Salam, On Nov 26, 2008, at 8:48 PM, Ronny Haryanto wrote:
Saya pribadi tidak terlalu suka sih Linux selalu disamakan dengan FOSS. Linux ya Linux, FOSS ya FOSS. Biar aktivis FOSS lah yg mengadvokasikan FOSS. Kalo kita bisa ikut mempromosikan FOSS sebagai efek sampingan, atau sebaliknya, tentunya lebih baik dan tidak ada salahnya, tapi tidak usah dijadikan satu fokus utama. Saya ngomong ini dalam konteks ILC loh ya, kan acaranya acara Linux (ingat "L" di ILC?), bukan FOSS conference.
Menurut saya, itu terjadi karena definisi KPLi dan kemudian acara ILC itu masih mengambang. Di satu sisi faktanya KPLi dan ILC bisa jadi ajang berkumpulnya aktivis, bukan hanya Linux tapi juga FOSS. Atau karena memang 4L syndrome, lu lagi lu lagi, alias orangnya ya itu-itu juga. Jadi sering rancu, pada saat menghadiri ILC atau sedang kumpul di KPLi mewakili apa dan siapa. Sehingga di sisi lain, ketika sebagian aktivis mencoba melakukan definisi yang lebih tegas dan jelas, nggak berani, nggak tega, karena sadar juga malah mungkin akan jadi terbelah komunitasnya.
Sebaiknya memang redefinisi yang tempo hari jadi polemik, dituntaskan. Bayangan saya, ILC 2008 di Denpasar, Bali kemaren mensikapi masalah itu, ternyata nampaknya tidak ;))
Kembali ke ILC, juga itu saya rasa adalah ajang pertemuan dan konferensi *pengguna* (dan developers) Linux, jadi mayoritas bukan orang2 yg perlu diajak pake Linux anyway (karena udah pake). Saya sih tidak melihat ILC sebagai acara yg tujuan utamanya adalah ajang marketing Linux. Itu mungkin kalo expo atau pameran yg audiencenya lebih publik.
Akan kembali lagi ke pernyataan awal. Menggunakan Linux untuk apa, sebagai the right tool. Jadi belum tentu juga sehari-hari pakai Linux atau pas acara itu juga pakai Linux. Ini masalah pilihan. Kalau saya, untuk apa ribut soal penampilan, lebih penting pembahasan agenda untuk menghasilkan sesuatu yang betul-betul berguna untuk banyak orang.
_______ Regards, Pataka -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

