On Wed, 7 Feb 2001, S Detta Harvianto wrote:
> Tapi kadang suka pusing juga mainan Slak, habis apa-apa kita harus tahu dan
> pegang control. Contohnya pake vim. Dulu saya nganggep kalo pake pico sudah
> enak, tapi ada yang bilang kalo vim paling sip. Nyoba di RH memang enak, eh
> begitu nyoba di Slak, waduh ... nggak enak banget. Repot.

Ya kalau sudah tahu, kan tidak perlu terus-terusan pakai Slak.  Waktu
pertama instal Debian 2.1 di mesin saya, distronya dapat dari Internet,
download satu-satu image dari floppy (14 + 3 disket). Linux yang jalan
pakai Slak, jadi bisa dd image tersebut ke floppy. Terus install di hd
yang lain. Waktu upgrade (ganti) ke Debian 2.2, saya download tar file
dari distro Debian (isinya minimum bootable /). Bikin partisi baru, untar
distro itu (tanpa menjalankan installer), lalu set satu-satu mulai dari
load driver (/etc/modules), nama host, networking (/etc/init.d/network),
dll., pakai editor teks. Seru kan, nggak bakal bisa tuh di Windows
(maksudnya, sarananya tidak ada gitu...)

Saya rasa, tanpa pengalaman via Slackware, bakal ragu-ragu tuh nginstal
Debian via image files maupun tarball.
 
> Bongkar sana-sini, ternyata by default Slak nggak buat config file buat vim
> ini. Untungnya vim nyediain di /usr/share/vim/vim56/vimrc_example.vim. Tinggal
> copy+paste+edit_dikit jadi dah.

Itulah enaknya Linux, highly-customizable. Ya asal mau nguliknya.
Distro yang belakangan, kan lebih sip lagi, software packages bisa
dipasang dan diremove begitu saja, baik via CD ataupun Internet. Tapi,
IMO, dasarnya sama saja, kalau bisa pakai editor teks, ya berarti bisa
men-setup.

Oki



--------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Dapatkan FAQ milis dg mengirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke