Penulis Sebagai Sebuah Alternatif Karir

Onno W. Purbo

Mengarang, menulis, tata bahasa dan pelajaran bahasa Indonesia barangkali
merupakan pelajaran paling memuakan pada saat kita di sekolah menengah.
Tidak heran jika penulis dan jurnalistik pada akhirnya bukan merupakan
sebuah karir yang di cita-citakan oleh banyak anak Indonesia, kalah jauh di
bandingkan dengan Insinyur, dokter, dan pilot atau mungkin jendral.

Dari banyak pengamatan sehari-hari, tampaknya orang Indonesia lebih suka
menyampaikan ide & pendapatnya secara oral, berpidato, berbicara di hadapan
umum. Berbeda dengan pembicara, seorang penulis melalui tulisan & bukunya,
pembaca dapat kapan saja membaca ide & ilmu yang kita sebarkan. Hal ini
menyebabkan dampak sebuah buku & tulisan menjadi jauh lebih dahsyat daripada
kemampuan memberikan ceramah & pidato.

Secara sederhana, seorang pembicara yang baik biasanya memberikan pidato di
hadapan beberapa ratus orang dalam sebuah acara atau ceramah. Seorang
penulis akan berhadapan langsung dengan puluhan ribu orang dari satu
bukunya. Secara sederhana, semakin banyak dampak yang di timbulkan semakin
besar reward, rejeki & pahala-nya. Tidak percaya? Coba bandingkan penyanyi
dangdut dengan penyanyi R&B atau Rock, siapa diantara mereka yang memperoleh
rejeki yang lebih banyak J .

Rejeki & penghasilan barangkali merupakan salah satu parameter penentu bagi
sebagian orang dalam menentukan karir. Seorang sarjana baru lulus, biasanya
memperoleh penghasilan antara Rp. 750.000 s/d satu juta / bulan. Penulis
biasanya akan memperoleh sekitar Rp. 80.000 s/d 250.000 / artikel yang
diselesaikan dalam waktu dua (2) jam. Untuk sebuah buku, bisa memperoleh
antara Rp. 2-4 juta / 10.000 eksemplar. Biasanya dibutuhkan waktu satu (1)
bulan untuk menyelesaikan sebuah buku. Terus terang, penghasilan Rp. 3-4
juta / bulan adalah minimal untuk seorang penulis yang serius.

Di Indonesia, seorang penulis biasanya juga sering di undang sebagai seorang
orang penceramah. Mungkin karena pertemuan fisik masuk dibutuhkan untuk
meyakinkan seseorang tidak hanya membaca tulisan seseorang. Jangan kaget,
jika telah menjadi penulis yang serius, waktu kita di rumah menjadi lebih
jarang karena harus meluangkan untuk mengunjungi banyak kota memberikan
ceramah.

Terus terang, saya pribadi barangkali termasuk orang yang terjerebab masuk
ke dalam dunia tulis menulis. Mengawali karir sebagai dosen di ITB, ternyata
tidak menimbulkan dampak yang terlalu besar karena hanya membuat pandai
ratusan mahasiswa setiap semester. Setelah pensiun menjadi dosen ITB pada
bulan Februari 2002, melalui tulisan saya mampu membuat pandai puluhan ribu
orang dari satu buku.

Bermodal nekad, tanpa pengetahuan bahasa yang baik, bahkan bermodalkan
dengan nilai 6 untuk pelajaran bahasa waktu SMP & SMU tampaknya bukan
menjadi penghalang yang utama.  Untuk menjadi penulis yang baik, ada dua (2)
modal utama yang mungkin perlu di pegang erat-erat, yaitu (1) banyak membaca
dan mendalami hal-hal yang kita sukai, dan (2) fokus dan berdedikasi pada
hal yang kita sukai.

Sedikit trik untuk menyelesaikan sebuah tulisan & buku dengan baik, secara
umum kita akan melalui tiga (3) tahap  utama, yaitu, persiapan, penulisan,
dan penerbitan. Pada tahap persiapan, kita harus banyak membaca, mencoba
trik dan bahan yang akan kita tuliskan, tahap ini membutuhkan waktu lama dan
ketelatenan dalam mendokumentasikan berbagai referensi dan hasil penelitian
yang dilakukan.

Pada tahap penulisan, saya biasanya di bantu dengan Microsoft Power Point
untuk  menuliskan alur cerita yang ingin di ceritakan. Jika diperlukan,
power point tersebut juga dapat digunakan untuk memberikan ceramah.
Selanjutnya, kita perlu menyiapkan beberapa detail pendukung tulisan yang
akan dibuat, seperti, gambar, rangkaian, dan listing program, biasanya
membutuhkan waktu lumaya lama untuk menyiapkan berbagai hal pendukung
tersebut. Baru setelah semua siap, kita dapat menuangkan kata-kata dalam
naskah biasanya di pisahkan berkas-nya untuk setiap bab dan gambarnya untuk
memudahkan proses pengeditan.

Setelah naskah selesai, selanjutnya tinggal melakukan negosiasi dengan pihak
penerbit. Minimal penerbit membutuhkan informasi tentang daftar isi, outline
tulisan, abstrak tulisan, target pembaca. Jika di setujui kita tinggal
melakukan negosiasi untuk menandatangani kerjasama penerbitan naskah
tersebut.

Satu hal yang perlu di ingat bagi penulis pemula, sangat sukar untuk membuat
buku yang ideal yang mencakup banyak hal. Sebaiknya di fokuskan pada hal
tertentu yang terbatas, sehingga dapat di jangkau dalam 100-200 halaman
saja. Pengakuan keberhasilan seorang penulis biasanya akan datang langsung
dari masyarakat. Nikmatnya, semua itu dapat dilakukan di rumah saja, tanpa
perlu ke kantor, tanpa perlu pergi ke tempat kerja.




-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Dapatkan FAQ milis dg mengirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke