Makasih Mba' Fin..., tapi e-mail untuk ke "majelismuda' ama
"keluargaislami" kaga' ada balasan yach ? apa emang belum cukup kalo e-mail
ke sana. Ada syarat lain mungkin ?

Terima kasih dan Wassalam.

  Muhammad Arief Rahim
=========================
  PT. Tambang Batubara Bukit Asam
        Pelabuhan Tarahan
Jl. Soekarno - Hatta KM. 15 Tarahan
Bandar Lampung
Phone : 62-721-31686 ext.5536
Fax     : 62-721-31577

=========================

-----Original Message-----
From: Safinah [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 30 Mei 2001 7:54
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [love] Rumah Tangga Harmonis


Mempertahankan Kemesraan Suami Istri 
  
Keluarga merupakan unit terkecil dalam upaya membentuk masyarakat yang
berakhlak dan berperadaban sesuai ketentuan Allah. Untuk itu, sebagai
pasangan suami istri, kita perlu mengetahui langkah-langkah kongkrit yang
dapat mempertahankan perkawinan agar berjalan islami dan penuh kebahagiaan. 
  
Cara yang paling tepat untuk itu adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah
saw. Kehidupan perkawinan Rasulullah ternyata kaya dengan langkah-langkah
yang kita kenal dengan istilah suasana romantis dan mesra sehingga
perkawinan menjadi lestari sampai waktu yang ditakdirkan Allah swt. 
  
Diantara upaya-upaya mempertahankan kemesraan suami istri adalah bahwa
seorang suami selalu lembut dalam berbicara, demikian pula sebaliknya.
Masing-masing harus selalu membersihkan dirinya agar nampak menyenangkan.
Usahakan selalu berhias secara wajar, memakai wangi-wangian, dan panggil
memanggil dengan panggilan kesayangan. 
  
Hindari saling merendahkan, baik karena ilmunya, hartanya, keturunannya,
atau yang lainnya, justru masing-masing harus saling menutupi kelemahan atau
kekurangan pasangannya. Jika ada yang melakukan kesalahan, yang lainnya
sekuat tenaga membuka pintu maaf seluas-luasnya. 
  
Tak semua wanita pandai memasak, untuk itu seorang suami jangan mencela
masakan istrinya, sebab hal itu akan merenggangkan kemesraan. Tak ada orang
yang sempurna, maka pasangan suami istri harus paham betul bahwa
pasangannnya adalah manusia biasa, yang bisa salah, lupa dan kurang. Untuk
itu, tugas pasangannya adalah menutup kelemahannya. Hidupkan saling 
menasehati diantara suami istri. Dengan saling menasehati, menghayati posisi
masing-masing, merasakan kebahagiaan dan derita pasangannya dan saling
memperhatikan kepentingan pasangannya, perkawinan akan lestari. 
  
Sebagai pasangan normal, suami istri punya sifat cemburu. Untuk itu harus
saling dijaga, agar hal-hal yang bisa mengundang kecemburuan dihindari. Tak
mudah memang, karena kita hidup di lingkungan sekuler, tapi dengan
kesungguhan insya Allah kita bisa. 
  
Jauhkan membandingkan pasangan kita dengan orang lain, hal itu amat melukai
hati pasangan kita. Begitu menikah, kita harus terima pasangan kita dengan
segala kelebihan dan kekurangannya. 
  
Agar kemesraan terus terjalin, adakan waktu bersendau gurau dengan pasangan
kita, berikan hadiah pada hari-hari istimewanya, ajaklah dia shalat
berjamaah. Usahakan saling mendo'akan agar pasangan ini selalu diberi
rahmat, taufiq dan hidayah Allah swt sehingga menjadi pasangan suami istri
yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah. 

Ketika Suami Istri tak Lagi Romantis Apa yang akan terjadi? 
"Masak kamu nggak ngerti perasaanku, siih? Masak aku harus selalu ngomong
apa yang aku inginkan? Huuuh, sebel. Kamu memang nggak cinta padaku."
Pembaca budiman, pernahkah Anda berseteru dengan pasangan dan mengucapkan
kalimat seperti di atas? 
  
Berseteru? Wajar. Jangankan kita, Umar bin Khatab ra saja juga bertengkar
dengan istrinya. Bahkan para istri Nabi saja pernah menuntut kenaikan uang
belanja. Yang harus kita pelajari dan tiru adalah bagaimana mereka bisa
mengelola perbedaan pendapat itu agar tidak berujung pada percekcokan 
berkelanjutan bahkan perceraian. Sebaliknya, perbedaan dan pertengkaran yang
terjadi bisa dikelola secara baik dan Islami. Gimana caranya, ya? 
  
Para ahli psikologi juga mengatakan bahwa tumbuh kembang cinta itu mengalami
pasang surut. Siklus alamiah selalu terjadi dalam relasi hubungan suami
istri. Siklus cinta pada umumnya membutuhkan waktu tiga tahun, mulai dari
romantis, renggang hingga terbangun kembali hubungan yang romatis. 
  
Pembaca budiman, mungkinkah cinta itu bisa abadi? Bak Rama dan Shinta atau
Romeo dan Juliet? Atau apakah sebenarnya cinta sejati itu? Mungkinkah
suasana romantis suami istri itu bisa selamanya terjaga, selamanya indah dan
bahagia? Tanpa percekcokan menyakitkan hati apalagi perceraian? Ah, teori.
Buktinya, perceraian di Pengadilan Agama Surabaya saja setiap harinya 
rata-rata ada 4 kasus. 
  
Pembaca budiman, Al Falah kali ini mengajak Anda untuk memikirkan hal itu,
yaitu bagaimana menjaga romantisme sekaligus mengantisipasi pasang surutnya
cinta agar terbangun keluarga bahagia, sakinah ma wadah wa rahmah. Apa saja
kiatnya agar perbedaan dan pertengkaran bisa dikelola secara positif.
Bagaimana pula cara menumbuhkan kembali suasana romantis yang mungkin 
sempat hilang entah kemana? 
  
"MENDENGAR suaranya, jantung saya berdebar kencang, lutut saya rasanya turut
bergetar. Apalagi ketika melihat ia berjalan mendekatiku selepas akad nikah,
rasanya saya hidup di tengah taman surga, gelombang kebahagiaan menyiram
sekujur tubuh saya. Sekian tahun lamanya semuanya terasa begitu indah,"
cerita Alifa dengan mata berbinar, "tetapi .... kini semuanya seolah menguap
entah kemana. Aku jadi sangsi, apakah cinta sejati itu ada?" Mata Alifa kini
menerawang, iapun mulai sesenggukan. 
  
Saat Cinta Mulai Surut 
Apa Yang Sebaiknya Dilakukan? 
"Rasa-rasanya saya sudah tidak cinta lagi. Dia tidak lagi seperti yang saya
dambakan. Gairah cinta saya hilang berganti kebencian. Percuma saja
perkawinan ini dipertahankan ..." 
  
Pembaca budiman, apa yang sebenarnya terjadi? Apa pula penyebabnya? 
Entahlah, sulit dilukiskan. Akan tetapi sebuah penelitian yang dilakukan
terhadap suami istri menunjukkan, komunikasi yang buruk adalah sebab utama
masalah perkawinan. Tentunya ada penyebab-penyebab lain yang turut
mempersurut romantika cinta suami istri. 
  
Kejelian dalam mengenali gejala-gejala penyebab surutnya cinta akan sangat
membantu pencegahan dan terapi atas kerenggangan hubungan suami istri yang
terjadi. Apa saja sebab surutnya cinta ? Bagaimana mengatasinya? 
  
Salah Pandang tentang Perkawinan 
Banyak pasangan menganggap, dalam perkawinan yang baik, sepasang suami-istri
bergabung menjadi satu, segalanya harus sama, dan masing-masing dianggap
pasti tahu isi hati pasangannya, walau tidak diungkapkan. 
  
Ketika ternyata selera, sifat dan karakternya berbeda, iapun kecewa. 
Contohnya Hermin, yang periang dan suka ngobrol, sementara Herman, suaminya
lebih suka membaca. "Mas, stop bacanya, dengerin aku. Ada masalah, nih. Kamu
memang payah, nggak mau dengerin aku. Coba kalau yang ngajak ngobrol si Leni
yang di kantormu itu, huuuhh, pasti langsung denger, kan!" 
  
Melihat bukunya ditutup paksa sama istri, Herman langsung berdiri keluar 
kamar: "Buat apa mendengarkan kamu, teriak-teriak seperti orang gila." 
  
Melihat itu, kemarahan Hermin naik sampai ubun-ubun. Dan 'tabungan emosi
-nya yang selama ini disimpan tak pelak langsung meledak. Dar...darr...
daarrr!! Luapan kemarahanpun merembet lalu mengungkit segala masalah yang
selama ini disimpan sendiri. 
  
Jadi ada dua hal yang mestinya direnungi, apakah untuk bisa bahagia itu
semuanya harus sama, padahal taman bunga itu indah justru karena ragam
warna-warninya? Jadi, perbedaan bukan penyebab masalah, justru bagaimana
menyikapinya, itulah masalah yang harus dipecahkan. 
  
Kedua, hindarilah menabung emosi. Alangkah baiknya jika setiap kali ada
'perasaan' di hati (kecewa, mangkel, tidak setuju, nggak sreg) segera
diungkapkan secara langsung, tenang, dewasa dan konstruktif. Jangan
ditabung. Jangan pula menganggap pasangan pasti tahu walau tidak diberitahu.

Ia Milikku ! 
  
Mengapa ya, kebanyakan orang cenderung memperlakukan pasangannya agak
semaunya tanpa mempertimbangkan perasaan, beda sekali dengan perlakuan
terhadap teman atau sahabat? 
  
Kebanyakan kita menganggap jika sudah 'berhasil' menjadikan seseorang
sebagai istri/suami berarti ia sudah menjadi milikku. Selesai! Nggak perlu
lagi berhati-hati, menghormati apalagi memberikan perhatian istimewa
kepadanya seperti sebelumnya. Ala kadarnya sajalah... 
  
Kalau sebelumnya, setiap Yanti bicara selalu halus, mendengar penuh
perhatian, jika akan bertemu selalu pakai baju terbaru dan parfum terbaik,
sekarang kala Yanto sang suami datang, Yanti tetap saja pakai baju dapur bau
kompor. Begitupun Yanto, kalau di awal pernikahan dulu setiap kali pulang 
selalu bawa hadiah atau kejutan-kejutan kecil, kini ia pulang berwajah payah
baju kusut. 
Yang dihadiahkan ke istripun keluh kesah seputar kerja melulu. 

Sadarilah bahwa ia bukan 'milikku', ia justru adalah amanah dan tanggung
jawabku di hadapan Allah. Ikatan suami istri adalah ikatan yang amat kuat,
bobotnya disetarakan dengan ikatan perjanjian antara Allah dan para Nabi
ulul azmi. Dengan demikian 'saya' tidak berhak menyakiti, menyusahkan, 
sebaliknya saya harus membimbing, membahagiakan dan menghormatinya sebagai
amanah Allah. 
  
Seribu Kebaikan Hilang oleh Satu Kesalahan Fathonah selama ini selalu
menyambut Fathoni suaminya dengan senyum ramah, melepaskan sepatu, siapkan
mandi, lalu makan minumpun terhidang rapi dan indah. Tak lupa Fathonah
selalu menghiasi rumahnya dengan lantunan 
lagu-lagu Islami atau ayat suci penyejuk hati. Segala kepenatan Fathoni,
sang suami-pun berganti sejuk dan teduh di rumah bersama Fathonah. 
  
Namun sore itu, Fathonah lupa mengisi bak mandi. Ia hanya memberikan handuk
dan baju ganti kepada sang suami. Tatkala Fathoni masuk kamar mandi, ia
dapati bak mandi tak berisi. Sudah lelah, dibikin marah, muntablah Fathoni,
ditudinglah Fathonah ini dan itu. Ribuan kebaikan Fathonah hilang sudah,
berganti marah dan serba salah. 
  
Sejak itu, hubungan menjadi tegang, Setiap komentar dan tindakan selalu
bernada negatif, dikit-dikit emosi lalu bertengkar, sulit melihat sisi
positif, tegang dulu sebelum bicara, semakin lama bahkan semakin dingin dan
mudah tersinggung. Jika ini tak segera dibicarakan baik-baik, ia akan
menjadi bom waktu yang bisa meledakkan bangunan perkawinan sewaktu-waktu. 
  
Segalanya Akan Beres Asal Ia Mau Berubah! Setiap kali mengalami krisis
cinta, masing-masing cenderung berpikiran bahwa "saya adalah saya". Dan
betapa bahagianya saya seandainya ia mau berubah, begitu impian
masing-masing. Kata-kata yang sering diucapkan adalah 'saya' atau 'kamu!'.
Jarang mengucapkan 'kita' apalagi 'kita berdua'. 
  
Masing-masing gemar melimpahkan kesalahan pada pasangannya. Kamu memang
selalu......kamu tak pernah sekalipun.....dasar kamu memang nggak
bertanggung jawab....Yang muncul selalu emosi dan tuduhan sementara faktanya
atau kasusnya dan alasan atau argumentasinya justru jarang diungkapkan.
Akibatnya problemnya malah nggak dibahas apalagi diselesaikan bersama. 
  
Padahal kalau 'saya' mau melakukan perubahan kongkrit sedikit saja, setelah
terjadi pertengkaran, niscaya akan membawa sentuhan dan perubahan besar pada
pasangan Anda. Misalnya, setelah hubungan tetap tegang walau sudah dua hari,
Nining berusaha menghidangkan teh dan kue di pagi dan sore hari untuk suami,
sementara Nanang mau meluangkan waktu untuk bersih-bersih rumah atau menata
ulang tata letak perabotan rumah tangga agar selalu tampak baru. Kalau masih

canggung untuk bertegur sapa, nggak usah dulu nggak apa-apa, yang penting
unjukkan lewat perbuatan. Insya Allah susana krisis akan segera berganti
romantis. 
  
Tak Yakin Bisa Dibereskan 
Ketika krisis sudah pada tingkat pesimis bahwa masing-masing sudah patah
arang, tak yakin perkawinan bisa diselamatkan maka ini sudah sangat
berbahaya. Jika tidak segera dibangun saluran komunikasi, makin hari akan
makin rumit. Apalagi jika mulai melirik pihak ketiga, awalnya sekedar
sebagai curahan hati, lama-lama mulai menyimpulkan bahwa Joni temanku lebih
bijaksana dari suamiku, atau si Lena lebih bisa mengerti keinginanku.
Syetanpun bersorak gembira. 
  
Namun cobalah sedikit merenung, bukankah sebenarnya masing-masing punya
tujuan yang sama? Ingin rumah tangga bahagia? Bukankah pertengkaran itu
terjadi karena masing-masing sebenarnya ingin bahagia, meski menurut
persepsi dan kepentingan sendiri-sendiri. Karena hakekat tujuannya sama,
cobalah tenang sejenak. Kalau sedang marah jangan terus berdiri, kata Nabi
saw segeralah duduk, syukur segera basahi wajah dengan air wudlu kemudian
renungilah semuanya dengan tenang. 
  
Memahami Seutuhnya 
Laksana gunung, dari jauh nampak begitu dekat dan indah. Namun begitu
didekati dan didaki, terlihatlah bagian-bagian yang gersang, curam bahkan
berbahaya. Begitupun Tono dan Tini. Dulu semuanya begitu sempurna dan
menawan. Tercantik dan tertampan di seluruh dunia. Namun lima bulan
kemudian, semuanya begitu jelek, bodoh dan menyebalkan. Serba kalah
dibandingkan teman di kantor atau tetangga sebelah. 
  
Setiap orang punya lebih dan kurang. "Jika Anda benci terhadap sebagiannya,
ada bagian lain yang menyenang-kan," begitu kata Nabi diriwayatkan oleh
Muslim. 
  
Nabi juga mengajar-kan, begitu akad nikah terjalin, segeralah sang pengantin
shalat dua rakaat lalu berdo'a bersama-sama: "Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon kepada-Mu akan kebaikan istri/suamiku dan kebaikan watak serta
perangai yang Engkau berikan padanya dan aku berlindung kepada-Mu dari
kejelekannya dan dari kejelekan watak dan perangai yang Engkau berikan
adanya." (HR. Bukhari dan Abu Daud). Bukankah Allah swt juga berfirman bahwa
suami istri itu ibarat pakaian dimana satu sama lainnya saling melindungi
dan saling memperindah? 





----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]



----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke