Pada 12 Januari 2009 08:55, Adi Nugroho <[email protected]> menulis:
> On Sunday 11 January 2009 12:01:07 Alex Budiyanto wrote:
>> Rekan,
>> OpenSource tidak hanya kernel linux saja lho ;-)
>> Mungkin itu saja dulu, silahkan kalau ada yang ingin menanggapi.
>> Thanks
>
> Benar.
> Kita bisa bikin dokumentasi tentang Linux, bisa juga tentang opensource.
>
> Kalau mau bikin dokumentasi tentang opensource, maka kita bisa memasukkan OS
> non Linux (beos, freebsd dll) ke dalamnya, tapi tidak bisa memasukkan
> aplikasi non opensource (mp-3, pemutar dvd, oracle, informix dll).
>
Kalau melihat judul awal dari thread ini, sepertinya Film Dokumenter
Open Source di Indonesia.
> Mana yang paling dibutuhkan orang, itulah yang sebaiknya kita buat.
>
Kalau menurut saya yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia adalah full
open "culture":
- Hardwarenya dari paling dalam sampai paling luar open hardware
design (en.wikipedia.org/wiki/Open_source_hardware):
- Komputer seperti PC532 (en.wikipedia.org/wiki/PC532), ECB AT,
Simputer, LART (www.lartmaker.nl/)
- Prosesor seperti OpenSparc, OpenRISC, LEON.
- Graphic subsystem seperti OpenGraphic
(en.wikipedia.org/wiki/Open_Graphics_Project)
- System bus seperti Wishbone (www.opencores.org)
- Mechanicalnya seperti VIA OpenBook (www.viaopenbook.com)
/Coreboot)
- Softwarenya dari lapisan paling bawah sampai paling atas open source:
- BIOS seperti OpenBIOS (en.wikipedia.org/wiki/OpenBIOS) atau
CoreBoot (en.wikipedia.org/wiki - OS seperti Linux, FreeBSD,
OpenSolaris, Minix.
- Desktop environment seperti GNOME, KDE, GnuStep.
- Aplikasi seperti OpenOffice, keluarga Mozilla, GIMP,
- Game seperti Battle for Wesnoth, TuxRacer,
- Knowledge Database-nya open content:
- Dokumentasi seperti LDP & Wikipedia.
- Buku seperti Wikibook & BSE.
- Datanya dari urusan menggunakan open format:
- Office: ODF, PDF/X.
- Grafix: JPEG, CGM, PNG, APNG, MNG, SVG, EXR.
- CAD: STEP, IGES
- AudioVideo: OGG (termasuk Speex, Vorbis, FLAC, Theora)
- Sertifikasinya juga seharusnya open, baik untuk manusianya maupun
untuk prasarananya.
Linux saja (tanpa dukungan gerakan open "culture" yang lain) tidak
cukup karena berarti bangsa Indonesia akan tergantung pada impor
hardware dari luar, harus membayar lisensi mp3 atau format data
propietary lainnya, keluar $$ untuk sertifikasi, dst.
Sebetulnya bagi end user, yang mereka lihat dan rasakan adalah desktop
environment (KDE / GNOME / GnuStep) dan aplikasi (OpenOffice / Firefox
/ ...).
Ketika kita memperkenalkan BlankOn misalnya, bagi mereka sebetulnya
belajar menggunakan GNOME, sang Linux tidak kelihatan di sini. Jadi
misalnya kernel BlankOn diganti Minix misalnya, mereka tidak merasakan
bedanya.
Namun bagaimanapun sejarah sudah mencatat bahwa Linux adalah ujung
tombak dari gerakan open "culture" tersebut. Karenanya, meski judulnya
dibuat open source, tetap saja Linux akan menjadi pemain utama.
--
Syafrudin Abi-Dawira
--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis