Mengkonsep Ulang Vihara
Sebagai Pemberdaya SDM Umat Buddha
Oleh: Abin Nagasena

Vihara selama ini dikenal dalam konsep sebagai tempat ibadah umat Buddha. 
Ya, tidak ada yang salah dengan konsep ini. Yang kita khawatirkan adalah 
bila konsep ini dipegang secara kaku sehingga vihara hanya menjadi tempat 
di mana semua hal yang bersifat batiniah menjadi issue tunggal dan semua 
hal yang bersifat jasmaniah menjadi sesuatu yang tabu untuk ditampilkan.

Konsep yang kaku ini dapat pula menimbulkan asumsi bahwa umat yang datang 
ke vihara adalah orang-orang yang lelah dengan hal-hal duniawi dan datang 
hanya untuk mencari ketenangan batin. Dengan kata lain, hanya orang-orang 
yang stress berat karena tekanan kehidupanlah yang datang ke vihara. 
Hendaklah mindset seperti ini tidak mendasari makna keberadaan sebuah 
vihara karena secara tidak langsung telah menempatkan vihara tak lebih 
hanya sebagai panti rehabilitasi orang stress.

Konsep panti rehabilitasi mengartikan bahwa vihara bisa bertahan hidup 
hanya karena adanya ‘iuran’ yang dibayar oleh umat stress yang datang 
mencari ketenangan batin. Iuran ini diberikan dalam berbagai bentuk dana. 
Kemudian bagaikan gayung bersambut, vihara ternyata juga ikut sibuk 
menjual buku-buku tentang cara menghadapi masalah kehidupan, solusi 
mengatasi stess dan lain sebagainya yang semua ditujukan pada 
masalah-masalah yang bersifat batiniah semata. Vihara yang demikian ini 
juga menawarkan banyak produk lain yang semata-mata hanya untuk 
menyejukkan hati umatnya. Seperti halnya candu, alih-alih menjadi obat, 
produk-produk ini justru menjadi kemelekatan yang baru bagi umat. Mungkin 
bagi vihara yang berkonsep sebagai panti rehabilitasi, menawarkan atau 
menjual produk-produk tersebut tidak perlu dipersoalkan, yang penting 
adalah sumber dana untuk membiayai operasional vihara menjadi terpenuhi.

Bagi sebagian vihara yang memiliki umat cukup tebal dompetnya, 
menggantungkan operasional vihara pada dana umat tidak terlalu menjadi 
masalah. Akan tetapi bagi vihara-vihara yang umatnya bukan termasuk 
kelompok berkantong tebal, kalau hanya semata-mata menggantungkan biaya 
operasional vihara dari sumbangan umat, maka dikhawatirkan vihara tersebut 
bisa-bisa hanya akan bertahan seumur jagung, karena umatnya tidak sanggup 
‘membeli’ produk-produk anti stress. Bagi umat yang untuk memenuhi 
kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah ‘ngos-ngosan’, mana ada dana lebih 
untuk produk-produk demikian? Tapi para umat yang ‘pas-pasan’ secara 
ekonomi ini justru yang datang ke vihara dengan penuh ketulusan, bukan 
karena kejenuhan pikiran atau bingung mencari obat stress. Bagi vihara 
bukan hal yang mudah untuk menggantungkan hidup pada kelompok umat yang 
tulus tetapi berkantong kering. Di sinilah kita harus mengembangkan konsep 
vihara yang benar yang juga berusaha membantu menopang kehidupan umat.

Selama ini umumnya vihara hanya menerima dana dari umat, tapi kurang aktif 
berperan membantu para umat agar dapat berkembang meningkatkan kemampuan 
ekonomi yang secara konsekuensi berarti menambah kesempatan bagi umat 
untuk dapat berbuat lebih banyak kebajikan dengan harta yang mereka 
miliki. Vihara seakan menutup mata bahwa untuk dapat berdana, mendukung 
operasional vihara, pembuatan media Dharma ataupun dana uluran kasih bagi 
sesama, umat harus memiliki ‘sesuatu’ untuk didanakan. Jika seluruh 
penghasilan umat masih belum cukup atau hanya pas-pasan menghidupi 
keluarga, lalu ‘apa’ yang bisa didanakan untuk menyokong kebutuhan vihara 
ataupun kebajikan yang lain? Mungkin ada yang menjawab, kan masih bisa 
berdana tenaga dan waktu? Lha, semua itu kan juga sudah habis digunakan 
untuk bekerja sepanjang hari? Dalam kondisi seperti ini, tidak heran jika 
ada vihara yang ikut-ikutan menjadi ngos-ngosan karena dana dari umat 
tidak mencukupi biaya operasional vihara.

Dalam logika yang sederhana, jika umat berpenghasilan yang cukup untuk 
berdana, maka vihara juga akan mendapat manfaatnya. Tapi sayangnya jika 
umat menghadapi persoalan ekonomi, adakah bentuk kontribusi vihara dalam 
membantu meringankan beban umat tersebut? Tentu membantu di sini bukan 
berarti memberi “ikan”, tapi dengan cara yang lebih bijaksana, yakni 
memberi “kail”. Dengan adanya kail maka umat akan memperoleh hasil lebih, 
dan sudah tentu ini berarti ada yang dapat didanakan. Tetapi meski telah 
diberi modal kail tetap masih belum mampu mendapat ikan, vihara mungkin 
perlu mengajarkan teknik mengail yang benar dan efektif. Lebih jauh lagi, 
bukan hanya sekedar memberi kail atau mengajarkan teknik mengail, tetapi 
vihara juga bisa berperan menjadi guru yang mengajarkan bagaimana cara 
membuat kail yang bermutu. Lha, kalau begini, vihara eksis, umat juga 
bahagia. Setidaknya ucapan “semoga semua makhluk berbahagia” telah mulai 
direalisasikan secara nyata dalam kehidupan ini, bukan hanya menasehati 
umat untuk menunggu kehidupan yang bahagia setelah meninggal. 

Vihara harus mulai merubah konsep yang hanya menekankan faktor batiniah. 
Vihara seharusnya tidak hanya berkutat dengan kebutuhan batiniah (nama) 
saja tapi juga harus menyentuh kebutuhan jasmaniah (rupa) dari umat. Toh 
umat juga adalah makhluk yang terdiri dari nama dan rupa. Lalu, kenapa 
vihara tidak memandang kedua hal tersebut secara berimbang? 

Dalam konsep yang lebih menyeluruh, vihara tidak seharusnya hanya 
merupakan tempat kebaktian, mendengarkan Dharma, atau bahkan menjadi panti 
rehabilitasi. Vihara harus mampu pula membantu memberdayakan sumber daya 
manusia para umatnya sehingga keahlian dan kemampuan dalam memenuhi 
kebutuhan hidup menjadi lebih baik dan tentu saja kualitas kehidupan umat 
juga akan meningkat.

Tetapi apakah lantas vihara harus mendirikan usaha bisnis dan menjadikan 
umat sebagai karyawan? Tentu saja tidak perlu sedemikian ekstremnya. Upaya 
pemberdayaan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana seperti 
membantu jenis pekerjaan yang menjadi mata pencaharian umat. Sebagai 
misal, bisa dengan membuka koperasi vihara. Pun jika sebagian besar umat 
adalah petani, vihara juga bisa membantu dengan mendirikan koperasi tani 
yang menyediakan kebutuhan para petani. Koperasi dapat memperpendek rantai 
distribusi sehingga harga barang yang tiba di tangan petani menjadi lebih 
bersaing. Ini adalah salah satu solusi.

Lalu, apakah semua jenis usaha dapat dikerjakan dalam vihara yang selama 
ini dikenal fungsinya sebagai tempat ibadah? Tentu saja tidak semua hal 
dilakukan dalam vihara, tetapi vihara dapat memainkan peran sebagai 
penggerak. Usaha yang kemudian dikembangkan oleh vihara, misal koperasi, 
dapat menjadi aset vihara, tetapi tidak selalu harus didirikan dalam 
lingkungan vihara. Tetapi apapun jenis usaha yang dijalankan oleh vihara 
sebagai penggerak pemberdayaan umat, itu harus sesuai dengan Jalan Mulia 
Berunsur Delapan, khususnya tentang unsur Mata Pencaharian Benar. Di sini 
pula akan muncul peran aktif vihara dalam memberi teladan nyata kepada 
umat tentang jenis usaha yang benar yang tidak melanggar Buddha Dharma.

Sebagai pelaksana ide mulia ini, para umat aktif di vihara ataupun 
kelompok mahasiswa Buddhis yang berkemampuan (ekonomi mampu, keahlian 
mampu, pengetahuan mampu, jaringan pemasaran mampu dan segala hal yang 
tergolong mampu), mungkin bisa memainkan peran yang lebih berarti. 
Mahasiswa dapat melakukan lokakarya di vihara-vihara untuk memberikan ilmu 
pengetahuan dan teknologi tepat guna dalam memanfaatkan apa saja yang bisa 
dimanfaatkan dari lingkungan tempat tinggal umat ataupun vihara. Membuat 
pupuk kompos dari sampah, membentuk jaringan usaha kerajinan tangan, 
me-recycle kertas bekas menjadi art paper dan sebagainya. Ibu-ibu rumah 
tangga dapat pula diberi kursus-kursus yang tidak membutuhkan banyak 
sumber daya ataupun diberikan konsep-konsep sederhana yang bisa merubah 
waktu senggang menjadi usaha yang produktif. Sudah tentu semua itu juga 
tidak lepas dari peranan jaringan distribusi pemasaran.

Banyak hal yang bisa dikembangkan, tergantung seberapa jeli para penggerak 
melihat apa yang ada dan apa yang belum ada. Apa yang ada diusahakan untuk 
dimanfaatkan dan disulap agar nilai ekonomisnya meningkat. Sedang bagi apa 
yang belum ada, adalah kesempatan yang baik untuk membuatnya menjadi ada.

Tidak dipungkiri bahwa konsep pemberdayaan ini bukan merupakan konsep baru 
karena telah ada beberapa organisasi Buddhis berskala internasional yang 
jauh-jauh hari telah merealisasikannya. Kita bisa melihat hasil karya Tzu 
Chi Jakarta yang membantu Pemda Jakarta membangun rumah susun bagi warga 
penghuni pinggir kali. Meski bisa membangun rumah susun yang tidak sedikit 
biayanya, tetapi Tzu Chi bukan suatu badan usaha yang memiliki jaringan 
bisnis sebagai penyandang dana di balik semua aksi sosial mereka. Tzu Chi 
hanyalah sebuah organisasi sosial yang didirikan oleh seorang bhiksuni 
bertubuh lemah tetapi berjiwa Bodhisattva yang semangatnya keras bagaikan 
intan. Dana yang diperoleh oleh Tzu Chi merupakan sentuhan hasil penerapan 
konsep pemberdayaan sumber daya manusia. Kini para umat Buddhis dan umat 
lintas agama bergabung di bawah bendera Tzu Chi bahu membahu 
merealisasikan peningkatan kualitas kehidupan jasmaniah umat manusia 
dengan tidak mengabaikan upaya pemurnian batiniah.

Bila Tzu Chi telah berhasil membuktikan bahwa konsep pemberdayaan bukan 
tidak mungkin direalisasikan, mengapa vihara tidak bisa? Bila vihara di 
Thailand bisa mengembangkan konsep pendirian sekolah, rehabilitasi 
pengguna narkoba, penampungan penderita HIV dan aksi-aksi sosial lainnya, 
lalu kenapa vihara di tanah air tidak bisa? 

Nampaknya sudah waktunya untuk lebih memfokuskan pada pemberdayaan sumber 
daya manusia umat Buddha khususnya dan masyarakat umumnya, daripada sibuk 
dengan berbagai kegiatan ritualistik yang notabene tidak menyentuh 
perealisasian harapan mulia ”semoga semua makhluk berbahagia”! 

Sumber: Sinar Dharma Edisi 10 - Asadha 2549BE/2005


DISCLAIMER :

The information contained in this communication (including any attachments) is 
priveleged and confidential, and may be legally exempt from disclosure under 
applicable law. It is intended only for the specific purpose of being used by 
the individual or entity to whom it is addressed. If you are not the addressee 
indicated in this message (or are responsible for delivery of the message to 
such person), you must not disclose, disseminate, distribute, deliver, copy, 
circulate, rely on or use any of the information contained in this transmission.

We apologize if you have received this communication in error; kindly inform 
the sender accordingly. Please also ensure that this original message and any 
record of it is permanently deleted from your computer system. We do not give 
or endorse any opinions, conclusions and other information in this message that 
do not relate to our official business.



[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke