2011/7/5 Ade Malsasa Akbar <[email protected]>
>
> Para adiwirawan Linux, apa ide menyatukan proyek Blankon dengan IGN
> itu baik? Pengguna awam jadi bingung kalau mau pakai distro Indonesia.
> Ada terlalu banyak pilihan. Bukankah kalau disatukan tenaga jadi
> memusat juga? Maksud saya, menyederhanakan pengelolaan. Maafkanlah
> saya yang awam ini. Majulah sumber terbuka Indonesia! Terima kasih.

Jika bisa bersatu tentu sebuah pencapaian yang baik, namun jika tetap
berbeda juga bukan sesuatu yang patut disesali. Beberapa distro untuk
200 juta penduduk Indonesia masih relatif sangat sedikit. Dalam banyak
kasus, adanya perbedaan dari masing-masing distro sepanjang memacu
perkembangan positif merupakan sesuatu yang baik bagi perkembangan
open source di Indonesia.

Tidak selamanya serba satu dan serba seragam memberikan benefit yang
diinginkan. Bukan karena tidak ada keinginan untuk bersatu melainkan
karena "nature" dari Linux itu sendiri memang menghargai perbedaan.
Sebagai analogi, Debian merupakan salah satu distro yang lengkap dan
bagus, namun terciptanya variasi baru dalam bentuk Ubuntu ternyata
bukan sesuatu yang buruk. Ubuntu sudah bisa dibilang distro yang cukup
lengkap dan user friendly, namun adanya LinuxMint yang berbasis Ubuntu
ternyata memberikan pilihan lain yang menarik. Hal yang mirip terjadi
pada distro lain.

Dari analogi diatas, kalau kita berpikir linear dan seragam, mungkin
akan terpikir, kenapa mesti bikin Ubuntu kalau sudah ada Debian.
Kenapa developer Ubuntu tidak bersatu saja dengan developer Debian dan
mengembangkan 1 distro saja. Kenapa developer LinuxMint tidak
bergabung dengan developer Ubuntu dan mengembangkan 1 versi saja
supaya lebih enak buat pengguna tidak perlu pilih-pilih. Jawabannya
adalah karena perbedaan itu ternyata membawa rahmat. Jika saya suka
Ubuntu bukan berarti saya tidak suka pada Debian, atau Fedora atau
openSUSE atau Slackware atau yang lainnya.

Adanya IGOS Nusantara, Garuda, BlankOn, Zencafe dan lain-lain jika
dipandang secara positif sebenarnya justru memacu  perkembangan yang
baik. Bagi sebagian pengguna mungkin terpikir, kenapa nggak bersatu
saja supaya bikin satu distro sehingga penduduk Indonesia nggak pusing
memikirkan untuk memilih distro dan agar semua effort disatukan
daripada terpecah-pecah. Pendapat ini tidak memperhatikan bahwa orang
Indonesia tetap bisa kok memilih apa yang dia sukai dari sekian banyak
pilihan.

Kesukaan itu kadang ada yang bersifat general dan mudah disatukan
namun ada juga kesukaan yang sifatnya personal dan tidak bisa
dipaksakan. Kalau saya lebih menyukai warna hijau sedangkan BlankOn
berwarna merah, saya mungkin tidak bisa memaksa developer BlankOn
untuk membuat BlankOn berwarna hijau seperti yang saya inginkan (ini
analogi saja karena sejatinya BlankOn pernah bernuansa hijau :-D ).
Daripada saya merugikan orang lain yang lebih suka warna yang dipilih
oleh developer BlankOn, lebih baik saya mengalah dengan memilih distro
lain yang memenuhi ekspektasi saya.

Contoh lain, BlankOn, Garuda dan IGOS Nusantara sangat baik dalam hal
desktop namun untuk urusan dekstop ringan dan bisa digunakan pada PC
berspesifikasi rendah, Zencafe mungkin punya keunggulan komparatif.
Agak sulit bagi distro lain untuk meniru langkah Zencafe. Bukan karena
tidak bisa melainkan karena tujuannya memang berbeda. Jika distro lain
ingin seperti Zencafe, terpaksa akan mengorbankan beberapa hal
fundamental yang menjadi ciri khas distro tersebut.

Saya pribadi memiliki favorit distro openSUSE, namun dalam hal
lokalisasi, saya kagum pada BlankOn. Saya suka openSUSE namun jika
pergi kemana-mana dan mengalami kendala akses Wifi, distro generasi
Red Hat seperti IGOS Nusantara dan Fedora sangat membantu saya, karena
entah mengapa, driver Wifi mereka sanggup melakukan koneksi yang tidak
bisa dilakukan openSUSE meski dengan langkah yang sama.

Dalam hal pendapat satu distro untuk warga Linux di Indonesia sesuai
thread ini, saya lebih prefer untuk menerapkan konsep Bhineka Tunggal
Ika. Silakan ada bahasa persatuan dalam bentuk Bahasa Indonesia namun
keberadaaan Bahasa Indonesia tidak mematikan bahasa daerah. Kebudayaan
dan bahasa daerah justru memperkaya Bahasa persatuan tersebut. Silakan
bermunculan berbagai distro, berlomba memberikan yang terbaik sehingga
ada banyak pilihan bagi para pengguna.

Catatan : Maaf kalau terlalu panjang & lebar. Kelupaan kalau ini bukan
bikin cerpen :-)

--
Best Regards,


Masim "Vavai" Sugianto - Talk is Cheap, Show Me the Code !
Training Zimbra Mail Server & Virtualization-Linux High Availability
Server : http://bit.ly/l4vNel

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke