Pada hari Fri, 20 Nov 1998 06:35:04 +0700 "Ferona Yulia" <[EMAIL PROTECTED]> bersabda:
:
:Mengikuti kata hati memang lebih banyak pahitnya daripada manisnya.
:Tetapi kalau kita berani mengikuti kata hati dijamin gak nyesel dehh...
:Karena dengan berani mengikuti kata hati, kita sudah mengalami
:suatu peristiwa yang maniiiiiiiiiiezz (pake z) sekali...
Sudah menjadi fitrah manusia untuk menyesali setiap peristiwa yang tidak
disukainya. Sekarang tinggal orang tsb. bisa atau tidak mengambil hikmah
dari peristiwa yg dialaminya.
:
:Tidak semua cinta itu manis dan indah. Ada yang harus diperjuangkan.
:Kita diciptakan untuk hidup dalam perbedaan. Dan perbedaan yang
:paling mendasar (buat manusia) adalah keyakinan atau agama.
:Seringkali itu menjadi suatu kendala yang besar sekali dalam
:memperjuangkan sebuah cinta. Well, padahal cinta itu sendiri pun
:anugerah Tuhan.
Agama pada dasarnya bukan sebuah kendala. Yang sering menjadi kendala
justru manusianya. Mungkin karena pada dasarnya manusia itu ndableg. Dan
menurut saya, hanya cinta sejati yang merupakan anugerah Tuhan.
:Kalau saran saya, kalian yang sudah sama-sama dewasa cobalah
:bicara dari hati ke hati dan mengupas seluruh aspek kehidupan.
:Apa sih yang kalian cari dalam hidup ini ? Apakah kebahagiaan dalam
:satu iman ? Atau kebahagiaan dalam kondisi yang universal ?
Disini nyata-nyata terlihat adanya dikotomi antara kebahagiaan dalam
satu iman dan kebahagiaan yg universal (menurut terminologi anda). Yang
mana dapat ditafsirkan bahwasanya kalau kita mendapatkan kebahagiaan
iman maka kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang universal atau
sebaliknya.
Konsep saya jauh berbeda dengan anda. Menurut saya, satu kebahagiaan
yang anda sebutkan di atas merupakan bagian dari kebahagiaan yang
lainnya. Namun saya tidak akan mengatakan mana merupakan bagian dari
yang mana. Bisa saja kebahagiaan iman merupakan bagian dari kebahagiaan
universal atau sebaliknya. Itu saya serahkan kepada anda untuk bahan
renungan. Saya tidak akan memaksakan konsep saya, karena saya seorang
demokrat. Intinya adalah bahwa kita masih bisa memiliki kesempatan untuk
mendapatkan kedua kebahagiaan tsb. sekaligus. Sekarang tinggal kejelian
kita dalam menentukan pilihan.
:Apakah kalian ini fanatik dalam beragama, dalam artian merasa
:agamanya yg paling benar dan yg lain salah semua, atau cenderung
:mentolerir perbedaan dan merasa cukup fanatik ke dalam saja (dalam
:artian tidak ngurusin perbedaan agama tsb) ?
Agama saya adalah yang paling benar sehingga saya bisa fanatik ke dalam.
Bagaimana seseorang bisa fanatik ke dalam kalau tidak dimulai dari suatu
keyakinan bahwa agamanya adalah yang paling benar buat dirinya??
:Sebenarnya dari pembicaraan ini (mungkin tidak cukup sekali saja)
:dan mengamati kehidupan beragama kalian berdua, kalian atau
:kamu terutama bisa menarik kesimpulan bagaimana akhirnya
:hubungan kalian yg berbeda agama ini bila sampai ke
:pernikahan. Apakah suatu saat akan berakhir dengan pertengkaran
:antar agama, apakah anak2 akan dipaksa utk memeluk salah
:satu agama, de es be.
Sebenarnya saya masih mau berkomentar banyak, tapi karena saya sudah
ditunggu oleh teman untuk latihan tennis maka saya sudahi email saya ini.
Terima kasih.
:F e r o n a yang humanis... ;-)
Saya yang demokrat!
Wassalam,
-bambang-
--
"cinta itu buta.. darah itu merah.. putih-putih melati.. "
Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
Submit to 1000 search engines only 40rb http://www.submit-url.ml.org
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com