*TUTUR MENULAR*
**
**
*Mengingatkan Diri Sendiri*

Seorang ibu tua duduk di tepi jalan mengamati sebuah dinding tembok yang
tampaknya akan roboh. Begitu menampak ada orang yang berjalan menuju arah
tembok itu, ibu itu dengan baik hati segera mengingatkan, "Tembok itu mau
roboh, jangan dekat-dekat!"

Orang yang diingatkan ternyata tidak menghiraukannya, tetap berjalan
menyusuri tembok itu. Tembok itu ternyata tidak roboh. Ibu tua itu sangat
kesal, "Kenapa tidak menghiraukan peringatan saya?" Asal ada orang yang
melintas, ibu itu pasti mengingatkan mereka.

Tiga hari berlalu, telah banyak orang yang berlalu di dekat tembok itu dan
tidak mengalami sesuatu yang membahayakan. Hari ke empat, ibu tua itu mulai
merasa heran dan kecewa. Kenapa tembok itu masih belum roboh? Karena tak
mampu melawan rasa heran dan kekecewaannya, ia berjalan menuju tembok itu
bermaksud mengamatinya dengan cermat. Saat itulah tembok itu roboh dan
menimpanya. Ibu tua itu meninggal tertimpa runtuhan tembok.



Saat mengingatkan orang lain adalah mudah karena waktu itu kita dalam
kondisi yang sadar. Tetapi mengingatkan diri sendiri adalah sulit karena
kita adalah tokoh yang ikut terlibat di dalamnya. Pada umumnya, bencana dan
kemalangan muncul karena diri kita sendiri telah kehilangan kesadaran dan
kewaspadaan.

Sudahkah kita bertekad menjaga kewaspadaan setiap saat?


[Non-text portions of this message have been removed]



** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **




SPONSORED LINKS
Buddha Buddhism Buddhism religion


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke