Kasus yang dialami Sdr Lo Willy diamati oleh seorang bocah kecil. Bocah ini
lalu berpikir, "Oh, ternyata orang dewasa itu seperti itu! Aku gak mau jadi
dewasa dah kalau gitu." Ya, akhirnya saya dan bocah itu yang bingung, gimana
dan apa akibatnya kalau ia tidak mau menjadi dewasa?
Kisah ke-2. Ada seorang pemuda yang baru saja menikah, ia hidup bahagia. Pun
seperti pasangan pengantin lainnya, ia juga ingin memomong bayi. Tapi
sebelum rencananya ini terlaksana, ia menemukan bahwa ayahnya yang sudah
setengah baya ternyata tidak sesetia yang dibayangkannya. Akhirnya pemuda
ini mengambil keputusan, "Lebih baik saya tidak menjadi ayah." Ah, kenapa
menghukum diri sendiri hanya karena kesalahan orang lain?
Hidup ini tak lebih hanya merupakan hasil aksi dan reaksi, tetapi yang
disayangkan adalah potensi kekuatan aksi itu ternyata hanya berperan 10-20%,
selebihnya adalah peranan reaksi kita terhadap aksi tsb (80-90%). Aksi
adalah uncontrollable, yg bisa kita kendalikan adalah reaksi. Reaksi kitalah
yang akan membuat aksi itu menjadi semakin parah atau ringan. Contohnya
adalah gempa Jogya bbrp hari lalu. Gempa itu adalah aksi, sedang reaksi
kitalah yang akan menentukan akankah tragedi bencana ini semakin memburuk
atau segera berhasil diatasi. Kelambatan dalam bertindak akan menyebabkan
jumlah korban pasca bencana dengan cepat bertambah, yang pada akhirnya
justru akan lebih besar jumlahnya dibanding jumlah korban yang langsung
meninggal akibat 'aksi' gempa bumi. Sebaliknya, kalau reaksi kita (baik
pemerintah, swasta ataupun badan luar negeri) tepat dan cepat, maka bencana
ini akan segera berhasil kita atasi bersama.
Jadi, keputusan reaksi adalah kita yang menentukan, tetapi alangkah baiknya
bila reaksi yang akan diambil telah kita renungkan sedalam-dalamnya, adakah
reaksi itu semakin memperparah atau meringankan beban kita? Orang lain tidak
bisa menerapkan metta karuna, bukan berarti kita juga tidak bisa, juga bukan
berarti ajaran mulia itu tidak lagi mulia. Permata di tangan seorang yang
baik adalah permata, di tangan seorang yang jahat, ia tetap adalah permata.
Alangkah sayangnya bila kita membuang permata itu hanya karena melihat orang
lain tidak bisa mendayagunakan permata tsb.
Mari kita saling belajar dan memberi dorongan. Semoga semua makhluk
berbahagia, tetapi jangan lupa untuk membahagiakan diri kita dulu dengan
bereaksi yang benar. Dan kami semua percaya, Sdr Lo Willy bisa bereaksi
dengan tepat dan benar.
Salam,
siwu
PS: Saya bahya bisa akses di MABINDO, jadi kalau Sdr Lo Willy tidak
terdaftar di MABINDO, tolong rekan2 yg lain bantu forward ke milis terkait.
Trims. Namo Amituofo.
On 5/29/06, sutedja tj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sdr. Lo Willy,
>
> Menurut saya, mungkin Sdr. Lo Willy kecewa dengan
> "Oknum" Buddhis yang dianggap dapat mewakili
> sifat dan tindak tanduk seorang Buddhis.
> Dan ternyata karena tidak sesuai, maka kecewa berat
> yang didapat.
>
> Namun hal ini mungkin jangan dijadikan satu kesimpulan
> bahwa Agama Buddha yang jelek. Yang harus disayangkan
> adalah "Oknum" tersebut.
>
> Bukankah Sdr. Lo Willy demikian bahagia saat dapat
> mempelajari Agama Buddha? Hal ini sudah membuktikan
> bahwa Agama Buddha membawa sesuatu yang bermanfaat
> bagi kita semua.
> Jangan karena tindakan "Oknum" tsb lalu kita
> menyalahkan agama Buddha itu sendiri.
>
> Saya memang sekarang menemukan begitu banyak
> ketidak sesuaian dalam prilaku para pemuka agama,
> namun bagi saya, hal itu adalah biasa.
> Yang namanya manusia tetap mudah dipengaruhi oleh
> sifat-sifat jelek manusia itu sendiri.
>
> Selama masih ada panduan Dhamma dalam Tipitaka
> sebagai bahan acuan, dan bila memberikan manfaat
> bagi kita, jalani lah, jangan ditolak.
> Bila menolak, yang rugi bukan "Oknum" Buddhis tsb,
> bukan orang lain. Mereka mah tidak perduli, kalau
> Sdr. Lo Willy tetap menjadi Buddhis atau tidak,
> yang penting politik atau tujuan jelek mereka
> tercapai.
> Itu saja.
> Nah, sekarang yang rugi siapa kalau menolak Buddha
> Dhamma? Bukan lain tapi diri kita sendiri.
>
> Saya melihat Buddha Dhamma sangat-sangat bermanfaat
> bagi diri saya dan bila saya terapkan dengan baik,
> juga memberikan manfaat bagi orang-orang sekitar saya.
> Hal ini sangat membuat saya berbahagia.
>
> Semoga Sdr. Lo Willy selalu berbahagia,
> Sutedja Tjandra.
>
>
> --- Lo Willy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Sdr. Sutedja, salam sejahtera;
> > Anda begitu gembira dengan kolom agama dimana kata
> > agama "BUDDHA" telah
> > ditulis dengan benar menururt kosakata sebagaimana
> > seharusnya. sebaliknya
> > saya sedang susah hati karena sebentar lagi masa
> > laku KTP saya akan
> > berakhir dan sudah sejak lama saya sangat bingung
> > mau menulis apa dalam
> > kolom agama tersebut. Saya lebih senang dan bahagia
> > bila kolom agama itu
> > dihapus saja dan paling celaka ketika saya tidak
> > ingin memeluk agama apapun
> > saya diharuskan memilih salah satu agama yang diakui
> > resmi oleh Pemerintah
> > kita. Dulu ketika saya memutuskan memilih agama
> > Buddha - menurut pendapat
> > dan pandanganku - karena agama tersebut paling baik
> > diantara agama-agama
> > yang ada di Indonesia tapi apa yang saya alami
> > justru hidupku hampir celaka
> > berantakan gara-gara Agama Buddha - hanya gara2
> > memberi makan kepada 2 orang
> > Bhikkhu - lantas agama apalagi yang cocok bagi saya
> > ? Memilih yang lain lagi
> > ? Dulu sudah pilih yang terbaik, yaitu agama Buddha
> > ????? Kalau yang terbaik
> > saja pakai pukul dan kekerasan (terjadi didalam
> > rumah salah seorang tokoh
> > Umat Buddha dan disaksikan oleh sebagaian Umat
> > lainnya, menekan dengan
> > menggunakan preman dan Intel) sudah begini, lantas
> > yang tidak terbaik
> > seperti apa ????
> > Kalau anda ingin menulis dan mengulas serta mengupas
> > "METTA & KARUNA" sambil
> > berjalan kaki mengelilingi dunia kemudian hasil
> > tulisan itu dapat menutupi
> > seluruh permukaan bumi ini itupun belum selesai
> > pembahasannya. Anda harus
> > berjalan pula kebagian dunia lainnya sambil menanti
> > kedatangan Buddha Baru
> > utk mengakhiri tulisan tersebut dan Beliau akan
> > menyelesaikannya dengan 3
> > kata saja, yaitu : "SADHU ... SADHU ... SADHU ....
> > !!!!
> > Demikianlah dahsyat dan sangat dalam serta luas arti
> > dari "METTA & KARUNA".
> > Tapi di Bali hanya di ulas dan dibahas cukup dalam
> > beberapa menit saja dan
> > semua orang tahu bahwa "METTA & KARUNA" itu hanya
> > ada didalam buku "PARITTA
> > SUCI" berwarna biru yang diterbitkan oleh Yayasan
> > Dhammadipa Arama atau STI.
> > Tidak lebih dari itu. Semoga dalam beberapa hari
> > kedepan muncul sebuah agama
> > baru sehingga saya dapat memilih dan mencobanya
> > sehingga saya tidak
> > kesulitan ketika perpanjangan KTP pada bulan
> > September nanti.
> >
> > Salam dan hormat,
> > lowilly
>
[Non-text portions of this message have been removed]
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
SPONSORED LINKS
| Buddha | Buddhism | Buddhism religion |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "MABINDO" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
