Hikmah dari Pemulung Sampah
 

(erabaru.or.id) Suatu hari, salah seorang dari pemulung itu datang ke
klinik saya. Resepsionis saya Ny. Ann dan saya sendiri terkejut atas
kedatangannya. Ann pertama mengatakan dia tersesat dan ingin bertanya
arah jalan. Lalu Ann bertanya kepadanya, "Apa yang bisa saya lakukan
untuk Anda?" Ia menjawab, "Saya datang ke sini untuk mencari dokter."
Di luar dugaan, ia bahkan menyebut nama saya. 

Ketika saya mendengar bahwa dia datang ke sini untuk mencari saya,
saya merasa ingin menghindar. Pada saat itu, saya ingat bahwa saya
telah bersumpah, bahwa saya akan memperlakukan semua pasien dengan
sama, tidak jadi masalah apakah orang kaya atau orang miskin,
statusnya tinggi atau rendah. Tetapi sekarang ketika seorang pemulung
datang kepada saya, saya menolak dan tidak berbuat sesuai dengan
sumpah janji saya. 

Saya merasa malu pada diri sendiri. Saya berusaha menenangkan diri dan
ke luar menemuinya. Saya berbincang-bincang dengannya dan bertanya ada
masalah apa dengan dirinya. Segera menjadi jelas bahwa ia bukanlah
seorang yang papa, atau seorang tuna wisma. Ia mulai bercerita,
"Sebenarnya saya tidak mempunyai kesulitan keuangan. Saya tidak perlu
mendapatkan uang dengan memungut sampah. Namun saya menganggap daur
ulang barang sebagai pekerjaan saya. Maka setiap hari Senin, saya
mengumpulkan dan mendaur ulang alumunium bekas. Pada hari Selasa, saya
mengumpulkan dan mendaur ulang gelas/kaca dan plastik bekas. Hari
Rabu, saya mendaur ulang koran dan kertas-kertas bekas. Jika setiap
orang dengan ketat mengikuti peraturan tentang pendaurulangan barang
bekas, dunia ini rasanya akan menjadi lebih baik. Peningkatan
lingkungan tergantung pada hal kecil seperti ini".

Ketika saya mendengar apa yang dikatakannya, saya merasa bersalah.
Seperti kebanyakan orang sibuk, saya juga membuang sampah tanpa susah
payah memilah-milah sampah yang bisa di daur ulang. Karena itulah
mengapa ada orang seperti dia melewati hari-hari dengan memungut
sampah. Pengalaman hidup menunjukan bahwa orang-orang yang giat
membantu orang lain seringkali adalah orang-orang yang tidak anda
perhatikan. Jadi anda jangan menilai orang dari pakaian dan penampilan
mereka. 

Sebagai contoh, suatu hari, pemulung itu terlambat menepati janjinya
untuk bertemu dengan saya. Ia datang dengan pakaian basah dan
berlumpur. Ia merasa sangat jelek penampilannya. Dia menjelaskan
kepada saya bahwa ia baru saja membantu seseorang, mendorong mobilnya
yang mogok di pertengahan jalan dan menggesernya ke pinggir jalan.
Mobil itu sangat berat, kira-kira 4-5 orang tidak dapat menggerakan
mobil tersebut. Kemudian, sebuah kendaraan ikut bagian membantu
memindahkan mobil itu. Karena itulah, ia datang terlambat dan terlihat
sangat kotor.

Pemulung itu juga lebih suka mengidentifikasi masalah orang lain
daripada yang dilakukan rata-rata orang. Misalnya, jika saya bertemu
dengan orang yang tersesat dan menanyakan jalan, saya akan mencoba
untuk menjelaskan sejelas-jelasnya. Tetapi ketika dia menemukan hal
yang sama, ia akan berusaha mengantarkan orang tersebut tanpa
ragu-ragu sedikitpun.

Pada suatu hari, sesuatu yang memalukan telah terjadi. Pemulung itu
memberi saya dua bingkai lukisan China. Kedua bingkai lukisan itu
terbuat dari bambu, terlihat biasa saja dan sangat tua. Dia mungkin
menemukannya di tempat sampah. Dia membungkusnya dengan rapi dengan
kertas koran. Ketika dia membuka kertas koran dan dengan gembira
memperlihatkan lukisan itu, saya merasa sedikit jijik, berpikir bahwa
lukisan itu ditemukan di tempat sampah. Saya mencoba menutupi perasaan
itu tetapi gagal melakukannya. 

Semangatnya menghilang ketika melihat reaksi saya dan dia menjadi
sangat kecewa. Dia berbisik kepada saya, "Saya pikir kamu akan sangat
senang untuk memiliki seni tradisional dari kebudayaan kita. Mereka
lebih berharga dari pada bunga plastik tiruan. Mereka memang terlihat
tua, tapi mereka sudah berlayar jauh sekali menyeberangi samudra untuk
sampai di sini". Seketika itu saya menyadari kekeliruan saya, dan
berulang-kali minta maaf kepadanya. Ya, tidak hanya kedua lukisan
China itu saja yang berlayar menyeberangi samudra untuk sampai di
negeri ini, namun saya sendiri juga datang ke sini dengan cara yang sama.

Apapun yang dilakukan, pasien saya yang bekerja memungut sampah begitu
menikmati hidupnya. Ia lebih rileks, terlihat bahagia dengan hidupnya.
Ia tersenyum dan terlihat ceria setiap kali mengunjungi klinik saya.
Saat menunggu, ia tenang dan diam. Kadang-kadang bahkan dia
mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai saat mengikuti alunan musik yang
sedang diputar.

Pada sisi lain, orang-orang kaya, yang dikira mempunyai kehidupan yang
sangat baik, hidupnya tidak tenang, selalu khawatir dan gelisah. Saat
mendatangi klinik saya, mereka selalu dikejar oleh telepon selulernya.
Deringan ponsel berbunyi hampir setiap menit. Sedetik pun tidak
mempunyai waktu luang.

Bahagia atau tidak, tidak tergantung pada berapa banyak materi yang
kita miliki. Akan tetapi, itu tergantung pada seberapa tinggi tingkat
spiritual yang telah kita capai.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke