Oleh DAISAKU IKEDA
ENAM puluh tahun telah ber lalu sejak berakhirnya
Perang Dunia II, yang ditutup dengan penyerahan tanpa
syarat Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945. Banyak
pemuda dari generasi saya yang dihasut oleh pemerintah
militer Jepang untuk maju dengan bangga ke dalam
perang dan memberikan nyawa mereka. Perang memberikan
kesan yang mendalam pada setiap aspek dari kehidupan
kita dan sebuah insiden dari waktu itu masih jelas
dalam ingatan saya.
Kejadian tersebut terjadi pada musim semi tahun 1945,
ketika saya berusia 17 tahun. Saat itu adalah fajar
dari suatu malam tanpa tidur ketika berlindung dari
serangan udara yang pada masa itu sudah biasa terjadi.
Sekira 100 pesawat pengebom B-29 sedang terbang
menjauh menuju ufuk timur. Saya memperhatikan mereka
hingga terlihat sebagai titik-titik kecil di langit.
Kemudian seseorang berteriak, "Hei! Apa itu?" Sesuatu
sedang jatuh dari langit. Benda itu adalah sebuah
parasut. Sebuah pesawat pasti sudah tertembak dan
sekarang, seorang prajurit Amerika sedang jatuh menuju
arah kami. Ia mendarat di sebuah lapangan sekira 200
atau 300 meter dari kami.
Dari apa yang saya dengar kemdian, sekelompok orang
berlari menuju prajurit tersebut dan mulai memukulnya
dengan tongkat. Dipukul hingga hampir tidak sadarkan
diri, ia akhirnya dibawa pergi oleh polisi militer.
Ketika saya tiba di rumah dan memberitahu ibu saya
tentang apa yang telah terjadi, reaksinya adalah,
"Betapa mengerikan! Ibunya pasti sangat
mengkhawatirkannya."
Ibu saya adalah seorang wanita biasa di mana dalam
banyak hal merupakan hasil dari didikan zaman beliau
dilahirkan dan dibesarkan. Tetapi dengan melihat ke
belakang, saya terpana oleh kemampuan beliau, sebagai
seorang ibu, untuk berempati terhadap penderitaan
sesama ibu, seorang ibu dari "musuh" yang terpisah
ribuan kilometer secara fisik dan oleh dinding
ideologi politik yang tinggi.
Dalam pandangan saya, wanita adalah pendamai yang
alamiah. Sebagai pemberi dan penyubur kehidupan,
melalui fokus mereka pada hubungan manusia dan
keterlibatan mereka dalam tuntutan tanggung jawab
untuk membesarkan anak-anak dan melindungi kehidupan
keluarga, mereka mengembangkan rasa empati yang
mendalam yang merasuk hingga realitas manusia yang
paling mendasar.
Ketika perang berakhir, ada semacam perasaan yang
menyebar secara luas bahwa yang tidak dapat
dihindarkan akhirnya terjadi. Dan ada juga sesuatu
yang juga tersebar luas, jika tidak disuarakan secara
besar-besaran, perasaan lega. Tidak ada seorang pun
rakyat Jepang yang pada saat itu dapat membuat diri
mereka keluar dan berkata "Saya senang Jepang kalah."
Namun saya yakin, perasaan itu adalah perasaan dalam
hati banyak orang.
Ibu saya seringkali mengungkapkan rasa muak beliau
terhadap perang. Harapan beliau terfokus pada
kepulangan yang aman bagi keempat anaknya, kakak-kakak
saya, yang semuanya telah dikirim ke garis depan
perang di Cina dan Asia Tenggara.
Selama dua tahun berikutnya kakak-kakak saya pulang ke
rumah satu persatu. Dalam seragam mereka yang
compang-camping, mereka terlihat sangat menyedihkan.
Semuanya kecuali saudara tertua saya, Kiichi. Kami
tidak mendengar berita mengenainya sejak ia dilaporkan
meninggalkan Cina menuju Asia Tenggara.
Akhirnya, pada tanggal 30 Mei 1947, kami menerima
berita mengenai kematian Kiichi dalam bentuk surat
pemberitahuan yang dibawa oleh pejabat senior
setempat. Ibu saya membungkuk memberi hormat dengan
sopan dan menerima surat tersebut. Beliau membelakangi
kami dan badannya bergetar dengan penuh kesedihan.
Salah satu saudara saya pergi menjemput sisa-sisa abu
kremasi Kiichi. Pemandangan ibu saya mendekap kotak
putih kecil yang menampung segala sesuatu yang tersisa
dari anak tertuanya sungguh tidak tertahankan. Pasti
tidak ada era yang dapat menandingi abad 21 dalam hal
jumlah ibu di seluruh dunia yang dipaksa mengeluarkan
air mata penderitaan dan kesedihan.
Wanita dan ibu adalah korban terbesar dari
perang-perang yang sesungguhnya dimulai oleh pria.
Semua yang mengenal kenyataan yang brutal dari perang,
yang mengetahui bagaimana perang memisahkan
orang-orang dari sisi kemanusiaannya, harus bersatu
dalam sebuah kemitraan global untuk perdamaian.
Wanita pada khususnya dapat menjadi pelaku utama yang
kuat dalam usaha ini. Suara-suara mereka, perhatian,
kebijaksanaan, dan wawasan mereka harus dikedepankan
dalam semua aspek kehidupan.
Dengan membangun solidaritas yang berakar pada
pengakuan empati akan kemanusiaan bersama kita, hasrat
universal untuk melindungi diri dan mereka yang kita
sayangi dari bahaya, saya percaya kita dapat
menjadikan abad 21 sebuah era penghargaan yang murni
terhadap kesucian kehidupan.
Dalam era yang demikianlah doa-doa perdamaian dari
semua ibu, seruan yang sungguh-sungguh dari semua umat
manusia, padaakhirnya akan terjawab.***
Penulis, Presiden Soka Gakkai Internasional, sebuah
organisasi umat Budha dan pendiri Universitas Soka,
Institut Toda untuk Penelitian Kebijakan dan
Perdamaian Dunia, serta Pusat Penelitian Boston.
J u n a i d y A n w a r
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, & Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone : +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855 / +62 22 707 87 555
----------------------------------------------------------
May I become at all times, both now and forever; a protector for those without
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack
of shelter; and a servant to all in need---Bodhicharyavatara, Shantideva
----------------------------------------------------------
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/