Saya menemukan cerita ini menarik dan hendak berbagi dgn anda. Tulisan
orisinil dan author orisinil nya bisa di liat di sumber.
Bahasa english nya saya tinggalkan utuh, karena terjemahan saya masi blon
sempurna, sama seperti orangnya =)

Sumber :
http://www.bswa.org/modules/newbb/viewtopic.php?forum=7&post_id=9835&topic_id=1075

A true story about love and acceptance
Sebuah kisah nyata mengenai cinta dan penerimaan

I have a story I'd like to share with you because it really teaches a lot
about how to help others progress without being push or condescending.
Saya mempunyai sebuah cerita yang hendak saya share dengan anda2 karena
cerita ini benar2 banyak mengajarkan tentang bagaimana menolong yang lain
tanpa terlalu bersifat mendesak atau merendahkan diri.

A friend of mine started working at a school for children with outstanding
emotional and behavioral problems. These kids are normal in terms of
"intelligence", but are very violent.
Seorang teman saya mulai bekerja di sebuah sekolah untuk anak anak yang
memiliki masalah emosional dan perilaku menonjol. Anak anak ini adalah
normal dalam ukuran 'kecerdasan', namun sangat kasar.

My friend decided he will try to make a special project out of one of the
"leaders" in the school - he is of course one of the most violent kids. This
kids doesn't stop cursing everything and everybody (teachers very much
included). I am sure that most of you don't have even 1% of his cursing
vocabulary .
Teman saya memutuskan bahwa dia akan mencoba membuat sebuah projek spesial
dari salah seorang anak 'pemimpin' di sekolah - Tentunya dia adalah salah
seorang dari yang terkasar dari para anak2 yang lain. Anak anak ini tidak
berhenti memaki semua hal dan semua orang (para guru juga termasuk). Saya
yakin bahwa kebanyakan dari anda anda bahkan tidak memiliki 1% dari kamus
makian mereka.

The usual method in the school is, like you imagine - punishment. They even
give in this schools teachers the right to be violent towards the kids, and
there is a solitary confinement and other not so loving methods. The point
really is not whether they are nice methods or not - they simply don't work.
Metoda biasa di sekolah untuk hal ini adalah, seperti yang anda bayangkan -
Penghukuman. Mereka bahkan memberikan para guru di sekolah ini hak untuk
bersikap kasar terhadap para murid, dan ada juga pengurungan terpencil dan
metoda metoda lain yang tidak terlalu penuh kasih sayang.

So my friend decided to go a different way. In the break hour he went over
to that kid and asked if they can talk. This kid looked at him, stooped to
the ground to pick some sand in his hand and threw the sand in my friend
face, saying, "This is break time, and it is my time. So now you fly away
from here like this sand or I will break your bones you piece of "%^%*
[EMAIL PROTECTED]".
Jadi teman saya memutuskan untuk mencoba jalan lain. Di jam istirahat, dia
menuju ke anak tersebut dan menanyakan apakah mereka bisa bicara. Anak ini
melihatnya, lalu membungkuk ke tanah untuk mengambil pasir di tangannya dan
melempar pasirnya ke muka teman saya, dan mengatakan "Ini adalah waktu
istirahat, dan ini adalah waktuku. Sekarang kamu terbang dari sini seperti
pasir pasir ini atau aku akan meremukkan tulang tulang mu, dasar kamu
%^%**^^#7#$^&......!"

"Oh, Wonderful!", replied my friend to the torrent of curses, "I see I have
come to the right person - I knew you are the one". The kid was puzzled by
this reaction. "I am doing a university paper on curse" said my friend to
the kid, "and I was wandering if you could help me by teaching me about the
curses you know. It is clear that you are a real expert on this".
"You want help with cursing?", replied the kid, "why didn't you say so? I
will be glad to help you cursing".
"Oh, Sangat bagus!", teman saya menanggapi aliran deras makian, "Saya rasa
saya telah datang ke orang yang tepat. Saya sudah tau memang kamu lah
orangnya". Anak itu menjadi heran atas reaksi ini. "Saya sedang mengerjakan
tugas universitas tentang makian" kata teman saya ke anak tersebut, "dan
saya ingin tau apakah kamu bisa mengajarkan saya tentang makian makian yang
kamu ketahui. Sudah jelas bahwa kamu adalah sang ahli nya tentang hal ini".
"Kamu ingin bantuan tentang makian?", balas si anak, "Kenapa kamu tidak
bilang dari tadi ? Saya akan dengan senang hati membantumu memaki".

And so they sat in the corner and started talking. Every time the kid went
through a cursing fit, my friend would rigorously write down all the curses,
but in between the cursing they managed to start talking also about other
things, they created a trust, a real contact.
Later on the teachers came to my friend (he is new in that school), and told
him they never were able to talk with that kid, and on his break too!
Lalu mereka duduk bersama di pojokan dan mulai berbincang bincang. Setiap
kali si anak memulai serangan makian, teman saya akan secara teliti mencatat
semua makiannya, namun di antara makian makian, mereka berhasil menjalin
percakapan serta hal hal yang lain, mereka menciptakan saling percaya,
sebuah kontak yang nyata.
Belakangan kemudian para guru datang ke teman saya (yang masih baru di
sekolah), dan menceritakan ke dia bahwa mereka tidak pernah bisa berbicara
dengan anak itu.

Isn't that a great lesson? I find it so inspiring. By really accepting what
this boy had to give (curses) he was able to connect to him. And after he
received the curses from the boy, he could then also receive other things
from him (like his listening). But he started from where the boy actually
was. He made no pre-conditions, and on the contrary, he created this context
in which what the boy was actually perfect-good for the situation (a cursing
expert helping a student).
Bukankah ini adalah pelajaran yang besar ? Saya merasa hal ini sangat
menginspirasi diri saya. Dengan benar benar menerima apa yang diberikan oleh
anak ini (makian), teman saya sanggup untuk berhubungan dengannya. Dan
setelah dia menerima makian makian dari anak ini, dia kemudian sanggup
menerima hal lain dari anak ini (seperti mendengarkannya). Namun dia memulai
dari keadaan awal si anak ini. Dia tidak memciptakan kondisi-kondisi awal
untuk situasi yang diinginkan, namun secara bertolak belakang, dia
menciptakan sebuah konteks dimana anak itu adalah sempurna untuk situasi
tersebut (seorang yang ahli makian menolong seorang pelajar).

>From this non-judgment, and acceptance of letting go of expectation,
progress could be made. Now all these years in the school prior to my
friend's arrival, they keep doing the opposite - telling the children they
are bad and insisting they change and then they will be praised. By turning
it the other way round - first praise, change later - my friend broke this
cycle.
Dari sikap yang tidak menghakimi, dan penerimaan atas 'pelepasan harapan',
kemajuan dapat terjadi. Selama bertahun tahun ini sebelum kedatangan teman
saya, mereka terus melakukan yang sebaliknya - mengatai anak anak tersebut
kalau mereka adalah tidak baik, dan bersikeras bahwa mereka harus berubah
dan kemudian mereka akan di beri pujian. Dengan memutar-balikkan caranya,
pujian dahulu, berubah belakangan - teman saya menghentikan siklus yang lama
ini.

I think this story has a message not just for teacher or parents, but for
everyone of us, especially for people who are try to walk the spiritual
path. We can easily become judgmental and not so tolerant because we are
working hard on improvement. This story reminds us (or me at least) that I
should accept and love others as they are, even their behavior seems so
"wrong".
Saya kira cerita ini memiliki pesan bukan saja untuk para guru atau
orangtua, tapi buat kita semua, terutama untuk orang2 yang mencoba menjalani
kehidupan spiritual. Kita dapat dengan mudah menjadi penghakim dan tidak
toleran karena kita berusaha keras dalam memajukan diri. Cerita ini
mengingatkan kita (setidaknya diriku) bahwa saya hendaknya menerima dan
mencintai mereka apa adanya, bahkan jika perilaku mereka kelihatannya begitu
"salah".

Hope you enjoyed the story.
Semoga anda semua menikmati cerita tersebut.

--
Greater in battle
than the man who would conquer
a thousand-thousand men,
is he who would conquer
just one —
   himself.


[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke