
pada waktu itu linux belum cukup sempurna sebagai desktop.
* Untuk Desktop manager, kami menggunakan KDE yang belum terlalu siap pakai. 
Namun, itulah yang terbaik saat itu, dibandingkan dengan desktop manager lain 
yang tersedia saat itu.
* Untuk web browser, kami menggunakan netscape, karena memang saat itu belum 
ada browser lain yang lebih baik. Memang sih, netscape for linux saat itu 
masih sering hang, tapi toh masih lebih jarang dibandingkan dengan OS lain.
* Untuk chatting, kami menggunakan kvIRC, yang sejak saat itu sudah jauh lebih 
indah dibandingkan dengan mIRC.
* Office suite, kami menggunakan Str Office, yang saat itu masih free.

Salah satu hal yang menarik adalah.... kalau terjadi sesuatu yang tidak 
diinginkan, misalnya ada pengguna yang iseng (orang makassar bilang: kacca') 
sehingga ada aplikasi yang macet, kita tinggal menghapus user tersebut, dan 
membuat yang baru. 

Lumayan.... pada masa itu, jika menghadapi masalah seperti itu kebanyakan 
warnet harus menginstal ulang komputernya, sementara kita hanya membutuhkan 
waktu beberapa detik untuk delete dan create user baru :-)

Lumayan, ternyata yang ditakuti banyak orang, yaitu resistensi terhadap 
desktop linux tidak terbukti. Malah, warnet kami pada saat itu cukup ramai, 
sehingga bisa balik modal dalam tempo sekitar 3 bulan saja. 

Kebanyakan pelanggan tidak pernah bertanya tentang sistem operasi yang kami 
gunakan. Mayoritas cuman mengajukan pertanyaan standar, misalnya, "bagaimana 
cara mengirim e-mail", "bagaimana cara masuk ke dalnet", "bagaimana cara 
ngeprint", dan lain-lain.

Kalaupun ada yang sadar bahwa sistem operasi yang digunakan bukan Windows, ini 
justru merupaka keuntungan tersendiri, karena mereka jadi antusias untuk 
belajar linux. Mayoritas orang-orang ini malahan menjadi teman-teman akrab 
kami saat ini, menjadi aktifis LUGU (Linux User Group Ujungpandang) bahkan 
ada yang akhirnya bekerja di iNterNUX.


Pfff... udah kepanjangan.....
Segini dulu nostalgianya yah....
Minimal, begitulah kira-kira ceritanya hingga kita jadi warnet Full Linux 
pertama di Indonesia.
Sayang, saat ini, kami sudah menutup warnet tersebut pada tahun 2001, karena 
berkonsentrasi sebagai ISP. Tentu tidak etis kalau kita bersaing dengan 
pelanggan kami sendiri yang waktu itu mayoritas adalah warnet.



-- 
Salam,

Adi Nugroho
PT iNterNUX - Internet Service Provider
Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 53 J Makassar
Tel: +62-411-834690 Fax: +62-411-834691







-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

Kirim email ke