Sebelum kisah ini saya lanjutkan, saya ingin meluruskan kesan yang beredar
seolah-olah saya sebagai sahabat ingin mengatur2 hidup sahabat saya... Sama
sekali tidak, seperti sudah saya bilang sebelumnya, saya hanya berusaha
memberikan saran2 yang (saya anggap) benar kepada seorang sahabat. Dan saran
yang saya berikan tidak bisa berupa suatu pendapat yang subyektifitas-nya
tinggi, yang menyebabkan pada saat cerita no (I) berlangsung saya sama
sekali tidak mau memberitahukan apa2 saja yang menjadi jalan pikiran saya
kepada sahabat saya, justru untuk menjaga agar saya tidak terjebak jadi
mengatur hidupnya.
Dan jangan lupa, saya bercerita ke milis karena ingin membawa topik baru
dengan menceritakan sesuatu yang sudah terjadi, jadi posting no (I) itu
sebenarnya dalam bentuk past tense, begitu pula sebagian dari posting no
(II) ini.
Selain itu, segala yang saya tuliskan di sini sudah mendapatkan ijin dan
konfirmasi dari sahabat saya si pemilik masalah, bahkan dia cukup tertarik
untuk mendengar tanggapan2 yang akan datang dari para miliser yang
seluruhnya akan saya berikan kepada dia, mengingat pada posting no (II) ini
masalah yang dia hadapi masih menggantung dan belum memiliki penyelesaian.
Saya rasa cukup jelas, maka kisahnya saya lanjutkan :
Ternyata pada akhirnya si cowok memang benar2 sudah tidak mau lagi
mempertahankan pacarnya, dan dia pun memutuskan pacarnya tsb. Pacarnya
sangat terkejut karena selama ini dia sama sekali tidak merasakan ada
sesuatu yang fatal dalam hubungan mereka, kalaupun ada beberapa kali
perselisihan dia menilai masih wajar dan masih dapat mereka selesaikan
dengan baik. In fact, Si cowok sudah cukup dekat dengan keluarga pacarnya,
dan sang pacar benar2 sudah berharap untuk dapat meneruskan hubungan ini ke
masa depan. Sebelumnya perlu diketahui bahwa sang pacar merupakan orang yang
dapat disebut sebagai orang yang "sangat baik hati dan polos" oleh semua
orang yang mengenalnya, hal ini membuat dia sangat bingung dan kacau begitu
menerima kata putus dari si cowok. Namun si cowok sama sekali tidak
memperdulikan himbauan dari (mantan) pacarnya agar memperhitungkan
kemungkinan balik-nya mereka berdua. Dia tetap yakin dengan keputusannya
untuk menyelesaikan hubungan mereka.
Sementara itu hubungan si cowok dengan sahabat saya semakin lama semakin
dekat dan akrab. Sahabat saya pun mulai bingung karena di satu pihak dia
merasa belum kenal betul dengan cowok ini dan ke-dekat-an mereka benar2
prematur untuk diteruskan ke hal yang lebih serius seperti pacaran. Namun di
lain pihak dia semakin lama semakin dekat dan mulai tergantung pada si
cowok, minimal pada telepon2nya, pager2nya, dan kehadiran2nya yang
frekuensi-nya sekarang semakin tinggi. Hampir tidak pernah ada hari tanpa
kontak antara mereka berdua, dalam segala bentuk komunikasi yang semakin
lama semakin menjurus ke arah yang lebih serius.
Salah satu hal yang menjadi masalah yang cukup besar adalah bahwa sahabat
saya sudah bertekad sejak putus dari pacarnya, bahwa setelah ini dia hanya
akan menjalani hubungan jika dia benar2 sudah serius dan benar2 untuk masa
depan, sementara si cowok pada awalnya terlihat sangat santai dalam menilai
hubungannya, yang bisa diilustrasikan dengan "Saya suka kamu, kamu suka
saya, kenapa nggak kita coba saja ?", tanpa ada pemikiran yang jauh ke depan
yang sebetulnya sangat mereka butuhkan mengingat ternyata banyak sekali hal
yang menjadi kendala dalam hubungan mereka berdua jika mengarah ke yang
lebih serius lagi nantinya.
Akhir dari kisah saya (dimana ceritanya sendiri belum berakhir), status
mereka adalah :
Mantan pacar si cowok : Kelihatannya sudah mulai berhasil melupakan
kemungkinan untuk kembali pada si cowok dan sudah bisa menerimanya. Tapi
saya tidak tahu pasti apakah dia 'aware' atau tidak akan hubungan khusus
mantan cowoknya dengan sahabat saya.
Si cowok : Sangat berniat untuk sesegera mungkin meresmikan hubungannya
dengan sahabat saya menjadi sepasang kekasih, dengan mulai sedikit
memikirkan kemungkinan masa depan. Walaupun kadang2 terasa (oleh sahabat
saya) bahwa sebenarnya dia belum punya pendirian yang matang dalam hal ini,
dan kurang mantap dalam banyak sekali hal. Kekurangmantapannya ini menjadi
masalah yang cukup besar karena sahabat saya yang menginginkan hubungan yang
sangat serius menjadi ragu untuk menjalin hubungan tersebut.
Sahabat saya : Semakin lama semakin terjepit. Di satu pihak hatinya
semakin suka (terbiasa ?) dengan si cowok, terlebih mengingat sekarang
ke-dekat-an mereka sudah seperti sepasang kekasih dalam hal2 seperti
antar-jemput, menemani bekerja/buat tugas, kehadiran dan tentunya telepon
dan pager setiap harinya. Di lain pihak dia masih belum benar2 yakin apakah
si cowok (dan dia sendiri juga) sudah siap memulai hubungan yang baru, yang
dia inginkan benar2 serius dan benar2 berorientasi masa depan. Dan tentunya
juga 'the million dollar question' : Apakah ini dia pasangan hidup saya...?
Update terakhir : Karena sahabat saya dan si cowok sedang sangat sibuk
dengan pekerjaannya masing2 yang tidak bisa mereka tinggalkan, mereka
memutuskan untuk menunda dulu kepastian hubungan mereka dan menetapkan suatu
waktu (kira2 2 bulan lagi) dimana pada waktu tersebut mereka berjanji akan
sudah ada keputusan yang memperjelas hubungan mereka, apakah akan diteruskan
atau dihentikan. Sementara itu mereka tetap menjalani kehidupan seperti yang
biasa mereka lakukan akhir2 ini.
THE END.... (?)
Silahkan teman2 untuk mengomentari...
Terima kasih,
emilr
"Life is what happens to you while you're busy makin' other plans..."
(John Lennon, Beautiful Boy)
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com