Saya merasa harus beri nasehat sedikit kepada temen kita yg satu ini.
Karena saya pernah mengalami hidup ini jauh 17.000 Km dari tanah air
selama lebih 6 tahun lebih (saat kuliah s1 dan s2). dan 3 tahun pengalaman
kerja di Industri di Sby.
Pertama, bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Jadi, walaupun dicari sampai
keujung duniapun tak akan lari.
Kedua, Pacaran ngak perlu lama2, dalam arti lebih dari 1 tahun, karena
pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk tidak pernah puas terhadap
pasangannya, dan yg terpenting adalah selama pacaran, hubungan tersebut
selalu cenderung ditutup2i sikap dan prilaku pribadi masing2. Dan yg
terlebih
penting adalah cenderung kekanak2an, dan saling 'memanjakan'.
Sementara bila kita sudah berumah tangga nantinya, itu semua bukan jadi
fondamen yg kuat.
Ketiga, Pacaran jarak jauh (lebih dari 1000 Km) adalah lebih baik
dihindarkan,
kecuali bila sudah ada ikatan kuat, seperti tunangan. Tetapi walaupun sudah
tunangan, saya sudah membuktikan sendiri, bahwa meskipun demikian tetap
runtuh juga hipotesa saya ini. Kemudian ditambah, bahwa dalam relasi
kasih sayang dibutuhkan perhatian yang full, bukan sekedar telfon2 saja,
atau kirim SMS2an saja. Dan juga, yang terpenting bahwa perasaan selalu
dihantu2i oleh rasa kekawatiran sang pasangan keluar dengan yg lain.
Saran saya, sebaiknya dihindarkan.
Keempat, Berdo'a lah minta kepada Allah SWT, atau Tuhan (bagi yg agama lain)
Menyerah diri, dan minta diberikan Jodoh yang cocok. Shalat Istikarah adalah
yang terbaik, atau berdoa menurut agama dan kepercayaan masing2 adalah
suatu cara yang paling manjur dan terbaik dalam menyelesaikan masalah ini.
Kelima, Ambil hikmah dari pengalaman pacaran, kita harus lebih hati2 dan
jangan sampai terjatuh di lubang yang sama lagi.
Keenam, Sebaiknya cari yang satu Iman (Agama). Karena keimanan adalah
ibarat fondasi rumah. Bila kita ingin membangun sebuah rumah, maka kita
harus membangun terlebih dahulu fondasi tersebut agar kuat dan aman terhadap
adanya angin topan dan hujan lebat bahkan air bah pun, rumah tsb kuat
menghadapinya.
Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi semua anggota millist ini.
Dan saya merasa sangat sedih sekali buat generasi kita, hanya memandang
pacaran sebagai aktivitas hura2 dan pemuasan nafsu belaka, sementara
menurut saya, pacaran itu adalah sangat sakral sekali.
Mengapa saya berkata demikian, bisa kalian buktikan, bila kita menyakiti
sang pacar, pasti kita akan dibalas yg setimpal oleh Tuhan untuk waktu
yg akan datang. Bisa jadi, kita akan sering putus pacaran, dan malah
bisa jadi dibalas disakiti oleh sang ex-pacar.
Karena pada hakekatnya, antara Cinta/Kasih sayang dan Benci
ibarat semudah kita membalikkan telapak tangan, pemisahnya sangat
tipis sekali. Buktikan saja, bila kita sudah putus oleh sang pacar,
perasaan cinta yang dulu menggelora tiba2 padalm seketika bahkan tidak
pernah dikenang sedikitpun dikala kita putus. Yang ada hanya perasaan
benci saja. Cenderung mencari2 kelemahan2 sang ex-pacar, memandang
sebotol air yang berisi setengah hanya dari sisi yang kosong.
Pram
----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]