Pikiran Rakyat 1 April 2006

Miskin Tapi Kaya
Oleh JAKOB SUMARDJO

    Ada dua Indonesia, Indonesia atas dan Indonesia bawah. Indonesia atas
yang elitis kaya raya, Indonesia bawah yang mayoritas tetap miskin
seperti sedia kala. Semua itu akibat politik pintu terbuka, setelah
politik pintu tertutup yang dijalankan oleh Orde Lama dengan
semboyannya yang berani: berdiri di atas kaki sendiri.

KALAU bangsa Indonesia itu dikatakan miskin, mengapa mobil-mobil mewah
kehabisan tempat parkir di mal-mal megah? Mengapa kompleks perumahan
eksklusif semakin banyak dibangun dan laris? Kalau bangsa ini dikatakan
kaya, mengapa bahaya kelaparan ada di mana-mana? apakah kita ini bangsa
miskin tapi kaya?

Itulah misteri bangsa ini, miskin tapi kaya. Kalau kita kembali
membalik-balik album sejarah republik ini, segera akan tampak bagaimana
pada tahun 1947-1949, presiden dan kabinetnya berpakaian sangat sederhana
dan mengadakan rapat di ruangan kelas menengah dengan perabotan sederhana
pula, sementara para jurnalis dunia mengerumuni mereka. Negara dan bangsa
yang miskin tercermin dalam tingkah laku para pemimpinnya. Gambar
demikian, itu masih terlihat pada awal tahun 1950-an. Pemimpin dalam
tampilan miskin di negara yang miskin.



Republik yang miskin ini kerap kali ditunjang oleh rakyatnya. Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dikabarkan membuka pundi-pundi keraton untuk menggaji
pemimpin-pemimpin republik yang mengungsi di Yogya. Rakyat Aceh
menyumbangkan pesawat Seulawah kepada negara. Saudagar-saudagar
republikein membantu pemerintah, dengan menyelundupkan hasil bumi ke luar
negeri dan dibarter dengan senjata dan obat-obatan. Pikiran korup belum
ada, karena yang akan dikorup juga tidak ada.



Tahun 1950-an potret negara dan bangsa miskin ini masih tampak dalam
rapat-rapat kabinet, mobil-mobil mereka, rumah dinas mereka, gaji mereka
yang tak jauh berbeda dengan rakyat dari golongan mampu seperti saudagar,
pengusaha, dokter, guru besar. Jarak antara kekayaan para pejabat negara
dengan rakyat tidak terlalu jauh. Sampai dekrit presiden tahun 1959 ketika
Indonesia dinyatakan sebagai republik demokrasi terpimpin, kemiskinan
masih merata.

Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno mendirikan projek-projek kebanggaan
bangsa berupa monumen dan bangunan-bangunan megah untuk menutupi
kemiskinan kita dari negara-negara industri maju. Inilah projek "dasi
tanpa celana", yang atas tampak gagah-kaya, yang bawah masuk angin
kedinginan. Jadi statusnya tetap masih bangsa miskin. Namun kemiskinan itu
masih merata atau proporsional. Jarak kekayaan para pejabat dengan rakyat
masih logis hierarkis.

Lalu tibalah zaman republik kaya, yakni Orde Baru tahun 1970-an. Para
pembesar negeri gemuk berminyak, baju batiknya melebihi harga sebuah
motor, mobilnya Volvo, rumah-rumahnya berhalaman luas, keluarga week end
ke Singapura atau Hong Kong (halaman depan mereka), kartu kreditnya
setumpuk. Gedung-gedung departemen direnovasi megah seperti Amerika.

Ruang publik dan ruang pejabat berpenampilan kaya raya, tetapi pegawai
rendahan masih berpenampilan tahun 45. Ada dua Indonesia, Indonesia atas
dan Indonesia bawah. Indonesia atas yang elitis kaya raya, Indonesia bawah
yang mayoritas tetap miskin seperti sedia kala. Semua itu akibat politik
pintu terbuka, setelah politik pintu tertutup yang dijalankan oleh Orde
Lama dengan semboyannya yang berani: berdiri di atas kaki sendiri.

Politik pintu terbuka membuka dunia memasuki Indonesia. Modal asing boleh
masuk dan membuka usaha di Indonesia. Utang luar negeri membanjiri
Indonesia. Produk luar negeri membanjiri Indonesia. Film-film Amerika
diputar dalam waktu bersamaan di New York maupun Jakarta. Golongan
Indonesia atas hidup bagai warga negara negeri kaya, sedangkan warga
negara Indonesia bawah lumayan mendapatkan remah-remahnya.

Indonesia atas hidup berkelimpahan dari pinjaman luar negeri dan menguras
kekayaan alam Indonesia. Pembangunan tiga puluh tahun berarti pembangunan
Indonesia atas. Indonesia bawah hanya mewarisi semangat 45. Gejala aneh
ini mulai tercium oleh negara-negara kreditur. Mereka mulai mempersulit
masuknya arus pinjaman ke Indonesia. Indonesia atas mulai mengemis-ngemis
dikucuri pinjaman karena hidup mereka sebagai lapisan kaya raya terancam.
Guru-guru peminjam mulai keras mendikte murid pembangunan yang koppig
(keras kepala-red.) ini.

Akhirnya pembangunan 30 tahun itu berakhir juga tanpa meninggalkan
bekas-bekas membangunnya kecuali utang luar negeri dan mental
konsumtif-koruptif. Orde reformasi bangkit tahun 1998, sebuah revolusi
kedua. Bekas-bekas "kolonial pribumi" mulai digugat. Bandul waktu
berbalik. Kalau dulu kebenaran itu milik Indonesia atas, maka kini
kebenaran di tangan Indonesia bawah. Tidak ada hari tanpa demonstrasi di
Indonesia. Indonesia bawah, rakyat, minta giliran didengarkan.

Kekayaan mantan elite Indonesia atas mulai digugat. Pengadilan korupsi
beberapa kali dipublikasikan, nama hanya setengah hati, karena penuntutnya
golongan Indonesia atas sendiri, bukan dari Indonesia bawah. Untung rakyat
cukup baik hati, tidak terjadi pengadilan rakyat. Sekarang baru ketahuan
bahwa Indonesia atas telah menguras segalanya buat diri mereka sendiri.
Negara kekurangan uang. Negara miskin. Rakyat miskin. Indonesia telah
dirusak oleh para pemimpinnya sendiri. Mereka yang dahulu berkuasa enggan
mengaku dosa. Rupa-rupanya mereka berniat membawa dosa-dosa itu ke liang
kubur mereka.

Apakah Indonesia atas yang merusak negara ini telah selesai? Indonesia
yang miskin tapi kaya ini ternyata masih menggejala. Mereka yang berkuasa
ini masih menggaji diri mereka dalam standar negara kaya. Pangkat paling
tinggi di Indonesia bawah (yang dikuasai) masih berbanding 1 lawan 20 dari
mereka yang di atas. Seorang guru besar harus mengumpulkan gajinya selama
hampir dua tahun untuk menyamakan gaji sebulan mereka yang di atas.
Kekayaan negara ini masih dibagi-bagi oleh mereka yang berkuasa. Inilah
negara kaya yang miskin.

Sesungguhnya Indonesia itu kaya. Nenek moyang kita lebih lihai mengelola
bangsa ini. Sejarah membuktikan bahwa pernah berdiri kerajaan-kerajaan
yang kaya dan disegani di Asia Tenggara. Ada Sriwijaya, Majapahit, Banten,
Aceh, Makassar, Ternate-Tidore, Mataram-Tua, yang kejayaan dan kekayaannya
dicatat para musafir Eropa, Cina, dan negara-negara tetangga. Setelah
kemerdekaan, Indonesia tidak pernah masuk dalam deretan negara-negara
makmur dalam urutan 100 sekalipun. Kita sedang berlomba untuk menjadi
nomor satu sebagai negara miskin.

Meskipun negara ini termasuk miskin, para pemimpinnya sama sekali tidak
miskin, bahkan kadang lebih kaya dari pejabat setara di negara-negara
maju. Inilah sebabnya semua orang saling berebut untuk menduduki
jabatan-jabatan tinggi atau tertinggi negara, bagaimanapun caranya.
Jabatan-jabatan strategis di Indonesia adalah surga kekayaan. Dana
orang-orang semacam ini sama sekali tidak merasa malu, hidup kaya raya di
atas kemiskinan rakyat yang diaturnya. Justru mereka bangga, dan
memperlihatkan kebanggaan itu di depan rakyatnya.

Inilah zaman edan atau kalabendu dalam cara berpikir masyarakat Jawa lama.
Zaman edan ini belum menampakkan gejalanya sebelum Orde Baru. Gejala zaman
edan adalah rusaknya tatanan negara, akibat para pemimpinnya hanya
memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya, sehingga hukum negara
dibolak-balik tafsirannya. Kaum munafik menguasai negara, luarnya putih
dalamnya kuning. Tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah,
masing-masing saling menyalahkan. Meskipun pembesar negara banyak yang
pintar dan cerdas, serba bagus pemikirannya, namun tak kuasa membenahi
mereka yang edan. Hanya seperempat pembesar negara yang berhati bersih,
selebihnya penuh kotoran. Meskipun kotor mereka menyatakan diri bersih.
Zaman edan ini masih berlangsung.

Orang sudah melupakan karakter pendiri-pendiri negara ini, yang tidak
pernah kaya raya selama memerintah dan sesudah memerintah. Bung Hatta,
Bung Syahrir, Latumena, Ratulangi, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, dan
puluhan yang lain, adalah tokoh-tokoh besar kita yang sederhana dalam
hidup dunia, namun kaya raya dalam pemikiran dan pengabdian bagi rakyat
yang menjadi tanggung jawab mereka. Tokoh-tokoh negara republik ini telah
kita lupakan dalam arsip-arsip tua.

Gambar paradoks kita peroleh selama 60 tahun merdeka. Tiga puluh tahun
pertama (1945-1975) Indonesia atas dapat dikatakan sama miskinnya dengan
Indonesia bawah, sekurang-kurangnya dalam ukuran pemilikan harta. Justru
banyak Indonesia bawah lebih kaya dari mereka yang di atas. Tiga puluh
tahun kedua (1975-2005) Indonesia atas lebih kaya raya daripada Indonesia
bawah yang kaya sekalipun. Tiga puluh tahun pertama dapat disebut sebagai
Indonesia miskin, sedangkan tiga puluh tahun kedua dapat disebut sebagai
Indonesia miskin yang kaya.

Zaman edan masih berlangsung, kapan berakhirnya?***

Penulis, budayawan tinggal di Bandung.
  

J u n a i d y  A n w a r
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia

Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855 / +62 22 707 87 555 

----------------------------------------------------------
  May I become at all times, both now and forever; a protector for those  
without protection; a guide for those who have lost their way; a ship  for 
those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to  cross; a 
sanctuary for those in danger; a lamp for those without light;  a place of 
refuge for those who lack of shelter; and a servant to all  in 
need---Bodhisattvacharyavatara ~ Shantideva
----------------------------------------------------------

                
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke