Ini pendapat mas Pataka, salah satu aktivis Linux dan indowli,
di milis technomedia (wartawan techno dan narasumber-nya).
Saya forward atas izin mas Pataka.

Rus

-------- Original Message --------
Subject: Re: [technomedia] Linux dan user-friendly
Date: Fri, 24 Nov 2006 10:44:51 +0700
From: Pataka
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
Organization: Pataka Indonesia
To: [EMAIL PROTECTED]

On Thursday 23 November 2006 08:41, Antonius Fran Setiawan wrote:

Sebetulnya itu bukan masalah windows atau linux tapi penguasaan
infrastruktur.

Tepatnya platform. pilihan platform tidak bisa ambigu,
disesuaikan kebutuhan aplikasinya.
Kalo cuma untuk aplikasi office platform open source sudah cukup
memenuhi dan total cost of ownershipnya jelas lebih murah.
Untuk aplikasi tertentu seperti rekayasa grafis,
memang platform proprietary (windows, mac) lebih tepat.
Pada aplikasi server, tidak terbantah open source lebih digdaya.

TIK (mungkin maksudnya Dewan TIK Nasional, Rus),
nampaknya mereduksi masalah hanya ke masalah ke-user-friendly-an.
sehingga mengambil sikap yang tidak tegas,
mau terang-terangan nolak open source nyadar
kalau pasti akan dapat reaksi sangat keras.
Tapi mau melulu memilih proprietary, gak berani.
Maka dibuatlah jalan tengah, proprietary dulu
dengan alasan user friendly dan karena open source dalam negeri
masih belum siap (mungkin perlu dikasih presentasi winbi dkk,
supaya melek).

Maka, membaca situasi dan statement TIK,
tidak salah kalau komunitas jadi memiliki persepsi:
TIK hanya lembaga tukang stempel, melegalisir pembelian
software proprietary karena alasan politis,
bukan karena kebutuhan terhadap teknologi itu sendiri.
Bukan karena nilai strategis platform yang dipilih,
alias tidak pernah menimbang bahwa proprietary
selain memanjakan dengan madu "user friendly"
tapi juga mencekoki racun ketergantungan,
sampai ke level aplikasi, meskipun itu taylor made.
Atau dengan kata lain, untuk menjahit baju kita sendiri,
harus pake mesin jahit proprietary. sedangkan
open source menawarkan kemandirian dan kebebasan.

Namanya mandiri tentu saja perlu effort besar,
tapi jelas menghemat resource kita yang amat berharga
(karena terbatas - salah satunya duit, devisa - yang
bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berguna,
misalnya pengembangan).
Namanya mandiri, tentu saja harus melengkapi,
membuat sendiri apa saja yang belum tersedia
(misalnya support profesional).

Bahkan masalah user-friendly (yang sebenarnya dengan
perkembangan teknologi desktop open source saat ini
masalah ini adalah minor problem).
Tapi yang lebih penting adalah kita sendiri
yang menentukan segala sesuatunya termasuk dalam mengembangkan
kreatifitas seluas mungkin tanpa harus didikte
oleh pihak lain, semata-mata
karena mereka dianggap sebagai pemilik teknologi.

Dalam bahasa sederhana, open source menawarkan kepemilikan
teknologi secara bersama (gotong royong),
sementara proprietary hanya menawarkan sekaligus memposisikan
kita selamanya sebagai pengguna belaka, tambang uang,
sapi perah (you name it).
Jadi, untuk apa bersikap respek terhadap lembaga seperti dewan TIK?

Baca dari beberapa hasil wawancara dengan orang2 TIK,
nampak jelas bahwa mereka sendiri belum bisa membedakan
proprietary dan open source.
Membedakan saja belum bisa, apalagi memahami?
Mungkin perlu baca dokumen GPL dan sejenisnya.
Perlu mengamati dulu bagaimana perkembangan "jalan kiri"
termasuk apa itu copy left.
Barangkali juga belum pernah tahu kalo di dunia maya ini
selain google ada juga wikipedia ...

Yakin, kalo sudah kehabisan argumentasi,
palu arogansi kekuasaan yang bicara.

--
Regards,
Pataka ID

--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke