Mungkin rekan-rekan ada ide, untuk mengembangkan Linux melalui program
SMU2000
Ini cuplikan beritanya.
--------------------------------------
Bisnis, 29 August 1999
--------------------------------------
Program Internet nasional SMU 2000
Membangun komunitas Internet di SMU
Tahun depan, di awal milenium baru, 2.000 Sekolah Menengah Umum (SMU) di
tanah air akan saling tersambung satu sama lain melalui jaring
informasi. Malahan rencananya, belasan ribu SMU di seluruh Indonesia
bakal sibuk berkomunikasi di Internet.
Ini bukan impian. Kelak siswa SMU tidak mesti bergumul dengan membaca
buku di perpustakaan dan meneliti di laboratorium saja untuk menggali
informasi, mereka bisa mengakses pengetahuan lewat Internet di sekolah.
Tidak cuma siswa. Orang tua dan guru juga bisa saling berinteraksi di
jaring yang sama. Dengan satu alamat di Internet, berbagai pihak dapat
mengakses ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan secara cepat
dan gampang.
Program internet nasional SMU 2000, demikian nama program itu, yang
diprakarsai dan dilaksanakan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia), diresmikan Mendikbud Juwono Sudarsono, Selasa lalu.
Dengan semboyan Membangun komunitas Internet anak bangsa di milenium
baru, program Internet itu diharapkan dapat memasyarakatkan penggunaan
Internet di Sekolah Menengah Umum (SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
dan sekolah setara di seluruh Indonesia.
"SMU 2000 merupakan jaringan informasi yang menyertakan teknologi
diperlukan untuk melahirkan kesatuan melalui Internet," kata Juwono saat
peluncuran SMU 2000 di Depdikbud, Jakarta.
Menurut dia, karena Depdikbud sedang kekurangan uang, setiap bantuan
disambut baik terutama yang berkenaan dengan penyelenggaraan teknologi
informasi untuk meningkatkan kemampuan proses belajar-mengajar.
APJII mentargetkan akan memasang fasilitas internet di lebih dari 2.000
sekolah menengah atau 18% dari total 11.000 sekolah menengah setingkat
SMU yang terdaftar di Indonesia, sebelum tahun 2000 berakhir.
Target akhirnya, kata Sekjen APJII Sanjaya, seluruh sekolah di Indonesia
akan bergabung dalam program SMU 2000. Untuk pilot project dilibatkan
empat SMU di Jakarta yaitu SMUN 8, SMU Lab School, SMU Kanisius dan SMU
Tirta Marta.
SMU 2000 merupakan program nasional yang dijalankan APJII untuk
membangun komunitas internet yang didukung oleh pemerintah melalui
Depdikbud, pihak swasta selaku penyandang dana dan infrastruktur,
komponen sekolah (siswa, orangtua, guru), tokoh masyarakat dan
masyarakat.
Dengan mengikutsertakan 35 penyelenggara jasa internet (PJI) di seluruh
Indonesia diharapkan mereka mampu menangani komunikasi melalui Internet
yang kelak akan dilakukan jutaan pengguna yang tergabung dalam program
SMU 2000.
Paling tidak, 5,6 juta siswa SMU di seluruh Indonesia, dapat saling
berkomunikasi dan menggali ilmu jika program itu sudah terpasang secara
nasional. Belum lagi para guru, orangtua dan lembaga yang terkait dengan
pendidikan.
Saat ini APJII sedang membuat situs web resmi program SMU 2000 yang
beralamat di http://www.smu2000.or.id. Alamat itu akan diluncurkan
bersamaan dengan Hari Bakti Pos dan Telekomunikasi pada 27 September
1999.
Banjir informasi
Menurut Mendikbud, dampak informasi berlebihan menjadi masalah bagi guru
dan siswa dalam memilih fakta dan data yang tepat. Info yang begitu
banyak dan bertubi-tubi itu perlu dipilih dan dipilah untuk
menyelesaikan suatu masalah.
Program SMU 2000, lanjut dia, sangat strategis. Soalnya, SMU merupakan
basis pendidikan yang penting dalam mempercepat penguasaan pengetahuan,
sains dan teknologi. Melalui program itu, generasi baru akan lebih
mengetahui keragaman pengetahuan dari sumber informasi penting via
Internet.
Salah satu manfaat kehadiran program ini, kata Juwono, orang tidak perlu
melanglang buana untuk melakukan perbandingan mutu pelajaran SMU dan
akreditasi guru.
Selain itu, lanjut dia, cakupan muatan budaya juga penting. "Melalui
Internet kita bisa mengembangkan apresiasi budaya dari seluruh tanah air
tanpa harus hadir di tempat yang bersangkutan."
Positif
Pengamat pendidikan Dr. Arief Rachman mengemukakan dari hasil
pengamatannya terhadap para siswa yang terbiasa memanfaatkan internet
ditemukan sedikitnya tiga nilai positif yang tidak terdapat pada siswa
yang tidak menggunakan fasilitas itu.
Anak-anak yang sering menggunakan Internet, kata dia, memiliki sikap
lebih terbuka, lebih fleksibel, dan mempunyai searching power-semangat
kuat untuk terus mencari pengetahuan baru.
Karena itu, dia menyambut gembira kehadiran program SMU 2000. "Ini akan
merapihkan konsolidasi pendidikan," katanya pada jumpa pers usai
peresmian.
Menurut dia, ketidakmatangan perilaku politik yang sekarang terjadi
lebih disebabkan adanya pola pikir yang tidak terbiasa hidup dalam
heterogenitas serta selalu menganggap diri lebih dari yang lain.
Sementara anak-anak yang dekat dengan Internet, kata dia, biasanya
mempunyai sikap lebih terbuka serta menyadari kekurangan dan kelebihan
dirinya.
Arief menegaskan kultur ke Internetan harus lebih dimanfaatkan, namun
jangan terpesona pada alatnya. Soalnya, lanjut dia, internet itu seperti
jarum suntik. Bisa berisi obat yang menyembuhkan tapi juga bisa berisi
racun mematikan.
Tidak berubah
Menurut Mendikbud, kehadiran SMU 2000 tidak berarti mengubah kurikulum.
Pasalnya, melalui Komisi Program para penyelenggara [35 anggota APJII]
mengacu kepada kurikulum Depdikbud.
Kelak, kata dia, program Internet itu terpadu dalam kurikulum sehingga
isi dalam kurikulum bisa dibuat lebih menarik dan bisa diperbandingkan
antara satu kota dan kota lain serta antara satu sekolah dan sekolah
lain.
Sanjaya yang juga pimpinan pelaksana SMU 2000, mengemukakan pihaknya
berupaya memanfaatkan teknologi untuk membuat pelajaran yang lebih
menarik dan manusiawi, dan pada gilirannya bisa sejajar dan bersaing
dengan negara lain.
Mengenai penambahan biaya akibat penggunaan jasa Internet, menurut
Mendikbud, kini sedang dipikirkan upaya untuk memperoleh dana melalui
anggaran sekolah. Sebagian didukung oleh Depdikbud namun sebagian besar
diharapkan partisipasi dari orang tua dan sekolah masing-masing.
"Kalau memang harganya sekitar Rp 150.000 per bulan per sekolah untuk
kira-kira 40 jam per bulan, tentu kita harapkan Kepala Sekolah dengan
BP3 bisa mengusahakan anggaran tambahan melalui rapat anggaran
penerimaan dan belanja sekolah (RAPBS)."
Besar anggaran, kata Juwono, akan dilihat kemungkinannya sesuai dengan
perkembangan persentase jumlah sekolah.
Komisi Infrastruktur Teknis SMU 2000 Marcelus Ardiwinato mengatakan
sekolah dapat memasang satu komputer yang dapat mengakses Internet, atau
dengan menggunakan sistem jaringan dengan tiga hingga lima komputer.
"Diperkirakan satu sekolah akan dikenakan iuran Rp 350.000-Rp 400.000
per bulan," katanya. Biaya tersebut sudah mendapat subsidi dari Telkom
untuk pulsa pemakaian. (rsf)
---------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]
Hosted by http://www.Indoglobal.com