Wah, ternyata animo untuk bikin sourceforge indonesia lumayan banyak nih.
saya pribadi setuju bila sourceforge dibuat untuk keperluan intern
indonesia dulu, jadi kalo bisa semua karya anak negeri bisa dimasukkan
dalam sourceforge indonesia. sehingga selain menghemat bandwidth ke luar
negeri, juga diharapkan makin banyak orang yang mau berpartisipasi dalam
mengembangkan dunia open source.
ide mirroring emang bagus, cuman ya itu kendala di disk dan bandwidth
kan butuh lumayan banyak. saya kira untuk jangka dekat akan lebih mudah
untuk meng-gol-kan ide sourceforge dalam negeri yang khusus memuat
perkembangan open source indonesia.
semoga dalam waktu dekat bisa ada sourceforge indonesia nih
Andika Triwidada wrote:
On 5/25/07, muhammad panji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
On 5/24/07, Andika Triwidada <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bukan. Link internasional untuk melakukan mirror dari luar negeri
ke Indonesia.
> Me-mirror sourceforge ke Indonesia menurut pendapat saya tidak
> efisien. Kecuali kalau kita bisa melakukan mirror selektif.
>
> Beda dengan me-mirror Ubuntu misalnya. Satu situs melakukan mirroring
> (bandwidth internasional terpakai 5 GB misalnya), selanjutnya
pengguna lokal
> akan mengeroyok mirror lokal tersebut, dan mendownload, katakanlah,
50 GB.
> 1:10. Angka yang cukup bagus.
>
> -- andika
betul pak. saya kemarin sempat iseng ngitung2, kalau dengan bandwidth
yang dimiliki kampus saya sekarang, 51kbps, dan bisa dipakainya cuma
malam hari, bakalan luamaaa banget. kalau misalnya mirroring darat
(inisialisasinya) bagaimana pak? maksud saya kita kerjasama dengan
pengelola mirror diluar negeri untuk dikopikan isi mirror mereka.
misalnya kita kirim server dengan space yang besar ke JAIST, kita
minta tolong dikopikan seluruh isi jaist(termasuk sf.net tentunya).
setelah selesai server itu dikirim ke pengelola mirror di indonesia.
saya kurang tau persis bakal makan waktu berapa lama, tapi teman saya
dijepang cerita download 1 cd paling cuma 10 menit. sekedar berbagi
ide bodoh mengenai membuat mirror.
rgds,
Pekerjaan 'berat' mirroring itu bukan sekedar memulainya. Menjaga agar
tetap up-to-date itu lebih berat (antara lain karena perlu bandwidth
internasional besar).
Kenapa saya beranggapan bahwa me-mirror SF sia-sia? Karena akan banyak
bagian SF yang dinamik (projek-projek mengalami update, posting baru
di forum, bug baru, dsb), sehingga harus di-sinkronisasi ulang. Ini
akan sangat memakan bandwidth. Padahal belum tentu sebagian besar
update tersebut *sering diakses* oleh pemakai lokal. Dari sudut
pandang efisiensi bandwidth, boleh jadi hanya akan mencapai 1:2, atau
bahkan kurang.
Mungkin pengalaman Pak Ibam dan para penjaga mirror lain bisa di-share
untuk kondisi saat ini. Pengalaman saya memelihara mirror Debian
beberapa tahun yang lalu hanya mampu mencapai rasio 1:5, padahal sudah
cukup selektif me-mirror, yaitu hanya Debian i386 binary + source, dan
beberapa paket berukuran gajah sengaja tidak di-update.
UI kabarnya mengalokasikan bandwidth internasional sampai dengan
sekitar 10Mbps untuk keperluan update kambing dan tuma.
-- andika
--
Best Regards,
Bernard Adytia Darmadi
======================================================================================
IMPORTANT - This email and any attachments may be confidential and privileged.
If received in error, please contact Samator and delete all copies. You may not
rely on advice and documents received by email unless confirmed by a signed
Samator letter. This restriction on reliance will not apply to the extent that
the above email communication is between parties to a contract and is
authorised under that contract. Before opening or using attachments, check them
for viruses and defects. Samator liability is limited to resupplying any
affected attachments.
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis