---------- Pesan terusan ----------
Dari:  Pendoks KTV  <[email protected]>
Tanggal: 30 Juni 2010 23:20
Subjek: Fw: [Hukum-Online] angka dari mana ? BSA potensi kerugian $900 juta ??
Ke: Idul Tv <[email protected]>


Kendari TV SEMUA BUAT SEMUA

________________________________
From: <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 30 Jun 2010 05:55:20 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: [Hukum-Online] angka dari mana ? BSA potensi kerugian $900 juta ??


rekan milis:
Angkanya laporan BSA dibawah ini memang  indah $ 411 juta(207), $ 566
juta (2008), $866juta (2009) ,sekarang $ 900 juta (2010)
dari mana gerangan... angka ini bisa diperoleh... apa iya...hanya
dengan estimasi berdasarkan jumlah PC yang dijual... dan estimasi
jumlah software yg digunakan oleh PC tersebut  membandingkan dengan
software yg terjual kah ??

Selama angka BSA diperoleh melalui IDC , melalui model  estimasi
seperti diatas,  bukan dari sensus dan melakukan survey menanyakan
populasi pemakai komputer di tanah air satu persatu ... maka data dan
angkanya akan sangat diragukan mengenai ketepatannya ?
catatan: makin besar populasinya, makin tinggi accuracy...menurut buku
Statistic for dummy and how to lie with statistics :-)

kenapa.?.. karena:
1. sekarang banyak sekali pemakai linux, open source, free software
dan sulit menentukan jumlah nya karena mereka bisa mengunduh langsung
tanpa hrs melalui distributor atau beli majalah dan bisa install
ubuntu misalnya... bagaimana mengitungnya... apakah dengan melihat
oplah majalah Linux :-)
karena setiap majalah linux biasanya ada distronya... Jadi populasi
linux, open source dna free software sangat besar di Indoensia...namun
tidak mudah untuk mengetahuinya kecuali dengan survey langsung...
angka angka BSA ini jika diperoleh tanpa mempertimbangkan populasi
Linux akan terdistorsi dan sangat kurang accuracynya ?
dan pemakai linux biasanya tidak perlu Anti virus...tidak perlu MS
Office cukup pakai Open Office atau software legal... lainnya.
cmliiw

2. laporan IDC mengatakan bahwa sekitar 40% populasi di Indonesia
adalah branded...dan majoritas branded tidak membajak dan branded luar
negeri biasanya membeli softwarenya diluar negeri...misalnya Toshiba ,
Sony jika datang dari Jepang maka software bundlenya dihitung
pembelian dari Jepang atau dari Cina kalau di ekspor dari
Cina...demikian dengan Lenovo, Acer, Dell, HP, IBM semua pakai
software legal O/S
Jadi jika benar maka 40% O/S dari PC yang masuk ke Indonesia adalah
legal... dan ini pasti luput dari pengamatan IDC...karena dihitung
dari penjualan software ditanah air... padahal softwarenya dibeli
bundling bersama hardwarenya...

sehingga conclusionnya... laporan BSA dan angka angka BSA ini perlu
dipertanyakan accuracynya... semestinya pemerintah menanyakan sama
BSA... gimana mendapatkan angka angka ini dan menjelaskan dengan
transparan... sesuai dengan UU Statistik ?... agar masyarakat clear
dan jelas.

artikel dibawah ini dari Bisnis Indonesia... silahkan dibaca:
Teknologi Informasi
Rabu, 30/06/2010

Potensi kerugian capai US$900 juta
Tren pembajakan software di Indonesia belum turun

JAKARTA: Potensi kerugian yang diderita pemasok peranti lunak akibat
pembajakan software di Indonesia pada tahun ini diperkirakan menembus
US$900 juta di tengah meningkatnya kebutuhan peranti lunak.

Donny Sheyoputra, Perwakilan Business Software Alliance (BSA)
Indonesia memproyeksikan angka kerugian akibat pembajakan software
tahun ini cenderung naik hingga mencapai US$900 juta. "Kerugian pasti
naik karena sifatnya yang umum di tengah pertambahan kebutuhan
software yang porsinya lebih besar lagi," ujarnya kemarin.

BSA merupakan organisasi yang sebagian besar berasal dari industri
peranti lunak komersial global di antaranya Microsoft, Autodesk,
Apple, Adobe, Corel, Symantec dan lainnya.

Donny memperkirakan naik turunnya tingkat pembajakan software di
Indonesia tidak terlalu jauh dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya yaitu naik turun pada kisaran 1%-2%.

Dia menegaskan persentase tingkat pembajakan hanya mengacu pada end
user, bukan ritel atau pengganda. Adapun patokan tingkat pembajakan
itu dihitung lembaga riset International Data Corporation (IDC) yang
menghitung dari setiap 100 software komputer yang terinstalasi, lebih
dari 80% di antaranya tanpa lisensi baik dari sistem operasi, aplikasi
perkantoran, maupun aplikasi lainnya.

Lima jenis software yang diklaim paling banyak dibajak di Indonesia
adalah Microsoft Office, Microsoft Windows, aplikasi Autodesk,
antivirus, aplikasi penyunting foto. Polanya dapat berupa satu lisensi
digunakan beramai-ramai atau pengodean hard disk (hard disk coding).

Open Source

Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah Masyarakat
Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah berpendapat estimasi IDC
untuk menghitung tingkat pembajakan di Indonesia tidak tepat dijadikan
acuan. "Kerugian dibuat dari perkiraan PC yang terjual dikali software
yang diperkirakan dipakai tanpa melakukan survei sudah pasti
terdistorsi dan seharusnya validitasnya dapat dipertanyakan oleh
pemerintah," ujarnya kemarin.

Menurut dia, estimasi IDC tidak memperhitungkan penggunaan software
sumber terbuka (open source software/OSS) yang dinilai sulit dihitung.

Rudi memberikan contoh data importasi komputer ke Indonesia. Jika 40%
dari total PC merupakan branded PC yang sistem operasinya dipaket
artinya 40% sudah pasti legal. Belum lagi kenyataan penggunaan OSS
yang terus meningkat.

Tingkat pembajakan software Indonesia
TahunTingkat (%)Kerugian (juta US$)
200986866
200885544
200784411
200685350
200587280
Ket *) proyeksi
Sumber: BSA

Pasar software dan jasa software Indonesia (Rp triliun)
Indikator20092010
Lisensi2,62,7
Jasa4,25,3
Total6,88,0
Sumber: Aspiluki, IDC November 2009, diolah

Terkait dengan software legal, PT Microsoft Indonesia memutuskan untuk
meningkatkan edukasi kepada pengguna mengenai keuntungan menggunakan
produk software berlisensi, seiring dengan meningkatnya angka
pembajakan peranti lunak di Indonesia.

Haswar Hafi, Office Marketing Manager Microsoft Indonesia, mengatakan
data terakhir dari hasil riset BSA mencatat tingkat pembajakan
software di Indonesia sepanjang tahun lalu naik 1% menjadi 86%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 85%. (fita Indah
Maulani) ([email protected])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia


© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved.
dari:
http://www.bisnis.com/pls/bisnis/bisnis.cetak?inw_id=740801




Teknologi Informasi
Rabu, 30/06/2010

Potensi kerugian capai US$900 juta
Tren pembajakan software di Indonesia belum turun

JAKARTA: Potensi kerugian yang diderita pemasok peranti lunak akibat
pembajakan software di Indonesia pada tahun ini diperkirakan menembus
US$900 juta di tengah meningkatnya kebutuhan peranti lunak.

Donny Sheyoputra, Perwakilan Business Software Alliance (BSA)
Indonesia memproyeksikan angka kerugian akibat pembajakan software
tahun ini cenderung naik hingga mencapai US$900 juta. "Kerugian pasti
naik karena sifatnya yang umum di tengah pertambahan kebutuhan
software yang porsinya lebih besar lagi," ujarnya kemarin.

BSA merupakan organisasi yang sebagian besar berasal dari industri
peranti lunak komersial global di antaranya Microsoft, Autodesk,
Apple, Adobe, Corel, Symantec dan lainnya.

Donny memperkirakan naik turunnya tingkat pembajakan software di
Indonesia tidak terlalu jauh dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya yaitu naik turun pada kisaran 1%-2%.

Dia menegaskan persentase tingkat pembajakan hanya mengacu pada end
user, bukan ritel atau pengganda. Adapun patokan tingkat pembajakan
itu dihitung lembaga riset International Data Corporation (IDC) yang
menghitung dari setiap 100 software komputer yang terinstalasi, lebih
dari 80% di antaranya tanpa lisensi baik dari sistem operasi, aplikasi
perkantoran, maupun aplikasi lainnya.

Lima jenis software yang diklaim paling banyak dibajak di Indonesia
adalah Microsoft Office, Microsoft Windows, aplikasi Autodesk,
antivirus, aplikasi penyunting foto. Polanya dapat berupa satu lisensi
digunakan beramai-ramai atau pengodean hard disk (hard disk coding).

Open Source

Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah Masyarakat
Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah berpendapat estimasi IDC
untuk menghitung tingkat pembajakan di Indonesia tidak tepat dijadikan
acuan. "Kerugian dibuat dari perkiraan PC yang terjual dikali software
yang diperkirakan dipakai tanpa melakukan survei sudah pasti
terdistorsi dan seharusnya validitasnya dapat dipertanyakan oleh
pemerintah," ujarnya kemarin.

Menurut dia, estimasi IDC tidak memperhitungkan penggunaan software
sumber terbuka (open source software/OSS) yang dinilai sulit dihitung.

Rudi memberikan contoh data importasi komputer ke Indonesia. Jika 40%
dari total PC merupakan branded PC yang sistem operasinya dipaket
artinya 40% sudah pasti legal. Belum lagi kenyataan penggunaan OSS
yang terus meningkat.

Tingkat pembajakan software Indonesia
TahunTingkat (%)Kerugian (juta US$)
200986866
200885544
200784411
200685350
200587280
Ket *) proyeksi
Sumber: BSA

Pasar software dan jasa software Indonesia (Rp triliun)
Indikator20092010
Lisensi2,62,7
Jasa4,25,3
Total6,88,0
Sumber: Aspiluki, IDC November 2009, diolah

Terkait dengan software legal, PT Microsoft Indonesia memutuskan untuk
meningkatkan edukasi kepada pengguna mengenai keuntungan menggunakan
produk software berlisensi, seiring dengan meningkatnya angka
pembajakan peranti lunak di Indonesia.

Haswar Hafi, Office Marketing Manager Microsoft Indonesia, mengatakan
data terakhir dari hasil riset BSA mencatat tingkat pembajakan
software di Indonesia sepanjang tahun lalu naik 1% menjadi 86%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 85%. (fita Indah
Maulani) ([email protected])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia


--
Best Regards
Saydul Akram
OpenSUSE Ambassador
Profil :http://en.opensuse.org/User:Idulk
Blog: http://idulk.kendari.linux.or.id
SLUG:http://opensuse.kendari.linux.or.id

--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke