Halo Tom
Meski saya masih baru di milis ini, bolehkan ngasih tanggepan?!
Pada dasarnya saya setuju apa yg aggota milis lain sarankan. Bahwa buat apa
capek capek ngurusin hal seperti ini bila sudah tidak mengesankan lagi
seperti dulu. Dan saya yakin bahwa jodoh itu ditangan Tuhan, maksudnya kalo
cewek itu jodoh kamu pasti balik lagi.
Tapi yg saya tangkep dr true story kamu bahwa ada wawancara dgn seorang
gitaris yg dalam hal ini menyangkut tempat kerja kamu sedangkan semua yg
mempengaruhi kerja itu masih tertahan di si cewek itu (kalo penafsiran saya
nggak salah loh). Pertanyaan saya, apakah tidak bisa mengganti topik lain
yang setingkat dengan wawancara tersebut? Saya yakin teman2 sekerja kamu
akan memakluminya dan berusaha mencari jalan keluarnya kok.
Setelah baca cerita kamu saya jadi ngeri juga, soalnya baru2 ini saya juga
berkenalan dgn seorang cowok di jakarta lewat chatting dan sampai saat ini
baru sebatas kirim email saja. Berkat cerita ini saya jadi lebih hati2 dan
terima kasih atas ceritanya.
Well Mr. Tomita hanya itu yg bisa saya tanggepin dan seterusnya itu adalah
jalan hidup kamu sendiri. Saya yakin dengan banyaknya masukan dapat membuat
berpikir lebih jernih apalagi di bulan puasa seperti saat ini. Oya met puasa
yah...
salam
TITUT
-----Original Message-----
From: Tomit@ <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, December 27, 1998 10:32 PM
Subject: [love] Quantum Leap Ke Kelas Borjuis (bag II)
>Oke .. bagian pertama itu adalah cerita yang saya tulis dulu ketika masih
dekat dengan
>peristiwanya. Email yang ini saya tulis sekarang.
>
>Saya selalu tergoda untuk nelpon adik angkatnya ... setiap hari, tapi
akhirnya saya putuskan
>hanya tiga hari sekali aja. Soalnya kesannya seperti saya ada maunya ke
dia. Semua telpon
>itu nggak menghasilkan apa-apa ... sampai suatu ketika aku dapat kabar
bahwa dia dirawat
>mantan cowoknya itu. Sampai di situ saya lega karena sekurangnya she is in
a safe hand dan
>keberadaannya jelas.
>
>Mulai dari situ aku coba kirim email lagi ke dia meski nggak dengan harapan
akan segera di
>balas karena memang dia ada di rumah cowoknya. Aku sudah kirim banyak
sekali email.
>(Sampai aku tulis ini nggak ada balasan satu pun)
>Lalu kadang-kadang aku telpon ke HPnya .... selalu yang ada di sana adalah
answering
>machine. Lalu aku putuskan untuk tidak menelponnya sama sekali.
>
>Setelah beberapa minggu berlalu, aku coba telpon lagi. Thank God, kali ini
dia yang terima.
>Tapi waktu itu aku menelponnya dari kantor dan pada saat yang bersamaan ada
tamu datang
>dan aku bilang akan menelpon 10 menit lagi. Setelah urusanku selesai dengan
tamu itu,
>aku coba telpon lagi, tapi yang terima adik angkatnya ... dia bilang dia
sudah pergi dengan
>temannya. (Heran ... HPnya kan punya dia ... kenapa nggak dibawa ?)
>
>Lalu sengaja aku diamkan beberapa minggu lagi. Lalu aku coba telpon ulang.
Wah, aku
>beruntung dia yang angkat. Kali ini dia langsung bilang, "Ngapain nelpon ?"
.............
>Dalam hati aku langsung kesinggung .... harusnya dia punya semacam sopan
santun untuk
>menjelaskan kenapa waktu itu dia menghilang begitu saja, nggak nelpon,
nggak memberikan
>penjelasan apa-apa, dan sebagainya. Aku hanya jawab, aku ingin dia
mengirimkan film atau
>foto gitaris yang aku wawancarai (waktu itu aku mau bawa tustel sendiri,
tapi dia memaksa
>akan meminjamkan punyanya - apakah dia takut bakal saya potret ? Merasa
wajahnya mahal
>karena dia adalah fotomodel ?). Selain itu juga sebuah kaset yang isinya
adalah sambungan
>wawancara dengan si gitaris itu. Dia langsung bilang bahwa itu semua ada di
adik angkatnya,
>dan HP dialihkan ke dia. Waaaah .... ini bener-bener nggak mengenakkan ...
Saya jadi mikir
>jangan-jangan sakit maagnya itu hanya rekayasa aja untuk menghindari ketemu
saya lagi.
>Tapi .. the curious question is ... apa kesalahan saya ? Kenapa
meninggalkan saya begitu
>tiba-tiba ? Separah-parahnya sakit maag apa nggak bisa nelpon saya ?
>
>In the mean time ...... saya kirim email berkali-kali ke dia .... tapi
nggak juga dibales.
>
>Sampai sini I leave it all behind .... saya melupakan semua apa yang saya
alami itu. Kesal sih
>kesal. Oke .. kalau yang pribadi dihilangkan ... masih ada satu yaitu bahwa
gara-gara dia nggak
>ngirimin foto dan kaset itu transkrip wawancara itu nggak bisa saya
selesaikan. Sialnya, kaset
>yang tertinggal itu di side salah satunya isinya adalah wawancara saya
dengan gitaris lain yang
>juga belum kelar transkripsinya (Bmbg - PAS).
>Semua temen di IGN sudah nagih ... saya juga sudah janji akan menyelesaikan
... tapi stuck
>karena memang tanpa kaset itu the whole picture of the interview nggak akan
terungkap.
>
>Akhirnya keluar juga nih ide iseng saya. Saya bikin email forwarder di
iname. Lalu saya mencoba
>mengarang sebuah figur lengkap dengan segala detil yang perlu. Dan dengan
alamat email baru
>itu dan figur karangan saya ... saya ngirim email ke dia pake program Ghost
Mail. Saya memper-
>kenalkan diri.... dan bilang bahwa saya menemukan alamat dia di sebuah
tempat.
>
>Sebelum itu saya mau kasih tahu juga ke pembaca bahwa waktu itu saya sempat
diajak ke rumahnya
>dan melihat komputernya. Dasar masih newbie ... dia waktu itu ngasih tahu
password internetnya
>yang adalah tanggal lahirnya. Dengan bekal ingatan itulah saya coba masuk
ke providernya ... dan
>melihat on line hour dia. Ternyata dia hampir setiap hari on line. Dari
waktu online yang sebentar
>setiap harinya (tapi sering) ketahuan bahwa dia pasti ngecek emailnya.
>
>Gila ..... beberapa hari kemudian dia membalas. Di emailnya dia menyapa
saya dengan nama
>samaran saya itu.... juga di email itu di attach foto dia yang saya tahu
dipasang di salah satu studio
>foto di Jakarta.
>Saya sempat mengirim email lagi dan mencoba provokasi. Inginnya sih saya
supaya dia cerita
>tentang bagaimana sebenarnya perasaan dia ke saya waktu itu .... well,
tentu ke saya lagi dengan
>nama samaran itu. Di antaranya saya kasih komen tentang fotonya .. bahwa
saya pernah melihat
>foto itu di salah satu studio foto di Jakarta dengan nama anu ... di ......
Mall.
>Sejak saya menulis itu dia nggak membalas email-email yang saya kirim
berikutnya.
>
>Waktu natal kemarin, saya coba kirim email ke dia. Saya bilang bahwa saya
merayakan natal
>(padahal sih enggak) dan bahwa saya mengucapkan selamat kalau dia
merayakannya dan selamat
>puasa kalau dia puasa. Barangkali dia mendapat memory refresh setelah saya
bilang bahwa saya
>merayakan natal. Soalnya dia tahu bahwa the real Tomita was moslem. Makanya
dia balas
>email saya. ...... dan kali ini dengan foto lagi !!!
>
>Saya ingin tahu pendapat teman-teman milis. Enaknya diapain ini orang.
>Saya nggak mau terus-terusan ngerjain dia.
>Kalau saya mau lebih jahat bisa sebenernya ... di homepage ISP-nya ada
customer service
>dan saya bisa aja ngasih perintah copy / redirect semua email yang dikirim
dari alamat dia ke
>saya. Selanjutnya bisa dibayangkan sendiri 'kan ... kejahatan apa yang bisa
saya lakukan.
>Tapi saya nggak mau melakukan semua itu.
>Bener.
>
>Tomita P.
>
>
> ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
> Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id
>
>-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
>To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
>To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
>Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
>HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
>
>
>
>
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com