Iya, benar juga....kisah itu benar terjadi????
Untuk kasus yg sama ya kalau yg pernah nonton My best friend wedding"...
Ya gitu....nggak ada salahnya wanita mengutarakan cintanya terlebih dahulu..
-----Original Message-----
From: David Sofyan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, April 25, 2000 1:08 PM
Subject: [love] Fw: Kisah Cinta
>
>----- Original Message ----- >
>> >Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th. Ketika saya sedang
>> >bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang anak
>> >laki2. Dia seperti anak laki2 lainnya yg menggoda saya dan kemudian saya
>> >mengejarnya dan memukulnya.
>> >
>> >Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu
>> >dan saling memukul satu sama lain di batas pagar itu.
>> >
>> >Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu
>> >bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.
>> >
>> >Dia sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yg saya katakan. Saya
>> >menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya
>> >ttg apa saja.
>> >
>> >Di sekolah, kami memiliki teman2 yg berbeda tapi ketika kami pulang ke
>> >rumah, kami selalu berbicara ttg apa yg terjadi di sekolah. Suatu hari,
>> >saya
>> >bercerita kepadanya ttg anak laki2 yg saya sukai tetapi telah menyakiti
>> >hati
>> >saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan segalanya akan beres. Dia
>> >memberikan kata2 yg mendukung dan membantu saya utk melupakannya.
>> >
>> >Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya
>> >tahu bahwa sesungguhnya ada yg lainnya dari dirinya yg saya suka. Saya
>> >memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa
>persahabatan.
>> >
>> >Selama SMA dan semasa kelulusan, kamu selalu bersama dan tentu saja
>> >saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati,
>> >saya
>> >tahu bahwa ada sesuatu yg lain.
>> >
>> >Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri2,
>> >sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yg menjadi pasangannya.
>> >Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk
>> >mengatakannya.
>> >
>> >Malam itu adalah kesempatan terbesar yg saya miliki tapi saya hanya
>> >duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap2 tentang
>> >cita2 kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita ttg
>> >impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita
>> >bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yg dapat saya lakukan
>> >hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.
>> >
>> >Saya pulang ke rumah dgn terluka krn saya tidak mengatakan perasaan saya
>> >yg sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat
>mencintainya
>> >tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada
>> diri
>> >saya sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai
>> >perasaan saya.
>> >
>> >Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu
>> >bersama2 dengan seseorg. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di
>> >New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yg sama saya
>> >sangat bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih krn saya menyadari
>> >ia pergi utk pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan saya
utk
>> >diri saya sendiri dan melihatnya pergi dgn pesawat.
>> >
>> >Saya menangis ketika saya memeluknya krn saya merasa seperti ini adalah
>> >saat terakhir. Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis. Saya merasa
>> >terluka krn saya tidak mengatakan apa yg ada di hati saya.
>> >
>> >Saya memperoleh pekerjaan sbg sekretaris dan akhirnya menjadi seorg
>> >analis komputer. Saya sangat bangga dgn prestasi saya. Suatu hari saya
>> > >menerima undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya bahagia dan
>> >sedih pada saat yg bersamaan.
>> >
>> >Skr saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya
>> >bisa menjadi teman. Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya.
>> >Itu adalah sebuah peristiwa besar.
>> >
>> >Saya bertemu dgn pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya. Sekali
>> >lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak mengacaukan
>> >apa yg seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka. Saya mencoba
>> >bersenang2 malam itu, tapi sangat menyakitkan hati melihat dia begitu
>> >bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata kesedihan
>> >yg ada di hati saya.
>> >
>> >Saya meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal
>> >yg tepat. Sebelum saya berangkat... tiba2 dia muncul dan mengucapkan
>salam
>> >perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dgn saya.
>> >Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yg terjadi di New York.
>> >Kehidupan saya harus terus berjalan.
>> >
>> >Tahun2 berlalu... kami saling menulis surat dan bercerita mengenai
segala
>> >hal yg terjadi dan bagaimana dia merindukan utk berbicara dgn saya.
>> >Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat
>> >kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis
>> >6 surat kepadanya..
>> >
>> >Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba2 saya menerima sebuah catatan
>> >kecil yg mengatakan : "Temui saya di pagar dimana kita biasa bercakap2"
>> >
>> >Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia
melihatnya
>> >tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami
>> >kesulitan utk bernafas.
>> >
>> >Kemudian ia menceritakan kepada saya ttg perceraian dan mengapa dia
>> >tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak
dapat
>> >menangis lagi... Akhirnya kamu kembali ke rumah dan bercerita dan
tertawa
>> >ttg apa yg telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap
>tidak
>> >dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yg sesungguhnya
>> >kepadanya.
>> >
>> >Hari2 berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan
>> >perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia
>> >kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya
>> >harus pergi. Dia berjanji utk menemui saya setiap kali dia mendapat
>libur.
>> >Saya tak dapat menunggu saat dia datang shg saya dpt bersamanya. Kami
>> >selalu bergembira ketika sedang bersama.
>> >
>> >Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yg telah dijanjikan. Saya
>berpikir
>> >bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya.
>> >Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara
>> >mengatakan bahwa ia telah meninggal dlm sebuah kecelakaan mobil dlm
>> >perjalanan ke airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut akan
>kejadian
>> >ini
>> >
>> >Skr saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis
>> semalaman.
>> >Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya2 mengapa hal ini bisa terjadi
>> >terhadap seseorg yg begitu baik spt dia ?
>> >
>> >Saya mengumpulkan barang2 saya dan pergi ke New York utk pembacaan
>> >surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan
>> >mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi
>> >setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia
>menceritakan
>> >bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia.
>> >
>> >Apapun yg dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia spt saat
>> > >pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu2nya yg
>> > >diberikan kepada saya adalah sebuah diary.
>> > >
>> > >Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan
>kepada
>> > >saya. Saya tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya ?
>> > >Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California.
>> > >
>> > >Ketika saya di pesawat, saya teringat saat2 indah yg kami miliki
>> bersama.
>> > >Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami
>> > >berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu
>> > >bercerita bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah
>> >hati.
>> > >Tapi dia takut utk mengatakannya kepada saya.
>> > >
>> > >Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala
>> > >perkataan saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin
>mengatakannya
>> > >kepada saya berkali2, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke
>> New
>> > >York
>> > >dan jatuh cinta dgn yg lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika
>bertemu
>> >dan
>> > >berdansa dengan saya di hari pernikahannya.
>> > >
>> > >Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.
>> > >Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan
>> > >istrinya. Saat2 terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca
>> > >huruf demi huruf yg saya tulis kepadanya.
>> > >
>> > >Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan
>> >mengatakan
>> > >kepadanya kalau saya mencintainya "
>> > >
>> > >Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya
>> > >akan mengetahui apa yg sesungguhnya ada dlm hatinya.
>> > >
>> > >*********************************************************
>> > >
>> > >Pesan moral yg ada dari cerita tsb :
>> > >
>> > >Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI
>> > >UNTUK MENGATAKAN KEPADANYA"
>> > >
>> > >karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada.. ;((
>
>
>
>MAKANYA BAGI YANG MENCINTAI SAYA, CEPAT CEPAT MENGUTARAKANNYA,JANGAN HANYA
>DIAM.
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
>To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
>To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
>Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
>
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]