Pak Harry Sufehmi, Pak Rusmanto dan Kawan2 Aktivis Linux Yth,
Pak Rusmanto dan Kawan2 Yth,
Yang saya usulkan untuk Universitas hanyalah bagian Riset-nya saja,
sedangkan Untuk para Mahasiswa, dan anak2 sekolah, mengingat dana
mereka terbatas, maka mereka hendaknya pakai Open Soure.
Namun demikian, di Bagian Riset Universitas juga perlu Open Source untuk
Pengembangan Open Source.
Kalau perusahaan Besar dan Kaya mau memilih Open Source dengan
pertimbangan Effisiensi, boleh saja, welcome.
Jadi yang saya maksud dengan Segmentasi Pasar adalah Upaya Marketing
Perusahaan SW Proprietary di Indonesia hendaknya difokuskan ke
Perusahaan Besar dan kaya saja. Jangan mereka mempromosikan Produk SW
Proprietary ke masyarakat yg dananya pas-pas-an, sebab bakal tidak mampu
beli, akhirnya membajak SW Proprietary, seperti yg terjadi saat ini.
Liberalisasi Software OK saja. Tetapi tadi, jangan para Vendor SW
Proprietary mempromosikan ke masyarakat yg marginal atau dana-nya
pas-pas-an, khan tidak masuk akal, sebab mereka khan tidak punya uang cukup
untuk membeli. Kalaupun nanti harus nyicil, sampai kapan?
Tujuan saya memang bukan untuk menyenangkan Bill Gates, tetapi ingin membuka
mata mereka, dampak promosi SW Proprietary yg mahal ke masyarakat marjinal
dan yg uangnya pas-pas-an, akan menimbulkan Peningkatan Pembajakan SW di
Indonesia. Jadi apa yg sebenarnya diinginkan Vendor SW Proprietary dan
Pemerintah? Membiarkan masyarakat membajak SW, lalu di-kejar2, didenda dan
dibui? Apa ini baik bagi bangsa dan negara Indonesia?
Does this make sense?
Wassalam,
S Roestam
---------------
Harry Sufehmi writes:
2008/4/14 Sumitro <[EMAIL PROTECTED]>:
Pak Cahyo, Pak Harry, Pak Adi, pak Rusmanto serta kawan2 Yth,
Saya mengusulkan lewat Milis tetangga, agar ada Segmentasi Pasar SW Proprietary
dan Open Source untuk meminimalkan tingkat pembajakan SW di Indonesia.
Ini bisa meningkatkan citra Indonesia, memberikan kepastian berusaha (bagi
Warnet, UKM, dll), dan menghilangkan sweeping yang membuat UKM menderita.
Terlampir usul saya, mohon diberikan tanggapan.
Terimakasih untuk urun rembuknya yang cukup aktif di berbagai forum
pak Sumitro. Kita butuh lebih banyak lagi pelobi untuk topik open
source ini.
Untuk informasi, pada saat ini penggunaan open source di lapangan
terus meningkat dengan pesat.
Ketika dikombinasikan dengan trend kemunduran Windows (1),
maka jika kita mengkotakkan diri seperti ini, bisa jadi seperti bunuh
diri sendiri.
Contoh skenario: open source akhirnya meledak & populer di Indonesia.
Tapi, karena ada regulasi pembatasan UKM / non-UKM tsb, maka
perusahaan2 besar jadi tidak bisa menikmatinya.
Secara umum, saya pribadi juga lebih pro untuk meminimalkan regulasi.
Terlalu banyak regulasi bisa menjadikan barrier of entry terlalu
besar, pada akhirnya bisa mematikan kita sendiri (pengusaha kecil),
dan menjadi loophole yang bisa di eksploitasi pengusaha besar.
Contoh kasusnya sudah terlalu banyak di seluruh dunia.
Berbelok sedikit yang mungkin relevan -- Kemarin ini saya di undang di
acara diskusi topik liberalisasi software oleh Depkominfo, ketika
ditanya setuju atau tidak, saya jawab setuju sekali. Sekarang pun kita
sudah praktekkan -- apa lagi yang lebih liberal daripada software yang
source codenya diumbar secara bebas ke publik ? :-)
Tapi yang perlu diamankan adalah soal paten software -- jangan sampai
software bisa dipatenkan di Indonesia. Ini akan mematikan software2
house lokal. Software cukup copyright saja.
Mungkin kira2nya demikian.
Terimakasih.
Salam,
Harry
(1) http://www.computerworld.com/action/article.do?command=viewArticleBasic&articleId=9076698&pageNumber=1
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis