Namo Amitofo Bro Siwu, Trims atas penjelasannya. Tapi masih ada pertanyaan: 1. Makhluk awam yang terlahir di Sukhavati, melatih diri untuk jadi Buddha dulu baru menolong semua makhluk ( dengan "turun" untuk terlahir di alam samsara ) atau menolong makhluk dulu ( "turun" untuk lahir di alam samsara) baru jadi Buddha. 2. Katanya di alam Sukhavati membutuhkan waktu yang sangat lama baru bisa mencapai "Buddha". Kalau gitu lebih lama mana?Terlahir di alam Sukhavati untuk melatih diri dan menjadi "Buddha" atau aliran lain yang terlahir di alam surga/dewa (bahasa mandarin Cing Ci Thien) dan melatih diri di sana dan mencapai "Buddha"? 3.Apakah keistimewaan Aliran Sukhavati dibanding yang lain? 4. Setelah terlahir di alam Sukhavati, apakah masih ada cowok atau cewek? Namo Amitofo...Namo Amitofo...Namo Amitofo... Tan Husin
siwu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Namo Amituofo Bro Tan Husin, Berdasarkan Sutra dan penjelasan Master Shan-dao, yang terlahir di alam Sukhavati adalah makhluk awam, belum mencapai keBuddhaan. Hanya saja dalam makhluk awam ini juga terbagi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari tiga tingkatan (total 9 tingkat samudera teratai). Semakin tinggi tingkatan teratainya, menunjukkan semakin tinggi tingkat kebajikan dan batiniahnya. Praktisi Sukhavati mendasarkan diri pada: KEYAKINAN, TEKAD dan BERLATIH. Keyakinan dan tekad membawa pada kelahiran di Sukhavati, sedang hasil berlatih menentukan tingkat teratai tempat kelahiran. Makhluk awam setiba di Sukhavati kemudian berlatih hingga mencapai keBuddhaan, tetapi waktunya akan sangat lama sekali. Namun demikian, Sukhavati bukan tujuan akhir, karena tujuan akhir adalah membabarkan Dharma bagi kebahagiaan semua makhluk. Hanya saja di dalam membabarkan dan membahagiakan semua makhluk ini, para praktisi Sukhavati membekali diri mereka lebih dulu dengan berlatih di bawah bimbingan Amitabha, intinya adalah terlahir di negeri tempat Buddha sedang membabarkan Dharma. Kita tahu bahwa harta, pangkat, paras, intelijensia dsb, adalah hasil dari upaya kehidupan saat ini, tetapi tidak menutup kemungkinan itu semua juga berasal dari benih berbagai kehidupan masa lalu. Semua itu merupakan buah dari perbuatan bajik yang pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi coba lihat di sekeliling kita? Berapa banyak orang yang memetik buah jenis-jenis kebajikan tersebut di atas yang memegang teguh moralitas? Memang, bukan berarti orang yang tidak punya harta, pangkat ataupun berparas tidak terlalu bagus selalu bermoral. Bukan itu maksudnya. Tetapi harta, pangkat dsb yang sebenarnya merupakan buah pahala kebajikan justru sekarang menjadi kondisi yang menjerumuskan pemilik buah karma itu sendiri. Di sinilah tujuan utama praktisi Sukhavati: terlahir di Sukhavati agar tidak terperosok ataupun berbalik mundur dari jalan Bodhi, bukan sekedar mencari keselamatan untuk diri sendiri. Kalau ada yang berpandangan bahwa Sukhavati mencari keselamatan sendiri maka ada dua hal: tidak memahami makna sebenarnya atau sekedar upaya kausalya (cara praktis dan tepat) untuk menarik minat umat awam. Tetapi, katakanlah ada praktisi Sukhavati yang juga berpandangan hanya sekedar mencari keselamatan, maka orang ini hanya akan terlahir di tingkatan teratai yang bawah. Sebagai tambahan, bagi yang telah berlatih mencapai tahapan tertentu, mereka bisa mengetahui sebelumnya bila mana akan terlahir di Sukhavati. Serta kelahiran di Sukhavati BUKAN terjadi SETELAH kematian dalam kehidupan ini melainkan saat kita MASIH hidup. Dengan kata lain, tidak menunggu kematian itu tiba, dalam kondisi tubuh masih bisa menampung daya kehidupan, para praktisi itu melihat kedatangan Amitabha beserta para suciwan dan dalam sekejap sudah terlahir di Sukhavati. Sebuah akhir kehidupan dunia fana yang tanpa melalui penderitaan. Tetapi, berapa banyak yang mampu seperti ini? Berbicara tentang KEYAKINAN, sudah pernah ada diskusi dan artikel yang membahas tentang keyakinan dan ehipassiko. Seakan-akan ada pandangan bahwa Theravada menekankan ehipassiko, sedang Mahayana hanya menekankan keyakinan. Haha, tampaknya kontradiksi, tetapi sebenarnya tidak demikian. Saya sebenarnya dari dulu sudah ingin menulis artikel tentang hal ini, tetapi berhubung kesibukan jadi artikel masih berupa angan-angan. Karena itu, tidak menunggu artikel, sekalian saya bahas di sini. Memang benar bahwa para siswa Buddha menekankan pada ehipassiko, bukan sekedar yakin secara membabi buta. Tetapi bagaimana bisa ehipassiko kalau kita sejak awal sudah tidak ada keyakinan terhadap ajaran mulia? Kita, khususnya yang belum pernah mengetahui ajaran Buddha, bersedia mendengarkan Buddha Dharma karena adanya keyakinan AWAL, karena kita yakin bahwa mendengarkan ajaran ini tidak ada jeleknya, mungkin saja bermanfaat, pun karena tahu bahwa Buddha adalah manusia yang mulia dsb. Keyakinan awal inilah yang mendorong kita 'kontak' dengan Buddhisme. Setelah adanya kontak maka kita mengerti akan makna dan pentingnya ehipassiko. Semakin ber-ehipassiko, semakin tebal keyakinan kita. Demikianlah hubungan keyakinan dan ehipassiko: keyakinan awal, ehipassiko, keyakinan yang semakin teguh. Tetapi kalau mengatakan hanya ber-ehipassiko-ria, ini juga kurang tepat. Coba berapa di antara kita yang tidak yakin akan Nibbana (Nirvana)? Kenapa yakin? Apa benar kita semua sudah ber-ehipassiko dan mengalami sendiri ketenangan Nibbana? Justru di sini keyakinan itu berperan, kita harus giat berlatih agar dapat mengalami sendiri bagaimana ber-ehipassiko tentang Nibbana. Jadi semakin jelas kan hubungan keyakinan dan ehipassiko? Jadi kalau mengatakan Theravada ber-ehipassiko, sedang Mahayana hanya tahu keyakinan, maka itu adalah pandangan yang kurang menyeluruh. 2500 tahun yang lalu, ketika Buddha mengatakan bahwa dalam semangkuk air ataupun dalam tubuh manusia terdapat 84000 makhluk hidup yang tak tampak mata, bagi para siswa yang belum mencapai kemampuan batin dan sayang sekali waktu itu belum ditemukan mikroskop, apa para siswa itu bisa ber-ehipassiko? Tidak membicarakan yang 25 abad, cukup 1-2 abad yang lalu, ketika membaca Avatamsaka Sutra (Hua Yan Jing) tentang kosmos yang tidak terhingga luasnya, bagaimana siswa awam di zaman itu bisa ber-ehipassiko? Sebenarnya Mahayana juga menekankan ehipassiko. 1. Pratyaksa pramana : standar sekarang. Yang dimaksud dengan 'standar' adalah metode untuk mengenali kebenaran atau keberadaan sesuatu hal. Standar sekarang adalah mengenali keberadaan sesuatu hal berdasarkan organ tubuh. Karena telinga kita normal maka tahu akan keberadaan suara, dsb. 2. Anumana pramana : standar perumpamaan Karena adanya suatu hal dan fakta maka kita bisa menalarkannya untuk membuktikan kebenaran hal yang lain. Karena kita tahu adanya fenomena fisika bahwa asap muncul dari api, maka saat melihat asap kita bisa langsung menalarkan bahwa di tempat itu pasti ada api. 3. Agama pramana : standar ajaran suci Yakin akan kebenaran sesuatu hal berdasarkan ajaran suci. Kita meyakini adanya Nibbana karena itu merupakan ajaran yang diucapkan oleh Buddha yang Agung. Akhir kata, ehipassiko dan keyakinan bukan sesuatu yang patut dipertentangkan. Pun ehipassiko bukan hanya sekedar dalam pengertian 'standar sekarang'. Sekali lagi, keyakinan awal mematangkan kondisi memahami pentingnya ehipassiko; ehipassiko menjadikan keyakinan semakin teguh; untuk ber-ehipassiko hal-hal duniawi, mari belajar ilmu pengetahuan, kedokteran dan ilmu2 duniawi lainnya, karena Buddhisme tidak menentang perkembangan ilmu duniawi yang juga bertujuan meringankan penderitaan makhluk hidup; untuk semakin ber-ehipassiko tentang hal-hal non-duniawi, mari kita giat berlatih menerapkan ajaran Buddha. Jadi tahu kan kenapa praktisi Mahayana yakin akan kebenaran adanya kosmos yang tak terhingga? Keyakinan ini bukan secara membabi buta, tetapi berdasarkan ehipassiko juga. Demikian penjelasan dan tambahan saya khusus mengenai pertanyaan Bro Tan Husin. Fa Bu Ti Xin - Hong Fa Li Sheng Amituofo, siwu On 8/23/05, TAN HUSIN wrote: > Namo Amitofo, > > Sdr Siwu, saya mau nanya setelah terlahir di alam Sukhavati, dan melatih diri > di sana. apakah sudah mencapai ke"Buddhaan" atau belum? > > Amitofo, > > Tan Husin > > siwu wrote: > Namo Amituofo, > > Beberapa saat yang lalu ada seorang bro sms ke saya menyarankan untuk > membabarkan tentang tingkat-tingkat pencapaian dalam Nian Fo > (pelafalan nama Buddha). > > Selain itu, beberapa minggu terakhir ini juga ada kiriman terjemahan > artikel mengenai dasar etika dan penerapan dalam ajaran Sukhavati dari > seorang bro kepada saya. > > Dua hal ini akhirnya membentuk suatu gabungan yang membuka mata saya > akan makna ajaran dan penerapan dalam Sukhavati. Hehe, 20 tahun sudah > saya menerima Trisarana dan menjadi praktisi Sukhavati, tetapi selama > ini mata saya masih belum terbuka. > > Tahap-tahap pencapaian dalam Nian Fo sangat sederhana, dengan kata > lain juga tidak terlepas dari Samatha Bhavana dan Vipassana Bhavana. > Tetapi sebetulnya lebih tepat bila dikatakan tahapan-tahapan dalam > praktik Sukhavati, bukan tahapan dalam Nian Fo. Untuk lebih jelasnya > adalah sebagai berikut: > > 1. Nian Fo Melafalkan Nama Buddha. > Merupakan pengembangan batin yang bertujuan memusatkan pikiran pada > obyek Buddha Amitabha agar pikiran tidak berkeliaran kesana kemari. > Hasil dari Nian Fo ini adalah yang disebut Yi Xin Bu Loan (Satu > Pikiran dan Tidak Kacau). Mencapai Yi Xin Bu Loan mungkin masih tidak > terlalu sulit, tetapi menghilangkan rintangan-rintangan batin secara > keseluruhan, ini masih belum tercapai dalam Nian Fo. > > Nian Fo merupakan ajaran yang berkembang luas setelah era Patriak ke-2 > Sukhavati yakni Master Shan-dao. Sebelum itu, selain Nian Fo, dikenal > pula Guan Xiang membayangkan (visualisasi) bentuk rupa Buddha > Amitabha. Cara ini lebih sulit dibanding Nian Fo, karena itu di > kemudian hari sangat jarang praktisi Sukhavati yang menerapkan metode > ini. Metode Nian Fo jauh lebih praktis dan mengena karena cukup > melafalkan dengan sadar dalam hati, mengucapkan dengan jelas melalui > mulut, dan mendengarkan dengan seksama melalui telinga. Dengan > demikian, kita bisa melafalkan dan mendengarkan dengan jelas setiap > kata "Amituofo" (Amitabha) yang kita lakukan. Inilah yang dinamakan Yi > Xin (satu pikiran), atau dengan bahasa awam adalah konsentrasi. > > Tetapi berhasil mencapai konsentrasi bukan berarti bisa mempertahankan > konsentrasi itu. Dengan kata lain, mereka yang telah benar-benar > berhasil dalam Nian Fo, meskipun menghadapi perubahan yang > bagaimanapun juga, pikirannya tetap terpusat dan tidak terganggu. > Inilah Yi Xin Bu Loan. > > Dari uraian di atas, bukankah Nian Fo ini merupakan salah satu obyek > dalam metode Samatha Bhavana? > > 2. Yi Fo Mengingat Buddha > Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa praktik dalam ajaran Sukhavati > bukan sekedar Nian Fo saja. Selanjutnya adalah Yi Fo. Yi Fo sekilas > tampak mirip seperti Nian Fo, juga merupakan pelafalan secara pikiran, > tetapi tidak dikeluarkan melalui mulut. Namun, bukan hanya berhenti > sampai di situ. Yi Fo adalah pikiran yang melafalkan, pikiran juga > yang mendengarkan. > > Seperti arti sebutannya, Yi Fo adalah mengingat Buddha. Jadi dalam > setiap perbuatan yang kita lakukan (jasmani, ucapan, pikiran), > semuanya merupakan bagian dari Buddha. Saat happy, dengan mengingat > akan Buddha maka kegembiraan kita tidak akan keluar dari jalur. > Demikian pula ketika sesuatu yang tidak menyenangkan itu datang > menghampiri kita. Dengan kata lain, Yi Fo ini bertujuan menjaga agar > kita selalu waspada dan sadar berada dalam jalan tengah. > > Akankah obyek luar dapat mempengaruhi kewaspadaan kita kalau sadar > bahwa semua fenomena adalah tidak kekal, hanya tubuh Dharma Buddha > yang senantiasa bersama dengan kita? Dengan mencapai Yi Fo ini, segala > perbuatan kita hanya satu tujuan, yakni senantiasa sadar akan > kemuliaan Buddha dan menerapkan Dharma yang indah bagi kebahagiaan > semua makhluk. Bukankah ini tidak berbeda dengan tujuan Vipassana > Bhavana? > > Dengan kata lain, Nian Fo yang mengembangkan ketenangan dan > keterpusatan pikiran (Samatha) merupakan salah satu keadaan yang > diperlukan untuk mengembangkan Yi Fo yang merupakan bagian dari > pandangan kebijaksanaan (Vipassana). > > Tentu saja Nian Fo dan Yi Fo bisa dikembangkan secara bersama-sama > atau bergantian, seperti halnya Samatha dan Vipassana. > > 3. Shi Xiang Nian Fo Pelafalan Buddha Wujud Sejati > Ini adalah kondisi tertinggi, keadaan yang abstrak dan tidak bisa > dijelaskan dalam kata-kata. Tidak melafalkan nama Buddha, tidak > mengingat Buddha, tetapi setiap pikiran adalah Buddha. Setiap pikiran > kita telah bersatu dengan Buddha. Inilah kondisi pencapaian Nirvana > (Nibbana). > > Dua tahapan awal, yakni Nian Fo dan Yi Fo, adalah kondisi untuk > terlahir di Alam Sukhavati, sedang Shi Xiang Nian Fo adalah kondisi > yang tercapai setelah terlahir di Alam Sukhavati. Ibaratnya orang > belajar kungfu, untuk menjadi jago kungfu maka bertekad belajar ke > Shaolin. Tetapi untuk mencapai Shaolin, kita sendiri harus memiliki > stamina, semangat dan petunjuk perjalanan menuju ke Shaolin, inilah > yang kita namakan Nian Fo, Yi Fo dan ajaran metode Sukhavati. Sesampai > di Shaolin, kita belajar keras di bawah bimbingan master-master kungfu > dan pimpinan vihara (ibaratnya para suciwan dan Amitabha di Alam > Sukhavati). > > Meski berlatih di bawah master kungfu, tetapi karena kita tidak terjun > langsung dalam pertarungan hidup mati seperti layaknya dunia > persilatan yang keras dan kotor (curang, licik dsb), sehingga bisa > saja kemajuan kita lebih lambat dibanding para pendekar yang > memperdalam ilmu mereka langsung di kancah dunia rimba hijau. Demikian > pula kemajuan para praktisi Sukhavati bisa lebih lambat dibanding para > siswa Buddha lain yang bertekad untuk tetap berlatih di dunia Saha > yang kotor ini. Tetapi pernahkah membayangkan, berapa banyak pendekar > yang benar-benar berhasil di dunia persilatan dengan tanpa dibimbing > oleh para master kungfu Shaolin? Ternyata banyak di antara mereka yang > tumbang sebelum menjadi pendekar kawakan. > > Inilah makna munculnya ajaran Sukhavati. Daripada tumbang sebelum > berhasil menjadi pendekar penyelamat dunia, para praktisi Sukhavati > lebih memilih berlatih lebih dahulu di Shaolin (Alam Sukhavati > Amitabha). Di sana mencapai kondisi She Xiang Nian Fo dan kembali ke > dunia Saha untuk membimbing para makhluknya. > > Inilah sekilas tentang tahapan dan tujuan Sukhavati. > > Mungkin ada yang mengatakan: "Ah, Amitabha itu kan hanya mitos." Kalau > berbicara tentang hal ini, terus terang saya juga tidak tahu > kebenarannya, karena tingkatan saya belum setinggi itu. Selain itu, > kalau berdebat tentang hal ini sama saja dengan debat kusir antar umat > beragama yang mengatakan agamanya sendiri yang benar. Jadi, terlepas > dari Amitabha itu mitos atau riil, saya hanya melihat tidak ada > keburukan dalam ajaran Sukhavati. Para praktisi Sukhavati tetap > menjunjung tinggi Sakyamuni sebagai Guru Tertinggi, menerapkan > kebajikan, menghormati orang tua dan para guru, menjunjung penerapan > Sila, melaksanakan pelatihan konsentrasi, mengembangkan kebijaksanaan, > meningkatkan tekad Bodhisattva, bahkan setiap saat menyambut akhir > kehidupan ini dengan pelafalan nama Buddha dan perenungan akan > ketenangan serta kemurnian tanah Buddha. > > Akhir kata, semua kembali pada tekad kita masing-masing. Setelah > mencapai Shi Xiang Nian Fo, tak ada lagi perbedaan di antara kita. > > Kembangkan Bodhicita, Babarkan Dharma dan Berikan Manfaat bagi Semua > Makhluk Fa Bu Ti Xin, Hong Fa Li Sheng > Amituofo, > siwu ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links --------------------------------- Start your day with Yahoo! - make it your home page [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
