Berita Utama                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Jumat, 12 Mei 2006                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
                                        http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/12/utama/2652592.htm
                   
                    Renungan Waisak 2550/2006
  Berjalan di Atas Bumi                   
   
Biku Dharmavimala  
Seorang  perempuan bernama Kisa Gotami mengalami serangkaian tragedi. Suaminya  dan anggota keluarga dekat lainnya meninggal dunia. Yang tertinggal  bersamanya hanya seorang anak laki-laki yang baru saja belajar  berjalan. Lalu anak itu pun terserang penyakit dan meninggal juga.
Kisa  Gotami, yang sepertinya tidak pernah letih berdoa dan meratap, membawa  jasad anaknya ke mana-mana untuk mendapatkan pertolongan agar si anak  hidup kembali. Tentu saja tak seorang pun yang dapat menolongnya.
Seseorang  menyarankannya pergi menemui Buddha Gautama yang tengah mengajar di  dekat hutan kecil. Perempuan itu menghampiri Buddha, menangis sedih,  dan berkata, "Guru yang mulia, tolonglah agar anakku hidup kembali."
Buddha  menjawab, "Kisa Gotami, engkau harus pergi ke desa dan membawakan  untuk-Ku segenggam biji lada. Ada syarat yang mesti dipenuhi, biji lada  itu harus berasal dari rumah yang tak satu pun ada anggota keluarganya  yang mati, yang tak satu pun pernah kehilangan anak atau orangtua,  suami, istri, atau sanak keluarga lain."
Dengan  membopong mayat anaknya, Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah untuk  meminta segenggam biji lada. Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia  tidak menemukan sebuah rumah pun yang penghuninya belum pernah  ditinggal mati salah satu anggota keluarganya. Ibu yang malang ini  kemudian menyadari apa yang harus diperbuatnya. Ia menguburkan anaknya,  lalu memohon bimbingan Buddha selanjutnya.
Ada  banyak mukjizat yang ditunjukkan oleh Buddha. Namun, mukjizat yang  paling bermakna adalah membangun kesadaran. Sebagaimana kisah di atas,  Ia menolong Kisa Gotami agar menjadi sadar. Siapa saja yang dilahirkan  pasti akhirnya akan mati.
Kehadiran Buddha  
Di  hari Waisak, dunia memperingati kelahiran Buddha sebagai seorang  pangeran yang bernama Siddharta Gautama. Pada momen yang sama sekaligus  diperingati pencapaian Penerangan Sempurna dan parinirwana atau  wafatnya Buddha. Waisak tahun ini, yang ke-2550, dihitung sejak Buddha  parinirwana, jatuh pada tanggal 13 Mei 2006. Saat purnama sidi di hari  itu, pada pukul 13.50.51 (siang hari) menurut perhitungan astronomi,  bulan bundar sempurna hanya sedetik, namanya detik Waisak.
Detik  itu kita jadikan momentum untuk menghadirkan Buddha di hati kita.  Namun, sesungguhnya Buddha senantiasa hadir setiap waktu dalam  kehidupan sehari-hari. Kata Buddha artinya ’Yang Sadar’. Kesadaran  adalah energi Buddha, energi Tuhan dan Makhluk Suci yang selalu ada. Di  mana pun energi Buddha berada, di sana terdapat kearifan dan kasih  sayang yang melindungi dunia dan isinya. Karena itu, kehadiran Buddha  membawa berkah dan kedamaian bagi umat manusia.
Saat  kita dengan damai berdiam dalam kekinian, saat tubuh dan pikiran kita  tidak terpisah, saat kita tahu bagaimana bernapas dengan penuh  kesadaran; duduk, berdiri, dan berjalan dengan penuh kesadaran; makan  dengan penuh kesadaran, di saat itu pula Buddha hadir bersama kita.
Semua orang memiliki benih kesadaran, benih kearifan, dan benih kasih sayang. Itulah benih-benih Kebuddhaan.    
Tiada  seorang pun yang tidak memiliki benih Kebuddhaan, tiada seorang pun  yang tidak memiliki kapasitas untuk bersentuhan dengan Buddha yang ada  dalam dirinya. Karena siapa saja mempunyai kemampuan untuk menjadi  sadar, dikatakan semua orang bisa menjadi Buddha.
Berjalan sebagai orang bebas  
Biasanya  orang membayangkan apa yang disebut mukjizat itu sesuatu yang  mengherankan, seperti berjalan di atas air atau terbang di udara.  Namun, Master Lin Chi, seorang guru meditasi di abad ke-19, menyatakan  bahwa mukjizat yang sebenarnya adalah berjalan di atas bumi. Kita  mungkin tidak dapat segera menangkap maksudnya, tetapi orang yang  lumpuh, misal karena stroke, akan memahami kebenaran dari pernyataan  ini.
Master  Thich Nhat Hanh memberi penjelasan bahwa semua orang berjalan di atas  bumi, tetapi banyak yang berjalan seperti seorang budak, yang tidak  memiliki kebebasan. Mereka terikat oleh masa depan atau masa lalu  sehingga tidak hidup pada saat ini, di tempat ini. Ketika seseorang  terperangkap oleh kekhawatiran dan ketakutan, kecemasan dan penyesalan,  ia bukanlah orang yang bebas.
Mereka  yang sadar, waspada, tidak akan mati, sedangkan mereka yang lengah  seakan-akan telah mati (Dhp 21). Tidak sedikit orang-orang yang lengah,  keluarga-keluarga yang lengah, kelompok-kelompok yang lengah, dan  institusi-institusi yang lengah sehingga menimbulkan berbagai masalah.
Orang  yang berlatih mengembangkan kesadaran akan mampu mengubah hidupnya dan  menumbuhkan cinta kasih dan memaafkan. Dengan praktik itu pula mereka  dapat mengurangi penderitaan orang-orang di sekitarnya.
Kita punya kekuatan untuk insaf, untuk bangkit, untuk mengubah, berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan.    
Sumbangan kepada dunia  
Mereka  yang damai hati dan pikirannya akan membawa kedamaian bagi orang-orang  dan alam sekitarnya. Sebaliknya, pikiran dan perbuatan yang dipenuhi  nafsu keserakahan, kebencian, dan kekerasan akan membangkitkan reaksi  negatif. Fenomena dan bencana alam dianggap sebagai isyarat agar  manusia melakukan introspeksi.
Bagaimana  kita hidup dan bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita  berpikir, berbicara, dan bertindak adalah sumbangan kita kepada dunia  ini. Dunia memerlukan rasa kebersamaan, cinta kasih yang tulus kepada  sesama, dan semangat gotong royong.
Jika  kita ingin memiliki cinta, kita harus menjadi cinta. Jika kita ingin  mendapatkan kedamaian, kita harus menjadi damai. Seperti ombak, jika  ombak ingin tenang, ketenangan itu tidak bisa ia dapatkan dari luar.  Ketenangan itu ada di dalam air itu sendiri. Menghadirkan Buddha dalam  kehidupan pun bukan dengan memaksakan kebenaran kita atau  gagasan-gagasan kita. Kita tidak bisa menyelesaikan berbagai masalah di  dunia ini tanpa kekuatan kebaikan, berbuat bajik, dan akrab dengan  orang lain. Selamat Hari Waisak.
Biku Dharmavimala Maha Lekhanadikari (Sekretaris Jenderal) Sangha Agung Indonesia, Pembina Majelis Buddhayana Indonesia
 

Best regards,
Vera :)

           
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.

[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke