Sejenak kita membuka lembaran memori kita, atas sebuah tragedi alam yang hitam, 
yang menyayat hati kita, yang meninggalkan luka yang mendalam, walau kita tidak 
secara langsung mengalaminya. 
  
  26 Desember 2004 silam, Tsunami yang maha dashyat telah menerjang dan 
menghancurleburkan wilayah Barat Indonesia tepatnya di Nanggroe Aceh 
Darussallam dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk Nias. Bencana yang sungguh 
sulit dibayangkan akan terjadi menimpa bangsa kita. Tak terhitung banyaknya 
rumah-rumah yang porak poranda, harta benda yang berserakan entah kemana 
rimbanya, korban jiwa yang terkira bjumlahnya.  Hingga hari ini sudah setahun 
lebih bencana itu berlalu, tapi masih belum banyak yang berubah di sana. 
Pembangunan dan kehidupan masyarakat di sana masih jauh dari keadaan normal 
apalagi baik. Masih banyak anak-anak yang menderita dan terkena gangguan 
psikologis.  
  
  Bencana memang universal, tak mengenal batas, ras, suku, agama, apapun, tidak 
ada beda. Karma koletktif, kita menyebutnya. Hal yang sama juga dialami 
saudara-saudara kita umat Buddha di NAD.  Sempat timbul sebuah pertanyaan 
bagaimana dengan keberadaan Agama Buddha di sana?
  
  Mungkin banyak teman-teman yang belum tahu, bahwa kehidupan umat Buddha di 
NAD dulunya sangatlah baik, kerukunan beragama di tanah rencong ini terjalin 
dengan sangat baik. Hampir di semua kota, ada bangunan Wihara tempat untuk umat 
Buddha beribadah. Sebelum terjadi bencana tsunami itu, di Banda Aceh, Meulaboh, 
Lhokseumawe, Sabang, dan sebagainya. masing-masing terdapat wihara. 
Wihara-wihara itu menjadi simbol eksistensi Agama Buddha di Tanah Rencong ini.
  
  Pada saat terjadi Tsunami, Wihara Sakyamuni yang terletak di kota Serambi 
Mekkah (Banda Aceh) ini mengalami kerusakan parah. Bangunan Wihara yang cukup 
megah (tiga lantai) itu rusak dan menjadi miring, dan menurut para ahli 
konstruksi, baik dari dalam negeri maupun dari para relawan asing yang bertugas 
saat itu menyatakan bahwa bangunan wihara ini harus segera dirobohkan, karena 
sudah rusak parah dan pastinya akan roboh akibat gempa susulan yang 
dikhawatirkan akan terjadi setiap saat. Oleh karenanya, wihara ini lalu 
dirobohkan tidak lama setelah pasca bencana.
  
  Saat ini kondisi kehidupan di Banda Aceh baru mulai berangsur-angsur membaik, 
walau kondisinya belumlah cukup baik untuk mendukung upaya pembangunan kembali 
simbol eksistensi Agama Buddha, yakni Wihara Sakyamuni Banda Aceh tersebut. 
Namun demikian, dengan tekad yang kuat dari umat Buddha di Aceh, dengan segala 
kerterbatasan fasilitas, dana dan SDM serta dengan tekanan psikologis dan 
kegelisahan yang belum sirna, mereka telah membentuk panitia pembangunan 
kembali wihara Sakyamuni Banda Aceh maupun Meulaboh pada bulan Maret 2005.
  
  Saat ini pembangunan kembali wihara Sakyamuni di Banda Aceh telah dimulai 
dengan momentum peletakan batu pertama secara simbolis pada tanggal 26 Februari 
2006. Acara peletakan batu pertama ini dihadiri oleh Anggota Sangha dari Sangha 
Agung Indonesia dan umat Buddha yang ada di Banda Aceh, serta juga dihadiri 
oleh para donatur dan simpatisan dari Medan dan beberapa daerah sekitar. 
  
  Semangat mereka, harapan mereka tentunya patut kita dukung. Oleh karenanya, 
melalui media ini, Majelis Buddhayana Indonesia melalui lembaga Mitra, mengajak 
umat Buddha semua, siapapun anda, untuk ikut membantu pembangunan kembali 
Wihara Sakyamuni Banda Aceh dan Wihara Sakyamuni Meulaboh. 
  
  Mari kita dukung pembangunan kembali sarana peribadatan tersebut, dengan 
berdana setulus-tulusnya. Berapapun nilai dana yang anda sumbangkan akan sangat 
berarti bagi teman-teman kita di sana.
  
  Kami juga menghimbau anda semua berkenan menyebarkan informasi ini ke 
rekan-rekan anda yang lain, agar semakin banyak mereka yang tergerak untuk 
menanam kebajikan demi pembangunan wihara di NAD.
  
  Dana dapat disalurkan melalui rekening-rekening berikut :
  
  Wihara Sakyamuni – Banda Aceh
  BCA KCP Banda Aceh
  no. acc. 043 – 051 6621
  a.n. Susanna dan Kasan
  
  dan
  
  Wihara Sakyamuni – Meulaboh
  
  BNI 46 Cab. Meulaboh Aceh Barat
  Taplus Acc 005 – 830 6317
  a.n. Suryadi Sanjaya dan Wong Kim Sioe
  
  Dana juga dapat disampaikan ke :
   
  Rekening Mitra MBI 
  BCA KCP Grogol Permai
  no. acc. 260 – 113 7650
  a.n. Jap Yen Cin
  
  
  Kontak person :
  
  Banda Aceh  : Ermawati / Alan 
                         (0813 60011294)
  Meulaboh      : Supardi / Afuk
                         (081533776880)
  Jakarta         : Witarsa 
                         (0816740586)
  Kantor MBI : 021-5687957 / 021-70611508
   
  Maitricittena,
  Panitia Pembangunan

            kondisi vihara
          kondisi vihara
          bersama relawan asing
          vihara tampak depan sblm dirobohkan
          peletakan batu pertama
          suasana pada saat peletakan batu pertama




[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke