----- Original Message -----
From: V.Iwan Suprapto
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, December 21, 2005 3:34 PM
Subject: [lemb_kristologi_buddhist] Kompas : Sri Pannyavaro Mahathera
KOMPAS, Minggu, 18 Desember 2005, hal.12 (PERSONA)
>
> Sri Pannyavaro Mahathera:
> Renungan dari Mendut
>
> Maria Hartiningsih dan Hariadi Saptono
>
> Ia berbicara pelan, kadang bahkan sangat pelan. Suaranya halus.
> Kata-kata yang digunakan seperti dipilih secara ketat, membuat
> kalimat-kalimat yang keluar sebagai ucapan Sri Pannyavaro Mahathera
> (51) memiliki daya untuk menyapa nurani banyak orang. Suasananya
> hening dan teduh. Banyak peserta meneteskan air mata. Batuk-batuknya
> yang sangat mengganggu saat kami berbincang di Vihara Mendut,
> Magelang, sehari sebelumnya, hilang.
>
> Peristiwa itu terjadi dalam penutupan Sidang Agung Gereja Katolik
> Indonesia (SAGKI) di Wisma Kinasih, Sukabumi, beberapa waktu lalu.
> Pannyavaro adalah pembicara terakhir setelah beberapa tokoh agama
> lainnya yang memberikan pemikirannya mengenai Habitus Baru.
>
> Bagi Pannyavaro, Habitus Baru adalah ajakan bagi semua yang nuraninya
> masih bisa berkata-kata. Ajakan itu menjadi amat sulit dipahami bagi
> yang menganggap bahwa perilaku buruk bukan lagi hal buruk, bahkan
> bangga melakukannya.
>
> Meski begitu, tak ada alasan untuk tidak optimistis. Sekeras apa pun
> batu, tetesan air kesabaran, ketekunan, kasih sayang, kejujuran, dan
> kebijaksanaan akan membuat batu keburukan itu berlubang, tuturnya
> Itulah kearifan Buddhis untuk kita semua, ujar Kardinal J Darmoatmodjo.
>
> Melubangi batu keburukan adalah pekerjaan besar, dimulai dari dalam
> diri dengan mengawasi gerak pikiran agar menuju kepada perilaku
> bajik. Dalam kebajikan, keserakahan dan kebencian tidak mendapat tempat.
>
> Wawancara dengan Pannyavaro berikut ini mudah-mudahan dapat menjadi
> bagian dari perenungan ketika menapaki hari-hari di pengujung akhir tahun
> 2005.
>
> Menurut Anda, apa tantangan terbesar saat ini sebagai individu,
> masyarakat, dan bangsa?
>
> Yang menjadi keprihatinan kami, kalau semakin banyak saudara-saudara
> kita melakukan hal-hal yang tidak baik; mencuri, korupsi,
> memanfaatkan setiap kesempatan untuk kepentingan sendiri, melakukan
> kekerasan atau perilaku-perilaku yang menurut keadaban bersama
> merupakan kekejaman, tetapi tidak merasa bersalah, bangga, bahkan
> bersikap seolah-olah seperti pahlawan. Yang lebih memprihatinkan,
> sikap mental seperti ini mudah menular kepada yang lain.
>
> Sikap mental seperti itu, di dalam pandangan Buddhis, diumpamakan
> asawa atau racun, yang meracuni darah kita, pemikiran kita. Awalnya
> mengambil kecil-kecilan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Mencuri,
> korupsi, dan tindak kekerasan lalu menjadi art.
>
> Meskipun institusi-institusi baru dilahirkan, sistem diatur kembali
> dalam sinar keadilan, perundangan dilengkapi, tetapi kalau moral
> masih berorientasi pada kenikmatan indriawi, keserakahan akan
> menghancurkan segala harapan baik.
>
> "Mengapa itu terjadi?"
>
> Kenikmatan indrawi itu begitu pentingnya bagi setiap orang, apalagi
> dengan berkembangnya teknologi. Perilaku buruk adalah kenikmatan yang
> membakar-bakar keinginan, membuat orang tak peduli cara
> mendapatkannya. Kalau saya tidak senang kepada Anda, saya hancurkan
> Anda, lalu saya merasa puas.
>
> Kesenangan membakar kita menjadi serakah dan ketidaksenangan (kepada
> yang lain) menjadi kebencian. Keduanya menciptakan penderitaan pada
> diri sendiri dan orang lain.
>
> "Mengapa orang terjebak kenikmatan seperti itu?"
>
> Dunia saat ini didominasi oleh kebudayaan yang berpusat pada materi,
> karena itu cenderung membakar-bakar keinginan. Kecukupan materi,
> bukan hanya harta, tetapi terutama kedudukan, kekuasaan dijadikan
> parameter keberhasilan. Itulah paradigma dunia modern tentang sukses
> dan bahagia. Etos modernitas sekarang ini adalah etos kerakusan.
> Manusia modern sulit melihat dimensi internal sebagai faktor
> terpenting keberhasilan. Orang bisa menjadi sangat kejam karena tak
> bisa mengendalikan kebencian dan keserakahan.
>
> * Di dalam diri setiap manusia
>
> Nafsu keserakahan ada di diri setiap orang kata Pannyavaro.
> Keserakahan tak memiliki batas kepuasan, tidak mengenal pertimbangan,
> kepedulian, dan saat untuk berhenti. Nafsu serakah mudah berubah
> menjadi kebencian dan menjadi benih kehancuran. Bila suatu saat
> keserakahan tak mampu memberikan kepuasan sesaat, kebencian muncul ke
> permukaan, melahirkan kemarahan, keinginan untuk menghancurkan,
> permusuhan, balas dendam, bahkan pembunuhan.
>
> Ketulusan tak bisa lahir dari keserakahan dan kebencian. Kalau
> bantuan diulurkan, tetapi perilaku buruk tidak dihentikan, bantuan
> apa pun tak banyak artinya.
>
> Realitas awal kasih sayang yang sejati, menurut Pannyavaro adalah
> kesanggupan mengendalikan diri dari segala perilaku tak bermoral.
> Sekecil apa pun perilaku buruk itu, ia akan memberikan keburukan bagi
> lingkungan karena ketergantungan merupakan keniscayaan dalam semesta ini.
>
> "Apakah sumber dari keserakahan dan kebencian?"
>
> Sumbernya adalah egoisme keakuan. Self centredness. Egoisme keakuan
> ini menyeret kita ke dalam inti kegelapan, membuat manusia tak bisa
> membedakan yang baik dari yang buruk. Ia membutakan manusia dari
> Dharma. Kegelapan tak hanya menjadikan gelap bagi jiwa seseorang,
> tetapi menimbulkan keonaran dalam keluarga, kericuhan di masyarakat,
> kekerasan, kekejaman, pelecehan hukum, dan pembunuhan. Kegelapan
> batin yang bersekutu dengan kekuasaan, senjata, bahkan teknologi akan
> menghancurkan tatanan dunia, peradaban, dan kemanusiaan.
>
> Di sisi lain, ekspresi keberagamaan menguat.
>
> Esensi realitas awal seseorang beragama adalah komitmen kuat untuk
> melakukan perubahan sikap mental, moral dan perilaku pada setiap
> pelakunya, lebih dapat membedakan yang buruk dan yang baik, lebih
> peduli, lebih berbelas kasih, dan lebih menghargai kehidupan.
> Keberagamaan menjadi tidak bermakna kalau tidak membawa perubahan.
>
> "Bagaimana menyikapi ini semua?"
>
> Punya komitmen kuat dan sungguh-sungguh untuk mengubah diri sendiri
> dulu untuk menjadi lebih baik meskipun suliiiit sekali. Bersama itu
> juga, kita mengajak yang lain dengan keteladanan. Pandai menuntut dan
> menggugat pihak lain tanpa peduli pada perbaikan diri sesungguhnya
> telah menanamkan kebencian pada dirinya dan juga orang lain.
>
> Kesungguhan melakukan perubahan pada diri tentu berpengaruh pada
> masyarakat. Pengaruh menuju perbaikan akan sangat besar kalau para
> pemimpin mempunyai tekad kuat dan usaha keras untuk melakukan
> perubahan terhadap pribadinya sendiri. Keteladanan akan perilaku
> bajik dan kebijakan yang mengalir dari dirinya akan menyejahterakan
> masyarakat.
>
> "Bagaimana kalau membunuh karena meyakini suatu kebenaran?"
>
> Nurani yang masih bisa berkata-kata akan menghargai setiap kehidupan,
> selemah dan sekecil apa pun kehidupan itu. Saya meyakini hukum
> ketidakkekalan alam semesta, karena itu saya percaya orang selalu
> bisa berubah. Yang jahat bisa menjadi baik, karena itu jangan
> membenci mereka. Saya tidak setuju pada kejahatan, tetapi tak ada
> alasan untuk menghancurkan orang yang melakukan kejahatan. Kekerasan
> akan beranak dan bercucu kekerasan. Orang baik pun bisa menjadi jahat
> kalau ia terus dibakar oleh keinginan-keinginan. Karena itu, yang
> paling penting adalah mengawasi gerak pikiran kita sendiri.
>
> "Caranya?"
>
> Dengan melatih diri terus-menerus; dengan peduli pada penderitaan
> orang lain, tidak membandingkan, dengan pengendalian diri dan
> meditasi untuk memperkuat kesadaran. Kalau orang melakukan hal-hal
> berguna bagi orang lain, tetapi kemudian mulai terpikir bagaimana
> dari situ ia bisa mendapatkan sesuatu yang bersembunyi di dalam
> keakuan-nya, maka itu bukan greatness.
>
> "Lalu, apa keberhasilan?"
>
> Inner success yang mampu memberikan kebahagiaan dan ketenteraman
> adalah kepuasan hati. Kepuasan hati adalah kekayaan tertinggi,
> santutti paramang dhanang. Mau mengurangi keserakahan, kebencian,
> mengurangi saja, maka akan timbul kepuasan hati. Apalagi kalau tahu
> kapan saat berhenti dari banyak keserakahan dan kebencian sebelum
> kematian tiba. Kemudian menggunakan waktu yang tersisa untuk lebih
> menambah kehidupan spiritual.
>
> * Membuang kemelekatan
>
> Pannyavaro dilahirkan dari keluarga penganut Buddhis tradisional.
> Tiga adiknya perempuan semua sehingga si sulung itu tak pernah
> diharapkan menjadi bhikku. Kedua orangtuanya mengharapkan ia menjadi
> dokter, karena itu ia diberi nama Husodo, yang artinya obat. Ia
> merasa tidak mengecewakan orangtuanya karena ia juga menjadi dokter
> meski yang diobati bukan penyakit medis.
>
> "Apa yang membuat Anda memutuskan menjadi bhikku?"
>
> Banyak faktor yang membawa saya ke sini. Itulah Dharma. Saya melihat
> tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia. Saya pikir, dengan menjadi
> bhikku, saya bisa mengambil jarak dengan fenomena kebahagiaan yang
> sementara itu dan kalau bisa memberikan pengabdian saya.
>
> Menurut Buddha, yang membuat kita menderita adalah kemelekatan
> (attachment) dengan apa pun yang dicapai, yang dimiliki, sekalipun
> itu didapat dengan cara yang baik. Orang tahu semua di dunia ini
> bersifat sementara, tetapi ketika terjadi perubahan, misalnya
> kepergian orang-orang tercinta, kita tetap sulit menerima.
>
> Kekuatan pada kearifan untuk menolak kemelekatan bukan hanya dengan
> belajar, tetapi dengan praktik mengendalikan diri, meditasi, berbuat
> kebaikan sehingga kalau menghadapi perubahan bisa seimbang. Tidak
> hanyut, marah, jengkel, sedih, kecewa, dan frustrasi. Intelektualitas
> saja tak mampu menghantam kemelekatan yang membutakan.
>
> Saya berharap kita terus berusaha melakukan kebajikan, berpikir baik,
> dan mengeluarkan kata-kata yang baik dalam hubungan sehari-hari. Ada
> cerita menarik tentang ini. Seorang pejabat yang dikenal culas dan
> tak suka hal-hal yang spiritual, suatu hari mengunjungi seorang guru
> meditasi. Ia bertanya, Menurut Anda, saya seperti apa. Sang guru
> menjawab, Seperti Buddha.
>
> Para murid terkejut. Lalu bertanya bagaimana sang pejabat melihat
> guru mereka. Seperti kerbau, jawabnya.
>
> Cerita ini bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi, menurut saya, kalau
> orang dipenuhi oleh pikiran positif, hanya yang baik yang akan keluar
> dari ucapannya.
--------------------------------------------------------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
a.. Visit your group "lemb_kristologi_buddhist" on the web.
b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/