Sekedar repost posting lama.

PS: Tom, masih di sini? Si Abang Edwin SA jadi "manajer"-nya si Dee ya?

---
"When two people love each other nothing is more imperative and delightful 
than giving."
                                 Guy de Maupassant

SUATU ketika dalam hidup, kita terdorong mencari tahu definisi dan makna 
cinta. Henry A. Bowman dalam buku Marriage for Moderns (1960) memberi 
penerangan komprehensif atas pertanyaan itu. Menurut Bowman, cinta berarti 
suatu hal bagi seseorang, dan hal lain bagi orang lain.

Pemaknaan cinta ditentukan latar belakang dan pengalaman masing-masing si 
pemberi makna. Bahkan seseorang bisa memberi makna berbeda pada periode 
hidupnya yang berlainan. Keragaman pemaknaaan itu disebabkan tidak adanya 
formula sederhana untuk menentukan apa yang termasuk dan tidak termasuk cinta.

Dari sekian banyak makna cinta yang telah diketahui luas, beberapa 
dinyatakan tidak tepat oleh Bowman. "Ada sejumlah konsep cinta yang 
menyesatkan, namun telanjur dipercaya sebagai kebenaran," ungkap Bowman. 
Akibatnya, individu yang coba menentukan apakah perasaan dihatinya 
benar-benar cinta atau hal lain, makin bingung.

1. Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat.
Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan 
menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar 
tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga 
menggunakan akal sehat. Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan 
begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh 
cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok 
dari mana kita berasal. Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat 
apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan jawab bila 
perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. 
Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal 
kebodohan.

2. Cinta membutuhkan proses.
Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. 
"Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang 
kompleks,"katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. 
Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan 
asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, 
tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah 
berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk 
memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam 
fenomena "cinta pada pandangan pertama" adalah pasangan terserang perasaan 
saling tertarik yang sangat kuat bahkan sampai tergila-gila. Kemudian 
perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. 
Dalam kasus "cinta pada pandangan pertama", banyak orang tidak benar-benar 
mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. 
Sebaliknya, dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai 
pasangan sebagai personalitas yang utuh.

3. Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi.
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan 
cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang 
mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai 
pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita 
berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya 
beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah 
(tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan 
dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.

4. Cinta itu konstruktif.
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri 
sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi 
konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh 
cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan 
ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang 
dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannyapun tak mungkin tercapai. 
Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.

5. Cinta tidak melenyapkan semua masalah.
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan 
cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak 
problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya 
cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih 
berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati 
dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk 
kepayang berarti tidak benar-benar mencintai, cenderung membutakan mata 
saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia 
mengenyampingkan problem.

6. Cinta cenderung konstan.
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan 
kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa 
kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita 
mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat 
kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah 
segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa 
kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal 
yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya 
tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, 
kita menyukainya dalam kadar sebanding.

7. Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik.
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita 
menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor 
lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi 
setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan 
bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka 
bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik 
hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi 
terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut 
pemuasan fisik sedari permulaan.

8. Cinta tidak buta, tapi menerima.
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan 
menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima 
dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun 
keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada 
kritik kasar,penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. 
Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh 
nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat 
keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang 
sangat mungkin diperbaiki.

9. Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan.
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan 
kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa 
mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan dan 
memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha 
keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar 
kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang 
mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.

10. Cinta berani melakukan hal menyakitkan.
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta 
memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk 
melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu 
yang berkata "tidak" saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu. 
Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan.


--
Even if I was banished to the darkest place,
my love will never let me be a lonely spirit



----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke