In Memoriam: Cak Nur Sangat Peduli Masa Depan Bangsa
Oleh Sudhamek AWS Sejak sakit dan menjalani operasi transplantasi hati di RS Taiping, Guangdong, Cina 23 Juli 2004, kondisi kesehatan Nurcholish Madjid (Cak Nur) kurang menggembirakan. Kabar wafatnya pada Senin (29/8) pukul 14.05 membuat saya tersentak... Ada sesuatu yang sangat berharga telah hilang.... Saya cukup lama mengikuti sepak terjang Cak Nur, bukan karena posisi saya sebagai Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), di mana Cak Nur juga duduk dalam Dewan Konsultatifnya, tapi karena kegigihannya memperjuangkan nilai-nilai yang sama yang diperjuangkan MBI, yaitu: kemajemukan (pluralitas), toleransi, inklusifisme, nonsektarian, kemanusiaan, dan universalisme. Pembaruan pemikiran yang beliau lontarkan seringkali terlalu maju sehingga sering pula disalahpahami pihak lain. Kami telah bertekad membangun institusi pendidikan dasar dan menengah yang dari awal menekankan bukan hanya pembentukan kompetensi murid, tetapi juga pembentukan watak. Sebuah "National plus school" yang kemudian beliau beri nama Sevilla, nama sebuah kota di propinsi Andalusia-Spanyol, di mana peradaban barat dan timur bertemu, didirikan. Sayang waktu Sevilla pindah ke kampus permanennya yang baru di Pulomas, Jakarta Timur, belum sempat beliau kunjungi karena kesehatannya. Mengenang Cak Nur tidak akan ada habisnya, baik mengenai pandangannya yang seringkali terlalu maju untuk kebanyakan orang, maupun sisi kehidupannya sebagai sosok pribadi yang berkeluarga. Terbayang di benak saya keprihatinan Cak Nur atas kondisi bangsa yang selalu dikatakannya belum juga pulih dari deraan beragam persoalan, mulai dari soal ekonomi, sosial, politik, budaya, hubungan antarumat beragama, hingga persoalan lingkungan dan pendidikan. Begitu banyak hal musykil terjadi di negara ini sehingga beliau sering juga menyebutnya impossible country. Meski disebut Cendekiawan Muslim, pemikiran-pemikirannya tidak hanya mengenai Islam, tetapi juga tentang keindonesiaan modern. Cak Nur menulis buku "Indonesia Kita" (2003), yang berisi platform reformasi yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi dan politik negara dan bangsa Indonesia. Ia menjadi pelopor pembaruan politik, seperti ide pentingnya oposisi loyal, civil society, demokrasi, Pancasila sebagai common platform bangsa di samping nilai-nilai keagamaan, pluralisme, hak asasi manusia. Cak Nur melihat pluralisme di Indonesia harus dihormati sebagai investasi bangsa. Falsafah Bhinneka Tunggal Ika, dinyatakan tetap relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Keberagaman dan kemajemukan merupakan bekal berharga bangsa Indonesia. Menghadapi krisis multidimensi saat ini, termasuk pertentangan antaragama, kemampuan saling memahami dan menerima kemajemukan menjadi hal yang harus diupayakan. Menurut Cak Nur, masing-masing agama memiliki kebenarannya. Perbedaan dalam kehidupan beragama, hanya sisi sekunder, yakni simbol-simbol agama. Apabila agama sudah menjadi transenden, paham dan cita-cita yang mengendap lama dalam (ajaran) agama akan terwujud, yaitu wawasan yang universal. Penghargaan atas perbedaan tersebut, menurut Cak Nur, dipahami para pendiri bangsa. Mereka merancang bangsa Indonesia menjadi bangsa modern, yang menghargai pluralitas. Di sebuah seminar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta, Cak Nur menegaskan penyeragaman budaya yang melahirkan istilah "budaya nasional" dan pemberlakuan sistem pemerintahan yang seragam dengan meniadakan pemimpin-pemimpin informal, adalah contoh bagaimana Indonesia telah mengingkari prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Dalam sebuah kesempatan almarhum menyentil perilaku segelintir orang kaya di Indonesia yang mempertontonkan kekayaannya secara demonstratif. Cak Nur juga sangat gelisah melihat kondisi ekonomi sebagian besar rakyat yang belum juga beranjak dari kemiskinan. Sementara pada saat bersamaan sebagian besar elite di negeri ini masih juga meninabobokan rakyat dengan paparan betapa kaya rayanya sumber daya alam Indonesia. Cak Nur menegaskan, kesejahteraan bangsa yang menjadi tujuan tinggal angan-angan, sementara Indonesia tetap saja menjadi bangsa miskin. Almarhum pernah menyatakan, tantangan bangsa Indonesia saat ini bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa kita bukanlah bangsa kaya seperti yang dibayangkan. Almarhum mengingatkan, demokrasi butuh proses melalui pengalaman sendiri. Demokrasi memerlukan trial and error. "Karena itu, kita harus menjaga stamina, momentum, dan konsistensi," pesannya. Menjelang akhir hayatnya, beliau masih mengumpulkan para tokoh dan mantan presiden untuk sebuah rekonsiliasi nasional guna meredam perbedaan, melupakan permusuhan, dan berembuk memikirkan masa depan bangsa. Acara "Menyelamatkan Komitmen Nasional" itu makin menegaskan posisi almarhum yang sangat peduli akan nasib masa depan bangsa. Yang tidak kalah menarik adalah bagaimana beliau menjalani kehidupannya sesuai ajaran agamanya. Kesederhanaan, integritas moral, kesabaran, kesantunan, kehidupan yang inklusif, sikap demokratis, kecintaannya terhadap kedamaian, dan setumpuk human virtues lainnya telah menjadi attitude dan tindakan sehari-hari yang lekat pada dirinya. Suatu cara menjalani kehidupan yang sangat berkualitas. Umur 66 tahun belumlah terlalu panjang, tetapi kalau usia itu dilalui dengan cara seperti yang dilakukan almarhum, bukankah itu jauh lebih berharga daripada usia 100 tahun akan tetapi dijalani dengan sia-sia? Penulis adalah Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia Sinar Harapan, 05 September 2005 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
