Konsep Takdir, oleh : Surjadi


                              Konsep Takdir

Latar belakang

Masih  segar dalam ingatan kita, pada tanggal 26 Desember 2004 bencana alam
berupa  gempa  bumi dan tsunami melanda Aceh dan menelan banyak korban. Ada
empat  pandangan umum yang beredar di masyarakat dalam usahanya menjelaskan
fenomena bencana alam tersebut:

   1.  Tuhan  sedang  memberikan  hukuman, peringatan, atau teguran kepada
   umat manusia karena telah berbuat banyak dosa;
   2.   Tuhan  sedang  memberikan  cobaan  dan  menguji  keimanan  manusia
   terhadap-Nya;
   3. Tuhan ingin menunjukkan keperkasaan-Nya dan ketakberdayaan manusia;
   4. Tuhan ingin hamba-Nya untuk bertobat dan lebih bertakwa kepada-Nya.

Menurut  Buddhis,  sehubungan  dengan  alasan pertama, apabila Tuhan sedang
memberikan  teguran  atau peringatan karena umat manusia berbuat dosa, lalu
mengapa  harus begitu banyak korban yang jatuh? Bukankan jumlah korban yang
jauh  lebih  sedikit  (misalnya  5.000 orang) sudah cukup untuk menyadarkan
kita  semua? Mengapa anak kecil yang relatif tak berdosa harus ikut menjadi
korban?   Tentu   ada   cara   lain   yang   lebih  baik  untuk  memberikan
teguran/hukuman.  Seandainya  Tuhan sedang memberikan semacam teguran, maka
ini  berarti  Tuhan  mengajarkan manusia kasih sayang, tapi di sisi lain Ia
melakukan  pembunuhan  manusia  dengan  mendatangkan  bencana  alam di mana
banyak anak-anak yang baik juga menjadi korban.
Alasan  kedua  berhubungan  dengan  masalah  pengujian keimanan. Jika Tuhan
sedang  memberikan  cobaan  dan  menguji keimanan kita, berarti Tuhan masih
"coba-coba" dan tidak mahatahu. Jika semua anggota keluarga meninggal dalam
bencana  itu,  berarti  tidak ada "sisa" anggota yang masih hidup yang bisa
"diuji"  oleh  Tuhan. Jika tidak seluruh anggota sebuah keluarga meninggal,
lalu  mengapa  hanya  anggota keluarga tertentu yang meninggal, dan anggota
keluarga  lainnya  yang diuji keimanannya? Kriteria apa yang digunakan oleh
Tuhan dalam menentukan siapa yang meninggal �C derajat kejahatan atau random
selection?
Mengenai  alasan  ketiga,  bila  Tuhan  ingin  menunjukkan keperkasaan-Nya,
berarti  Tuhan  masih  mempunyai  sifat  duniawi  yang ingin memperlihatkan
eksistensi-Nya dan ingin dipuja, dan memberi kesan seakan-akan Dia-lah yang
"big bos" kita. Apakah semua orang yang meninggal itu tidak tahu bahwa yang
"big bos" itu Tuhan?
Pandangan  keempat  menyatakan  bahwa  Tuhan  ingin kita bertobat dan lebih
bertakwa  kepada-Nya,  tapi  bukankah  ada  cara lain yang lebih manusiawi?
Mengapa Tuhan tidak memprogramkan otak manusia sejak lahir di dunia menjadi
bertakwa  kepada-Nya  sehingga  tidak usah harus menghukum kita dengan cara
yang begitu dramatis?

Pada  tanggal  27 Mei 2006, terjadi gempa bumi di sekitar daerah Yogja yang
menelan  korban  jiwa di atas 5.000 orang. Setelah kejadian itu, beredarlah
sms  di  seluruh indonesia tentang kaitan antara bencana alam dengan Tuhan.
Sms tersebut berbunyi sebagai berikut:

  Sadarkah kita akan kuasa Allah? Tsunami Aceh sehari sesudah NATAL, gempa
  bumi  di  Nias  sehari  sesudah Paskah, dan gempa di Jogya / Jawa Tengah
  sehari  sesudah  peringatan kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Kabarkanlah
  fenomena  yang  luar  biasa ini ke seluruh penjuru negeri, katakan bahwa
  bertobatlah kamu karena kerajaan Surga telah dekat.

Bunyi  sms tersebut mengaitkan bencana alam dengan perayaan hari-hari besar
agama Kristen. Masalah dari logika tersebut adalah sebagai berikut:

  1.  Sistem  penanggalan  kalendar  dan  hari-hari  besar  agama  Kristen
     merupakan kesepakatan konvensional yang ditetapkan oleh umat manusia.
     Lalu  apakah  Tuhan mengikuti aturan dan kaidah-kaidah manusia? Suatu
     ironi.
  2.  Banyak bencana alam di dunia jatuh pada hari-hari biasa di luar hari
     besar Kristen;
  3.  Seandainya  bencana  alam dikaitkan dengan perayaan hari besar agama
     Kristen,  maka  agama Kristen justru membawa mudarat dan bencana bagi
     kemanusiaan.  Seharusnya  sehari sebelum dan setelah hari besar agama
     memberikan  faedah  dan  kesejukan  bagi  seluruh  kemanusiaan. Dalam
     Alkitab  sering  kita  baca  di  mana  setelah  diadakan  doa-doa dan
     puji-pujian  terhadap  Tuhan,  murka Tuhan langsung reda. Lalu kenapa
     setelah  melakukan  doa-doa  dan  puji-pujian  di  hari  besar  agama
     Kristen, sehari kemudian Tuhan murka lagi?
  4.   Seandainya  perayaan  hari  besar  agama  Kristen  merupakan  biang
     keladinya,  maka  untuk  menghindari  bencana  alam berikutnya adalah
     relatif  sederhana,  karena  cukup  menghentikan  perayaan hari besar
     agama Kristen.
  5.  Seandainya  Tuhan  ingin  manusia  bertobat  dengan cara menciptakan
     bencana  alam,  maka  Tuhan  bukan  saja lebih jahat daripada seorang
     monster  karena  membunuh  anak-anak  kecil  dan perempuan, tapi juga
     tidak  mendidik  manusia  karena  masih  banyak  orang jahat yang tak
     terbunuh, sementara anak kecil dan perempuan telah meninggal.

Pandangan Buddhis

Menurut  agama  Buddha,  bencana  alam  merupakan  manifestasi  dari energi
negatif perbuatan kolektif yang dilakukan oleh sebagian umat manusia, tanpa
memerlukan   intervensi   suatu  makhluk  adikodrati  yang  merancang  atau
menghendaki terjadinya bencana alam.

Untuk   memahami   konsep   takdir   ditinjau  dari  Buddhisme  kita  perlu
membicarakan mengenai Hukum Tatanan Kosmos dan karma. Walaupun agama Buddha
mengajarkan  bahwa  karma  adalah penyebab utama ketidaksamaan di dunia, ia
tidak  mengajarkan  fatalisme  atau doktrin predestinasi (takdir yang telah
ditentukan),  karena  tidak  segala  hal  disebabkan oleh tindakan-tindakan
lampau  semata.  Dalam  kitab  Abhidhamma  dikenal  adanya lima jenis hukum
kosmos:

   1. Utu Niyama: hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganik, seperti
   tata  surya,  cuaca,  angin  dan hujan. Tatanan musim, sifat kepanasan,
   perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok
   ini.
   2.  Bija  Niyama:  hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam
   organik,  seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu
   atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen
   dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
   3. Kamma Niyama: hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.,
   4.  Dhamma  Niyama:  hukum  kodrat  menyangkut tatanan fenomena di luar
   niyama lain, seperti gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.
   5.  Citta  Niyama:  hukum  keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan
   pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran,
   komponen  dari  kesadaran,  kekuatan  pikiran, dll. Telepati, kemampuan
   membaca  pikiran  orang  lain,  kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain
   yang  tidak bisa dijelaskan dalam sains modern, termasuk dalam kelompok
   ini.

Kelima  niyama  tersebut  sebenarnya tidak terpisahkan satu sama lain. Lima
niyama  itu secara integratif menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu
kesatuan,  terkait  dan saling bergantungan satu sama lainnya. Istilah yang
diberikan    untuk   menunjuk   keterkaitan   tersebut   di   atas   adalah
interdependensi.
    Interdependensi  antara  satu  niyama  dengan  niyama lainnya terjalin
secara  kontinu  atau  sinambung terus menerus dan dinamis. Sebagai contoh,
dalam  interdependensi Utu Niyama dengan Kamma Niyama, maka segala apa yang
kita lakukan (kamma niyama) juga akan mempengaruhi iklim dunia (utu niyama)
�C  misalnya,  jika  energi  karma  negatif  yang  dihasilkan dari akumulasi
keserakahan  umat  manusia telah mencapai titik tertentu, maka akan terjadi
gangguan pada alam atau ekosistim yang dapat berupa: musim hujan tak datang
pada  waktunya;  musim  kering  terlalu panjang, disusul dengan badai hujan
yang terlalu ekstrim, dan bencana-bencana lainnya.
    Kini  kita  akan  membahas  interdependensi  antara Bija niyama dengan
kamma   niyama.   Sebagai  contoh,  energi  negatif  yang  dihasilkan  dari
pembantaian  binatang  secara  terus  menerus  (kamma niyama) bisa mencapai
titik   tertentu   yang  mengaktivasikan  munculnya  wabah  penyakit  baru.
Munculnya  penyakit  baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan
kuman  baru  (bija  niyama). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat
bagi  penyakit  baru  itu,  muncul  kuman baru yang lebih ganas. Siklus ini
tidak  akan  pernah  berakhir  selama kita masih mengonsumsi binatang dalam
skala  yang  luar  biasa.  Industri  pemotongan  hewan merupakan salah satu
penyebab  utama  dari  hal  ini.  Ilmu  kedokteran modern membuktikan bahwa
banyak  penyakit  yang  timbul  sebagai  akibat mengonsumsi daging berbagai
jenis hewan. Wujud lain dari interdependensi tersebut adalah pengaruh karma
manusia pada kualitas, jumlah spesies, proses pembuahan, dan kesuburan dari
aneka flora yang tumbuh di bumi.
  Interdependensi  antara  dhamma niyama dengan kamma niyama terwujud dari
kaitan yang erat antara gerakan benda-benda di kosmos dengan karma kolektif
makhluk,  misalnya  ada  meteor  yang  jatuh di suatu lokasi dan menewaskan
banyak  penduduk  setempat. Interaksi antara kedua hal ini yang menyebabkan
mengapa  meteor  itu jatuh di tempat tersebut dan tidak tempat lain. Selain
mengapa  hanya  orang-orang  itu  saja  yang  tewas, sementara yang lainnya
selamat.
  Contoh  interdependensi  antara  citta niyama dengan kamma niyama adalah
seorang  yang  melakukan  pemurnian  pikiran  melalui sila dan samadhi akan
mendapatkan  kekuatan  batin,  bisa  membaca  pikiran orang lain, dll. Dari
kelima  niyama  tersebut  di atas, kita hanya akan membahas kamma-niyama di
sini.  Pembahasan  tentang karma sebenarnya sangat rumit dan kompleks, yang
membutuhkan  ruang  dan  waktu  yang tidak sedikit. Oleh karenanya, di sini
kita tidak akan membahasnya secara terperinci.

(i) Karma

Konsep  karma  sebelum  Buddha  telah  ada di masyarakat India, yang secara
literal berarti tindakan atau perbuatan. Namun di dalam agama Buddha, karma
mempunyai  dimensi  "kehendak" atau "motivasi". Buddhisme mengajarkan bahwa
apa  yang  kita  alami  saat  ini  berasal  dari  tindakan kita sebelumnya,
terutama  tindakan yang dipelopori oleh kehendak. Jadi segala tindakan yang
kita lakukan, baik oleh pikiran, ucapan, maupun tubuh, bila didukung dengan
kondisi-kondisi  yang  tepat, pasti akan membuahkan hasil, di mana hasilnya
dapat dikategorikan menjadi baik, netral, dan buruk. Segala perbuatan buruk
akan  mengakibatkan  terjadinya  sesuatu  yang  buruk bagi kita, sebaliknya
segenap tindakan yang baik, juga akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang
baik  bagi  kita.  Hal ini dirumuskan secara gamblang dalam Samyutta Nikaya
I.227:

Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya.[1]




[1]  Sesungguhnya  di Alkitab ada suatu ayat yang bunyinya mirip dengan hal
itu  sebagaimana  yang  tercantum  dalam Gal. 6:7: "Karena apa yang ditabur
orang,  itu  juga yang akan dituainya." Namun karena segala sesuatu terjadi
atas  otoritas Allah, maka tindakan yang ditabur orang itu adalah juga atas
izin  Allah. Jika demikian maka konsepnya jelas sangat berbeda dengan hukum
karma Buddhis.


Agar  suatu  tindakan  dapat  membuahkan  hasil,  maka  salah  satu  faktor
pentingnya  adalah  kehendak  atau  motivasi.  Suatu  perbuatan  yang tidak
disertai kehendak, misalnya karena ketidak-sengajaan, tidak akan membuahkan
apa-apa.  Buddhisme juga mengajarkan bahwa tindakan kita pada masa sekarang
akan membuahkan hasil pada masa mendatang.
    Formulasi  umum  untuk  menunjukkan  kaitan  antara  sebab  dan akibat
dijabarkan sebagai berikut:

         Sebab-musabab  + kondisi-kondisi penunjang ?/SPAN> akibat
        (benih karma)                                      (buah karma)

Dengan  demikian,  Buddhisme  mengajarkan bahwa takdir ditentukan oleh diri
kita  sendiri.  Takdir ini bukan sesuatu yang tidak dapat diubah, karena di
bagian  atas  telah  disebutkan  bahwa  apa  yang  kita  lakukan  pada masa
sekarang,  dapat  menentukan  masa  depan kita. Oleh karena itu karma tidak
bersifat  statis  ataupun  fatalistik,  melainkan  dinamis. Sebagai contoh,
apabila kondisi kehidupan kita sekarang buruk, maka dengan melakukan banyak
kebajikan,  efek  buruk tersebut dapat dinetralisir atau dikurangi efeknya.
Analogi  mengenai  hal  ini  adalah garam (karma buruk) di dalam air (karma
baik).  Jika  airnya  kita  tambah  terus,  maka  rasa asinnya akan semakin
berkurang.  Sebaliknya  apabila  garamnya ditambah terus, maka rasa asinnya
akan semakin bertambah. Jadi karma ini sepenuhnya ditentukan oleh diri kita
sendiri dan bukannya oleh suatu makhluk adikuasa.
Konsekuensi dari konsep karma ini adalah penolakan Buddhisme terhadap teori
predeterminasi  atau predestinasi, yang menimbulkan paham fatalisme. Buddha
dengan  tegas  menyatakan di dalam Anguttara Nikaya I.158, bahwa seandainya
paham  fatalisme  ini benar, maka seseorang yang menjadi pembunuh, pencuri,
penjahat,  orang  tidak  bermoral,  dan  lain sebagainya, tidak bertanggung
jawab  atas  perbuatannya.  Selain  itu,  tidak  ada gunanya untuk berusaha
menjauhkan  diri  dari  perbuatan-perbuatan jahat semacam itu. Apabila kita
sudah  ditakdirkan  untuk  menjadi  penjahat,  maka  apakah yang dapat kita
perbuat?
Satu  hal lagi yang perlu diketahui adalah mengenai berbuahnya karma. Karma
hanya   dapat   berbuah   oleh  karena  hadirnya  secara  lengkap  beberapa
unsur-unsur yang mendukungnya. Jadi sebuah benih karma tidak selalu berbuah
menjadi  akibat,  karena  bila unsur pendukung berupa kondisi-kondisi tidak
ada,  maka  benih  karma (musabab) tidak bisa berbuah menjadi akibat. Karma
yang  tidak  melahirkan  buah karma disebut dengan ahosi-kamma, yaitu karma
yang tidak efektif.
Salah  satu  kritikan utama terhadap konsep karma adalah pertanyaan mengapa
ada  orang jahat yang mengalami kebahagiaan, sedangkan sebaliknya ada orang
baik  yang  menderita. Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mempelajari
terlebih  dahulu  mengenai  jenis-jenis karma. Berdasarkan waktu berbuahnya
karma,  Buddhisme  membagi  karma  menjadi  tiga:  karma  yang berbuah pada
kehidupan  ini  juga  (dittha-dhamma-vedaniya-kamma),  karma  yang  berbuah
langsung  pada  kelahiran  berikutnya  (upapajja-vedaniya-kamma), dan karma
yang      berbuah      pada      kelahiran-kelahiran      selanjutnya     (
aparapariya-vedaniya-kamma).  Mengapa  karma  ini  dapat berbuah pada waktu
yang  berbeda-beda?  Hal  ini  disebabkan oleh berat dan ringannya kekuatan
karma   yang  bersangkutan.  Karma  yang  berat  (garukakamma)  dan  sering
dilakukan  (bahulakamma)  misalnya  akan  berbuah  lebih cepat dibandingkan
dengan  karma  ringan  atau yang jarang dilakukan. Garukakamma terdiri atas
lima karma buruk yang memberikan akibat langsung:

  1. membunuh ayah
  2. membunuh ibu
  3. membunuh seorang Arhat
  4. melukai tubuh seorang Buddha hingga berdarah
  5. memecah belah sangha.

Ini adalah bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam
keadaan  apa  pun.  Ini  akan  menghalangi  seseorang  mencapai Nibbana (AN
.III.146).
Ada  juga orang yang berbuat jahat di kehidupan sekarang namun belum menuai
buah dari kejahatannya; hal itu disebabkan kekuatan karma baik yang dipupuk
di kehidupan lampau telah berbuah di kehidupan sekarang dan kebetulan lebih
kuat daripada karma perbuatannya sekarang.
  Karma  juga  dapat  diklasifikasikan  menjadi  empat  jenis  berdasarkan
fungsinya.  Ada karma regeneratif (janaka) yang mengkondisikan kelahiran di
masa  mendatang.  Ada  karma  penyokong (upattham-bhaka) yang membantu atau
mempertahankan  buah  karma  yang  telah  eksis.  Ada  karma kontra-aktif (
upapidaka)  yang  menekan, menetralkan, atau mengubah buah karma yang telah
matang. Ada karma destruktif (upaghataka) yang menghancurkan kekuatan karma
yang sedang eksis dan menggantikannya dengan buah karmanya sendiri.
  Ada  juga  klasifikasi karma menurut prioritas matangnya buah karma. Ada
karma  yang berat (garuka) yang langsung berbuah di kehidupan sekarang atau
di  kehidupan berikutnya. Prioritas kedua adalah karma yang dilakukan, baik
secara fisik maupun mental, menjelang kematian (asanna). Dalam konteks ini,
pemikiran   yang  baik  tanpa  adanya  kemelekatan  atau  kebencian  sangat
diperlukan  menjelang  kematian  seseorang.  Asannakamma  sangat menentukan
kondisi-kondisi kelahiran berikutnya, bila garukakamma tidak ada. Prioritas
ketiga  adalah  karma kebiasaan (acinna), tindakan yang sering dilakukan di
kehidupan  sehari-hari.  Bila  garukakamma  dan asannakamma tidak ada, maka
acinnakamma yang menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya. Prioritas
terendah adalah karma residual (katatta), karma-karma sisa utama yang belum
dihabiskan.
  Ada  juga  klasifikasi  karma  berdasarkan jumlah makhluk yang mengalami
dampaknya.  Karma  yang  memberikan dampak pada satu individu disebut karma
individu;  karma  yang memberikan dampak pada satu kelompok makhluk disebut
karma  kolektif.  Karma  kolektif juga disebut karma umum, contohnya antara
lain  bencana  alam, kemarau panjang, kelaparan, malapetaka buatan manusia,
dan  kecelakaan  pesawat.  Salah  satu implikasi dari hukum kolektif adalah
bahwa  bencana  alam  yang  menewaskan  banyak orang sekaligus lebih jarang
terjadi  dibandingkan  dengan  bencana  alam  yang melibatkan lebih sedikit
orang,  karena  diperlukan kondisi-kondisi yang tepat untuk mencocokkan dan
menyelaraskan  masing-masing  karma  individu  sehingga  bisa  berkumpul di
lokasi   dan  waktu  yang  sama  ketika  terjadi  bencana.  Demikian  pula,
kecelakaan  yang  melibatkan  pesawat  berbadan  lebar lebih jarang terjadi
dibandingkan  dengan  kecelakaan  yang  melibatkan pesawat kecil atau mobil
atau  sepeda  motor, karena pesawat besar biasanya memuat banyak penumpang.
Dalam pengertian yang lebih luas, kita juga semuanya berbagi karma kolektif
yang  sama  karena  kita  semuanya hidup dalam dimensi ruang dan waktu yang
sama.
  Menurut  Buddhisme,  matangnya  buah  karma  seseorang  dipengaruhi oleh
kondisi-kondisi  yang banyak dan kompeks, termasuk ditentukan oleh korelasi
antar karma individu dengan karma kolektif, sehingga perbuatan tidak selalu
berkorelasi  langsung  dengan akibat di kehidupan sekarang. Ini menyebabkan
munculnya  skeptisme  atas  bekerjanya  hukum karma. Seperti yang dikatakan
dalam Dhp. 119-120:

Pembuat  kejahatan  hanya  melihat  hal  yang  baik selama buah perbuatan
jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia  akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya hal
yang  buruk  selama  buah perbuatan bajiknya belum masak; tetapi bilamana
hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang
baik.


Sepuluh tindakan amoral dan akibatnya

Menurut naskah-naskah Buddhis, akar dari tindakan amoral adalah keserakahan
(lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Dari ketiga akar ini
muncullah  aneka penderitaan dan kejahatan di dunia. Semua tindakan manusia
yang jahat, baik dari pikiran, ucapan, maupun badan, berasal dari tiga akar
tersebut, yang biasanya dikelompokkan dalam sepuluh tindakan amoral, yaitu

     a.         tiga  dari  badan:  membunuh  makhluk  apa  pun,  mencuri,
     berzinah;
     b.        empat  dari  ucapan:  berbohong,  fitnah/adu domba, berkata
     kasar, gosip;
     c.       tiga dari pikiran: tamak, benci, pandangan sesat.

Setiap  tindakan  amoral  berkorelasi dengan akibat karma tertentu. Sebagai
contoh,  menurut  MN.135,  seorang  pria  atau wanita yang membunuh makhluk
hidup,  bersikap kejam dan gemar memukul dan membunuh, tanpa memiliki belas
kasihan  kepada makhluk hidup, maka akibat dari perbuatan yang dilakukannya
itu,  dapat membawanya ke alam yang rendah, yang penuh dengan kesedihan dan
penderitaan. Apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, … umurnya tidak
akan panjang.

Sepuluh tindakan amoral dan akibatnya dijelaskan dalam tabel di bawah ini:





    Kamma yang    |   Kondisi-kondisi yang    |        Buah Kamma
    dilakukan     |  diperlukan kehadirannya  |
------------------+---------------------------+--------------------------
Membunuh          |1. seorang makhluk; 2. tahu|Pendek               umur,
                  |adanya makhluk; 3. niat; 4.|sakit-sakitan,      selalu
                  |usaha; 4. terjadi kematian |sedih  krn berpisah dengan
                  |                           |orang  yang  dicintai, dan
                  |                           |ketakutan selalu.
------------------+---------------------------+--------------------------
Mencuri           |1.  harta benda orang lain;|Kemiskinan,  sial, malang,
                  |2.  tahu adanya harta orang|keinginan     yang     tak
                  |lain;   3.   kehendak;   4.|tercapai,              dan
                  |terjadi pengambilan        |ketergantungan  pada orang
                  |                           |lain.
------------------+---------------------------+--------------------------
Berzinah          |1.   niat  untuk  menikmati|Mendapatkan pasangan hidup
                  |obyek  terlarang; 2. usaha;|yang    tak    diinginkan,
                  |3. terjadi kontak          |mempunyai   banyak  musuh,
                  |                           |organ  seks  ada  masalah,
                  |                           |menjadi waria / banci.
------------------+---------------------------+--------------------------
Berbohong         |1.  ketidakbenaran; 2. niat|Disiksa  oleh ucapan kasar
                  |untuk  menipu; 3. usaha; 4.|dari  orang  lain,  selalu
                  |terjadi komunikasi         |dicemarkan  nama baik, tak
                  |                           |dipercaya  orang,  dan bau
                  |                           |mulut.
------------------+---------------------------+--------------------------
Fitnah/mencelaatau|1.  keretakan  hubungan; 2.|Selalu   diputus  hubungan
mengadu domba     |niat  untuk  memisahkan; 3.|secara    sepihak    tanpa
                  |usaha; 4. komunikasi       |alasan yang jelas.
------------------+---------------------------+--------------------------
Kata        kasar/|1.  ada  orang yang dimaki;|Dibenci orang lain kendati
menghina          |2.    pikiran   marah;   3.|tak salah; suara kasar.
                  |menggunakan kata kasar     |
------------------+---------------------------+--------------------------
Gosip / ucapan tak|1. kecondongan untuk bicara|Organ tubuh tidak selaras;
karuan            |terus  yang tak berguna; 2.|ucapan   tak   lancar  dan
                  |narasi                     |tidak enak didengar.
------------------+---------------------------+--------------------------
Tamak             |1.  barang  orang  lain; 2.|Keinginan  yang selalu tak
                  |keinginan    besar    untuk|tercapai.
                  |memilikinya                |
------------------+---------------------------+--------------------------
Benci             |1.  makhluk  lain;  2. niat|Jelek      rupa,     aneka
                  |untuk mencelakai orang lain|penyakit,  dan  sifat yang
                  |                           |menjijikkan orang lain.
------------------+---------------------------+--------------------------
Pandangan sesat   |1.   cara  yang  menyimpang|Kemelekatan   pada  objyek
                  |dalam   hal   sebuah  objek|yang   cendala  atau  hina
                  |dipandang;               2.|(tak    bermutu),   kurang
                  |kesalah-pahaman    terhadap|arif,    kurang    pintar,
                  |objek   itu  sesuai  dengan|penyakit    kronis,    dan
                  |pandangan itu.             |gagasannya   yang   selalu
                  |                           |dikritik orang lain.





Sepuluh karma baik dan akibatnya

Kebalikan  dari  sepuluh  tindakan amoral adalah sepuluh tindakan moral. Di
samping  itu, ada istilah Sepuluh Karma Baik yang mencakup sepuluh tindakan
moral  dan  perbuatan  bajik  lainnya.  Sepuluh  Karma  Baik  dan akibatnya
dirangkum dalam tabel di bawah ini:




             Kamma             |              Akibat Kamma
-------------------------------+-----------------------------------------
Berdana                        |
a. materi                     |a. kekayaan materi
   b.   memberikan  keberanian,|
   rasa   nyaman,  dan  hiburan|b. banyak teman dan jodoh afinitas
   bagi orang yang terguncang  |
c.   memberikan   nasehat  dan|c.    mempunyai    pengaruh    kuat    di
saran                         |lingkungannya
-------------------------------+-----------------------------------------
Moralitas (sila)               |Lahir    di   keluarga   terhormat   yang
                               |berbahagia
-------------------------------+-----------------------------------------
Meditasi (bhavana)             |Membantu  terlahir  di  alam berwujud dan
                               |tak berwujud
-------------------------------+-----------------------------------------
Rasa hormat (apacayana)        |Dihormati selalu
-------------------------------+-----------------------------------------
Pelayanan (veyyavacca)         |Mendapat  pembantu,  supir,  asisten yang
                               |loyal dan teman yang setia
-------------------------------+-----------------------------------------
Pemindahan berkah (pattidana)  |Berkemampuan        memberi        secara
                               |berlimpah-limpah      pada      kehidupan
                               |berikutnya
-------------------------------+-----------------------------------------
Gembira   atas   berkah    yang|Selalu  berbahagia  di  keluarga mana pun
diperoleh    orang    lain    (|dia dilahirkan
pattanumodana)                 |
-------------------------------+-----------------------------------------
Menyimak doktrin (dhammasavana)|Arif, pintar, dan berpengetahuan luas
-------------------------------+-----------------------------------------
Membabar doktrin (dhammadesana)|Arif, pintar, dan berpengetahuan luas
-------------------------------+-----------------------------------------
Membentuk pandangan  yang benar|Arif dan pintar
(ditthijukamma)                |





Korelasi antara energi karma dengan bencana alam

Menurut  Buddhisme,  perbuatan  negatif  serupa yang dilakukan banyak orang
dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi akan menghasilkan karma kolektif
yang  cukup  kuat  untuk  menghasilkan  bencana  alam.  Energi karma memicu
aktivasi  salah  satu  dari  empat  unsur:  tanah,  air,  api,  dan  angin,
tergantung  jenis  karma kolektif yang dilakukan. Kebencian, kemarahan, dan
seks  yang berlebihan berkaitan dengan unsur api yang bersifat panas. Nafsu
keinginan,  keserakahan,  dan  kemelekatan  berkaitan dengan unsur air yang
bersifat  menggapai  �C  itulah sebabnya ada cairan di mulut saat memikirkan
makanan  lezat, cairan di organ seks saat memikirkan lawan jenis, cairan di
mata  saat  memikirkan  peristiwa yang penuh nostalgia. Energi pikiran yang
dilahirkan dari keangkuhan, penindasan dan perlakuan semena-mena, berkaitan
dengan  unsur  padat  yang  bersifat  menghantam, menubruk, menabrak. Dalam
tindakan  penindasan,  bila  terdapat  juga unsur ketidakadilan yang sangat
dominan,  maka  akan  mengaktivasikan energi gesekan yang menyebabkan gempa
bumi.  Energi  pikiran  dari  pandangan  keliru  bertolak  belakang  dengan
realitas  fenomena yang sesungguhnya, sehingga terjadi aktivitas "gerakan",
dan karenanya berkaitan dengan unsur angin. Dari keempat unsur, unsur angin
yang  terhalus,  sesuai  dengan  energi dari pandangan terbalik yang paling
halus tak kentara.





    Karma Kolektif     |Unsur utama |           Jenis bencana
                       |yang terkait|
-----------------------+------------+------------------------------------
Kebencian,   kemarahan,|    Api     |Gunung   berapi  meletus,  kebakaran
seks yang berlebihan   |            |hutan   dari   cuaca   panas,  musim
                       |            |kemarau panjang.
-----------------------+------------+------------------------------------
Nafsu        keinginan,|    Air     |Banjir,   permukaan  air  laut  naik
kesera-kahan,          |            |secara  global,  badai  hujan, musim
kemelekatan            |            |hujan yang terlalu panjang, air laut
                       |            |balik ke air sungai.
-----------------------+------------+------------------------------------
Penindasan          dan|   Tanah    |Tubrukan,       tabrakan;       bila
perlakuan semena-mena  |            |ketidakadilan     sangat    dominan,
                       |            |terjadi       gesekan,      sehingga
                       |            |mengakibatkan gempa bumi.
-----------------------+------------+------------------------------------
Pandangan terbalik     |   Angin    |Angin topan, tornedo




Interaksi  dari aneka karma kolektif yang berbeda-beda menghasilkan bencana
alam  yang  berbeda-beda  pula,  sehingga  ada bencana alam yang melibatkan
semua  empat  unsur  (contoh:  tabrakan  dengan meteor), tiga unsur (gunung
berapi  meletus;  badai  hujan  yang  menyebabkan tanah longsor), dua
unsur(gempa  yang  disusul tsunami), atau satu unsur (kebakaran hutan dari
musim
kemarau).

(ii) Kehendak bebas

Di  atas telah diungkapkan mengenai hakekat dinamis dari karma, di mana hal
ini   benar-benar  menjadikan  manusia  sebagai  penanggung  jawab  dirinya
sendiri.  Tidak  ada  suatu  makhluk  adikuasa  yang dapat campur tangan ke
dalamnya.  Kita  adalah pemilik dan pewaris karma kita sendiri, sebagaimana
yang tercantum dalam Majjhima Nikaya 135:

Aku  adalah  pemilik karmaku sendiri, pewaris karmaku sendiri, lahir dari
karmaku  sendiri,  berhubungan  dengan  karmaku  sendiri, terlindung oleh
karmaku  sendiri,  apapun  karma  yang kuperbuat, baik atau buruk, itulah
yang akan kuwarisi.

Bandingkan  dengan  pernyataan dalam Samyutta Nikaya I,227 sebagaimana yang
sudah  disebutkan  di  atas,  jelas kita adalah arsitek bagi kehidupan kita
sendiri. Inilah pengertian utama kehendak bebas dalam agama Buddha.
Meskipun  demikian, ada batasan-batasan dalam kehendak bebas itu. Ada empat
faktor  yang  mempengaruhi  kehendak  bebas,  yakni:  karma  individu  dari
kehidupan  masa  lampau  dan  sekarang,  potensialitas  dan  kebebasan yang
inheren  dalam  sifat-dasar  diri  kita, pengkondisian dari luar, dan karma
kolektif yang telah matang. Karma individu yang berasal dari kehidupan masa
lampau  dan  saat  ini  telah jelas maknanya. Sebagai contoh adalah kondisi
seseorang  pada  saat  ini.  Apakah  ia  terlahir kaya atau miskin, sebagai
manusia atau bukan, pandai atau bodoh, semuanya ini mempengaruhi penggunaan
kehendak  bebasnya.  Potensialitas  dan  kebebasan yang inheren dalam sifat
dasar  diri  kita,  maksudnya  adalah  tiap-tiap  individu  telah  memiliki
kebebasan  untuk  memilih  atau menentukan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud
dengan  pengkondisian dari luar adalah kondisi lingkungan sekitar yang kita
alami,  misalnya  saat  hujan,  panas,  siang, ataupun malam. Terakhir yang
dimaksud  dengan karma kolektif atau kelompok adalah peristiwa yang menimpa
sekelompok  orang  secara  bersama-sama.  Sebagai  contoh  adalah peristiwa
kerusuhan,  peperangan,  atau  bencana  alam.  Keempat hal itu mempengaruhi
kehendak bebas kita. Orang yang kaya atau pandai akan memiliki lebih banyak
pilihan  dibandingkan  dengan  orang yang miskin atau pun bodoh. Masyarakat
yang  dilanda  bencana  alam  juga  tidak  memiliki  banyak  pilihan selain
berusaha  bertahan  hidup.  Demikianlah  sekelumit  konsep  kehendak  bebas
menurut agama Buddha.


[Non-text portions of this message have been removed]



** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **




SPONSORED LINKS
Buddha Buddhism Buddhism religion


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke