2008/7/30 Frans Thamura <[EMAIL PROTECTED]>:
> saya baru ngeblog mengenai keluhan banyak pihak mengenai dunia Java.
>
> 1. Susah mencari orang Java
> 2. Orang Java itu kelewat mahal
> 3. Arsitektur Java merupakan momok
>
> http://nagasakti.mervpolis.com/roller/flatburger/entry/java_outsourcing_nightmare_gimana_mengatasinya
>
> ditunggu commentnya, sebab topik ini akan dibuat menjadi berseri,
>
> maklum lg ada program link industri dan kampus dan sekolah, dan
> masukan rekan-rekan diharapkan dapat merubah cara kita melihat
> kesulitan orang JAva

Ini ga salah kamar om ? :P

Karena kamarnya rada ga relevan ta jawab agak umum ajah secara java
sebagian besar komunitas dan produknya foss. sifat foss yang bebas
menyebabkan banyaknya inovasi teknis yang luar biasa di java juga
termasuk. Tapi downsidenya memang jd tidak mudah untuk menguasai
semuanya(ini bahkan hampir tidak mungkin). Apalagi dalam aspek
mempelajarinya baru2 mo nyoba linux dah bingun make distro yang mana
(ada 300 distro bo). Emang sekarang biasanya sekarang lebih mudah
tunjuk ajah yang komunitasnya bagus dan sudah berkembang. Nah di java
mirip2 tapi lebih kompleks urusannya (biar bagaimana ini bahasa
pemprograman). Yah resikonya FOSS. Tapi disini memang tantangannya.
yah sabar ajah dan terus berusaha memperkenalkan, paling ga mereka
yang masih duduk di bangku akademis lebih sering di introduce karena
ada teknis2 menarik yang nampaknya hanya ada di java.

Tapi siapa sih yang care sama teknis2 pemprograman begitu(framework or
apa namanya itu)??? mending belajar jaringan, bisa nyusup2, atawa
bikin web design yang animasinya bagus2. Yup komentar miring begitu
banyak meluncur dari mulut para mahasiswa IT. Sedangkan yang bener2
tertarik yang dikit dan ini menyebabkan point 1 & 2. Tapi wajarlah
secara institusi akademik IT kita agak bermasalah jadi yah maklum saja
(gw dulu pernah bikin treadnya kalo ga salah). Biar bagaimana java,
python, C++ adalah bahasa pemprograman yang notabene turunan
matematika (aljabar boole) jadi emang di perlukan semangat/energi
lebih dan komunitas yang nyaman untuk mempelajarinya. Kalo ga kelaut
ajeh :P.

Kuncinya komunitas emang, makin kecil makin bagus, untuk belajar
Linux(the kernel), java, dan produk knowledge foss lainnya. Ini pr lo
gw dan siapa ajah yang paham masalahnya tanpa nungguin birokrasi di
institusi akademis kita(bukan berarti ga di garap).

Paling mantab emang kalo model2 kaya elo megang kelas juga gitu frans
di institusi akademis. Tapi kalo ga bisa model KSL, JUG(ada nama laen
ga kalo kecil) juga sudah sangat bagus.

Sampe hari ini komunitas Java sama komunitas Linux(the kernel) punya
nasib yang kurang lebih sama. Makannya kalo kasus KPLI pade kembang
kempis harap maklum om2 sekalian mendingan belajar yang for human
being. Masalahnya di Linux masih ada yang for human being Frans lah di
Java .... :(


>
> --
> Frans Thamura
> Meruvian
> redefining civilization
> http://www.meruvian.com
>
> --
> Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
> Arsip dan info: http://linux.or.id/milis
>
>



-- 
Resza

http://jakarta.linux.or.id

-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke