Bentuk dan tahapan Kesadaran-ragawi.
Adalah fakta yang tak terbantahkan kalau kita semua merasa sadar. Ini baru memposisikan diri kita hanya sebagai subjek. Namun, mesti diakui juga kalau, walaupun kita telah merasa sadar, kita belum jelas betul akan keberadaan kita sendiri maupun akan hal-hal dan keberadaan-keberadaan lain berikut segala bentuk hubungan yang terkait dengannya. Hanya setelah semua itu jelas buat kitalah kita baru muncul objek, selain subjekyang adalah diri kita sendiridan fakta keterkaitan yang tak terpisahkan di antara keduanya, keterkaitan mana mempertegas keberadaan kita secara lebih utuh dan lebih menyeluruh.
Bila kita coba uraikan tahapan-tahapan dari kesadaran
keberadaan subjek-objek ini, ia ternyata tersusun atas
lima tahapan, yang kurang-lebih, sebagai berikut:
Bentuk kesadaran yang juga merupakan tahap pertama dari kesadaran atau keinsyafan seorang anak manusia adalah, bahwasanya ia telah terlahirkan di dunia ini sebagai atau berjasad manusia, dari orangtua tertentu dan di dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial-budaya tertentu.
Menyusul setelah itu, sementara itu ia temukan juga bahwasanya sangat banyak hal-hal dan keberadaan-keberadaan lain yang punya keterkaitanlangsung maupun tidak-langsungdengan kelahirannya ini, iapun mulai berpikir: apa yang perlu dan mesti saya perbuat atas semua fakta ini?, sebagai bentuk kesadaran tahap kedua.
Iapun mulai melihat dengan lebih seksama pada, dan mencari-tahu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya tentang setiap keberadaan dan fakta-fakta di sekelilingnya. Hasil amatannya dan pengetahuan yang diperolehnya tentang semua itu membuatnya sadar bahwasanya ada juga sejenis hukum yang bersifat universal yang berfungsi sebagai pengatur dari segenap keberadaan itu. Inilah bentuk atau tahap kesadaran ketiga.
Hanya setelah munculnya bentuk kesadaran tadilah ia mulai memikirkan tentang: apa yang perlu dan mesti saya perbuat berkaitan dengan keberadaan-keberadaan lain ini?, disamping mencari-tahu lebih banyak dan lebih medalam lagi tentang hukum universal yang berfungsi mengatur itu. Inilah yang menyusun tahap kesadaran keempat.
5. Bersamaan dengan semakin jelasnya hukum universal itu baginya, iapun mulai mencoba berbuat sebaik-baiknyabaik bagi dirinya sendiri, orang-orang dan alam di sekitarnya maupun demi harmonisasi dengan keberadaan-keberadaan lainnya itu. Inilah yang menyusun tahap kesadaran kelima-nya.
Saya tidak tahu apakah Anda menyetujui atau tidak tahapan-tahapan ini. Namun saya mohon Anda bersedia meluangkan waktu untuk merenungkannya sejenak, sebelum menyetujui ataupun menolaknya. Renungkanlah, bukankah demikian kejadiannya?
Bila Anda bisa menerimanya, marilah kita lanjutkan lagi penelusuran kita ini. Sampai pada tahap kesadaran kelima inilah seseorang sudah bisa disebut orang yang sadar akan keberadaan jasmaniah atau ragawinya sendiri, sadar juga kalau ada keberadaan-keberadaan lain selain dirinya, dan sadar akan adanya hukum universal yang mengatur semua ini, serta perlunya harmonisasi di antara semua keberadaan. Sebelum itu, ia belum bisa dianggap sadar; belum bisa dianggap terjaga; masih tertidur, bermimpi atau malah ngelindur dan tidur berjalan. Tanpa bermodalkan kesadaran ini, apapun yang ia perbuat dan dimanapun ia dan berkiprah dalam mengisi keberadaannya di dunia ini, bisa-bisa malah hanya mengacaukan dan mendatangkan bencanabaik bagi dirinya sendiri maupun keberadaan lain, tabrak-sana-tabrak-sini, langgar-ini-langgar-itu, tak-ubahnya pengemudi mabuk bukan?
Selanjutnya, marilah kita lihat lagi dengan lebih seksama masing-masing tahapan tadi, dimana yang pertama adalah:
telah terlahirkan di dunia ini sebagai atau berjasad manusia, dari orangtua tertentu dan di dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial-budaya tertentu.
Bila kita cermati, terlihat adanya empat fakta penting disini, dimana setiap fakta punya konsekwesi dan keterkaitannya sendiri. Terlahir di dunia ini dan pada jaman ini, tertentu punya sederet konsekwensi dan keterkaitan langsung maupun tak-langsung. Demikian juga terlahir sebagai manusia; bukan binatang pun tumbuh-tumbuhan, dengan jenis kelamin dan kondisi fisikal-biologis tertenu pula. Fakta ini setidak-tidaknya berkonsekwensi: kita harus bisa bersikap, berprilaku dan bertindak layaknya manusia bukan? Begitu pula halnya dengan terlahir dari orangtua tertentu, dalam garis-keturunan dan etnis tertentu, dengan sejarah dan hubungan kekerabatan tertentu, punya saudara-saudari tertentu, yang menganut budaya dan agama tertentu, dan seabreg fakta-fakta keberadaan lainnya yang semuanya punya konsekwensi dan keterkaitan. Demikian pula halnya dengan terlahir di wilayah geografis tertentu dengan struktur dan kondisi liangkungan alam dan sosial-budaya tertentu. Singkatnya, semua
fakta-fakta ini menuntut bentuk-bentuk penyikapan tertentu dari kita.
Sekali lagi, semua ini adalah fakta buat kita. Kita tak punya kuasa untuk mengganti fakta. Kita tak bisa mengganti orangtua kita dengan yang lainnya, atau mengganti jasad manusia ini dengan jasad dewa misalnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima untuk kemudian menyesuaikan-diri dengan fakta ini. Kalaupun kita merasa punya kemampuan dan berhasrat untuk merubah yang adahanya lantaran kita tidak sepenuhnya mau menerimanya butuh tak sedikit waktu, daya dan dana untuk itu yang tidak serta-merta kita miliki. Kita masih perlu, secara konkrit, mengupayakannya dimana ini bisa berarti mengupayakannya seumur-hidup. Yang pasti apapun hasrat yang muncul di benak kita, punya konsekwensi dan keterkaitannya sendiri, yang mau-tak-mau mesti diterima dan disikapi sepentasnya.
Seperti ang sebelumnya, kemunculan bentuk kesadaran kedua-pun punya implikasi dan mengharuskan kita untuk bersikap dan bertindak lebih jauh lagi dari sebelumnya. Kemunculan bentuk kesadaran ketigatentang: adanya sejenis hukum yang bersifat universal yang berfungsi sebagai pengatur dari segenap keberadaanmengantar seseorang pada perambahan ke tataran yang bersifat filosofis. Boleh jadi sangat banyak temuan-temuan filosofis terkait dengannya sebelum ia sampai pada kesimpulan bahwasanya ia perlu mencoba berbuat sebaik-baiknyabaik bagi dirinya sendiri, orang-orang dan alam di sekitarnya maupun demi harmonisasi dengan keberadaan-keberadaan lainnya itu, yang kita tempatkan sebagai bentuk kesadaran kelima itu.
Nah....bersamaan dengan semakin jauhnya perambahan yang dilakukan dengan bermodalkan berbagai pengalaman yang dialaminya dalam rangka mewujudkan harmonisasi dengan keberadaan-keberadaan lainnya itu, iapun kini tidak lagi hanya berkubang pada bentuk-bentuk kesadaran-ragawi, kesadaran-jasmaniah, yang bersifat kasat-indria atau sakala saja. Ia mulai beranjak dari sana. Langkah awal yang ia ambil bisa saja berupa mempertanyakan: Kecuali semua fakta-fakta tadi, siapakah sebenarnya saya ini?.
Pertanyaan inilah yang nantinya akan menggiring dan mengantarkannya untuk bertatapan-langsung dengan Diri-Jatinya, yang ternyata bukan sekedar jati-diriyang hanya bentuk kepribadian semunya itu. Ini pulalah yang akan mengantarkannya pada Kesadaran Sejati (cit), yang ternyata juga adalah Keberadaan Sejati (sat) yang juga adalah Kebahagiaan Abadi (anandam) Itu adanya.
Namun, sebelum Itu benar-benar Anda capai, saya kira ada baiknya kita meneropong sedikit lebih jauh lagi tentang apa sesungguhnya yang kita sebut sebagai kesadaran selama ini.
Lima Alam Kesadaran.
Kita mungkin telah terlampau sering bicara tentang kesadaran. Lebih jauh lagi, kitapun merasa sadar, seperti yang kita sinngung sebelumnya. Kendati demikian, boleh jadi kita belum jelas betul akan apa sebetulnya kesadaran ini. Apa yang kita sebut sebagai sadar selama ini, yang menyebabkan kita merasa sadar, boleh jadi hanya sebatas tidak tertidur, tidak pingsan, tidak dalam kondisi terbius, tidak mabuk, atau bahkan tidak dalam kondisi koma. Ini hanyalah kesadaran-jagayang amat tergantung pada kondisi ragawi dan kinerja indriawi semata. Ini baru lapisan pertama dari kesadaran kita. Ada dalam kondisi terjaga seperti sekarang ini sama artinya dengan sedang berada di alam kesadaran-jaga. Dalam shastra, ini disebut dengan jagra-pada.
Namun sekali lagi, ini bukanlah satu-satunya bentuk kesadaran kita, bukanlah satu-satunya alam kesadaran yang ada. Dari pengalaman kita saja, kita tahu betul kalau kita bisa tidur dan bermimpi atau bahkan tertidur pulas tanpa-mimpi samasekali, layaknya orang yang sedang dalam pengaruh bius total. Jadi ada bentuk kesadaran lain, ada alam kesadaran lain kecuali jagra-pada tadi. Ketika kita sedang tidur dan bermimpi misalnya, kita juga sepenuhnya merasa sadar. Bila tidak, kita tak akan pernah ingat dan bisa menceritrakan yang kita mimpikan itu, setelah terjaga bukan? Dalam mimpi, kita bisa merasa sakit, terluka, sedih, lapar, haus, takut, senang, bersuka-cita, marah, jengkel, bangga dsb...dsb. Berbagai bentuk mental, berbagai betuk perasaan dan pemikiran dapat muncul dan kita alami saat bermimpi. Dan anehnya lagi, saat itu semuanya terasa sedemikian nyatanya, senyata kejadian saat terjaga. Bedanya, kalau dalam keadaan terjaga semua dialami dalam tataran fisikal dan juga
mental, maka dalam mimpi semua itu hanya teralami dalam tataran mental saja. Inilah yang kita sebut dengan kesadaran-mimpi, yang di dalam shastra disebut dengan svapana-pada.
Sekarang bagaimana dengan ketika kita tertidur lelap tanpa-mimpi, atau ketika dalam keadaan pingsan ataupun terbius total, dimana kita tak-sadarkan-diri; ada dimanakahkah si kesadaran ini saat itu? Membingung bukan? Ketika itu sebetulnya si kesadaran masih tetap eksis, namun ia sedang beristirahat dalam pelukan bundanya. Makanya, bentuk kesadaran-tidur-lelap ini bisa juga kita sebut sebagai kesadaran-yang tak-sadar karena kita masih bisa sadar lagi, terjaga lagi; dan ketika terjaga kita tahu kalau sebelumnya kita tak-sadar, walaupun tak ada ingatan tentang kondisi itu. Konon, fenomena ini sangat mirip dengan fenomena beberapa saat paska kematian raga ini, dan dengan fenomena saat seorang yogi mencapaiapa yang disebut dengannirvikalpa-samadhi. Yang jelas, saat ini tak hadir kesadaran ragawi dan indriawi maupun bentuk kesadaran mental lain seperti saat bermimpi. Di dalam shastra alam kesadaran ini disebut dengan sushupta-pada.
Kalau dalam jaga ketiga tataranfisikal, mental dan spiritualsemuanya bekerja secara aktif, maka dalam mimpi tataran fisikalberikut kelima organ indria sensorik dan kelima organ motoriknyasecara temporer ada dalam keadaan non-aktif, hanya tataran mental dan spiritual saja yang masih aktif. Sedangkan dalam tidur lelap, baik tataran fisikal, mental maupun spiritual secara temporer ada dalam keadaan non-aktif. Kita tahu kalau tertidur lelap berbeda dengan mati. Kalau saat tertidur lelap kenon-aktifan dari ketiga tataran itu bersifat amat temporer, sementara, maka ketika matihanya dari titik pandang jasad inikenon-aktifannya bersifat permanen.
Dengan nirvikalpa-samadhi, tidur lelap berbeda dalam titik tolaknya. Kalau nirvikalpa-samadhi dicapai dengan sengaja dan penuh kesadaran, maka tidur lelap terjadi tanpa disengaja dan tanpa didahului dengan kesadaran. Nirvikalpa-samadhi bukannya tanpa kesadaran, malah kesadaran menjadi sedemikian jernihnya karena tanpa diganggu lagi oleh bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan maupun disibukkan oleh bentuk-bentuk pencerapan eksternal dan internal. Cahaya kesadaran tidak bersinar hanya ke satu arah tertentu saja, melainkan meluas ke segala arah, ke luar maupun ke dalam. Dalam nirvikalpa-samadhi, sang yogi manunggal dengan Hakekat Kesadaran itu sendiri.
Nah.....di dalam tiga alam kesadaran (pada) inilah kita lebih banyak berada seumur-hidup kita. Oleh karenanyalah kita akan cenderung beranggapan bahwa sesungguhnya hanya ketiga alam kesadaran itulah yang ada, yang nyata ada. Walaupun secara faktual-empirisberdasarkan berbagai keterbatasan yang ada pada kitakelihatannya demikian, tidaklah berarti tak ada lagi alam kesadaran lainnya selain itu. Dari pengalaman spiritual para yogi dan para orang-orang suci lainnya ribuan tahun lalu telah teridentifikasikan sebentuk alam kesadaran yang melandasi sekaligus melampaui ketiganya. Ia disebut alam kesadaran-keempat atau turiya-pada. Sebagai alam kesadaran yang melampaui ketiga lainnya, tentu ia jauh lebih halus, lebih tinggi dan lebih murni kwalitasnya, sehingga dapat diasebut sebagai alam kesadaran-supra, yang dialami oleh sang yogi saat mencapai nirvikalpa-samadhi.
Alam kesadaran ini pulalah sesungguhnya yang melandasi ketiga alam kesadaran lainnya itu, dimana tanpanya, ketiganya tak bisa ada. Inilah yang dialami oleh sang yogisvara manakala beliau memasuki nirvikalpa-samadhi; inilah kesadaran-murni itu; inilah yang disebutkan sebagai Cit di dalam ungkapan upanishadik sat-cit-anandam brahman itu. Inilah cetana, yang dalam Wrhaspati Tattwa dikatakan punya tiga martabat: SiwaSadhasiwaParamasiwa itu. Ini jualah yang disebut Atman di dalam Mandukya Upanishad.
Sedikit berbeda dengan Mandukya Upanishadyang hanya menyebut empat alam kesadaran tadi, Wrhaspati Tattwa memerincinya secara lebih detail lagi dengan memperkenalkan alam kesadaran yang kelima yang disebut turiyanta-pada. Ia merupakan penegasan terhadap keberadaan sang yogisvara yang telah mencapai pengetahuan sejati, dengan mengatakan, ....sang yogisvara akan menemukan jñana itu. Itulah yang disebut dengan turiya-pada. Diperolehnya pengetahuan sejati tentang kebebasan dari Maya Tattwa; inilah yang disebut dengan turiyanta-pada. Wrhaspati Tattwa juga lebih mempertegas lagi dengan mengatakan bahwasanya, sang yogisvara yang demikian itulah yang juga disebut seorang jivanmuktamoksha semasih berjasad begini.
Lahir Kembali di Alam Kesadaran-Spiritual.
Nah.....sampai disini setidak-tidaknya kita tak akan sedemikian gegabahnya lagi, kendati untuk sekedar merasa sadar sekalipun, sejauh merasa sadar tidaklah berarti sadar, éling. Di Bali, yang telah benar-benar sadar, yang telah éling, dianggap telah lahir untuk keduakalinya, telah sepenuhnya lahir di alam kesadaran-spiritual itu sendiri, telah mengalamiapa yang disebut dengandwijati, dan oleh karenanyalah beliau di-siwa-kan, diposisikan sebagai Siwaguru di dalam tatanan sosio-kultural-religius yang berlaku di Bali.
Sebagai yang benar-benar awam akan wilayah spiritual yang niskala, kita sebetulnya barulah sebatas merasa sadar. Kita belum enten, belum bangun dan terjaga, apalagi sepenuhnya éling dan bertindak serta berupaya dalam kerangka dasar kaélingan-nya itu. Kita masih tidur; tak ubahnya orang yang masih sedang bermimpi. Hanya sekedar untuk terjaga dari mimpi itu saja kita masih butuh seseorang untuk membangunkannya, untuk ngentenin, untuk membuat kita terjaga, untuk mengawi enten. Makanya di Bali ada yang disebut dengan prosesi mewintenyang tiada lain adalah mengawi enten, membuat kita enten, terjaga, dimana yang telah mewinten disebut juga telah ber-ekajati. Kalau kita semua telah dilahirkan oleh ibunda masing-masing di tataran fisiko-mental, maka para ekajati baru terlahir untuk pertama kalinya di tataran mental-spiritual. Mereka masih harus mendewasakan dirinya secara mental-spiritual, antara lain dengan ber-guru dulu kepada bapa-nya yang sudah ber-dwijati yang
benar-benar berkwalifikasi sebagai seorang pendidik dan pelatih bidang spiritual-religius.
Jelas bagi kita kalau mewinten bukanlah sekedar prosesi ritualistik semata. Hanya dengan menjalani prosesi ritual berikut berbagai pernak-pernik upkhara simbolisnya itu, betapa besar dan utamapun ritual itu adanya, tidaklah otomatis menjadikan seseorang enten. Sebaliknya, bila ia telah benar-benar enten, tanpa upacara dan upakhara-pun ke-enten-annya itu akan bersinar, tak terpungkiri lagi. Hanya mereka yang sudah enten-lah yang mungkin punya niat, nyet, untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pengembangan dari ke-enten-annya itu.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan senantiasa menghuni kalbu semua insan.
Bali, 26 September 2005.
NR
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
[Non-text portions of this message have been removed]
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
SPONSORED LINKS
| Buddha | Buddhism | Buddhism religion |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "MABINDO" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
