48.  Upagupta

        Demikian telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha
sedang berdiam di Kota Sravasti di Biara Jetavana,
Taman Anathapindika. Pada saat itu, di negeri itu
hiduplah seorang brahmin yang bernama Upagupta yang
sangat intelek dan dapat meramalkan masa lampau dan
masa depan. Brahmin ini pergi kepada Buddha dan
memohon untuk ditahbiskan dalam Sangha berkata: "Jika
dalam kebijaksanaan dan kekuatan saya akan sama dengan
Sariputra, tahbiskan saya. Jika tidak, saya akan
kembali ke rumah." Ketika Buddha berkata bahwa hal ini
tidak akan terjadi, brahmin itu tidak menjadi seorang
bhiksu dan kembali kerumahnya. Beberapa waktu
kemudian, Buddha berkata kepada para bhiksu: "Seratus
tahun setelah saya mencapai Nirvana, jika brahmin ini
menjadi seorang bhiksu, dia akan dianugrahi dengan
kebijaksanaan, memiliki enam kekuatan spritual dan
memberi manfaat tak terhitung kepada banyak makhluk."
         Ketika waktu Nirvana akhir, Buddha berkata
kepada Ananda: "Ananda, saya telah mempercayakan semua
sutra kepadamu. Hafalkan mereka dan sebarluaskanlah.
"Berpijak pada perkataan Buddha itu, Ananda
menghafalkan sutra-sutra itu. Sebelum memasuki Nirvana
akhir, Buddha berkata kepada Yasa: "Yasa, saya akan
melewati Nirvana dan saya mempercayakan sutra-sutra
kepadamu untuk dijaga dan disebarkan. Di Benares, ada
seorang perumah tangga yang bernama Gupta yang
memiliki anak bernama Upagupta. Mintalah dia menjadi
seorang bhiksu, tahbiskan dia, dan ketika engkau akan
memasuki Nirvana akhir, percayakan semua sutra
kepadanya."
         Ketika Ananda telah mencapai Nirvana, Yasa
menghafalkan Dharma Terunggul dan memberi manfaat
kepada makhluk hidup di dunia. Pada suatu kejadian,
dia pergi ke Benares dan bertemu dengan seorang
perumah tangga itu, menjadi temannya, dan sering
mengunjunginya. Ketika seorang putra dilahirkan
perumah tangga itu, dia diberikan nama Upagupta dan
sebelum dia cukup usia, Yasa meminta dia menjadi
seorang bhiksu. Perumah tangga berkata: "Ini, anak
tersayangku, harus meneruskan garis keturunanku. Dia
tidak bisa menjadi seorang bhiksu. Tetapi jika putra
lain dilahirkan, saya akan memberikannya kepadamu."
Kemudian, putra lainnya dilahirkan dan bernama
Nandagupta. Ketika Yasa meminta anak laki-laki ini,
perumah tangga itu berkata: "Putra tertuaku berkerja
di luar dan putra muda ini bekerja di dalam. Dia tidak
bisa menjadi seorang bhiksu. Tetapi jika putra lain
dilahirkan, engkau dapat memilikinya."
         Yasa yang dianugrahi oleh tiga pengetahuan
seorang arahat dan mengetahui kemampuan makhluk hidup.
Dia mengamati apakah ada kebajikan untuk kedua anak
laki-laki ini menjadi seorang bhiksu, dan melihat
bahwa tidak ada, berhenti untuk meminta mereka.
         Kemudian, putra yang lain, tampan dan
menarik, telah dilahirkan ke perumah tangga dan Yasa
kembali pergi dan memintanya. Perumah tangga berkata:
"Anak ini terlalu muda sekarang, tetapi ketika dewasa
saya akan memberikannya kepadamu." Ketika anak itu
dewasa dia dianugrahi dengan kecerdasan yang luar
biasa. Orang tuanya memberikannya uang dan membangun
dia dalam bisnis. Pada suatu ketika Yasa mengunjungi
dia, mengajarkan dia Dharma, dan membangunkan pikiran
satu titik, memberitahu dia: "Ketika pikiran jahat
muncul, taruhlah sebuah kerikil hitam di  atas meja.
Ketika pikiran baik muncul, taruhlah yang putih
disana. Kemudan lihat yang mana yang lebih banyak
dibanding yang lain. "Pria itu, yang bernama Upagupta,
melakukan hal ini, dan awalnya lebih banyak kerikil
hitam. Kemudian kerikil hitam dan putih
berangsur-angsur sama, dan akhirnya, dengan usaha dan
meditasi, hanya kerikil putih yang tersisi penuh.
Memperoleh pikiran awal kebajikan, dia memperoleh buah
pertama.
         Pada saat itu di kota hidup seorang wanita
penghibur. Suatu hari, dia memberi uang kepada salah
satu pelayan wanitanya dan mengirim dia ke Upagupta
untuk membeli bunga. Upagupta memberi dia lebih dari
yang dia bayar. Ketika gadis itu membawa bunga itu
kepada nyonyanya, wanita itu terkejut dan bertanya:
"Ini dua kali lebih banyak daripada bunga yang
biasanya engkau peroleh dengan harga yang sama.
Bagaimana engkau mendapatkan sebanyak ini?" gadis itu
berkata: "Pria yang menjual bunga sangat aneh dan
memberiku lebih banyak tanpa tawar menawar dulu. Dia
sangat tampan dan engkau akan senang bertemu
dengannya." Wanita penghibur itu kemudian mengirim
undangan untuk Upagupta untuk mengunjungi rumahnya,
tetapi dia menolak. Berulang kali dia mengundang
Upagupta tetapi dia tidak pernah pergi.
         Pada suatu saat, wanita penghibur itu
melakukan hubungan intim dengan seorang pangeran
karena mendambakan permatanya, dia membunuh pangeran
itu dan menyembunyikan jasad itu dirumahnya. Raja
telah memeriksa semua rumah. Ketika jasad pangeran
ditemukan dirumahnya, raja menghukumnya dengan
memotong tangan, kaki, hidung, telinga dan menjatuhkan
hukum pancung. Ketika dia masih hidup, Upagupta datang
kepadanya. Wanita penghibur itu berkata: "Sebelumnya,
ketika saya masih cantik, engkau tidak pernah datang
kepadaku. Mengapa engkau menggangguku sekarang?"
Upagupta berkata: "Ini karena saya melekat pada
tubuhmu maka itu saya tidak pernah datang. Sekarang
saya datang karena welas asih."
         "Dia kemudian mengajarkan Dharma tentang
empat jenis ketidakkekalan:
         
         "Tubuh ini kotor dan menjijikan.
         Sifat sebenarnya adalah penderitaan.
         Ini kosong dan tanpa Aku.
         Meskipun jika seseorang mencari, 
         Dia tidak menemukan perlindungan disana. 
         Tubuh ini tidak memiliki perasaan.
         Hanya orang bodoh yang melekat padanya."
         
         Upagupta kemudian memberitahu wanita
penghibur itu: "Wanita, engkau seharusnya tidak
melekat pada tubuh yang menjijikan ini." Ketika wanita
penghibur ini mendengar hal ini, dia memperoleh mata
Dharma yang suci secara keseluruhan dan Upagupta
memperoleh buah Tidak Kembali Lagi.
         Yasa kembali meminta perumah tangga untuk
mengizinkan anaknya untuk menjadi seorang bhiksu.
Ketika izin telah diberikan, anak itu diambil ke biara
dan diberikan sumpah biara. Ketika dia berumur 20
tahun dia mengambil sumpah arahat. Dengan berlatih
intropeksi dan empat pekerjaan, dia menjadi penakhluk
musuh, sempurna di tiga pengetahuan dan enam kekuatan
spritual. Memperoleh kemampuan tiada banding dalam
berkhotbah, dia menarik banyak orang dan mengajar
mereka Dharma.
         Pada suatu kejadian, setan Mara menurunkan
hujan koin emas diantara kumpulan. Semua mengambil
koin itu dan lupa mendengarkan Dharma. Hari berikutnya
ketika Upagupta kembali mengajarkan Dharma, Mara
mengirimkan hujan bunga dan kembali semua kumpulan
menjadi tidak tertib. Hari berikutnya, ketika banyak
orang telah berkumpul dan Dharma sedang diajarkan,
Mara mengambil wujud sebagai gajah biru dengan enam
gading yang darinya mengalir air yang berkilauan. Di
setiap aliran air, ada seorang gadis cantik terbuat
dari kristal bernyanyi. Dan ketika gajah itu berjalan
dengan perlahan ke depan dan belakang, kumpulan itu
terpesona, berhenti mendengarkan Ajaran, dan melihat
gajah itu. Hari berikutnya Mara mengubah dirinya
menjadi seorang wanita cantik, datang ke kumpulan, dan
ketika orang-ornag melihat dia mereka lupa
mendengarkan Dharma. Kemudian Yasa mengubah wanita itu
menjadi tengkorak kering, tulang-tulang putih. Ketika
kumpulan melihat ini, mereka ketakutan, mendengarkan
Dharma dengan pikiran penuh konsentrasi, dan banyak
diantaranya yang mencapai buah pertama.
         Pada saat itu ada seekor anjing yang datang
setiap hari kepada para bhiksu, akan duduk dengan
telinga diangkat dan mendengarkan Dharma seperti
sedang diajarkan dharma. Ketika dia mati, dia terlahir
sebagai dewa dan duduk di tempat yang sama dengan
setan Mara. Mara berpikir: "Bagaimana makhluk bajik
ini datang dan menjadi setaraf denganku? Saya harus
mencari tahu tentang hal ini!" Menyelidiki, dia
menemukan bahwa dewa itu sebelumnya adalah seekor
anjing dan berpikir: "Para bhiksu telah menghina
diriku. "Melihat dari kejauhan bhiksu Upagupta sedang
duduk dalam samadhi dan merasa tiba-tiba ada mahkota
di atas kepalanya sendiri, dia menyelidiki dan
akhirnya mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Mara.
Dengan kekuatan spiritualnya, dia memanggil Mara dan
meletakkan sebuah topi ke atas kepala Mara, topi ini
diambil dari tubuh anjing yang telah mati, sambil
berkata: "Ini adalah balasan dari mahkota yang engkau
hadiahkan untukku." Mara kembali kealamnya, melihat
bahwa topinya adalah mayat anjing dan mencoba untuk
membuangnya, tapi tidak bisa. Pergi ke Indra, dia
berkata: "Indra, ambilkan benda mengerikan ini dari
kepalaku." Indra berkata: "Tidak mungkin. Hanya orang
yang menaruhnya yang bisa mengambilnya. Saya tidak
bisa." Kemudian Mara pergi ke semua raja para dewa dan
asura dan meminta mereka untuk memindahkan benda
menjijikan dari kepalanya tapi, seperti Indra, mereka
tidak bisa melakukan apapun.Mara kecewa dan kembali ke
Upagupta dan berkata: "Buddha dianugrahi dengan
kebajikan yang besar dan welas asih yang luar biasa,
tapi engkau Sravaka adalah orang yang payah. Hal ini
benar, saya dikelilingi oleh bodhisattva dengan 80.000
Mara, mencoba menghalangi dia dari pencapaian
Penerangan dan mencoba membingungkan dia, tapi dia
tidak pernah melawanku dan selalu berwelas asih
padaku. Mengapa engkau melakukan sesuatu yang sangat
mengerikan terhadapku sebagai balasan untuk lelucon
kecil yang saya mainkan?"
         Upagupta berkata: "Mara, engkau benar.
Bagaimana bisa seseorang  disepadankan dengan Buddha?
Bagaimana bisa setumpuk pasir dibandingkan dengan
Gunung Semeru? Bagaimana bisa sebuah kubangan
dibandingkan dengan samudra besar? Bagaimana bisa
seekor serigala pemalu dibandingkan dengan singa sang
raja dari binatang buas? Saya terlahir terlambat untuk
melihat Bhagava, tapi saya telah mendengar bahwa
dengan kekuatan magismu engkau bisa menciptakan tubuh
Buddha. Lakukanlah sekarang dan biarlah saya
melihatnya." Mara berkata: "Saya akan membuat imitasi
tubuh Buddha, tapi engkau tidak boleh menyembahnya."
Kemudian Mara dengan ajaib mengubah dirinya menjadi
tubuh Buddha, berwarna emas, 16 kubit tingginya,
dianugrahi dengan 32 tanda dan 80 tanda minor,
bersinar dengan cahaya, lebih cermelang daripada
matahari dan bulan. Ketika Upagupta melihat ini dia
berkata: "Saya menghormati Buddha, bukan engkau,
Mara." Mara berkata: "Oh, Yang Mulia Upagupta, dengan
welas asih pindahkan mayat anjing ini dari kepalaku."
Upagupta berkata: "Raja Mara, jika engkau membawa
pikiran awal welas asih dan cinta kasih dan menjadi
perlindungan makhluk, mayat anjing itu akan menjadi
kalung permata.  Tetapi jika engkau membawa pikiran
awal kesalahan kejahatan, itu akan tetap menjadi mayat
anjing." Dalam ketakutan besar, Mara melepaskan
perbuatan jahatnya dan membawa pikiran awal kebajikan.
Kemudian bhiksu Upagupta menjinakkan banyak makhluk.
Mereka memperoleh buah dan semua memujinya, berkata:
"Karena kebajikanku yang besar, makhluk hidup tak
terhitung dan tak terkira telah dibebaskan." Upagupta:
"Meskipun ketika saya terlahir sebagai seekor
binatang, saya telah menjinakkan makhluk hidup dan
memperoleh buah Yang Suci. Suatu hal lumrah bahwa saat
ini saya bisa menjinakkan makhluk?" Kumpulan besar
berkata: "Beritahu kami, kami mohon kepadamu,
bagaimana engkau sebelumnya menjinakkan
makhluk-makhluk."
         Upagupta berkata: "Di masa lampau, ada 500
Pratyekabuddha yang berdiam di sebuah gunung bernama
Banyak Rshi di tanah Benares. Setiap hari, seekor kera
akan datang dan menghormati dan membuat persembahan.
Kemudian Pratyekabuddha pindah ke tempat lain dan 500
pertapa mengambil tempat mereka. Beberapa dari pertapa
ini menyembah matahari dan bulan, yang lainnya pemuja
api. Suatu hari ketika pemuja matahari sedang memegang
kaki mereka dengan tangan mereka dan pemuja api telah
menyalakan api mereka, kera itu mendorong pemuja
matahari dan memadamkan api sang pemuja api. Kemudian
dia duduk dalam posisi meditasi. Ketika dia sebelumnya
meniru mereka, hal ini mengejutkan para pertapa dan
mereka berkata: "Kera ini tidak lagi mengikuti jalan
praktik kita. Marilah kita mengikuti jalannya.
"Berangsur-angsur mereka mulai meniru kera itu,
berpikir seperti kera itu, dan pikiran mereka
dijinakkan dan mereka mengerti sifat dasar yang benar
dari materi dan menjadi Pratyekabuddha. Pada waktu
itu, saya adalah kera itu." Kumpulan besar kemudian
bertanya: "Yang Suci, mengapa engkau lahir sebagai
seekor kera?"
         Upagupta berkata: "Masa lalu, 91 kalpa yang
lalu, ketika Buddha Vipasyin telah datang ke dunia,
para bhiksu berdiam di sebuah gunung yang bernama
Banyak Rshi. Suatu hari ketika seorang bhiksu yang
telah mencapai buah berlari ke gunung, bhiksu yang
lainnya berkata: "Hei, bhiksu, engkau berlari seperti
kera!" Karena alasan itu saya terlahir sebagai seekor
kera 500 kali."
         Kemudian empat kelas sravakayana menghindari
perkataan kasar dan menerapkan perkataan sopan.
Beberapa menjadi Pemenang Arus, beberapa menjadi Tidak
Pernah Kembali, beberapa menjadi arahat. Beberapa
membawa akar kebajikan awal dari seorang
Pratyekabuddha, sedangkan beberapa membawa pikiran
awal Pencerahan dan menjadi tidak takut. Semua
kumpulan percaya dan bersukacita.


J u n a i d y  A n w a r
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, & Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia

Phone : +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855 / +62 22 707 87 555 

----------------------------------------------------------
May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need---Bodhicharyavatara, Shantideva
----------------------------------------------------------


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke