ANALOGI SEBATANG SUNGAI.
  http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/878
   
  Great are they who see that spiritual is stronger than any material force....
  ~ Ralph Waldo Emerson.
   
  Pada sebatang sungai, jelas mana hulu, pertengahan, dan mana hilirnya. Setiap 
kejadian di daerah hulu, hujan deras misalnya, besar kemungkinannya 
mengakibatkan banjir-kiriman di daerah hilir, walaupun di daerah hilir 
samasekali tak turun hujan.  Sebaliknya, betapa deraspun hujan di daerah hilir, 
kalau di daerah hulu tidak, tak akan pernah bisa menyebabkan banjir di hulu. 
Semua barang hanyutan dari hulu, melalui pertengahan, dikirim ke hilir; 
sebaliknya, tak ada barang hanyutan di hilir yang mungkin bisa ke hulu.
   
  Di dalam suatu pendakian spiritual, analogi aliran sungai ini memberi banyak 
pelajaran. Kita mesti tahu mana hulu, mana pertengahan dan mana hilir. Bila 
tidak, kita bisa-bisa keliru melangkah karena salah pandang; akibatnya, kita 
bisa berangan-angan sesuatu yang sangat berarti terjadi di hulu hanya lantaran 
kita telah berbuat banyak di hilir.
   
  Bila diibaratkan sebatang sungai, maka tubuh dan segenap organ indrianya ini, 
tataran fisikal-biologis ini, merupakan hilirnya, adalah seluruh dataran rendah 
di sekitar muara. Nyaris semua, secara alamiah, bila tak tertahan di jalan atau 
tak terjadi sesuatu yang mengurungkannya, yang berasal dari daerah hulu dan 
pertengahannya, akan sampai di hilir, di muara. Yang jelas, hilir disini 
merupakan akibat dari apapun yang terjadi di hulu —yang bertindak sebagai 
penyebabnya.  Disini, tataran spiritual merupakan hulunya, tataran 
mental-psikologis pertengahannya, dan fisikal-bilogis ini adalah hilirnya.
   
  Struktur berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat —yang sangat mendasar sekali 
sifatnya— ini mesti kita sadari dan pahami betul. Sebab bila tidak, kita bisa 
saja dibuat bertindak kelewat banyak di hilir dan berharap besar bisa terjadi 
sesuatu yang sebanyak itu di hulu.  Walaupun bisa saja terjadi sesuatu di 
pertengahan, nyaris tak mungkin terjadi sesuatu di hulu, apapun yang kita 
perbuat di hilir. Sementara itu, yang terjadi di pertengahan, bukan saja nyaris 
pasti berdampak-langsung ke hilir, juga bisa berdampak —langsung maupun tak 
langsung— terhadap hulunya.  Pertengahan —yang adalah tataran mental-psikologis 
itu— disini menempati posisi yang sangat staregis di dalam setiap laku 
olah-batin.
   
  Menyadari dan memahami betul struktur dan mekanisme faktual ini, seorang 
penekun di jalan spiritual akan bisa bertindak jauh lebih efektif dan efesien 
di dalam penekukannya. Akan sangat kecil kemungkinannya ia bertindak bodoh, 
menyianyiakan rentang usia yang amat singkat ini dengan cara berbuat terlalu 
banyak di hilir sehingga melalaikan hulunya.
   
  Bali, 11 Maret 2006.
  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
  Baca juga: “Kebutuhan dan Hak Spiritual?”
   
  ******************************************************************
  Kemana hati Anda mengarahkan Anda?
  Bila ia mengarahkan Anda untuk memburu hal-hal ‘yang menyenangkan’
  Dan bukannya ‘yang baik’, maka itu bukan hati.
  Itu adalah iblis yang menyamar sebagai hati Anda.
  Perhatikanlah!
  ~anonymous 24o206.
  ******************************************************************

                
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates 
starting at 1¢/min.

[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke