MAHA KARUNA DHARANI Dengan ulasan dari YANG MULIA TRIPITAKA ACARYA HSUAN HUA
------------------------------------- 24. Sa Pe Sa Pe Kalimat SA PE SA PE mengiringi Mata dan Tangan Simbol Mulia", dan bermakna manfaat dan kebahagiaan untuk semua". Dengan mengembangkan Mata dan Tangan ini, orang dapat membawa manfaat dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Para dewa, panglima-panglima Raja Yama di dalam neraka, dan raja-raja hantu, semuanya akan patuh. Orang yang menguasai Tangan dan Mata ini dapat berkata, "Bebaskan pendosa itu," dan mereka akan membebaskannya. Mengapa? Karena ia memiliki Simbol Mulia. Simbol Mulia laksana cap kebesaran kaisar. Jika sebuah surat bercap kerajaan, semua orang menghormatinya, dan mengikuti perintahnya dengan patuh. Tidak ada yang berani menentangnya. Jika Simbol Mulia dimiliki, seseorang mampu membawa manfaat dan kegembiraan bagi semua orang. Ia dapat menunjukkan kepada mereka perbuatan bajik apa yang harus dilakukan, dan mereka akan mendapatkan manfaatnya. Misalnya, ada di antara kalian yang telah berusaha keras dan ulet hingga berhasil mencapai pengembangan Simbol Mulia. Misalnya juga, ada orang yang sekarat di ujung kehidupan. Maka orang yang menguasai Simbol Mulia itu dapat membubuhkan simbol mulianya pada sehelai kertas, dan menulis beberapa baris kalimat kepada Raja Yama, Biarkan ia lewat. Biarkan ia kembali. Engkau jangan membiarkannya mati." Maka Raja Yama sekalipun tidak akan berani menentang. Keajaiban kemampuan Simbol Mulia adalah ia mampu menghidupkan kembali yang mati. Namun untuk dapat menggunakannya, pertama-tama orang harus berhasil mengembangkannya terlebih dahulu. Sebelum berhasil dikembangkan, manfaat simbol mulia tidak akan sebesar itu. Apa yang dimaksud dengan berhasil mengembangkannya? Ini seperti berangkat ke sekolah. Pertama, seorang siswa duduk di tingkat dasar. Kemudian ia meneruskan ke tingkat lanjutan, dan terus ke perguruan tinggi. Akhirnya ia dapat memperoleh gelar Ph.D. Mengembangkan Simbol Mulia hingga berhasil, dapat diumpamakan dengan usaha meraih gelar Ph.D., kecuali bahwa kemuliaannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ph.D. Simbol Mulia membawa manfaat, menyelamatkan semua makhluk hidup, dan menjadikan mereka bahagia. Tidakkah ini amat ajaib? Untuk bisa mendapatkan manfaat darinya, atau untuk bisa menggunakannya kepada orang lain, Empat Puluh Dua Tangan dan Mata harus dikembangkan. Dan SA PE SA PE adalah satu di antaranya. Mendengar saya berbicara seperti ini, ada orang berpikir, "Saya akan segera mengembangkan Simbol Mulia ini. Lalu setiap kali ada orang yang akan mati, aku akan memberinya simbol ini. Aku tidak akan membolehkan Raja Yama membiarkannya mati." Lakukanlah, ia mampu mencegah orang mati jika ia mau, namun bila nanti saatnya tiba untuk dia mati, tak akan ada orang yang akan memberinya simbol itu agar ia tak jadi mati. Saya telah menggunakan Simbol Mulia dua kali, satu kali di Manchuria dan sekali lagi di Hong Kong. Di Manchuria, waktu itu terjadinya mendadak; orang itu pasti mati jika saya tidak memberinya simbol mulia. Suatu sore yang hujan, pada hari kedelapan belas di bulan keempat, seorang anak muda yang bernama Kao Te Fu datang ke Vihara Tiga Keadaan, tempat saya tinggal waktu itu. Ia berlutut di depan Buddharupang, membuka pisau jagal yang dibungkusnya dengan surat kabar, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, bersiap-siap untuk memotong tangannya dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Kalian berpikir bagaimana? Apakah ia pintar dan bijaksana? Tentu saja, ia sangat bodoh, sangat bodoh. Namun, kebodohannya adalah dari jenis kebodohan yang didasari oleh rasa bakti kepada orang tua". Ibunya sedang sakit parah, dan sudah sekarat. Ia seorang pecandu opium, bahkan kecanduannya telah sampai di tingkat di mana untuk menghisap opium pun, ia sudah terlalu lemah. Ia terbaring dalam keadaan koma, tidak makan tidak minum. Lidahnya menjadi hitam, dan bibir pecah terbuka. Dokter Barat maupun tabib Tiongkok telah angkat tangan. Tapi putranya itu berpikir lain, Bodhisattvalah yang paling mujarab. Saya akan pergi ke Vihara Tiga Keadaan dan memotong tangan sendiri untuk dipersembahkan kepada para Buddha. Dengan hati yang tulus saya akan berdoa agar ibu saya disembuhkan." Tepat pada saat anak laki-laki itu akan memotong tangannya untuk dipersembahkan kepada Buddha, seseorang merangkulnya dari belakang. "Apa yang engkau lakukan? Engkau tidak boleh bunuh diri di sini!". Saya akan memotong tangan saya sebagai persembahan kepada Buddha," kata anak laki-laki itu, agar penyakit ibuku bisa sembuh. Engkau tidak boleh menghalangiku." Anak itu meronta melepaskan diri, tapi orang itu tidak mau melepaskannya. Ia kemudian segera melaporkan kejadian itu kepada kepala vihara. Kepala vihara berkata bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan, ia mengirim pelindung Dharmanya yang paling berpengaruh, Li Ching-hua, untuk menjemput saya. Meskipun kala itu masih seorang samanera, seorang pemula, saya telah menjadi pengawas di Vihara Tiga Keadaan, suatu jabatan yang hanya di bawah kepala vihara. Bagaimanapun juga, sebagai seorang pemula, saya bukanlah dari kelompok "tukang makan, tidur, dan minum". Saya bangun sebelum yang lain bangun, bukan sesudahnya. Saya melakukan pekerjaan yang tidak seorang pun mau mengerjakannya, dan hanya makan sekali sehari di siang hari. Saya tidak menyimpan makanan kecil. Hanya dengan berlatih, kita dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Tidak berhasrat memperbaiki kesalahan menunjukkan kurangnya kemampuan untuk berlatih. Baiklah, kepala vihara memanggilku dan saya berkata kepadanya, "Ada orang datang meminta pertolonganmu, tetapi engkau mengoperkannya kepadaku. Engkau tidak mau peduli dengan urusan seperti ini, malah mengalihkan masalah padaku." "Welas asihlah," kata kepala vihara, tolonglah ia." Kepala vihara mengucapkan beberapa kata manis padaku dan saya terbujuk. Baiklah," saya bilang, saya akan pergi." Lalu saya berkata kepada anak kecil itu, Naiklah sepedamu pulang, saya akan mengikuti." Tapi, apakah Guru tahu jalan ke sana?" tanyanya. "Jangan pedulikan saya, pulang sajalah," kataku. Waktu itu sekitar jam lima sore ketika dia berangkat pulang, dan matahari mulai terbenam. Ia mengambil jalan utama dan saya mengambil jalan yang lebih kecil. Rumahnya sekitar enam mil dari sana, dan ketika ia sampai, ia terkejut melihat saya sudah duduk di sana menunggunya. Orang tua bijak, bagaimana engkau bisa sampai duluan?" "Engkau mungkin bermain-main di tengah jalan, atau barangkali engkau berhenti dulu menonton atau bermain bola." Tidak," kata anak itu, saya langsung pulang secepat-cepatnya." Kalau begitu, sepedamu tidak secepat sepedaku karena saya tiba duluan." Tatkala melihat ibunya, seketika itu juga saya merasa tidak ada cara untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi saya memutuskan untuk mencoba dan menuliskan sebuah simbol seperti ini: "Anak ini sangat berbakti, ia berusaha memotong tangannya untuk menyelamatkan hidup ibunya. Karena saya telah mencegah ia berbuat seperti itu, perempuan ini harus hidup, apapun yang terjadi." Lalu saya membuat suatu simbol untuknya, dan mengirimkan simbol itu pada saat itu juga. Pagi berikutnya, perempuan itu, yang telah koma seolah-olah sudah mati selama tujuh atau delapan hari, bangkit duduk dan memanggil putra tertuanya dengan menyebut nama kecilnya. "Chu-tzu, Chu-tzu," katanya, "Saya lapar. Bawakan saya nasi." Anak laki-laki itu, yang sudah lebih seminggu tidak pernah lagi mendengar ibunya memanggil namanya, sangat gembira sekali. Ia berlari ke sampingnya. "Ibu! Engkau sakit selama seminggu lebih, tidak berkata apapun. Ibu sudah sembuh sekarang?" Perempuan itu bilang, Ibu tidak tahu telah berapa lama berlari-lari di gua hitam tanpa cahaya matahari, bulan, ataupun lampu. Ibu lari dan lari, hari demi hari, mencari rumah. Ibu memanggil-manggil tapi tidak ada yang datang. Lalu semalam, Ibu bertemu dengan seorang bhiksu miskin dengan jubah compang-camping yang menuntunku pulang. Sekarang Ibu ingin makan nasi." Bagaimana rupa bhiksu itu?" putranya bertanya. "Ia sangat tinggi," katanya, "Saya pasti mengenalnya kalau bertemu lagi." "Apakah dia?" kata anak itu lagi, menunjuk ke arah saya. Saya sudah tertidur di dipan waktu itu. "Ya!" teriaknya, "dialah orang yang membawaku pulang." Lalu seluruh keluarga mereka, lebih dari sepuluh orang, tua dan muda, berlutut di depan saya dan berkata bahwa saya telah menyelamatkan nyawa ibu mereka, lalu mereka menyatakan berlindung padaku. "Apapun yang engkau bilang harus kami lakukan, kami akan patuh," mereka berkata seperti ini. Tidak berapa lama kemudian, seluruh desa datang menyatakan berlindung, dan memohon saya menyembuhkan penyakit mereka. Saya bilang, Saya akan menyembuhkan kalian dengan pukulan!" Lalu saya memukul mereka tiga kali dengan kebutan. Setelah memukul mereka, saya bertanya, Apakah kalian sudah merasa baik sekarang?" dan, diiringi rasa kaget, mereka semua telah sembuh. Itulah pekerjaan yang mengganggu di Manchuria. Kali kedua saya menggunakan simbol terjadi di Hong Kong. Pada waktu ayah Magdalena Lew, yang umurnya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, sakit, tukang ramal dan tabib semua mengatakan bahwa ia pasti mati pada tahun itu juga. Ia datang dan meminta perlindungan untuk menyelamatkan hidupnya. Guru," katanya, bisakah Guru menunda kematianku?" Jadi engkau tidak mau mati?" kataku, Saya akan memberimu umur dua belas tahun lagi, bagaimana?" Baik sekali," katanya. Lalu saya melakukan suatu perbuatan kecil untuknya, dan ia hidup dua belas tahun lagi. Namun, janganlah kalian menggunakan Dharma ini untuk mencegah orang mati atau membawa mereka kembali dari kematian. Dengan berbuat seperti itu, kalian akan menjadi saingan Raja Yama, dan Raja Yama akan berkata, Baiklah, karena engkau mencegah kematiannya, saya akan mengambil hidupmu sebagai gantinya." Ketika telah tiba waktunya untuk kalian mati, tak ada yang akan memberi kalian simbol itu. Jika berpikir dapat melindungi diri sendiri, kalian salah. Keahlian Dharma kalian itu seperti pisau yang tidak dapat memotong pegangannya sendiri, dan ketika berhadapan dengan kesulitan, keadaan kalian akan sama dengan Bodhisattva tanah liat: Tatkala Bodhisattva tanah liat menyeberang lautan Ia berjuang mati-matian melindungi tubuhnya sendiri. Jadi, meskipun telah menguasai Dharma ini, orang masih harus berlatih. Karena alasan ini, saya tidak lagi mempedulikan urusan orang lain. Siapapun yang mati, matilah, dan saya tidak mempedulikan mereka. Saya tidak terlibat dengan urusan seperti itu lagi. (bersambung) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
