>>Ferona menyatakan:
>>Aku menghargai baik ce dan co tidak dari virgin or not-nya.
>>Tidak semua ce/co virgin itu lebih baik daripada yg not virgin, vice
versa.
>>Aku lebih melihat ke pribadi individunya. Dengan mencoba mengetahui
>>latarbelakang dan alasan yg menyebabkan lepasnya status virgin-nya,
>>kita akan mampu menerima kekurangan ce/co yg kita sayangi.
>Tonij mempertanyakan:
>Bagaimana kalau karena hal tersebut, ce/co tersebut mendapatkan 'hadiah'
>penyakit kotor? Apalagi kalau jenis yang tidak (minimal belum) dapat
>disembuhkan seperti HIV? atau HSV? Atau yang ringan seperti GO dll.
>Betulkan kita benar akan mampu untuk menerima pasangan kita itu tanpa
>'reserve' apapun dalam hati dan pikiran? Kadang hati kita mau menerima tapi
>pikiran terus 'terbayang-bayang' (atau mencoba membayangkan) hal-hal
tersebut.
>Nah... bagaimana kita harus bersikap? akhirnya seperti pepatah lama
>"Ngomong sih gampang...." (Sorry, pernyataan ini tidak bermaksud 'offense',
>tapi justru untuk refleksi diri sendiri apakah benar-benar akan akur antara
>kata dengan tindakan?
Sigit menanggapi :-) :
Jarang ditemukan penularan penyakit akibat hubungan seksual dengan satu
pasangan. Kemungkinan penularan penyakit menular seksual (PMS) kebanyakan
terjadi pada kebiasaan berganti-ganti pasangan, apalagi jika dilakukan
dengan orang yang beresiko tinggi terkena penyakit seksual, seperti pelacur
(pelacur cowo maupun cewe, sama saja rendahnya). Oleh karena itu saya
sekali lagi MENEKANKAN: Jangan berganti-ganti pasangan seksual dan
lakukanlah hanya dengan orang yang benar-benar Anda cintai, kalau toh Anda
termasuk kelompok yang di milis ini saya yakin akan dicap Ultra-Liberal,
gunakanlah kondom sebagai pengaman agar terhindar dari PMS (Maaf, bukan
iklan layanan masyarakat hari AIDS sedunia, tapi memang benar! :). Tapi
saya pribadi masih belum bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa menerima
seseorang yang berperilaku seperti ini sebagai pasangan saya. Saya hanya
akan menerima jika pasangan saya sudah pernah melakukan hubungan seksual
dengan pasangan sebelum saya atas dasar cinta. Untuk Ferona: Apapun
alasannya, saya kira 'free sex' dengan definisi berganti-ganti pasangan
tanpa cinta menurut pendapat saya tidak dapat diterima karena di dalam
dirinya sudah tertanam suatu paradigma bahwa seks tanpa cinta adalah benar
dan sah-sah saja. Bagaimana Anda bisa mengharapkan seseorang seperti itu
merajut bahtera rumah tangga yang berbahagia? Saya kira itu merupakan
bagian sangat vital pada 'pribadi individunya' seperti yang Anda katakan.
Mengharapnya untuk berubah, terutama jika sudah dewasa, saya kira sama
halnya seperti mengharapkan Soeharto sadar dan minta maaf pada Rakyat
Indonesia. :-)
Ferona mengeluarkan pernyataan:
>>Nobody's perfect. Dan ketidak perfect-an akibat dari ketidak-virgin-an,
>>bukanlah dosa tak berampun bagi yang mengalaminya. Selalu terbuka
>>pintu kesempatan untuk bertobat dan menjalani kehidupan bahagia
>>yang sama sekali tidak mempersoalkan ketidak-virgin-annya...
>Yang kemudian ditanggapi Tonij:
>Bagaimana kalau yang lebih merasa 'down' dan 'tidak berharga' adalah sang
>pelaku sendiri yang sungguh menyesali perbuatannya.?
>Dimana saat ini dia sangat mencintai pasangannya, sehingga tidak ingin
>mengecewakan pasangannya?. Mungkin rekan-rekan akan mengatakan, "Ah.. sok
>sentimentil...", tapi kalau memang dia ngak bisa yakin bahwa pasangannya
>akan benar-benar melupakan hal tersebut gimana? Bagaimana kalau setelah
>married sekian tahun, pada saat ribut suatu waktu, terlepas suatu omongan
>yang menyinggung 'status lama' tersebut?
>Gua yakin, perasaan terluka dari 'tertuduh' akan sedemikian hebat dan gua
>ngak yakin setelah itu keadaan bisa baik/normal kembali, walaupun si
>pengucap langsung minta-maaf (bahkan sampai terbungkuk-bungkuk).
Sigit ikutan nimbrung:
Ferona benar, hanya saya bisa menerima dengan syarat seperti yang saya tulis
di atas. Moderat toh, tidak menolak mentah-mentah, tapi menerima dengan
syarat.. :-)
Jika pasangan tersebut ingin bahagia di dalah rumah tangganya nanti,
janganlah hal keperawanan/keperjakaan tersebut dijadikan beban pikiran.
Yang menjadi masalah adalah budaya konservatif di Indonesia yang masih
dominan menyebabkan keperawanan seringkali masih menjadi tuntutan utama
seorang pria pada wanita yang dinikahinya, tapi tidak sebaliknya (emang
jadinya cowo cenderung nggak fair). Saya pribadi jauh lebih menerima
seorang wanita yang tidak lagi 'virgin' sebagai istri saya nantinya selama
dia benar-benar mencintai saya dan juga bisa menerima saya apa adanya serta
di dalam perkawinan itu nantinya dia setia pada saya daripada seorang wanita
yang mungkin masih 'virgin' pada saat saya nikahi namun pada pernikahan
nanti justru dia tidak total mencintai saya dan tidak setia hingga
memungkinkan terjadinya perselingkuhan.
Jadi sebenarnya tergantung dari pola pikir kita sendiri, kok. Hanya saja
saya sekedar mengingatkan kepada teman-teman di milis ini: bangsa Indonesia
dalam satu dasawarsa terakhir mengalami revolusi moral dan budaya (secara
ektrim bisa saya katakan: terjadi dekadensi moral yang sangat parah!)
Kondisi itu menyebabkan pada saat ini 'virginity' cenderung sulit
dipertahankan hingga saat pernikahan (kalau kita mau jujur, nih!). Saya
kira pola pikir saya yang belakangan dicap liberal di Milis ini adalah suatu
fleksibilitas saya secara pribadi dalam menghadapi realita yang ada, namun
dengan masih tetap mempunyai patokan moral yang sedikit longgar.
Saya kutipkan "Serat Kolotidho" karya R.Ng. Ronggowarsito yang banyak saya
gunakan sebagai landasan hidup saya:
Amenanging jaman edan, ewuh aya ing pambudi
Melu ngedan ora tahan, yen tan melu anglakoni boyo keduman melik
Kaliren pungkasanipun
Ndilalah kersaning Allah,
Begjo-begjone kang lali, luwih becik wong kang eling lan waspodo
(ditulis dengan 'spelling' Bahasa Indonesia, bukan 'spelling' Boso Jawi)
Terjemahannya secara bebas:
Pada "jaman gila" sangat sulit (bagi kita) untuk mengambil posisi
Mau ikut menjadi gila tidak tahan, tapi jika tidak ikut jadinya tidak
kebagian
Akhirnya menjadi sengsara
Namun 'ndilalah' atas kehendak Allah, (saya belum menemukan padanan kata
'ndilalah' dalam Bahasa Indonesia)
Seuntung-untungnya orang yang lupa diri lebih baik orang yang tetap ingat
dan waspada..
Jadi intinya: kita harus sedikit fleksibel dalam kondisi seperti sekarang,
namun jangan sampai kita lupa daratan.
Setuju teman, "Tansah Eling lan Waspodo! (Selalu ingat dan waspada! - Kalau
di iklan yanmas AIDS katanya: Kita harus was.. pa.. da! :)" Nggak setuju
juga boleh, saya demokrat kok! :-)
>Salam kasih,
Salam juga.. (Salam apa aja, deh.. mo salam kasih, mo salam reformasi, mo
salam revolusi, pokoknya salam! :)
>Tonij
S i g i t
Submit to 1000 search engines only 40rb http://www.submit-url.ml.org
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com