sekedar buat bahan renungan hari ini...& untuk Pak Hendro
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pak, kalau memang sudah mau lewat, lewatlah kata seorang anak perempuan yang
sedang tertunduk beruraikan airmata.
Ayah angkatnya sedang meregang nyawa, hendak melepaskan ruhnya.
Ia menunggu anak kandungnya yang sedang datang tapi entah mengapa,
begitu lamanya ia tak sampai-sampai.
Sempat berbicara di telepon, tetapi tak jelas.
Atau mungkin tak terdengar olehnya betapa anak perempuannya
berteriak teriak dengan panik memintanya untuk menunggu agar jangan lewat
dulu.
Esoknya baru ia sampai.
Ia hanya mendapati gundukan tanah merah.
Pemakaman baru saja selesai.
Angin kuburan tempatnya bermain tatkala kecil yang biasa menyibak-nyibakkan
rambutnya dengan lembut, kali itu terasa bengis.
Sambil menghempaskan daun-daun yang menggarit kulitnya,
terasakan bagai beling -
sebetulnya ia malah mengharapkan menjadi goresan celurit menoreh kulitnya.
Rasa sesal menjadikannya ia ingin menyiksa diri sendiri.
Perdebatan kecil saat terakhir, mungkin sepele belaka perkaranya.
Tapi menjadikannya suatu siksa yang abadi.
Rasa sesal itu, terasa dengan sabar dan teliti menguliti hatinya.
Mungkin tidak seluruhnya salahnya.
Bukan tak mungkin pula sama sekali bukan salahnya.
Tapi komunikasi yang tak dimungkinkan lagi terjadi
membuatnya menjadi seperti harus menyisakan ruang introspeksi -
'siapa tahu sebetulnya aku yang salah!'.
Dan ketika selalu harus berhenti disitu,
ia merasakan ini bisa takkan pernah berakhir.
Bapaknya sungguh dan tulus mencintainya.
Bahkan terhadap anak-anak angkatnya yang sudah tak terbedakan lagi,
lelaki keras bagai Jampang itu sangat lembut sekali menyayangi.
Ia yakin, kalau anaknya menikah dengan lelaki yang tidak seagama,
hidupnya akan terbelah.
Maka rasa sayangnya itu bercampur dengan rasa kuatirnya bila anaknya tidak
berbahagia, membuatnya ia mengeluarkan fatwa keras:
kalau kau menikah dengan yang bukan muslim,
tunggulah sampai aku berkalang tanah.
Anak perempuan itu bukan anak yang penurut, sebetulnya.
Namun rasa sayangnya kepada bapaknya telah membuatnya mesti mengunyah
pahitnya hati sendiri.
Ia mengakui mencintai seorang pemuda yang justru bukan muslim.
Tetapi ia merasa harus merelakannya.
Dan memang ia merelakannya.
Rasa cinta birahi tersublimasi menjadi rasa sayang diantara dua sahabat.
Berlomba-lomba mengejar cakrawala kebijaksanaan lewat diskusi,
lewat canda cerdas dan lewat permenungan-permenungan
yang acap kali dinilai orang terlalu dalam untuk usia semuda mereka.
Begitu aneh, tetapi nyata, rasa cinta itu menjadi seperti legenda
diantara mereka berdua.
Itu hanya karena tidak pernah boleh tersalurkan dalam birahi selain lewat
rasa saling menghargai 'temuan-temuan' yang dicapai satu sama lain ketika
mengamati sekitarnya.
Tetap saja, akhirnya kebutuhan untuk berpredikat 'wajar-wajar saja' lebih
menang
dan akhirnya menuntun masing masing mereka menentukan pasangannya.
Proses itu begitu asal-asalan.
Asal muslim, asal nampak baik dan asal tampan tidak memalukan.
Kriteria itu dirasakan cukup untuk ayah tercinta.
Maka jadilah.
Dan proses itu demikian cepat dimulai.
Tapi cepat pula berlalu.
Ternyata 'kewajaran' belum menjamin apa-apa tanpa kebijaksanaan.
Kecurigaan bahkan berujung pada fitnah ditimpakan ke atas anak perempuan
malang itu.
Mengapa tak ada darah dari kemaluanmu di malam pertama, anak dara?
Apa yang terjadi dulu bersama laki laki itu?
Apa yang kau lakukan sesudah itu?
Dan nista apa lagi yang akan kaulakukan selanjutnya, perempuan jalang?.
Inikah sebuah 'kewajaran'? tanya perempuan itu.
Ataukah ini sebuah masyarakat yang sakit?.
Laki laki boleh mencicipi bunga dan membelinya dari setiap pinggir kota
sementara bunga tak bisa berbuat apa apa, hanya karena ia cuma warna
semata?.
Perempuan itu lari. Ia lari mencari.
Dan cakrawala yang luas menyingsingkan kesadarannya lebih jernih lagi.
Masyarakatku adalah masyarakat yang sakit.
Dan aku adalah yang lari dari itu.
Maka aku harus kembali.
Aku sekarang bukan lagi yang lari melainkan yang datang
untuk memerangi ketidak-adilan.
Ketika berkunjung pulang, apa yang didapat?
Sebuah pukulan berat karena bapaknya termakan fitnah suaminya.
Racun kecurigaan membutakan matahatinya dan sejenak melupakan
bahwa anaknya membutuhkannya lebih dari siapapun didunia.
Ia tak mendapatnya selain kekecewaan.
Dan ini memaksanya pergi lagi, kalah untuk kedua kalinya.
Perempuan yang 'jalang' itu meniti tepi nasib
dan menemukan teman-teman sejatinya.
Seorang pastur katolik meniupkan ruh baru kepadanya,
bukan untuk pindah agama,
melainkan malah untuk tetap setia berada dalam agamanya: Islam.
Sampai terdengar berita duka itu, ayahnya sedang dijemput maut.
Dan di ujung telepon terdengar getar rasa sesal suara bapaknya:
nduk, bapak gak gampang mati kok, gak usah kuatir.
Nek wis waras tak rewangi mbeleh wedhus iku. Muliho ae nek pas nganggur
(nak, ayah tidak gampang mati kok, jangan kuatir.
Kalau sudah sembuh saya bantu membunuh kambing itu.
Pulanglah kalau ada waktu luang).
Belum sempat ia pulang, ayahnya sudah berpulang duluan.
Ia menangkap kesan ayahnya telah mengakui kesalahan
karena telah menuduhnya berselingkuh dengan kekasih lamanya.
Dan itu melegakan.
Tetapi sekaligus menyisakan ampas sesal dalam hatinya.
Mengapa tidak dari dulu aku menemani bapak.
Ah kalau tidak, mungkin bapak tidak akan pergi secepat itu.
Apakah bapak pergi dengan menenteng beban rasa bersalah kepada dirinya juga?
Aku tak berani membayangkan itu, keluhnya cemas.
Pastur berjenggot kambing itu, pernah mengingatkan kata kata yang baginya
klise, bahwa yang kamu harus perangi bukan masalah suamimu yang kurang
beradab, katanya. Melainkan rasa bersalahmu terhadap ayahmu.
Suamimu itu hanya setan lewat di sebuah masa lalu.
Tapi ayahmu, ia mengalir bersama cinta yang berdenyut di urat-urat nadimu.
Ayahmu mewakili sejarahmu yang membentuk jati-dirimu lewat persetujuan dan
penolakan yang kau lakukan.
Menurut aku, kata pastur bijak itu lagi, ubahlah rasa cintamu terhadap
ayahmu
bukan menjadi rasa sesal melainkan menjadi sebuah enerji perjuangan.
Bila ayahmu menginginkan pemahamanmu islammu maju, yah, mengajilah,
dalam arti mengkaji terus pemahamanmu itu. Majukanlah islam.
Anak perempuan kurus dan kuyu itu merasa mendapatkan sesuatu.
Ia menggali sebisanya dengan cara mengaji bukannya menyanyi,
melainkan menyerahkan diri sepenuhnya, memperdalam pemahamannya,
mencari terasnya.
Ia mendapati bahwa rasa sayang kepada sesama manusia adalah inti itu,
enerji yang mestinya membuat setiap umat muslim mendapatkan alasannya,
mengapa berjalan pada jalan itu.
Mungkin bapaknya tidak berpikir serumit itu.
Sehingga sekalipun ia berjalan pada jalan yang benar,
tak sempat merumuskan apa yang harusnya dikatakannya
kepada anak perempuannya.
Nilai penderitaan itu terbuang percuma,
bila pengalaman hidupnya itu tidak dikomunikasikannya kepada putra putrinya
kelak,
dan kepada seluruh generasi kemudian.
Maka dalam setiap kesempatan bisa mengungkapkan pemahamannya tentang
agamanya, ia merasa telah membantu almarhum ayahnya yang dicintainya
dalam memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
Agama itu seharusnya memang membahagiakan,
tidak pernah boleh membelenggu.
Dan agama itu seharusnya rahmat semata, dan bukan larangan.
Juga bukan hanya bagi sebagian orang, melainkan untuk seluruh alam.
(Dalam kenangan: Sahabatku, Pastur Mangunwijaya,
yang berpulang 2 tahun yang lalu, 10 Februari 1999)
Khadijah Umar - Islam humanis
Padepokan Silat Langkah Suci Ciganjur
http://geocities.com/khadijahumar
------------------------------------------------------------------------->
If man is not made for God,
why is he not happy except in God?
If man is made for God,
why is he so opposed to God?
--- Blaise Pascal (1623-1662)
> -----Original Message-----
> From: Hendro Martono [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Sunday, February 25, 2001 4:31 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [love] cinta sejati
>
> Hello love,
>
> apa yang terpikir dari benak para netters..jika pacaran dengan orang
> yang beda agama..
> dilihat dari berbagai sisi... cinta itu sendiri, perintah agama,
> ortu en ..de el el.. de el el...
>
> --
> Best regards,
> Hendro
>
> ICQ no : 109233023
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> ----
> To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
> Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
>
----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]