Prof Yamandu: Manfaatkan ICT dalam Dunia Pendidikan
16 Juli 2008

Guru memiliki keterbatasan dalam mengajar siswa, walaupun masih banyak
hal-hal positif juga yang dapat diperoleh darinya. Di Amerika Serikat,
istilah "guru" sering diidentikkan sebagai orang yang memiliki
kecakapan di bidangnya, misal kecakapan spiritual, kecanggihan
teknologi dan lain-lain. Beberapa keterbatasan itu, di antaranya
interaksi yang terbatas karena umumnya kelas diisi banyak siswa.

Demikian disampaikan Prof Mtro Yamandu Ploskonka DSLL dari Austin,
Texas (AS), dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Ilmu
Komputer FMIPA, Rabu (16/7). Diskusi di laboratorium Pusat Komputer
Universitas Brawijaya ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta
komunitas Linux Malang.

Lebih lanjut Prof Yamandu menyatakan, pendidikan yang baik berhubungan
dengan penumbuhan karakter yang mengajarkan nilai-nilai positif bagi
siswa. "Tetapi yang terjadi selama ini, proses belajar mengajar (PBM)
tersebut berlangsung satu arah saja, dari guru kepada murid sehingga
yang tercipta adalah ketaatan", ujarnya. "PBM dianggap berhasil jika
para siswa taat kepada gurunya, padahal disisi lain siswa dituntut
untuk memiliki kreativitas dan sikap kritis yang hanya bisa tumbuh
melalui pembebasan", tambahnya. Terkait pembebasan penuh terhadap
siswa, Prof. Yamandu menyatakan bahwa banyak juga pihak yang tidak
setuju karena keberadaan guru yang mengajarkan nilai-nilai terhadap
siswanya masih dirasa penting guna membentuk pribadi yang
bertanggungjawab, yang mampu membetulkan hal yang salah melalui
pegangan nilai yang dimilikinya.


Peran ICT

Dalam PBM, selain mengajarkan nilai, guru juga mengajarkan data dan
informasi. Di sinilah, menurut Prof Yamandu, peran teknologi khususnya
information and communication technology (ICT) dibutuhkan. Selama ini
PBM terkendala karena jumlah siswa yang mengikuti kelas mencapai
puluhan. "Saya pernah mengajar suatu kelas di Amerika dengan 41 siswa
dalam kelas", ujarnya. Hal ini menjadikan PBM tidak optimal, karena
data dan informasi yang tersampaikan kepada siswa tidak maksimal.
Dalam hal ini, beberapa kasus patut diperhatikan. adalah adanya
beberapa siswa yang lambat. "Siswa yang lambat bukan berarti ia bodoh,
bisa saja ia cerdas tetapi hanya sedikit lambat dalam menerima
pengarahan", ujarnya. "Di sinilah komputer memahami anak-anak yang
lambat dalam belajar, karena gaya belajar hanyalah permasalahan
teknis", tambahnya. Dengan menambahkan infrastruktur berupa personal
computer (PC)/komputer, menurut Prof Yamandu, siswa akan mampu
mengaktifkan semua indera dan sensitifitasnya melalui melihat,
mendengar, dan membaca.


OLPC

Dalam presentasinya, secara khusus Prof Yamandu memperkenalkan One
Laptop Per Child (OLPC) project. OLPC ini, dijelaskannya, dikenalkan
pertama kali oleh Prof. Nicholas Negroponte di Kota Boston, Amerika
Serikat. Melalui program OLPC ini, anak-anak berkesempatan untuk
mengakses data dan informasi secara langsung dan mandiri. Melalui
yayasannya, yaitu Yayasan OLPC, Prof. Negroponte hanya memberikan
harga 220 US dollar setiap pembelian lebih dari 10000 laptop. Harga
ini, dijelaskannya lebih murah dibandingkan 1 keping CD original
Microsoft yang mencapai 500-800 US Dollar. Di seluruh dunia,
dipaparkan Prof Yamandu, OLPC telah dimanfaatkan di Amerika Selatan
terutama Uruguay yang telah memesan 300.000 laptop dan Peru yang telah
memesan 100.000 laptop. "Di Uruguay, OLPC dimanfaatkan oleh anak
sekolah dasar mulai kelas I-VI", kata dia. Beberapa keunggulan OLPC,
di antaranya tahan banting dan air karena dilapisi karet, menggunakan
prosesor 433 Mhz AMD Geode, dynamic RAM 256 MB, 1 GB SLC NAND
flashmemory on board dengan operating system "skinny" Fedora dari
Linux.


Software Bajakan

Dengan memanfaatkan free open source software (FOSS) dalam hal ini
Linux, menurut Prof Yamandu diharapkan dapat mengurangi angka
pembajakan, khususnya di Indonesia. "Banyak alasan baik untuk
menjustifikasi pembajakan, tetapi hanya satu dasar alasannya yaitu
malas mempelajari sesuatu yang lain", ujarnya mengamati fenomena
maraknya pemanfaatan software bajakan. Masyarakat Amerika sendiri,
dijelaskan Prof Yamandu merasa telah banyak memberikan keuntungan
kepada Bill Gates, pemilik Microsoft, karena ketergantungannya kepada
salah satu lisensi OS terkemukanya, Windows. "Mereka enggan memakai
software bajakan hanya karena gengsi disebut pencuri", ujarnya. "Jika
di Indonesia banyak yang menggunakan bajakan, mungkin karena memang
tidak malu disebut pencuri", tambahnya. Informasi mengenai OLPC dapat
diperoleh di http://wiki.laptop.org.

Dalam diskusi itu Prof Yamandu didampingi istrinya, Debbie Ploskonka,
yang juga pemateri Seminar Teknologi Informasi untuk MS Office,
Graphic Design, dan Web Design. Seminar ini diselenggarakan secara
berturut-turut pada tanggal 15, 22 dan 29 Juli 2008 di gedung Pusat
Komputer Universitas Brawijaya lantai III. Bagi yang berminat,
kontribusi pendaftaran sebesar Rp 50 ribu. Selain itu, diselenggarakan
juga acara The Mix, sebuah party yang bertempat di Und Corner, Jalan
Ijen 84, Kamis (17/7) untuk tim dari Austin dan Kamis (24/7) untuk tim
dari Boston. [nok]

http://prasetya.brawijaya.ac.id/jul08.html#yamandu

-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke