2010/12/8 Asri Rachman <[email protected]>:
> Pada tanggal 08/12/10, Mahyuddin Susanto <[email protected]> menulis:
>> Pada 6 Desember 2010 13.24, Utian Ayuba <[email protected]> menulis:
>>> On 12/06/2010 01:21 PM, Arema wrote:
>>>>
>>>> Kalau sudah sampai di sini maka diskusi jadi beralih ke masalah
>>>> profesionalisme vs komunitas. Masih mau dilanjutkan?
>>>>
>>>
>>> lanjut saja Pak. ruang "harddisk" saya masih cukup ngunduh surel dari
>>> mailing list ini :)
>>>
>>
>> Lanjut.. tapi usul Topicnya dengan headernya sama dong. biar enak mbacane
>>
>>
>>
>> --
>> Mahyuddin Susanto
>>
>> https://launchpad.net/~udienz
>> "How can i get lost, if i have no where to go"
>>    -- Metallica from Unforgiven III
>>
>> --
>
> pembicaraan semakin menarik.

Wah sudah 4 post minta di lanjut ... Pa Diedien lagi sibuk mungkin.

Ta coba urun rembug masalah ini dari opini saya ...

Bagi saya sebuah profesinalisme dan resource management tidak melulu
di dominasi oleh entitas bisnis memang bisa jadi mungkin. Tapi pola
organisasi yang lebih berperan pada profesionalisme. Dan pola
organisasi dengan struktur rapi rasanya lebih bisa di capai bila dalam
kerangka bisnis entiti (menurut saya). Mungkin pa Diedien bisa
mencerahkan bagaimana bila di implementasikan dalam kerangka
non-bisnis nanti(sy kurang paham).

Hebatnya dengan open source entity yang bisa di bentuk untuk penyedia
layanan maupun barang luas sekali hampir ta terbatas, batasnya hanya
kreatifitas anda. Bisnis open source bagi saya tidak hanya melulu di
pelatihan, tulisan, konsultasi, bahkan di mungkinkan di bidang2 non
IT. Open source selaku raw material bisa diolah menjadi apa saja dan
menekan biaya produksi sehingga barang dan jasa kita bisa bersaing
(tentu tidak berlaku untuk plat merah karena di bidang ini aturan
terbalik makin mahal makin bagus :)) ), dengan kualitas yang sangat
memadai bahkan lebih dari rata2.

Yang saya sebut raw material yah sourcenya baik untuk kernel, lib,
maupun aplikasi. Luar biasa ini seperti ada orang yang memberi anda
sebidang tanah yang subur tinggal mo diolah mo menghasilkan apa.
Masalah mo d tanam kelapa sawit, padi, cabai atau kopi tergantung
masing2 punya visi pasarnya apa yang bagus dan cara pengolahannya.
Tentu raw material saja tidak cukup mesti ada proses produksi yang
memakan biaya tambahan dan jalur pemasaran/distribusi yang baik.
Tinggal teknik kita masing2 dah. Nah raw material ini jarang jadi
perhatian karena apa yang disebut sebagai bisnis open source d kita
kadang2 ga ada hubungannya sama source codenya. Yang lebih populer
adalah bisnis d level distribusinya(tulisan, training, konsultasi
setting, cara pakai) dimana menurut saya sudah menyempit dari sisi
varian maupun kue marketnya.

Utilisasi pemakaian FOSS saya rasa bisa di liat dari berapa tingkat
kebebasan GNU fondation yang di gunakan. Bila hanya menggunakan
kebebasan yang pertama(menggunakan/menjalankan) tanpa di ikuti
kebebasan berikutnya saya rasa nilainya pun sama sama barang
propertary karena propertary pun menyediakan kebebasan pertama ini
selama anda sudah bayar. Utilisasi ini lah yang menurut saya perlu di
dorong k depan rekan2 perlu di dorong bicara kernel, compiler dll
serta tidak kalah penting membuat tim marketing, teknisi, operator,
vendor, kontraktor

Tabik

-- 
Best Regards

Resza Ciptadi

--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke