Konsep Takdir
Latar belakang
Masih segar dalam ingatan kita, pada tanggal 26 Desember 2004 bencana alam
berupa gempa bumi dan tsunami melanda Aceh dan menelan banyak korban. Ada
empat pandangan umum yang beredar di masyarakat dalam usahanya menjelaskan
fenomena bencana alam tersebut:
1. Tuhan sedang memberikan hukuman, peringatan, atau teguran kepada
umat manusia karena telah berbuat banyak dosa;
2. Tuhan sedang memberikan cobaan dan menguji keimanan manusia
terhadap-Nya;
3. Tuhan ingin menunjukkan keperkasaan-Nya dan ketakberdayaan manusia;
4. Tuhan ingin hamba-Nya untuk bertobat dan lebih bertakwa kepada-Nya.
Menurut Buddhis, sehubungan dengan alasan pertama, apabila Tuhan sedang
memberikan teguran atau peringatan karena umat manusia berbuat dosa, lalu
mengapa harus begitu banyak korban yang jatuh? Bukankan jumlah korban yang
jauh lebih sedikit (misalnya 5.000 orang) sudah cukup untuk menyadarkan
kita semua? Mengapa anak kecil yang relatif tak berdosa harus ikut menjadi
korban? Tentu ada cara lain yang lebih baik untuk memberikan
teguran/hukuman. Seandainya Tuhan sedang memberikan semacam teguran, maka
ini berarti Tuhan mengajarkan manusia kasih sayang, tapi di sisi lain Ia
melakukan pembunuhan manusia dengan mendatangkan bencana alam di mana
banyak anak-anak yang baik juga menjadi korban.
Alasan kedua berhubungan dengan masalah pengujian keimanan. Jika Tuhan
sedang memberikan cobaan dan menguji keimanan kita, berarti Tuhan masih
"coba-coba" dan tidak mahatahu. Jika semua anggota keluarga meninggal dalam
bencana itu, berarti tidak ada "sisa" anggota yang masih hidup yang bisa
"diuji" oleh Tuhan. Jika tidak seluruh anggota sebuah keluarga meninggal,
lalu mengapa hanya anggota keluarga tertentu yang meninggal, dan anggota
keluarga lainnya yang diuji keimanannya? Kriteria apa yang digunakan oleh
Tuhan dalam menentukan siapa yang meninggal �C derajat kejahatan atau random
selection?
Mengenai alasan ketiga, bila Tuhan ingin menunjukkan keperkasaan-Nya,
berarti Tuhan masih mempunyai sifat duniawi yang ingin memperlihatkan
eksistensi-Nya dan ingin dipuja, dan memberi kesan seakan-akan Dia-lah yang
"big bos" kita. Apakah semua orang yang meninggal itu tidak tahu bahwa yang
"big bos" itu Tuhan?
Pandangan keempat menyatakan bahwa Tuhan ingin kita bertobat dan lebih
bertakwa kepada-Nya, tapi bukankah ada cara lain yang lebih manusiawi?
Mengapa Tuhan tidak memprogramkan otak manusia sejak lahir di dunia menjadi
bertakwa kepada-Nya sehingga tidak usah harus menghukum kita dengan cara
yang begitu dramatis?
Pada tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi di sekitar daerah Yogja yang
menelan korban jiwa di atas 5.000 orang. Setelah kejadian itu, beredarlah
sms di seluruh indonesia tentang kaitan antara bencana alam dengan Tuhan.
Sms tersebut berbunyi sebagai berikut:
Sadarkah kita akan kuasa Allah? Tsunami Aceh sehari sesudah NATAL, gempa
bumi di Nias sehari sesudah Paskah, dan gempa di Jogya / Jawa Tengah
sehari sesudah peringatan kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Kabarkanlah
fenomena yang luar biasa ini ke seluruh penjuru negeri, katakan bahwa
bertobatlah kamu karena kerajaan Surga telah dekat.
Bunyi sms tersebut mengaitkan bencana alam dengan perayaan hari-hari besar
agama Kristen. Masalah dari logika tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sistem penanggalan kalendar dan hari-hari besar agama Kristen
merupakan kesepakatan konvensional yang ditetapkan oleh umat manusia.
Lalu apakah Tuhan mengikuti aturan dan kaidah-kaidah manusia? Suatu
ironi.
2. Banyak bencana alam di dunia jatuh pada hari-hari biasa di luar hari
besar Kristen;
3. Seandainya bencana alam dikaitkan dengan perayaan hari besar agama
Kristen, maka agama Kristen justru membawa mudarat dan bencana bagi
kemanusiaan. Seharusnya sehari sebelum dan setelah hari besar agama
memberikan faedah dan kesejukan bagi seluruh kemanusiaan. Dalam
Alkitab sering kita baca di mana setelah diadakan doa-doa dan
puji-pujian terhadap Tuhan, murka Tuhan langsung reda. Lalu kenapa
setelah melakukan doa-doa dan puji-pujian di hari besar agama
Kristen, sehari kemudian Tuhan murka lagi?
4. Seandainya perayaan hari besar agama Kristen merupakan biang
keladinya, maka untuk menghindari bencana alam berikutnya adalah
relatif sederhana, karena cukup menghentikan perayaan hari besar
agama Kristen.
5. Seandainya Tuhan ingin manusia bertobat dengan cara menciptakan
bencana alam, maka Tuhan bukan saja lebih jahat daripada seorang
monster karena membunuh anak-anak kecil dan perempuan, tapi juga
tidak mendidik manusia karena masih banyak orang jahat yang tak
terbunuh, sementara anak kecil dan perempuan telah meninggal.
Pandangan Buddhis
Menurut agama Buddha, bencana alam merupakan manifestasi dari energi
negatif perbuatan kolektif yang dilakukan oleh sebagian umat manusia, tanpa
memerlukan intervensi suatu makhluk adikodrati yang merancang atau
menghendaki terjadinya bencana alam.
Untuk memahami konsep takdir ditinjau dari Buddhisme kita perlu
membicarakan mengenai Hukum Tatanan Kosmos dan karma. Walaupun agama Buddha
mengajarkan bahwa karma adalah penyebab utama ketidaksamaan di dunia, ia
tidak mengajarkan fatalisme atau doktrin predestinasi (takdir yang telah
ditentukan), karena tidak segala hal disebabkan oleh tindakan-tindakan
lampau semata. Dalam kitab Abhidhamma dikenal adanya lima jenis hukum
kosmos:
1. Utu Niyama: hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganik, seperti
tata surya, cuaca, angin dan hujan. Tatanan musim, sifat kepanasan,
perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok
ini.
2. Bija Niyama: hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam
organik, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu
atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen
dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
3. Kamma Niyama: hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.,
4. Dhamma Niyama: hukum kodrat menyangkut tatanan fenomena di luar
niyama lain, seperti gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.
5. Citta Niyama: hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan
pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran,
komponen dari kesadaran, kekuatan pikiran, dll. Telepati, kemampuan
membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain
yang tidak bisa dijelaskan dalam sains modern, termasuk dalam kelompok
ini.
Kelima niyama tersebut sebenarnya tidak terpisahkan satu sama lain. Lima
niyama itu secara integratif menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu
kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Istilah yang
diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut di atas adalah
interdependensi.
Interdependensi antara satu niyama dengan niyama lainnya terjalin
secara kontinu atau sinambung terus menerus dan dinamis. Sebagai contoh,
dalam interdependensi Utu Niyama dengan Kamma Niyama, maka segala apa yang
kita lakukan (kamma niyama) juga akan mempengaruhi iklim dunia (utu niyama)
�C misalnya, jika energi karma negatif yang dihasilkan dari akumulasi
keserakahan umat manusia telah mencapai titik tertentu, maka akan terjadi
gangguan pada alam atau ekosistim yang dapat berupa: musim hujan tak datang
pada waktunya; musim kering terlalu panjang, disusul dengan badai hujan
yang terlalu ekstrim, dan bencana-bencana lainnya.
Kini kita akan membahas interdependensi antara Bija niyama dengan
kamma niyama. Sebagai contoh, energi negatif yang dihasilkan dari
pembantaian binatang secara terus menerus (kamma niyama) bisa mencapai
titik tertentu yang mengaktivasikan munculnya wabah penyakit baru.
Munculnya penyakit baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan
kuman baru (bija niyama). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat
bagi penyakit baru itu, muncul kuman baru yang lebih ganas. Siklus ini
tidak akan pernah berakhir selama kita masih mengonsumsi binatang dalam
skala yang luar biasa. Industri pemotongan hewan merupakan salah satu
penyebab utama dari hal ini. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa
banyak penyakit yang timbul sebagai akibat mengonsumsi daging berbagai
jenis hewan. Wujud lain dari interdependensi tersebut adalah pengaruh karma
manusia pada kualitas, jumlah spesies, proses pembuahan, dan kesuburan dari
aneka flora yang tumbuh di bumi.
Interdependensi antara dhamma niyama dengan kamma niyama terwujud dari
kaitan yang erat antara gerakan benda-benda di kosmos dengan karma kolektif
makhluk, misalnya ada meteor yang jatuh di suatu lokasi dan menewaskan
banyak penduduk setempat. Interaksi antara kedua hal ini yang menyebabkan
mengapa meteor itu jatuh di tempat tersebut dan tidak tempat lain. Selain
mengapa hanya orang-orang itu saja yang tewas, sementara yang lainnya
selamat.
Contoh interdependensi antara citta niyama dengan kamma niyama adalah
seorang yang melakukan pemurnian pikiran melalui sila dan samadhi akan
mendapatkan kekuatan batin, bisa membaca pikiran orang lain, dll. Dari
kelima niyama tersebut di atas, kita hanya akan membahas kamma-niyama di
sini. Pembahasan tentang karma sebenarnya sangat rumit dan kompleks, yang
membutuhkan ruang dan waktu yang tidak sedikit. Oleh karenanya, di sini
kita tidak akan membahasnya secara terperinci.
(i) Karma
Konsep karma sebelum Buddha telah ada di masyarakat India, yang secara
literal berarti tindakan atau perbuatan. Namun di dalam agama Buddha, karma
mempunyai dimensi "kehendak" atau "motivasi". Buddhisme mengajarkan bahwa
apa yang kita alami saat ini berasal dari tindakan kita sebelumnya,
terutama tindakan yang dipelopori oleh kehendak. Jadi segala tindakan yang
kita lakukan, baik oleh pikiran, ucapan, maupun tubuh, bila didukung dengan
kondisi-kondisi yang tepat, pasti akan membuahkan hasil, di mana hasilnya
dapat dikategorikan menjadi baik, netral, dan buruk. Segala perbuatan buruk
akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang buruk bagi kita, sebaliknya
segenap tindakan yang baik, juga akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang
baik bagi kita. Hal ini dirumuskan secara gamblang dalam Samyutta Nikaya
I.227:
Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya.[1]
[1] Sesungguhnya di Alkitab ada suatu ayat yang bunyinya mirip dengan hal
itu sebagaimana yang tercantum dalam Gal. 6:7: "Karena apa yang ditabur
orang, itu juga yang akan dituainya." Namun karena segala sesuatu terjadi
atas otoritas Allah, maka tindakan yang ditabur orang itu adalah juga atas
izin Allah. Jika demikian maka konsepnya jelas sangat berbeda dengan hukum
karma Buddhis.
Agar suatu tindakan dapat membuahkan hasil, maka salah satu faktor
pentingnya adalah kehendak atau motivasi. Suatu perbuatan yang tidak
disertai kehendak, misalnya karena ketidak-sengajaan, tidak akan membuahkan
apa-apa. Buddhisme juga mengajarkan bahwa tindakan kita pada masa sekarang
akan membuahkan hasil pada masa mendatang.
Formulasi umum untuk menunjukkan kaitan antara sebab dan akibat
dijabarkan sebagai berikut:
Sebab-musabab + kondisi-kondisi penunjang ?/SPAN> akibat
(benih karma) (buah karma)
Dengan demikian, Buddhisme mengajarkan bahwa takdir ditentukan oleh diri
kita sendiri. Takdir ini bukan sesuatu yang tidak dapat diubah, karena di
bagian atas telah disebutkan bahwa apa yang kita lakukan pada masa
sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Oleh karena itu karma tidak
bersifat statis ataupun fatalistik, melainkan dinamis. Sebagai contoh,
apabila kondisi kehidupan kita sekarang buruk, maka dengan melakukan banyak
kebajikan, efek buruk tersebut dapat dinetralisir atau dikurangi efeknya.
Analogi mengenai hal ini adalah garam (karma buruk) di dalam air (karma
baik). Jika airnya kita tambah terus, maka rasa asinnya akan semakin
berkurang. Sebaliknya apabila garamnya ditambah terus, maka rasa asinnya
akan semakin bertambah. Jadi karma ini sepenuhnya ditentukan oleh diri kita
sendiri dan bukannya oleh suatu makhluk adikuasa.
Konsekuensi dari konsep karma ini adalah penolakan Buddhisme terhadap teori
predeterminasi atau predestinasi, yang menimbulkan paham fatalisme. Buddha
dengan tegas menyatakan di dalam Anguttara Nikaya I.158, bahwa seandainya
paham fatalisme ini benar, maka seseorang yang menjadi pembunuh, pencuri,
penjahat, orang tidak bermoral, dan lain sebagainya, tidak bertanggung
jawab atas perbuatannya. Selain itu, tidak ada gunanya untuk berusaha
menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat semacam itu. Apabila kita
sudah ditakdirkan untuk menjadi penjahat, maka apakah yang dapat kita
perbuat?
Satu hal lagi yang perlu diketahui adalah mengenai berbuahnya karma. Karma
hanya dapat berbuah oleh karena hadirnya secara lengkap beberapa
unsur-unsur yang mendukungnya. Jadi sebuah benih karma tidak selalu berbuah
menjadi akibat, karena bila unsur pendukung berupa kondisi-kondisi tidak
ada, maka benih karma (musabab) tidak bisa berbuah menjadi akibat. Karma
yang tidak melahirkan buah karma disebut dengan ahosi-kamma, yaitu karma
yang tidak efektif.
Salah satu kritikan utama terhadap konsep karma adalah pertanyaan mengapa
ada orang jahat yang mengalami kebahagiaan, sedangkan sebaliknya ada orang
baik yang menderita. Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mempelajari
terlebih dahulu mengenai jenis-jenis karma. Berdasarkan waktu berbuahnya
karma, Buddhisme membagi karma menjadi tiga: karma yang berbuah pada
kehidupan ini juga (dittha-dhamma-vedaniya-kamma), karma yang berbuah
langsung pada kelahiran berikutnya (upapajja-vedaniya-kamma), dan karma
yang berbuah pada kelahiran-kelahiran selanjutnya (
aparapariya-vedaniya-kamma). Mengapa karma ini dapat berbuah pada waktu
yang berbeda-beda? Hal ini disebabkan oleh berat dan ringannya kekuatan
karma yang bersangkutan. Karma yang berat (garukakamma) dan sering
dilakukan (bahulakamma) misalnya akan berbuah lebih cepat dibandingkan
dengan karma ringan atau yang jarang dilakukan. Garukakamma terdiri atas
lima karma buruk yang memberikan akibat langsung:
1. membunuh ayah
2. membunuh ibu
3. membunuh seorang Arhat
4. melukai tubuh seorang Buddha hingga berdarah
5. memecah belah sangha.
Ini adalah bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam
keadaan apa pun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nibbana (AN
.III.146).
Ada juga orang yang berbuat jahat di kehidupan sekarang namun belum menuai
buah dari kejahatannya; hal itu disebabkan kekuatan karma baik yang dipupuk
di kehidupan lampau telah berbuah di kehidupan sekarang dan kebetulan lebih
kuat daripada karma perbuatannya sekarang.
Karma juga dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis berdasarkan
fungsinya. Ada karma regeneratif (janaka) yang mengkondisikan kelahiran di
masa mendatang. Ada karma penyokong (upattham-bhaka) yang membantu atau
mempertahankan buah karma yang telah eksis. Ada karma kontra-aktif (
upapidaka) yang menekan, menetralkan, atau mengubah buah karma yang telah
matang. Ada karma destruktif (upaghataka) yang menghancurkan kekuatan karma
yang sedang eksis dan menggantikannya dengan buah karmanya sendiri.
Ada juga klasifikasi karma menurut prioritas matangnya buah karma. Ada
karma yang berat (garuka) yang langsung berbuah di kehidupan sekarang atau
di kehidupan berikutnya. Prioritas kedua adalah karma yang dilakukan, baik
secara fisik maupun mental, menjelang kematian (asanna). Dalam konteks ini,
pemikiran yang baik tanpa adanya kemelekatan atau kebencian sangat
diperlukan menjelang kematian seseorang. Asannakamma sangat menentukan
kondisi-kondisi kelahiran berikutnya, bila garukakamma tidak ada. Prioritas
ketiga adalah karma kebiasaan (acinna), tindakan yang sering dilakukan di
kehidupan sehari-hari. Bila garukakamma dan asannakamma tidak ada, maka
acinnakamma yang menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya. Prioritas
terendah adalah karma residual (katatta), karma-karma sisa utama yang belum
dihabiskan.
Ada juga klasifikasi karma berdasarkan jumlah makhluk yang mengalami
dampaknya. Karma yang memberikan dampak pada satu individu disebut karma
individu; karma yang memberikan dampak pada satu kelompok makhluk disebut
karma kolektif. Karma kolektif juga disebut karma umum, contohnya antara
lain bencana alam, kemarau panjang, kelaparan, malapetaka buatan manusia,
dan kecelakaan pesawat. Salah satu implikasi dari hukum kolektif adalah
bahwa bencana alam yang menewaskan banyak orang sekaligus lebih jarang
terjadi dibandingkan dengan bencana alam yang melibatkan lebih sedikit
orang, karena diperlukan kondisi-kondisi yang tepat untuk mencocokkan dan
menyelaraskan masing-masing karma individu sehingga bisa berkumpul di
lokasi dan waktu yang sama ketika terjadi bencana. Demikian pula,
kecelakaan yang melibatkan pesawat berbadan lebar lebih jarang terjadi
dibandingkan dengan kecelakaan yang melibatkan pesawat kecil atau mobil
atau sepeda motor, karena pesawat besar biasanya memuat banyak penumpang.
Dalam pengertian yang lebih luas, kita juga semuanya berbagi karma kolektif
yang sama karena kita semuanya hidup dalam dimensi ruang dan waktu yang
sama.
Menurut Buddhisme, matangnya buah karma seseorang dipengaruhi oleh
kondisi-kondisi yang banyak dan kompeks, termasuk ditentukan oleh korelasi
antar karma individu dengan karma kolektif, sehingga perbuatan tidak selalu
berkorelasi langsung dengan akibat di kehidupan sekarang. Ini menyebabkan
munculnya skeptisme atas bekerjanya hukum karma. Seperti yang dikatakan
dalam Dhp. 119-120:
Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan
jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya hal
yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak; tetapi bilamana
hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang
baik.
Sepuluh tindakan amoral dan akibatnya
Menurut naskah-naskah Buddhis, akar dari tindakan amoral adalah keserakahan
(lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Dari ketiga akar ini
muncullah aneka penderitaan dan kejahatan di dunia. Semua tindakan manusia
yang jahat, baik dari pikiran, ucapan, maupun badan, berasal dari tiga akar
tersebut, yang biasanya dikelompokkan dalam sepuluh tindakan amoral, yaitu
a. tiga dari badan: membunuh makhluk apa pun, mencuri,
berzinah;
b. empat dari ucapan: berbohong, fitnah/adu domba, berkata
kasar, gosip;
c. tiga dari pikiran: tamak, benci, pandangan sesat.
Setiap tindakan amoral berkorelasi dengan akibat karma tertentu. Sebagai
contoh, menurut MN.135, seorang pria atau wanita yang membunuh makhluk
hidup, bersikap kejam dan gemar memukul dan membunuh, tanpa memiliki belas
kasihan kepada makhluk hidup, maka akibat dari perbuatan yang dilakukannya
itu, dapat membawanya ke alam yang rendah, yang penuh dengan kesedihan dan
penderitaan. Apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, … umurnya tidak
akan panjang.
Sepuluh tindakan amoral dan akibatnya dijelaskan dalam tabel di bawah ini:
Kamma yang | Kondisi-kondisi yang | Buah Kamma
dilakukan | diperlukan kehadirannya |
------------------+---------------------------+--------------------------
Membunuh |1. seorang makhluk; 2. tahu|Pendek umur,
|adanya makhluk; 3. niat; 4.|sakit-sakitan, selalu
|usaha; 4. terjadi kematian |sedih krn berpisah dengan
| |orang yang dicintai, dan
| |ketakutan selalu.
------------------+---------------------------+--------------------------
Mencuri |1. harta benda orang lain;|Kemiskinan, sial, malang,
|2. tahu adanya harta orang|keinginan yang tak
|lain; 3. kehendak; 4.|tercapai, dan
|terjadi pengambilan |ketergantungan pada orang
| |lain.
------------------+---------------------------+--------------------------
Berzinah |1. niat untuk menikmati|Mendapatkan pasangan hidup
|obyek terlarang; 2. usaha;|yang tak diinginkan,
|3. terjadi kontak |mempunyai banyak musuh,
| |organ seks ada masalah,
| |menjadi waria / banci.
------------------+---------------------------+--------------------------
Berbohong |1. ketidakbenaran; 2. niat|Disiksa oleh ucapan kasar
|untuk menipu; 3. usaha; 4.|dari orang lain, selalu
|terjadi komunikasi |dicemarkan nama baik, tak
| |dipercaya orang, dan bau
| |mulut.
------------------+---------------------------+--------------------------
Fitnah/mencelaatau|1. keretakan hubungan; 2.|Selalu diputus hubungan
mengadu domba |niat untuk memisahkan; 3.|secara sepihak tanpa
|usaha; 4. komunikasi |alasan yang jelas.
------------------+---------------------------+--------------------------
Kata kasar/|1. ada orang yang dimaki;|Dibenci orang lain kendati
menghina |2. pikiran marah; 3.|tak salah; suara kasar.
|menggunakan kata kasar |
------------------+---------------------------+--------------------------
Gosip / ucapan tak|1. kecondongan untuk bicara|Organ tubuh tidak selaras;
karuan |terus yang tak berguna; 2.|ucapan tak lancar dan
|narasi |tidak enak didengar.
------------------+---------------------------+--------------------------
Tamak |1. barang orang lain; 2.|Keinginan yang selalu tak
|keinginan besar untuk|tercapai.
|memilikinya |
------------------+---------------------------+--------------------------
Benci |1. makhluk lain; 2. niat|Jelek rupa, aneka
|untuk mencelakai orang lain|penyakit, dan sifat yang
| |menjijikkan orang lain.
------------------+---------------------------+--------------------------
Pandangan sesat |1. cara yang menyimpang|Kemelekatan pada objyek
|dalam hal sebuah objek|yang cendala atau hina
|dipandang; 2.|(tak bermutu), kurang
|kesalah-pahaman terhadap|arif, kurang pintar,
|objek itu sesuai dengan|penyakit kronis, dan
|pandangan itu. |gagasannya yang selalu
| |dikritik orang lain.
Sepuluh karma baik dan akibatnya
Kebalikan dari sepuluh tindakan amoral adalah sepuluh tindakan moral. Di
samping itu, ada istilah Sepuluh Karma Baik yang mencakup sepuluh tindakan
moral dan perbuatan bajik lainnya. Sepuluh Karma Baik dan akibatnya
dirangkum dalam tabel di bawah ini:
Kamma | Akibat Kamma
-------------------------------+-----------------------------------------
Berdana |
a. materi |a. kekayaan materi
b. memberikan keberanian,|
rasa nyaman, dan hiburan|b. banyak teman dan jodoh afinitas
bagi orang yang terguncang |
c. memberikan nasehat dan|c. mempunyai pengaruh kuat di
saran |lingkungannya
-------------------------------+-----------------------------------------
Moralitas (sila) |Lahir di keluarga terhormat yang
|berbahagia
-------------------------------+-----------------------------------------
Meditasi (bhavana) |Membantu terlahir di alam berwujud dan
|tak berwujud
-------------------------------+-----------------------------------------
Rasa hormat (apacayana) |Dihormati selalu
-------------------------------+-----------------------------------------
Pelayanan (veyyavacca) |Mendapat pembantu, supir, asisten yang
|loyal dan teman yang setia
-------------------------------+-----------------------------------------
Pemindahan berkah (pattidana) |Berkemampuan memberi secara
|berlimpah-limpah pada kehidupan
|berikutnya
-------------------------------+-----------------------------------------
Gembira atas berkah yang|Selalu berbahagia di keluarga mana pun
diperoleh orang lain (|dia dilahirkan
pattanumodana) |
-------------------------------+-----------------------------------------
Menyimak doktrin (dhammasavana)|Arif, pintar, dan berpengetahuan luas
-------------------------------+-----------------------------------------
Membabar doktrin (dhammadesana)|Arif, pintar, dan berpengetahuan luas
-------------------------------+-----------------------------------------
Membentuk pandangan yang benar|Arif dan pintar
(ditthijukamma) |
Korelasi antara energi karma dengan bencana alam
Menurut Buddhisme, perbuatan negatif serupa yang dilakukan banyak orang
dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi akan menghasilkan karma kolektif
yang cukup kuat untuk menghasilkan bencana alam. Energi karma memicu
aktivasi salah satu dari empat unsur: tanah, air, api, dan angin,
tergantung jenis karma kolektif yang dilakukan. Kebencian, kemarahan, dan
seks yang berlebihan berkaitan dengan unsur api yang bersifat panas. Nafsu
keinginan, keserakahan, dan kemelekatan berkaitan dengan unsur air yang
bersifat menggapai �C itulah sebabnya ada cairan di mulut saat memikirkan
makanan lezat, cairan di organ seks saat memikirkan lawan jenis, cairan di
mata saat memikirkan peristiwa yang penuh nostalgia. Energi pikiran yang
dilahirkan dari keangkuhan, penindasan dan perlakuan semena-mena, berkaitan
dengan unsur padat yang bersifat menghantam, menubruk, menabrak. Dalam
tindakan penindasan, bila terdapat juga unsur ketidakadilan yang sangat
dominan, maka akan mengaktivasikan energi gesekan yang menyebabkan gempa
bumi. Energi pikiran dari pandangan keliru bertolak belakang dengan
realitas fenomena yang sesungguhnya, sehingga terjadi aktivitas "gerakan",
dan karenanya berkaitan dengan unsur angin. Dari keempat unsur, unsur angin
yang terhalus, sesuai dengan energi dari pandangan terbalik yang paling
halus tak kentara.
Karma Kolektif |Unsur utama | Jenis bencana
|yang terkait|
-----------------------+------------+------------------------------------
Kebencian, kemarahan,| Api |Gunung berapi meletus, kebakaran
seks yang berlebihan | |hutan dari cuaca panas, musim
| |kemarau panjang.
-----------------------+------------+------------------------------------
Nafsu keinginan,| Air |Banjir, permukaan air laut naik
kesera-kahan, | |secara global, badai hujan, musim
kemelekatan | |hujan yang terlalu panjang, air laut
| |balik ke air sungai.
-----------------------+------------+------------------------------------
Penindasan dan| Tanah |Tubrukan, tabrakan; bila
perlakuan semena-mena | |ketidakadilan sangat dominan,
| |terjadi gesekan, sehingga
| |mengakibatkan gempa bumi.
-----------------------+------------+------------------------------------
Pandangan terbalik | Angin |Angin topan, tornedo
Interaksi dari aneka karma kolektif yang berbeda-beda menghasilkan bencana
alam yang berbeda-beda pula, sehingga ada bencana alam yang melibatkan
semua empat unsur (contoh: tabrakan dengan meteor), tiga unsur (gunung
berapi meletus; badai hujan yang menyebabkan tanah longsor), dua
unsur(gempa yang disusul tsunami), atau satu unsur (kebakaran hutan dari
musim
kemarau).
(ii) Kehendak bebas
Di atas telah diungkapkan mengenai hakekat dinamis dari karma, di mana hal
ini benar-benar menjadikan manusia sebagai penanggung jawab dirinya
sendiri. Tidak ada suatu makhluk adikuasa yang dapat campur tangan ke
dalamnya. Kita adalah pemilik dan pewaris karma kita sendiri, sebagaimana
yang tercantum dalam Majjhima Nikaya 135:
Aku adalah pemilik karmaku sendiri, pewaris karmaku sendiri, lahir dari
karmaku sendiri, berhubungan dengan karmaku sendiri, terlindung oleh
karmaku sendiri, apapun karma yang kuperbuat, baik atau buruk, itulah
yang akan kuwarisi.
Bandingkan dengan pernyataan dalam Samyutta Nikaya I,227 sebagaimana yang
sudah disebutkan di atas, jelas kita adalah arsitek bagi kehidupan kita
sendiri. Inilah pengertian utama kehendak bebas dalam agama Buddha.
Meskipun demikian, ada batasan-batasan dalam kehendak bebas itu. Ada empat
faktor yang mempengaruhi kehendak bebas, yakni: karma individu dari
kehidupan masa lampau dan sekarang, potensialitas dan kebebasan yang
inheren dalam sifat-dasar diri kita, pengkondisian dari luar, dan karma
kolektif yang telah matang. Karma individu yang berasal dari kehidupan masa
lampau dan saat ini telah jelas maknanya. Sebagai contoh adalah kondisi
seseorang pada saat ini. Apakah ia terlahir kaya atau miskin, sebagai
manusia atau bukan, pandai atau bodoh, semuanya ini mempengaruhi penggunaan
kehendak bebasnya. Potensialitas dan kebebasan yang inheren dalam sifat
dasar diri kita, maksudnya adalah tiap-tiap individu telah memiliki
kebebasan untuk memilih atau menentukan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud
dengan pengkondisian dari luar adalah kondisi lingkungan sekitar yang kita
alami, misalnya saat hujan, panas, siang, ataupun malam. Terakhir yang
dimaksud dengan karma kolektif atau kelompok adalah peristiwa yang menimpa
sekelompok orang secara bersama-sama. Sebagai contoh adalah peristiwa
kerusuhan, peperangan, atau bencana alam. Keempat hal itu mempengaruhi
kehendak bebas kita. Orang yang kaya atau pandai akan memiliki lebih banyak
pilihan dibandingkan dengan orang yang miskin atau pun bodoh. Masyarakat
yang dilanda bencana alam juga tidak memiliki banyak pilihan selain
berusaha bertahan hidup. Demikianlah sekelumit konsep kehendak bebas
menurut agama Buddha.
[Non-text portions of this message have been removed]
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
SPONSORED LINKS
| Buddha | Buddhism | Buddhism religion |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "MABINDO" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
