MAHA KARUNA DHARANI
Dengan ulasan dari
YANG MULIA TRIPITAKA ACARYA HSUAN HUA

-------------------------------------

37. Shr Nwo Shr Nwo

Kalimat ini mempunyai arti „kebijaksanaan agung". Ia juga 
berarti „sumpah luas". Ini adalah Tangan dan Mata Cermin Permata. 
Cermin Permata adalah lambang dari Kebijaksanaan Cermin Sempurna 
Agung Sang Buddha.

Apa itu kebijaksanaan agung? Kebijaksanaan agung artinya keadaan 
tanpa pikiran salah, pikiran yang dipunyai makhluk hidup. Dengan 
kebijaksanaan agung, semua pikiran adalah perujudan dari 
kebijaksanaan Prajna sejati, kebijaksanaan cahaya terang agung. Jika 
mempunyai kebijaksanaan sejati, kita akan memiliki cahaya terang, 
tapi jika tidak, kita bodoh dan berada di dalam kegelapan.

Cahaya terang adalah cahaya yang, sementara kegelapan adalah energi 
yin. Mengapa orang bodoh? Karena energi yin-nya terlalu tinggi. 
Mengapa orang bijaksana? Karena cahaya yang-nya lebih besar.

Mereka yang memiliki kebijaksanaan agung tidak berpikir seperti 
orang biasa. Mereka dapat dengan jelas membedakan yang benar dari 
yang salah. Mereka tidak perlu bertanya pada orang lain; mereka 
telah mengetahui sendiri. Mereka tidak mengambil jalan yang salah; 
mereka menempuh jalan yang benar dan berkembang. Di dalam 
pengembangan, pertama-tama yang harus dimiliki adalah kebijaksanaan 
agung. Dengan memiliki kebijaksanaan agung, mana yang benar dan mana 
yang salah akan diketahui dengan jelas, sehingga jalan yang benar 
dapat ditempuh dan jalan yang salah dijauhkan.

Namun kebanyakan orang tidak mengetahui dengan jelas suatu perbuatan 
itu salah; mereka tetap ngotot melakukannya. Mereka tidak tahu 
dengan jelas apakah perbuatan itu melanggar sila, namun tetap mereka 
lakukan. Untuk sekedar mencobanya, kata mereka. Cuma untuk melihat 
apakah perbuatan itu benar-benar merupakan pelanggaran. Sikap 
seperti ini adalah suatu kedunguan, dan menunjukkan sama sekali 
tiadanya kebijaksanaan.

„Bukan begitu," di antara kalian mungkin ada yang menyangkal, „saya 
memiliki kebijaksanaan. Saya cuma berbuat salah pada saat itu."

Berbuat salah sekali saja pun telah menunjukkan bahwa seseorang itu 
bodoh dan tidak memiliki kebijaksanaan. Orang yang memiliki 
kebijaksanaan agung tidak memiliki pikiran yang ternoda. Sehingga 
Yang Arya Ananda berkata, "Musnahkanlah pikiran kotorku yang sudah 
berjuta ribu tahun lamanya; agar aku tidak perlu melalui tak 
terhitungnya banyaknya tahun untuk mencapai tubuh Dharma."

Sejuta ribu tahun, bukan cuma satu, dua, tiga, empat, lima, atau 
seratus ribu tahun, itulah pikiran kotor yang berumur tak terhitung 
tahunnya, yang hendak beliau musnahkan.

Namun, mengapa hati kita begitu sesak dengan pikiran kotor? Pada 
saat pikiran kotor yang salah telah berlalu, pikiran salah yang lain 
menggantikan tempatnya, dan jika yang itu juga berlalu, yang lain 
datang lagi menggantikannya. Sama seperti gelombang samudra. Orang 
mungkin mengira bahwa samudra itu benda mati, namun sesungguhnya ia 
tidak berada di sebelah luar hati kita. Ia berada di dalam hati 
makhluk hidup.

Gelombang lautan tidak pernah berhenti naik dan turun, dan dengan 
cara yang sama, pikiran salah kita tidak pernah berhenti. Ia 
berlanjut terus, satu pikiran salah setelah pikiran salah yang lain, 
berputar dan berputar, terus dan terus, dalam arus yang tidak pernah 
berhenti. Dan tidak satu pun di antara mereka yang mau tertinggal di 
belakang; mereka semua berpacu ke depan. Mengapa orang menjadi 
bingung oleh pikiran salah seperti itu? Karena ia tidak memiliki 
kebijaksanaan. Jika ia bijaksana, tidak akan ada gelombang di dalam 
air.

Angin boleh bertiup, tapi sia-sia ia berhembus. Karena tiada riak di 
dalam air.

Pada saat kekuatan samadhi tercapai di dalam latihan, ia laksana 
samudra tanpa gelombang. Tatkala konsentrasi muncul, air 
kebijaksanaan terwujud tanpa satu gelombang pun, tanpa satu pikiran 
salah sekalipun. Itulah saat bagi kesucian dan kejernihan sejati. 
Sesungguhnyalah, orang tidak dikotori oleh setitik debu pun, dan 
bermilyar-milyar tanah itu sebenarnya kosong. Inilah perujudan dari 
kebijaksanaan agung. Orang dengan kebijaksanaan agung selalu 
berhasil dalam apapun yang ia kerjakan. Sementara orang tanpa 
kebijaksanaan gung, selalu gagal dalam semua yang mereka lakukan. 
Sehingga, kebijaksanaan adalah yang paling penting.

Apa itu kebodohan? Ketidaktahuan adalah kebodohan; kebodohan adalah 
persis sama dengan ketidaktahuan. Ketika ketidaktahuan muncul, orang 
menjadi tidak jelas. Cobalah bertanya pada orang yang baru berbuat 
salah, "Mengapa engkau melakukannya?" dan mungkin ia akan 
menjawab, "Saya tidak tahu…."

Itulah kebodohan, tiadanya kebijaksanaan dan pengertian. Namun, 
meskipun telah bertindak salah sebagai akibat dari ketidaktahuan, 
mereka tidak akan mengakui kebodohan mereka itu. "Saya tahu," ngotot 
mereka, "saya tahu itu salah!"

Aneh sekali bukan? Sebenarnya, orang-orang bodoh cuma tidak memiliki 
Kebijaksanaan Cermin Sempurna, dan mereka belum mengembangkan Tangan 
dan Mata Cermin Permata. Jika mereka telah memilikinya, mereka tidak 
akan bodoh, apapun yang terjadi.

Jika setan datang, sembelih setan;
jika Buddha datang, sembelih Buddha.

Ini seperti memegang pisau yang sedemikian tajam, sehingga ia 
memotong segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Kebijaksanaan 
agung seperti pisau; ia juga seperti pedang.

"Pedang kebijaksaan sangat berat," barangkali ada yang bilang 
begitu. „Tidaklah mudah mengangkatnya."

Itu cuma karena ia belum mengangkatnya. Jika sudah mengangkatnya, ia 
pasti akan tahu bahwa tidak perlu tenaga untuk mengangkatnya. 
Sebelum diangkat, pedang itu pasti berat. Jika telah diangkat, 
pedang itu menjadi ringan. Jika kita tidak mengangkatnya, apa yang 
ringan menjadi berat. Jika telah benar-benar diangkat, apa yang 
berat menjadi ringan. Mengapa? Karena kita mengangkatnya.

Jika ada yang bilang, „Saya tahu bahwa pedang kebijaksanaan sangat 
penting, tapi pedang itu terlalu berat. Saya tidak mampu 
mengangkatnya," dan karenanya ia tidak mengangkatnya, lalu pedang 
itu menjadi benar-benar berat.

Namun, jika ia mengulurkan tangan, menggenggamnya, dan 
mengangkatnya, maka semua keadaan akan dimengerti. Semua akan 
dimengerti seketika semua itu bersentuhan dengan pedang, tanpa 
kesulitan apapun. Sehingga saya sering mengatakan pada kalian 
bahwa, „Segala sesuatu itu OK!" Itulah prinsipnya. Jika segala 
sesuatu tidak OK, itu karena kalian tidak memiliki pedang 
kebijaksanaan, tidak akan ada masalah apapun. Masalah apa yang bisa 
muncul di sana? Tidak ada sama sekali. Yang ajaib itu benar di titik 
ini.

Gunung-gunung, sungai-sungai, tanah, bangunan, Dunia Jasa Yang 
Bergantungan juga Dunia Jasa Benar – semua tidak berada di luar 
pikiran kita. Semuanya ada di dalam hati masing-masing.

Apa itu Dunia Jasa Yang Bergantungan? Gunung-gunung, sungai-sungai, 
bumi, dan semua bangunan disebut Dunia Jasa Yang Bergantungan. Dunia 
Jasa Benar adalah tubuh kita, yang mengalami balas jasa yang tepat. 
Jika kita bisa memahami balas jasa atau hukum karma ini dengan tepat 
pada saat mengalaminya, tidak akan ada lagi yang tidak diketahui. 
Tiadanya ketidaktahuan adalah kebijaksanaan. Dan ini dapat 
diumpamakan dengan cermin.

Satu obyek lewat, ia memantulkannya.
Obyek pergi, cermin jernih.

Cermin tidak melekat. Orang yang memiliki kebijaksanaan akan 
memperhatikan segala sesuatu, kemudian membiarkannya berlalu; 
hatinya tidak melekat pada obyek-obyek itu. Meskipun ia tidak 
menyimpannya, obyek-obyek itu selalu terujud. Dan meskipun obyek-
obyek itu terus-menerus terujud, ia tidak menyimpannya. Kita orang 
awam yang tidak memiliki kebijaksanaan harus mengadakan usaha khusus 
untuk mengingat sesuatu, atau barangkali harus menghafalnya berkali-
kali: "Yi syi, yi syi, shr nwo, shr nwo…."

Kita mengucapkannya sekali kemudian lupa, mengucapkannya dua kali, 
tiga kali, beberapa ratus kali, dan tetap saja tidak mampu 
mengingatnya. Ini adalah pemaksaan. Bukan merupakan pemaksaan jika 
engkau mampu melihatnya sekali dan tidak melupakannya, tatkala ia 
lewat di depan matamu dan tidak terlupakan, karena kebijaksanaanmu 
seperti cermin.

Sadarilah, bahwa segala sesuatu itu terkandung di dalam hati. Dengan 
menyadari hal ini, orang tidak akan menjadi serakah, benci, bodoh, 
angkuh, atau penuh keraguan. Mengapa? Karena segala sesuatu itu 
muncul dari hati; ini adalah segala sesuatu yang pada mulanya 
dimiliki hati kita. Baik atau buruk, tidak merupakan masalah. Tidak 
ada apapun yang menimbulkan masalah.

Meskipun gampang sekali membicarakan keadaan seperti itu, untuk 
meraihnya memerlukan sedikit keahlian. Perlu keahlian untuk meraih 
tingkatan itu. Mereka yang tidak memiliki keahlian, yang 
berkata, „Tidak ada apapun yang merupakan masalah bagiku," mungkin 
di luar tampak tidak memiliki masalah, tapi masalah muncul di 
sebelah dalam, dan mereka bertempur dengan diri mereka sendiri. 
Mereka yang memiliki kebijaksanaan sejati sungguh langka.

Harus juga diketahui bahwa ada orang dengan kebijaksanaan duniawi 
dan ada yang memiliki kebijaksanaan transeden. Mereka yang memiliki 
kecerdasan duniawi yang hebat, bisa menghasilkan suatu cara pada 
saat kebutuhan mereka muncul. Di mana tidak ada prinsip atau cara, 
mereka bisa menciptakannya; satu prinsip yang terdengar sangat masuk 
akal. Kalau orang mendengarnya, mereka pikir, „Ia tidak jelek. Apa 
yang dikatakannya masuk akal sekali."

Sebenarnya, kalau orang mempunyai kebijaksanaan sejati, ia tidak 
akan ditarik oleh orang yang memiliki kecerdasan duniawi hanyut di 
dalam kebodohan. Doktrin bodoh yang dikemukakannya tidak akan 
membuat orang bijaksana ikut-ikutan bodoh. Dikatakan bahwa, „Di 
dalam yang ada yin." Di dalam kebijaksanaan ada kebodohan – 
kebijaksanaan yang bodoh.

Sebaliknya, „Di dalam yin ada yang." Di dalam kebodohan terdapat 
kebijaksanaan. Misalnya saja, barangkali kalian pernah melihat orang 
yang tidak banyak bicara dan kelihatannya sangat biasa, namun segala 
sesuatu dilakukannya dengan benar. Ia mungkin terlihat bodoh dan 
lamban, tapi ia selalu berbuat selaras dengan kaidah. Banyak 
terdapat orang seperti itu.

Dalam mengamati orang lain, kita akan melihat apakah kita, diri kita 
sendiri, memiliki kebijaksanaan atau tidak. Jika memiliki 
kebijaksanaan sejati, kita tidak akan dikendalikan oleh orang lain 
menuju kebodohan; jika tidak memiliki kebijaksanaan, kita akan 
dibawa ke jurang kebodohan. Demikian juga dengan kebijaksanaan dan 
hal-hal yang lain.

Kebijaksanaan dan kebodohan memiliki hubungan langsung. Tiadanya 
kebodohan adalah kebijaksanaan, dan tiadanya kebijaksanaan adalah 
kebodohan. Kebodohan sendiri adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan 
adalah kebodohan. Mengapa bisa begitu? Kebijaksanaan dan kebodohan 
adalah satu. Jika kita mampu memanfaatkannya, itu adalah 
kebijaksanaan; jika tidak, itu adalah kebodohan.

Contohnya, jika kita memungut pedang kebijaksanaan, itulah 
kebijaksanaan; jika melepaskannya jatuh, itu adalah kebodohan. 
Mereka bukanlah dua hal; hanya ada satu. Jadi jangan bilang bahwa 
kalian akan mencari kebijaksanaan dan membuang kebodohan. Bukan 
demikian cara kerjanya. Ini cuma masalah „membalik".

Katakanlah telapak tangan adalah kebijaksanaan dan punggung tangan 
adalah kebodohan. Jika orang mencoba menggenggam sesuatu dengan 
punggung tangannya, ia tak akan berhasil. Namun, dengan menggunakan 
telapak tangannya, ia akan berhasil. Tidak mampu memungut adalah 
kebodohan, dan mampu memungut adalah kebijaksanaan. Ini adalah 
sesuatu dengan dua sisi, dan terserah kepada diri masing-masing, 
sisi mana yang ingin digunakan.

Ada yang bilang, „Saya sekarang telah memahami Buddhadharma! 
Kebijaksanaan dan kebodohan adalah tanganku!"

Salah lagi! Tangan adalah perumpamaan. Jangan berpikir bahwa 
kebijaksanaan dan kebodohan adalah tangan. Ini mirip dengan 
perumpamaan jari dengan bulan. Jika ada orang yang menunjuk kepada 
bulan, jangan menganggap jari sebagai bulan.

SHR NWO SHR NWO mempunyai arti „kebijaksanaan agung" dan "sumpah 
luas". Sumpah dibuat untuk menyelesaikan sesuatu. Misalnya, sebelum 
Buddha Amitabha menyadari Kebuddhaan, tatkala ia masih berlatih 
sebagai seorang bhiksu, ia membuat Empat Puluh Delapan Sumpah Agung. 
Bodhisattva Samantabhadra juga membuat Sepuluh Sumpah Raja. 
Bodhisattva Yang Memperhatikan Suara Dunia juga membuat banyak 
sumpah, demikian juga halnya dengan para Sesepuh.

Saya bercerita tentang sumpah, tapi apakah semua akan bersumpah atau 
tidak itu terserah pada diri masing-masing. Saya memunculkan 
persoalan ini karena saya tahu banyak yang tidak paham. Namun bukan 
merupakan wewenang saya untuk memaksa orang bersumpah. Sekarang 
karena kita sedang belajar Buddhadharma, tiap orang harus membuat 
sumpahnya sendiri-sendiri, lebih agung lebih baik. Semakin besar 
kekuatan sumpah yang dinyatakan, semakin besar pencapaian yang 
diperoleh nantinya.

Kita sekarang sedang belajar Buddhadharma di dalam dunia ini, dan 
belum menyadari Kebuddhaan; kita semestinya membuat sumpah kita juga 
sesuai dengan keadaan kita. Setiap orang harus menulisnya dengan 
rinci. Jangan cengeng atau ikut-ikutan, atau sekedar 
bersumpah, "Saya bersumpah untuk menyelamatkan makhluk hidup!"

Sungguh? Bagaimana caranya kalian akan menyelamatkan makhluk hidup? 
Semua yang kalian pikirkan setiap hari adalah mengenakan pakaian 
bagus, makan enak, dan tinggal di tempat yang nyaman; menyelamatkan 
makhluk hidup di dalam mulut, di dalam perut, dan di atas tubuh, 
barangkali. Itu tidak dibolehkan. Kita harus membuat sumpah yang 
jelas, rinci, apa akibatnya di masa sekarang dan masa yang akan 
datang.

Untuk masa lalu, lupakan saja, apakah kita telah berusaha atau 
berlatih. Apa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang? 
Setiap dan masing-masing dari kia harus membuat sumpah. Semakin 
agung sumpah yang dinyatakan sekarang, dalam keadaan ini, semakin 
besar manfaatnya di masa yang akan datang. Jika kekuatan sumpah 
dipusatkan di dalam pori-pori rambut, sumpah itu juga dapat 
dinyatakan di dalam pori-pori rambut!

Sumpah adalah janji yang khidmat, dan semua yang mempelajari ajaran 
Sang Buddha harus membuatnya. Sumpah itu penting, karena tanpanya 
kita akan kehilangan arah. Sama seperti berjalan tanpa tahu akan ke 
mana, atau apakah jalan yang ditempuh telah benar. Jika kita 
bersumpah, kita memiliki pemandu jalan yang akan menunjukkan arah 
perjalanan.

Mengapa semua Buddha dan Bodhisattva membuat sumpah saat sedang 
mengembangkan Jalan? Itu karena, sekali orang membuat sumpah, ia 
bisa menyesuaikan dirinya dengan sumpah itu. Misalnya saja, 
Bodhisattva Penyanggah Bumi membuat beberapa sumpah. Ia bilang:

Jika neraka belum kosong,
aku bersumpah tidak akan menjadi Buddha;
Jika semua makhluk telah diselamatkan,
hanya pada saat itu akan kupastikan pencapaian Bodhi.

Kekuatan sumpahnya sungguh luar biasa! Kita juga harus membuat 
sumpah. Setiap dari kita harus membuat sumpah sesuai dengan apa yang 
akan kita lakukan.

(bersambung)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke