Dari milis sebelah...
----- Forwarded by Abin Abin/MJT/APP on 19/12/2005 10:06 AM -----





"Handaka Vijjananda" <[EMAIL PROTECTED]> 
Others, 18/12/2005 01:43 PM
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
 
        To:     [EMAIL PROTECTED]
        cc: 
        Subject:        [FPBI] JANGAN PANGGIL PAPA GITU DONG

Kalyanamitta,

Nyambung sedikit lagi seputar penyebutan yang layak untuk (para) 
Buddha, saya ulas sedikit dengan merujuk dari buku "Kronologi Hidup 
Buddha" yang akan kami terbitkan dalam waktu dekat (iklan terselubung 
nih :)

Ketika pancavaggiya (lima kawan seperjuangan Siddhattha Gotama) 
menyambut dan mempersilakan Yang Terberkahi duduk, mereka memberi 
hormat dan menyapa-Nya: “Sahabat (Avuso)!” Lalu Yang Terberkahi 
memberitahukan mereka: “O pancavaggiya, janganlah menyapa-Ku dengan 
nama-Ku atau dengan sebutan ‘avuso’! Aku telah berhasil dan Tercerahkan 
Sempurna....”

Sebagian orang berpikir, "self-acknowledgement" semacam ini, sepertinya 
(maaf) "tinggi hati aaamat" alias "sombong luh". Dalam kasus di atas, 
itu adalah persepsi ORANG LAIN terhadap Buddha, persepsi Buddha 
terhadap diri-Nya sendiri adalah "another story" (saya belum tahu 
soalnya saya belum pernah jadi Buddha). Hal ini memang pernah terjadi 
dalam perjalanan hidup Buddha Gotama, ikuti pariwara buku Kronologi 
Hidup Buddha berikut ini.... ;)

Tak seberapa lama setelah Yang Terberkahi memutuskan untuk mengajarkan 
Dhamma kepada segenap makhluk, dalam perjalanannya, Yang Terberkahi 
bertemu dengan seorang petapa kelana yang bernama Upaka. Melihat 
penampilan Yang Terberkahi, Upaka terpukau dan bertanya: “Sahabat, 
indra-Mu tenang, kulit-Mu bersih dan terang, atas bimbingan siapakah 
Engkau melepaskan keduniawian? Siapakah guru-Mu? Ajaran siapakah yang 
Engkau anut?”

Mendengar ini, Yang Terberkahi menjawab:

“T’lah Kuatasi semuanya, karenanya t’lah Kuketahui semuanya.
Tak lekat diri-Ku terhadap segala hal, karenanya t’lah kulepaskan 
semuanya.
T’lah Kutinggalkan segala keinginan dan 
Dengan kebijaksanaan-Ku sendiri, t’lah Kupahami segalanya, t’lah 
Kuberdiam dengan teguh dalam Nibbàna.
Siapakah yang pantas menjadi guru-Ku?”

“Tiada guru bagi-Ku. Tiada yang menyamai-Ku.
Di dunia dengan dewa-dewanya, tiada seorang pun bandingan-Ku.
Akulah Arahanta di dunia ini.
Akulah Guru manusia dan para dewa, tiada banding nan sempurna.
Akulah Sang Tercerahkan Agung.
Api kekotoran batin t’lah Kupadamkan.
Kupergi kini ke Kota Kàsi ’tuk memutar Roda Dhamma.
Di dunia terbutakan ini, ’kan Kupergi untuk menabuh Genderang 
Keabadian.”

Mendengar perkataan Yang Terberkahi, Petapa Upaka bertanya: “Sahabat, 
jika perkataan-Mu benar, apakah Engkau menganggap diri-Mu sebagai 
Penakluk Nirbatas?” Lalu Yang Terberkahi menjawab: “Penakluk seperti 
diri-Ku, Upaka, adalah penakluk yang telah memadamkan kekotoran batin. 
Aku telah menaklukkan segala kejahatan. Itulah sebabnya diri-Ku disebut 
Penakluk.”

Mendengar itu, Petapa Upaka berkata: “Mungkin saja begitu, Sahabat!” Ia 
mengangguk, berjalan di samping, kemudian berlalu.
-------

Waktu itu Buddha Gotama memang belum terkenal, masih "fresh from the 
Enlightenment". Gara-gara persepsi Upaka yang menganggap sosok di 
hadapannya tinggi hati, Upaka KEHILANGAN KESEMPATAN untuk menjadi siswa 
pertama Buddha!!! Waaakss... siapa yang rugi tuh!

Bagi yang pernah punya anak, analogi berikut mungkin bisa diterima. 
Kali ini saya ambil dari pengalaman pribadi saja sebagai ayah (tiga 
anak jeee). Ketika saya mengamati bahwa anak/bayi saya sudah mulai 
keruan bicaranya, saya suka menyebutkan: "Pa... pa...", dengan maksud 
mengajarkan anak saya untuk memanggil saya dengan sebutan "Papa", 
soalnya dalam tradisi Timur, kita tidak mengajarkan anak untuk 
memangggil kita dengan nama saja (by name).

Time goes by... anak-anak saya tumbuh besar dan terbiasa memanggil 
saya "Papa". One day, seorang anak saya meniru staff saya menyebut nama 
saya "Mister Han... Mister Han..." Ups, mendengar itu, saya bilang 
kepada anak saya, "Hus, jangan panggil Papa gitu dong."

Yang ingin saya sampaikan, waktu kejadian di atas terjadi, saya tidak 
merasa tersinggung, tidak merasa me/di-rendahkan, dan tidak merasa 
tinggi hati. Saya berkata, "Hus, jangan panggil Papa gitu dong," semata-
mata untuk menasihati seorang anak untuk memanggil ayahnya dengan 
ucapan yang layak/santun. Ini DEMI MENGARAHKAN SANG ANAK ITU SENDIRI 
UNTUK BERBUDI PEKERTI TERHADAP ORTUNYA, bukan demi menggembungkan ego 
saya sebagai ortu yang minta dihormati.

Mungkin kalau saya cerita begini, ada orang yang tidak percaya atau 
mencibir, bagaimanapun, itu adalah PERSEPSI ORANG LAIN terhadap saya, 
persepsi saya terhadap diri saya sendiri, seperti di atas, 
adalah "another story". Apa pun yang saya bicarakan, demi mengajarkan 
budi pekerti kepada anak ATAU demi menggembungkan ego saya, HANYA SAYA 
SENDIRILAH YANG TAHU NIAT SAYA YANG SEBENARNYA. Dan dalam hal ini, yang 
jelas, again and again hanya saya yang tahu, dalam peran sebagai AYAH:
- saya mengatakan apa yang ada dalam hati saya seperti adanya;
- tidak meninggi, tidak merendah sebagai ayah (bloody hell, what for?);
- kalau saya meninggi, berarti saya musavada dan angkuh;
- kalau saya merendah, berarti saya musavada dan minder.

Nah, dalam kasus "Buddha":
1. Ditanya oleh Upaka
2. Disapa oleh pancavaggiya dengan sebutan "Sahabat (Avuso)"

ad. 1. Menurut saya, jawaban Buddha Gotama kepada Upaka sudah betul kok:
- Beliau mengatakan kenyataan sebagaimana adanya;
- tidak dilebihkan, tidak direndahkan;
- kalau Beliau meninggi, berarti Beliau musavada dan angkuh;
- kalau Beliau merendah, berarti Beliau musavada dan minder.

Sesosok Buddha kan TIDAK MUNGKIN BISA MUSAVADA, ANGKUH, atau MINDER, 
segala kilesa sudah tercerabut sampai akar-akarnya. Dengan ini saya 
simpulkan bahwa Buddha mengatakan apa adanya saja (setidaknya saya 
punya "iman" dalam hal ini, ini yang harus saya buktikan sendiri suatu 
saat nanti).

ad. 2. Dalam hal Buddha mengatakan: “O pancavaggiya, janganlah menyapa-
Ku dengan nama-Ku atau dengan sebutan ‘avuso’!”

saya pikir, INI DEMI MENASIHATKAN KITA UNTUK MENYEBUT SESOSOK BUDDHA 
DENGAN PANTAS/SANTUN, bukan karena Buddha masih minta dihormati. 
Bagaimana suasana hati Buddha ketika bilang seperti itu, saya tidak 
tahu persisnya karena saya belum jadi Buddha, tapi setidaknya saya tahu 
persis niat saya ketika saya bilang kepada anak saya: "Hus, jangan 
panggil Papa gitu dong."

Be happy,
Handaka



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and 
healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links



 






DISCLAIMER :

The information contained in this communication (including any attachments) is 
priveleged and confidential, and may be legally exempt from disclosure under 
applicable law. It is intended only for the specific purpose of being used by 
the individual or entity to whom it is addressed. If you are not the addressee 
indicated in this message (or are responsible for delivery of the message to 
such person), you must not disclose, disseminate, distribute, deliver, copy, 
circulate, rely on or use any of the information contained in this transmission.

We apologize if you have received this communication in error; kindly inform 
the sender accordingly. Please also ensure that this original message and any 
record of it is permanently deleted from your computer system. We do not give 
or endorse any opinions, conclusions and other information in this message that 
do not relate to our official business.



[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke