Salam, On Nov 25, 2008, at 11:57 AM, fade2blac wrote:
c. Perception is reality. Bahwa Linux itu gratisan tapi susah dipakai, mungkin sudah menjadi persepsi banyak orang. Meskipun kenyataannya mungkin (tidak) demikian, terutama seiring pengembangan Linux sendiri. Tapi kalau persepsi itu sudah menancap, ia akan sulit diubah. Jadi aktivisme adalah perang persepsi.
Khusus poin ini, faktanya memang masih ada kebenarannya. Linux memang masih susah kalau dihadapkan pada masalah kompatibilitas atau mungkin tepatnya interoperabilitas aplikasi dan ketersediaan driver. Pengalaman saya, dua hal ini selalu jadi fokus ketika terjadi implementasi di organisasi, korporasi atau pemerintahan. Kalau implementasi level end users misalnya rumahan sih nampaknya masalah ini sudah minor problem, karena biasanya si user sudah siap mental dan sudah niatan ingin pakai Linux jadi malah asyik semacam tantangan kalau ada masalah. Ini beda psikologisnya dengan di organisasi, yang tujuannya adalah keberhasilan pekerjaan bukan ngoprek.
Umumnya mereka masih sulit menerima penjelasan seperti: masalah driver timbul bukan karena Linux tidak canggih, tapi karena masalah lisensi dlsb. Mereka tidak peduli itu. Maunya bisa bekerja seperti semula. Sehingga sering saya melewati sesi perdebatan itu dan langsung saja mengatakan, untuk perangkat yang ini anda tidak bisa pakai Linux harus tetap pakai Windows. Selesai urusan. Kalau mereka bertanya, baru dijawab panjang lebar hehehe :)
_______ Regards, Pataka -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

