Saya nggak tahu apa judul email ini berlebih-lebihan, tapi saya hanya mau mengintrodusir suatu masalah, dan yang melintas di kepala hanya itu. Jadi, ya tulis aja. Masalah percintaan mulai dari bagaimana manusia yang satu mempersepsi manusia lainnya. Dan persepsi manusia itu selalu terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran yang bertingkat-tingkat level abstraksinya. Sejarah sudah banyak menunjukkan betapa suatu Zeitgeist (jiwa zaman) suatu masa bisa sangat mempengaruhi pandangan orang tentang segala sesuatu, sehingga apa yang dianggap pantas pada suatu masa ... bahkan apa yang dianggap benar dan baik .... bisa dianggap sebaliknya pada masa yang lain. Kita semua tahu Orde Baru meskipun salah satu klaimnya adalah pertumbuhan dengan pemerataan .... tapi yang dimaksud pemerataan itu adalah pemerataan supaya semua orang bisa dapet kue nasional ... yang toh sampe sekarang diperdebatkan dan malah memunculkan isu perimbangan pendapatan pusat-daerah. Tapi apakah pernah dicanangkan pertumbuhan yang merata pada sisi pandangan dan perlakuan tentang manusia ? Apapun ... pokoknya penekanan orde baru adalah pada segi ekonomi. Dan ternyata penaf- siran pembangunan ekonomi itu sering banal sekali ,,, sampai arti yang muncul pada the people in the street adalah yang terlalu harfiah. Membangun gedung-gedung bertingkat, perkantoran mewah, pusat perbelanjaan; mal, supermarket, .... real estate, pabrik mobil dan pesawat. Oke ... ini emang nggak langsung ... tapi dengan diberinya izin melakukan itu semua bukankah sudah menunjukkan kecenderungan pemerintah ke arah sana ? Ujung-ujungnya kalo dilihat secara fisik Indonesia itu maju sekali .... tapi ternyata sebenarnya adalah "terlalu maju dari yang seharusnya" ....... soalnya manusianya sendiri ternyata nggak sejalan pembangunan fisik lingkungannya. Kalau ada makhluk manusia dari planet lain datang ke Indonesia ... kesan pertama melihat segala pembangunan itu adalah bahwa .... ada analogi antara pencapaian itu semua dengan bagaimana wawasan, sikap, pandangan, dan kelakukan manusia-manusia yang mengisinya .... tapi ternyata ketahuan juga .... ketika dihadapkan pada kasus yang kritis ... manusia Indonesia ternyata ketahuan bahwa mereka harus lebih lama berevolusi supaya bisa lebih beradab, minimal nggak saling bunuh ... atau nggak gampang memerintahkan pembunuhan. Gimana dengan dunia percintaan manusia-manusia Indonesia ? Saya merasa persepsi tentang manusia satu sama lain jadi sangat dipengaruhi dengan persepsi tentang achievement dalam bidang ekonomi. Maka dalam bahasa pop seringkali terdengar ekspresi yang merupakan rasionalisasi semua ini ... cinta yang sesungguhnya, the real love jadi tersudut digantikan dengan alusi (dari allusion) tentang .. well, bahwa manusia itu adalah "aset ekonomis" bagi yang lainnya. Dengan cara yang jelek ungkapan itu berbunyi seperti, "Ah, lo nggak bisa makan cinta. Lihat aja kenyataannya .. dia bisa nggak ngehidupin elo dengan pekerjaannya ?" atau .... "Gile, semua orang tahu tuh cowok tajir bener, kenapa dia mesti nolak ?" Dalam berbagai kemungkinan dan pada suatu rentang spektrum perilaku antara yang realistis-ekonomis dan idealistis-romantis ......... semua itu muncul .... Dan apa yang gue lihat kadang-kadang bikin sesak dada juga. Semua itu bisa muncul dalam konteks-konteks seperti .... ketika ngeceng, awal jadian, dating, pacaran, apel, pandangan ortu, .......... Dan karena masyarakat kita patrilineal ... maka beban lebih terdapat pada cowok ketimbang cewek. Atau dengan kata lain sekilas kok bargaining positionnya cewek karena rezim orde baru itu lebih tinggi ketimbang cowok (atau emang dari masa ke masa aja udah gitu ??) (Mudah-mudahan salah ...) Tapi kalo variabel cowok ke cewek itu kelihatannya mungkin kecantikan atau kecerdasannya ... tapi kalau cewek ke cowok ... keren aja nggak cukup. Cowok harus juga bermobil, punya rumah sendiri, dan punya prospek yang cerah untuk makan malam dengan sendok perak ..... (idiom inggris - silver spoon). Gue jadi ingin tahu sampe di mana sih sebenarnya pertimbangan tentang Manusianya sendiri itu dilibatkan dalam interaksi cowok-cewek dalam konteks percintaan kita sekarang ? Manusianya sendiri itu artinya bener-bener orangnya yang dilihat, kualitas pribadinya ...dsb. Bukan terutama hartanya .... Ah, dalam hal ini emang semua orang ingin dapet yang cakep, berkualitas, lagian kaya .... tapi kan nggak semua bisa begitu .... Masih adakah cinta yang sesungguhnya ? Saya pikir cerita lama atau mitos yang menggambarkan putri kaya raya jauh cinta dan menikah dengan seorang laki-laki miskin tapi jujur itu sebenarnya mau menyampaikan sesuatu pada kita ... Mau dihapus terserah ... mau didiskusiin juga boleh. Tomita P. Submit to 1000 search engines only 40rb http://www.submit-url.ml.org -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
